acehtoday.id/ | Aceh Barat – Nelayan Aceh Barat bernama Ridwan, warga Desa Meureubo, Kecamatan Meureubo, berhasil ditemukan dalam keadaan selamat setelah empat hari terombang-ambing di tengah laut akibat kerusakan mesin kapal yang digunakannya.
Ridwan sebelumnya dilaporkan berangkat melaut seorang diri pada Sabtu (4/7/2026) sekitar pukul 05.00 WIB dari pangkalan boat di Desa Padang Seurahet, Kecamatan Johan Pahlawan, menggunakan KM Samudera berukuran 2 GT. Pelayaran tersebut merupakan perjalanan perdana setelah korban baru membeli kapal tersebut.
Kapolres Aceh Barat, AKBP Yhogi Hadisetiawan, mengatakan pencarian membuahkan hasil pada hari keempat setelah pihaknya menerima informasi dari nelayan sekitar pukul 13.00 WIB mengenai keberadaan korban di perairan selatan Ujung Raja, Kabupaten Nagan Raya.
“Personel Satpolairud Polres Aceh Barat langsung bergerak menggunakan Kapal C2 Satpolairud menuju lokasi untuk memastikan kondisi korban sekaligus melaksanakan evakuasi,” ujar Kapolres dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7/2026).
Setibanya di lokasi, personel Satpolairud menemukan KM Samudera dalam kondisi mengapung dengan mesin tidak dapat dioperasikan. Kerusakan diketahui terjadi pada bagian klep mesin yang putus sehingga kapal kehilangan tenaga penggerak.
Selama kurang lebih empat hari, Ridwan bertahan hidup di tengah laut dengan menjangkar kapalnya sambil menunggu bantuan datang.
Berdasarkan keterangan korban, kerusakan mesin membuat dirinya tidak dapat melanjutkan pelayaran maupun kembali ke daratan. Tanpa tenaga penggerak, kapal hanya terbawa arus hingga akhirnya ditemukan oleh nelayan yang ikut melakukan pencarian.
Hasil pemeriksaan petugas menunjukkan kapal tersebut menggunakan mesin Tiangli 32 yang memiliki karakter cukup berat saat dihidupkan. Korban diketahui kerap meminta bantuan sesama nelayan untuk menyalakan mesin sebelum berangkat melaut.
Polisi menduga kerusakan mesin di tengah perjalanan menjadi penyebab utama korban kehilangan kendali atas kapal dan tidak dapat kembali ke pangkalan.
Nelayan Aceh Barat Dievakuasi Satpolairud
Personel Satpolairud bersama nelayan kemudian mengevakuasi Ridwan dengan menarik KM Samudera menggunakan kapal nelayan menuju pangkalan di Gampong Padang Seurahet, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat. Setelah tiba di daratan, korban dipastikan dalam kondisi sehat sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
“Keberhasilan ini merupakan hasil sinergi yang baik antara Polri dengan masyarakat nelayan. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berperan aktif dalam proses pencarian. Semangat kebersamaan seperti inilah yang harus terus dijaga dalam setiap upaya kemanusiaan,” kata AKBP Yhogi Hadisetiawan.
Kapolres juga mengimbau seluruh nelayan agar selalu mengutamakan keselamatan sebelum melaut dengan memastikan kondisi kapal dan mesin dalam keadaan layak, membawa perlengkapan keselamatan, menyediakan alat komunikasi yang berfungsi dengan baik, serta menginformasikan rencana pelayaran kepada keluarga maupun rekan sesama nelayan.
“Kami mengingatkan seluruh nelayan agar tidak mengabaikan faktor keselamatan. Lakukan pemeriksaan terhadap kondisi kapal sebelum berlayar, gunakan alat keselamatan, serta pastikan ada pihak yang mengetahui rute pelayaran. Polres Aceh Barat akan terus hadir memberikan pelayanan terbaik serta respons cepat terhadap setiap situasi yang menyangkut keselamatan masyarakat,” tutup Kapolres.
acehtoday.id/ | Bak petir di tengah keramaian Jumat, ledakan itu mengguncang ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 tepat ketika azan salat Jumat hampir berkumandang, dalam hitungan detik, 15 orang 14 taruna Politeknik Pelayaran Malahayati dan seorang Kepala Kamar Mesin (KKM) terkapar dengan luka bakar serius, Sejak siang itu Jumat 12 Juni 2026, Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, tak pernah lagi sama.
Yang tak banyak orang duga, ledakan itu baru permulaan dari duka yang berlarut-larut, Satu per satu para taruna muda yang sempat bertahan di ruang ICU RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) akhirnya kalah dalam perjuangan mereka, Tiga nyawa melayang dalam rentang tak sampai tiga pekan dan hingga kini, penyebab pasti ledakan itu masih menjadi teka-teki yang belum terjawab tuntas.
Korban terluka akibat kamar mesin KMP Aceh Hebat 2 sedang dievakuasi di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (12/6/2026). Sumber foto: Tim SAR Aceh.
Satu demi satu, mereka pergi
Fahri Herdi Eko, 19 tahun asal Medan, adalah yang pertama gugur, Setelah sepekan bertahan di ruang ICU, kondisinya menurun drastis pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, Humas RSUDZA Rahmadi, mengisahkan detik-detik terakhir itu, dari pemantauan intensif pukul 21.00 WIB, hingga akhirnya dinyatakan meninggal pukul 22.50 WIB, di hadapan keluarga dan tim perawat yang telah berjuang bersamanya.
Foto: Poltekpel Malahayati Aceh.
Empat hari berselang, giliran Muhammad Bilal Ramzi, taruna asal Sabang, yang menyusul, Ironisnya, kondisi Bilal sempat membaik bahkan sudah dipindahkan dari ruang intensif ke ruang rawat biasa.
Tapi harapan itu tak berumur panjang, Pada Kamis, 25 Juni 2026, Bilal mengembuskan napas terakhir setelah hampir dua pekan berjuang, Jenazahnya dipulangkan dan dimakamkan di kampung halamannya di Sabang.
Foto: Poltekpel Malahayati Aceh.
Publik boleh saja mengira dua kematian sudah cukup menjadi puncak duka, Nyatanya tragedi ini belum selesai bicara, Sepekan setelah Bilal pergi, giliran Muhammad Zulfikar taruna asal Sigli yang tak lagi bisa diselamatkan, Ia meninggal dini hari, Rabu (1/7/2026) pukul 01.00 WIB, di ruang ICU 2 RSUDZA,Jenazahnya pun telah dipulangkan ke Sigli.
Foto: Poltekpel Malahayati Aceh.
Tiga taruna muda, Tiga keluarga yang berduka, dan satu pertanyaan besar yang kian mengeras di benak publik, bagaimana bisa sebuah kapal penyeberangan, yang setiap hari mengangkut ratusan penumpang, mengalami ledakan mesin yang merenggut begitu banyak korban?
Hingga kini, 11 korban lainnya masih menjalani perawatan di RSUDZA, sementara satu orang telah diperbolehkan pulang lebih dulu.,Sebagian menunjukkan perkembangan positif, namun proses pemulihan diperkirakan masih panjang mengingat tingkat keparahan luka bakar yang berbeda-beda pada setiap korban.
Ketika parlemen mulai bersuara
Kematian yang datang bergantian dalam hitungan hari ini rupanya tak hanya menyisakan duka, tapi juga memantik amarah dan kecurigaan, Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) memutuskan turun tangan, memastikan akan memanggil Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh dan PT ASDP Indonesia Ferry untuk membuka kronologi kejadian secara terang benderang.
Anggota Komisi IV DPRA dari Fraksi Golkar, Khalid, menegaskan bahwa fungsi pengawasan parlemen tak boleh berhenti hanya pada ucapan belasungkawa, “Komisi IV DPRA akan meminta penjelasan dari Dinas Perhubungan Aceh maupun pihak ASDP terkait kronologi kejadian, kondisi teknis kapal, serta langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan pasca-insiden," katanya kepada acehtoday.id/.
Baginya, insiden ini semestinya jadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan transportasi laut Aceh bukan sekadar soal mesin yang meledak, tapi juga menyangkut standar operasional prosedur, sistem perawatan kapal, hingga mekanisme inspeksi kelayakan armada yang selama ini dijalankan, Ia pun menuntut agar hasil investigasi kelak tidak "disimpan di balik meja birokrasi" sebuah frasa yang seolah menyiratkan kekhawatiran bahwa transparansi bukan sesuatu yang bisa dianggap otomatis terjadi.
Panggilan itu tak dihindari, baik Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T Faisal, maupun General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan, menyatakan siap hadir memenuhi undangan DPRA.
(Kiri) adis Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, Foto: Dokumen Humas Dishub Aceh (Kanan) General Manager PT ASDP Ferry Indonesia Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan di IGD RSUDZA. Sumber foto: acehtoday.id/Elza
Kapal yang “sangat layak” tapi tetap meledak
Di sinilah teka-teki itu makin pelik, dishub Aceh, melalui Faisal, menegaskan bahwa kewenangan teknis soal kelaiklautan kapal sebenarnya berada di tangan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Malahayati, bukan di instansinya, setiap kapal yang berlayar, katanya, wajib mengantongi Surat Persetujuan Berlayar (SPB) yang hanya diterbitkan setelah seluruh syarat keselamatan terpenuhi, KMP Aceh Hebat 2 pun disebut telah menjalani docking tahunan sesuai regulasi.
Kepala Kantor KSOP IV Malahayati, Amfami acehtoday.id/Elza
Pertanyaannya jadi sederhana namun sukar untuk dicerna, jika kapal ini benar-benar telah lulus semua prosedur, lantas apa yang membuat mesinnya meledak?
Kepala KSOP IV Malahayati, Capt Amfami, mencoba menjawab sebagian dari teka-teki itu, Ia memastikan KMP Aceh Hebat 2 dalam kondisi laik laut, telah menjalani docking pada Desember 2025 di Nias, serta lolos ramp check menjelang masa angkutan Lebaran 2026.
"Jadi kapal itu layak, bukan tidak layak, kapalnya sangat layak, Kemungkinan hanya ada satu pompa yang mengalami malfungsi," ujarnya sebuah pernyataan yang, alih-alih menutup tanda tanya, justru membuka babak baru, bagaimana bisa satu pompa yang malfungsi berujung pada ledakan yang merenggut tiga nyawa?
Amfami juga mengungkap detail yang tak kalah menarik perhatian, Kegiatan praktik 14 taruna bersama satu KKM di ruang mesin, menurutnya, memang telah diberitahukan ke KSOP namun jam pastinya belum disampaikan karena masih menunggu kesepakatan jadwal antara pengajar dan taruna.
Momen naik kapal itu sendiri terjadi bersamaan dengan proses debarkasi penumpang, mendekati waktu salat Jumat, KSOP pun mengaku akan mengevaluasi prosedur pelaporan bagi pihak luar yang beraktivitas di atas kapal sebuah celah administratif yang jika benar ada, menyisakan pertanyaan soal siapa yang semestinya memastikan setiap orang di atas kapal tercatat dan diawasi.
Desakan dari luar birokrasi
Bukan hanya parlemen yang mempertanyakan, Direktur Sumatera Environmental Initiative (SEI), Sulaiman menyebut insiden ini sebagai kejadian luar biasa dalam sektor transportasi laut bukan semata karena jumlah korbannya yang banyak, tapi juga karena kronologi kejadian, aktivitas sebelum ledakan, dan status keberadaan para taruna di atas kapal belum dijelaskan secara terbuka kepada publik.
SEI mendesak agar Syahbandar, operator kapal, dan instansi terkait membuka kronologi secara transparan, sekaligus meminta kepolisian mempublikasikan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP).
“Jika ditemukan adanya unsur kelalaian dalam penerapan standar keselamatan kerja maupun keselamatan pelayaran, maka pihak yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegas Sulaiman.
Direktur Sumatera Environmental Initiative (SEI), Sulaiman. Foto Dok Pribadi
Menunggu di ujung ketidakpastian
Genap tiga pekan berlalu sejak ledakan itu, namun penyebab pastinya masih terkunci rapat dalam proses penyidikan Polda Aceh. PT ASDP, melalui Andri Setiawan, memilih bersikap hati-hati tak ingin mendahului hasil resmi dengan spekulasi. “Kami tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian sebelum ada hasil resmi dari pihak yang berwenang,” ujarnya.
Sikap menahan diri ini bisa dibaca dua arah, sebagai bentuk kehati-hatian yang wajar dalam proses hukum, atau sebagai lambannya keterbukaan informasi yang justru memperpanjang kecemasan publik terutama keluarga korban yang masih menunggu jawaban atas kematian anak-anak mereka.
KMP Aceh Hebat 2 di Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh. Sumber foto: acehtoday.id/Elza
KMP Aceh Hebat 2 sendiri masih "dikandangkan", menanti surat resmi dari Polda Aceh yang menyatakan proses olah TKP selesai, sebelum bisa diperiksa ulang dan dioperasikan kembali.
Tiga taruna telah pergi, Belasan lainnya masih berjuang memulihkan luka bakar mereka, dan satu pertanyaan yang sejak awal mengiringi tragedi ini mengapa kapal yang disebut "Kapal Aceh Hebat" nyatanya tidak sesuai dengan nama yang dibanggakan, justru meledak dan merenggut nyawa mereka yang sedang mengejar cita-cita di dunia maritim masih menggantung, menunggu jawaban yang katanya sedang dalam proses.
acehtoday.id/ | Banda Aceh – Satu orang lagi taruna Politeknik Pelayaran yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh meninggal dunia, Rabu (1/7/2026).
Adapun korban yang meninggal dunia bernama Muhammad Zulfikar yang sedang dirawat di ruang perawatan intensif dan meninggal pukul 01.00 WIB.
“Kami menerima kabar duka atas wafatnya salah satu korban bernama Muhammad Zulfikar, sekitar jam 01.00 WIB,” kata General Manager PT ASDP Ferry Indonesia cabang Banda Aceh, Andri Setiawan saat dikonfirmasi.
Menurut Andri, Muhammad Zulfikar sebelumnya sedang menjalani perawatan intensif di RSUDZA Banda Aceh. Andri menyebut bahwa jenazahnya telah dipulangkan ke kampung halamannya di Sigli.
“Sudah dipulangkan ke Sigli,” ujar Andri.
Sementara itu Humas RSUDZA, Rahmadi mengatakan Muhammad Zulfikar sebelumnya sedang dirawat di ruang ICU 2 hingga akhirnya meninggal dunia.
Adapun menurutnya saat ini jumlah pasien korban ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang masih dirawat sebanyak 11 orang.
“Yang masih dirawat 11 orang,” kata Rahmadi.
Meninggalnya Muhammad Zulfikar, menambah daftar korban kehilangan nyawa setelah terkena ledakan dan mengalami luka bakar saat menjalani kegiatan belajar mengajar di atas kapal KMP Aceh Hebat 2 beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, taruna Fahri Herdi Eko (19) dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (20/6/2026). Menyusul kemudian Muhammad Bilal Ramzi (19) pada Kamis (25/6/2026).
Adapun insiden meledaknya mesin kapal KMP Aceh Hebat 2 ini menyebabkan 14 taruna Politeknik Pelayaran dan satu kepala kamar mesin (KKM) luka bakar dan menjalani perawatan intensif di RSUDZA Banda Aceh pada Jumat (12/6/2026).
Sementara itu penyebab pasti meledaknya mesin belum diketahui dan pihak berwajib masih melakukan pendalaman dan pemeriksaan saksi.
Dua Taruna Sebelumnya
Fakhri Herdieco, 19 yang pertama meninggal dunia setelah sepekan menjalani perawatan intensif, Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh Humas RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Rahmadi, pada Minggu (21/6/2026). Ia menyebut pasien asal Binjai, Sumatera Utara itu menghembuskan napas terakhir pada Sabtu malam usai dirawat di ruang ICU.
Menurut Rahmadi, kondisi Fakhri mulai menurun drastis sekitar pukul 21.00 WIB. Tim medis langsung melakukan pemantauan dan penanganan intensif, sekaligus memberi penjelasan kepada pihak keluarga mengenai perkembangan kondisinya yang kian memburuk.
Muhammad Bilal Ramzi (19) taruna Politeknik Pelayaran asal Kota Sabang yang sempat menjalani perawatan intensif akibat luka bakar, meninggal dunia setelah hampir dua pekan berjuang di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.
Bilal mengembuskan napas terakhir pada Kamis (25/6/2026), sehingga jumlah korban meninggal dunia dalam insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 kini menjadi dua orang.
Sebelumnya, Fahri Edi Eko (19), warga Medan, Sumatera Utara, yang juga merupakan taruna Politeknik Pelayaran, meninggal dunia pada Minggu (20/6/2026) setelah menjalani perawatan akibat luka bakar yang dideritanya.
Kedua taruna tersebut merupakan bagian dari 15 korban ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang terjadi pada Jumat (12/6/2026).
acehtoday.id/ | Banda Aceh – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) IV Malahayati akan melakukan evaluasi terhadap prosedur operasional PT ASDP Indonesia Ferry selaku operator kapal, menyusul insiden ledakan KMP Aceh Hebat 2 yang menyebabkan dua taruna Politeknik Pelayaran Malahayati meninggal dunia, hal tersebut disampaikan Kepala KSOP IV Malahayati, Capt Amfami, saat dikonfirmasi acehtoday.id/, Selasa (30/6/2026).
Amfami mengatakan evaluasi akan dilakukan terutama terkait prosedur pelaporan bagi pihak luar yang melakukan aktivitas di atas kapal selain awak kapal.
“Kami perlu mengingatkan ASDP sebagai operator, setiap orang selain awak kapal yang melakukan kegiatan di atas kapal harus melapor ke KSOP, terkadang ada yang naik kapal tanpa laporan, ini menjadi evaluasi kita,” ujar Amfami.
Ia menjelaskan, kewajiban tersebut telah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 8 tentang Inaportnet, khususnya terkait pengajuan orang non-awak kapal untuk naik ke kapal, serta Permenhub Nomor 28 terkait aktivitas di kawasan pelabuhan.
Amfami mengungkapkan, kegiatan pembelajaran 14 taruna Politeknik Pelayaran Malahayati bersama seorang Kepala Kamar Mesin (KKM) sebenarnya telah diberitahukan kepada KSOP. Namun, waktu pelaksanaan kegiatan belum disampaikan secara pasti karena masih menyesuaikan jadwal antara pengajar dan para taruna.
“Pemberitahuan sudah ada, tetapi jam pastinya belum disampaikan karena masih menunggu kesepakatan waktu antara taruna dan pengajar. Saat proses debarkasi penumpang, kemungkinan ada kesempatan mereka naik kapal. Saat itu juga waktunya mendekati pelaksanaan salat Jumat,” jelasnya.
Terkait kondisi kapal sebelum kejadian, Amfami memastikan KMP Aceh Hebat 2 dalam kondisi laik laut. Kapal tersebut sebelumnya telah menjalani docking pada Desember 2025 di Nias, serta melewati proses sertifikasi dan pemeriksaan kelaikan oleh KSOP IV Gunungsitoli.
KSOP Akan Lakukan Pemeriksaan
Selain itu, KSOP Malahayati juga telah melakukan pemeriksaan atau ramp check terhadap kapal menjelang masa angkutan Lebaran 2026.
“Jadi kapal itu layak, bukan tidak layak, Kapalnya sangat layak, Kemungkinan hanya ada satu pompa yang mengalami malfungsi,” katanya.
Mengenai rencana pengoperasian kembali KMP Aceh Hebat 2, Amfami menyebut pihaknya masih menunggu surat resmi dari Polda Aceh terkait selesainya proses olah tempat kejadian perkara (TKP).
“Kalau sudah ada surat dari Polda bahwa olah TKP selesai, baru kami lakukan pemeriksaan kembali sebelum kapal dioperasikan,” ujarnya.
Sebelumnya, ledakan pada bagian mesin KMP Aceh Hebat 2 terjadi pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 11.55 WIB menjelang waktu salat Jumat di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Peristiwa tersebut menyebabkan 15 orang mengalami luka bakar.
Para korban kemudian dievakuasi dan mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, termasuk menjalani operasi darurat (cyto). Dua taruna Politeknik Pelayaran Malahayati kemudian meninggal dunia, yakni Fahri Herdi Eko (19) pada Sabtu (20/6/2026) dan Muhammad Bilal Ramzi (19) pada Kamis (25/6/2026).
Hingga saat ini, penyebab ledakan masih dalam proses penyidikan oleh Polda Aceh. Sementara itu, KMP Aceh Hebat 2 belum kembali beroperasi karena masih dalam tahap pemeriksaan dan investigasi oleh pihak berwenang.
acehtoday.id/ | Banda Aceh — PT ASDP Ferry Indonesia Cabang Banda Aceh menjelaskan tingginya permintaan tiket penyeberangan rute Banda Aceh-Sabang selama masa libur sekolah menjadi salah satu penyebab kuota tiket cepat habis.
Hal tersebut disampaikan General Manager PT ASDP Ferry Indonesia Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan kepada acehtoday.id/, Senin (29/6/2026).
“Terkait layanan tiket online lintas Banda Aceh-Sabang, saat ini memang terjadi peningkatan permintaan yang cukup signifikan seiring momen libur sekolah dan meningkatnya kunjungan wisata ke Sabang,” ujar Andri.
Ia menjelaskan, lonjakan permintaan tiket tersebut terjadi bersamaan dengan keterbatasan kapasitas angkut karena operasional penyeberangan saat ini hanya dilayani oleh satu kapal, yakni KMP BRR.
“Sehingga kuota tiket pada waktu-waktu tertentu dapat cepat terpenuhi,” katanya.
Andri menegaskan, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh gangguan pada sistem pemesanan tiket daring, melainkan karena adanya batas kapasitas penumpang yang dapat diangkut kapal sesuai standar keselamatan pelayaran.
“Ini bukan mengenai sistem, tetapi berkaitan dengan kapasitas penumpang di atas kapal,” jelasnya.
Menurutnya, kapasitas kapal telah ditentukan berdasarkan jumlah tempat duduk serta ketersediaan alat keselamatan yang wajib dipenuhi selama perjalanan.
“Kapasitas ditentukan sesuai jumlah tempat duduk dan alat keselamatan yang tersedia,” tambahnya.
Selain penumpang pejalan kaki, kuota penyeberangan juga mencakup berbagai jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor, kendaraan pribadi, bus, hingga kendaraan logistik.
“Untuk kapasitas penumpang itu terdiri dari penumpang pejalan kaki, sepeda motor, kendaraan pribadi, bus dan kendaraan logistik,” ungkap Andri.
Ia menyebutkan, penerapan sistem tiket online bertujuan memberikan kepastian layanan kepada pengguna jasa, mengatur jumlah penumpang sesuai daya angkut kapal, serta memastikan proses penyeberangan berjalan lebih tertib, aman, dan nyaman.
Meski demikian, ASDP mengakui masih terdapat sejumlah kendala yang dirasakan masyarakat, mulai dari proses pemesanan tiket, check-in, hingga keterbatasan tiket pada jam keberangkatan favorit.
Karena itu, ASDP bersama para pemangku kepentingan terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan, baik dari sisi sistem layanan maupun pengelolaan operasional di lapangan.
“ASDP bersama para pemangku kepentingan terkait terus melakukan evaluasi dan perbaikan secara bertahap, baik dari sisi sistem layanan maupun pengelolaan operasional di lapangan, agar masyarakat dan wisatawan dapat memperoleh layanan yang semakin baik,” jelas Andri.
Pesan Tiket Ferry Sesuai Jadwal
Ia juga mengimbau masyarakat untuk melakukan pemesanan tiket lebih awal sebelum jadwal keberangkatan serta menyesuaikan waktu perjalanan dengan ketersediaan kuota.
“Kami mengimbau pengguna jasa untuk melakukan pemesanan tiket lebih awal dan menyesuaikan jadwal perjalanan dengan ketersediaan kuota yang ada. ASDP berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pengguna jasa,” pungkasnya.
DPRK Sabang Desak Gubernur Aceh Turun Tangan
untuk diketahui sebelumnya Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Sabang menyesalkan sistem tiket penyeberangan online yang diterapkan PT ASDP Indonesia Ferry pada lintasan Ulee Lheue-Balohan dinilai carut-marut dan merugikan wisatawan maupun masyarakat yang hendak ke Kota Sabang.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua DPRK Sabang, Albina mengatakan pihaknya sejak awal telah mengingatkan bahwa penerapan sistem tiket online secara penuh berpotensi menimbulkan berbagai persoalan.
“Sejak awal pemberlakuan sistem online penuh ini, kami dari DPRK sudah melihat bahwa persoalan ini akan berdampak panjang terhadap sirkulasi penumpang Banda Aceh-Sabang menggunakan kapal ferry ASDP,” kata Albina kepada acehtoday.id/, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, sekitar dua bulan lalu DPRK Sabang bahkan telah melayangkan surat kepada Gubernur Aceh untuk meminta Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan memfasilitasi penyelesaian persoalan tersebut.
Albina menilai Pemerintah Aceh memiliki kewenangan besar karena mengatur izin trayek, tarif penyeberangan, sekaligus sebagai pemilik kapal KMP Aceh Hebat 2 dan KMP BRR yang dioperasikan pada lintasan tersebut.
“Kami sudah meminta Gubernur untuk memfasilitasi karena kewenangan ada pada Pemerintah Aceh. Namun sampai hari ini kami belum melihat langkah konkret untuk mencari solusi,” ujarnya.
Kemudian DPRK Sabang menggelar rapat dengar pendapat dengan PT ASDP Indonesia Ferry dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sabang karena belum ada respon dari Gubernur Aceh.
Dalam pertemuan itu, kata Albina, seluruh pihak mengakui masih banyak kelemahan pada sistem tiket online, mulai dari proses check in yang belum optimal, kuota tiket yang terbatas, hingga kendala masyarakat dalam mengakses aplikasi akibat keterbatasan kemampuan menggunakan teknologi maupun jaringan internet.
“Dalam rapat itu ASDP berjanji akan melakukan pembenahan terhadap sistem tiket online,” ujarnya.
Namun hingga kini perbaikan yang dijanjikan belum terlihat. DPRK Sabang bahkan kembali memfasilitasi pertemuan lanjutan di Kantor ASDP Banda Aceh yang turut dihadiri Wali Kota Sabang dan unsur pimpinan DPRK.
Dalam forum tersebut, DPRK mengusulkan adanya penambahan kuota tiket di luar sistem online serta penyempurnaan mekanisme check in agar masyarakat yang mengalami kendala tetap dapat memperoleh tiket.
“Sayangnya sampai hari ini belum ada progres yang cukup berarti sebagaimana dijanjikan oleh ASDP maupun KSOP,” ucapnya.
acehtoday.id/ | Banda Aceh — Sumatera Environmental Initiative (SEI), yang mendesak pihak berwenang mengusut tuntas dan transparan terhadap kasus meledaknya ruang mesin KMP Kapal Aceh Hebat 2 di Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh. Kasus ini bukan peristiwa biasa karena telah menelan dua korban jiwa dan 13 korban lainnya masih kritis.
Direktur SEI, Sulaiman menegaskan bahwa ledakan Kapal Aceh Hebat 2 — yang diduga bersumber dari sistem hidrolik kapal — bukan perkara sepele yang bisa diselesaikan tanpa investigasi mendalam. Jumlah korban yang signifikan, menurutnya, menjadi sinyal serius bahwa ada yang tidak beres dalam sistem keselamatan dan pengawasan operasional kapal tersebut.
“Kejadian yang menyebabkan 13 orang mengalami luka serius dan dua orang meninggal dunia bukanlah kejadian biasa. Publik berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Keterbukaan informasi sangat penting agar ruang publik tidak dipenuhi asumsi dan informasi yang belum terverifikasi,” tegas Sulaiman melalui keterangan tertulis, Jumat (26/6/2026).
Direktur Sumatera Environmental Initiative (SEI), Sulaiman. Foto Dok Pribadi
SEI menilai proses investigasi harus menyentuh seluruh aspek kelaikan kapal — mulai dari riwayat perawatan, dokumen keselamatan, hasil inspeksi berkala, hingga prosedur operasional yang diterapkan sebelum insiden berlangsung. Menurut Sulaiman, ketidaksesuaian antara pengecekan rutin dan kondisi faktual kapal di lapangan harus dibuktikan melalui penyelidikan yang komprehensif dan independen.
Sumatera Environmental Initiative Soroti Nasib Taruna
Selain soal teknis kapal, SEI juga menyoroti nasib para peserta praktik pelayaran yang ikut menjadi korban dalam tragedi itu. Lembaga tersebut mendesak aparat untuk menelusuri seluruh dokumen praktik para mahasiswa yang berada di atas kapal, sekaligus memastikan mereka telah terlindungi oleh jaminan kecelakaan kerja maupun jaminan kematian sesuai ketentuan yang berlaku.
Tak hanya meminta keterlibatan kepolisian dalam olah TKP, pemeriksaan saksi, dan pengumpulan dokumen teknis, SEI juga secara khusus menyoroti peran Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Malahayati. Sebagai institusi yang berwenang mengawasi keselamatan pelayaran, KSOP dinilai memikul tanggung jawab besar untuk memastikan proses investigasi berjalan profesional dan akuntabel.
“Kami berharap KSOP Malahayati tidak menganggap enteng kasus ini. Ada korban jiwa yang harus menjadi perhatian utama. Setiap tahapan investigasi harus dilakukan secara terbuka, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik,” kata Sulaiman.
Hingga kini, penyebab pasti ledakan masih dalam proses penyelidikan instansi berwenang, sementara para korban masih menjalani perawatan medis dan pendampingan di rumah sakit. SEI berharap hasil investigasi kelak mampu mengungkap kebenaran secara utuh, memberikan kepastian hukum bagi para korban, sekaligus menjadi landasan perbaikan sistem keselamatan pelayaran di Aceh demi mencegah tragedi serupa terulang.
acehtoday.id/ | Sabang – Sabang diterjang longsor akibat hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Aceh pada Jumat (26/6/2026) sore memicu bencana longsor di sejumlah titik, laporan sementara yang dihimpun menyebutkan, salah satu daerah terdampak paling parah adalah Kota Sabang.
Sejumlah foto yang diterima acehtoday.id/ dari berbagai sumber, termasuk dokumentasi yang diteruskan oleh relawan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), memperlihatkan dampak longsor yang cukup serius.
Dalam foto-foto tersebut terlihat sejumlah bangunan mengalami kerusakan parah setelah diterjang material longsor di kawasan Kota Atas, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang.
Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Aceh pada Jumat (26/6/2026) sore memicu bencana longsor di sejumlah titik : Foto RAPI
Material tanah dan bebatuan tampak menimbun sebagian bangunan serta akses jalan di lokasi kejadian.
Hingga Jumat malam, belum ada keterangan resmi dari pemerintah maupun instansi terkait mengenai jumlah titik longsor, korban, maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan.
Hingga berita ini diturunkan, acehtoday.id/ masih terus menghimpun informasi dari jurnalis yang bertugas di lapangan maupun pihak terkait.
Proses peliputan dan konfirmasi terkendala cuaca yang masih diguyur hujan lebat, sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat masih memprioritaskan evakuasi serta upaya penyelamatan warga di lokasi terdampak longsor.
acehtoday.id/ | Banda Aceh – Jabatan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Aceh kembali mengalami pergantian. Berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1335/VI/KEP/2026 yang beredar, Irjen Pol Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M., dimutasikan menjadi Perwira Tinggi Polda Aceh dalam rangka memasuki masa pensiun. Posisi Kapolda Aceh selanjutnya dipercayakan kepada Brigjen Pol Ruddi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H.
Sebelum ditunjuk memimpin Polda Aceh, Brigjen Ruddi Setiawan menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Kapuslitbang) Polri.
Jabatan tersebut diembannya setelah memiliki pengalaman panjang di berbagai bidang kepolisian, khususnya reserse, pemberantasan narkotika, hingga pengembangan riset kepolisian.
Bagi masyarakat Aceh, nama Ruddi Setiawan bukan sosok baru, Perwira tinggi Polri itu pernah mengemban tugas sebagai Direktur Reserse Narkoba Polda Aceh.
Selama bertugas di Serambi Mekkah, ia terlibat dalam berbagai upaya pengungkapan jaringan narkotika, termasuk penanganan kasus peredaran narkoba lintas negara.
Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting dalam memimpin Polda Aceh yang memiliki tantangan keamanan cukup kompleks, mulai dari pemberantasan narkotika, pengamanan investasi strategis, hingga menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
Jejak Kapolda Aceh Marzuki Ali Basyah
Gubernur Aceh Muzakir Manaf di dampingi istri Marlina Usman menerima kunjungan silaturahmi Kepala Kepolisian Daerah Aceh Brigjen Marzuki Ali Basyah bersama keluarganya di Meuligoe Gubernur Aceh, Foto: Humas
Sementara itu, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah mengakhiri masa jabatannya sebagai Kapolda Aceh setelah memasuki masa pensiun.
Putra daerah Aceh tersebut mulai menjabat sebagai Kapolda Aceh sejak Agustus 2025, menggantikan Irjen Pol Achmad Kartiko.
Selama memimpin Polda Aceh, Marzuki Ali Basyah dikenal aktif membangun sinergi dengan pemerintah daerah, unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen lainnya dalam menjaga situasi keamanan yang kondusif di Aceh.
Ia juga mengawal berbagai agenda strategis daerah, termasuk penguatan iklim investasi dan penegakan hukum.
Tantangan Berat Bagi Brigjen Pol Ruddi Setiawan
Pergantian Kapolda Aceh dinilai bukan sekadar rotasi jabatan rutin di tubuh Polri, Penempatan Brigjen Ruddi Setiawan jadi sinyal Mabes Polri terhadap Aceh sebagai daerah yang memiliki karakteristik keamanan tersendiri.
Selain berada di jalur strategis perairan internasional, Aceh juga dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari kejahatan lintas negara, peredaran narkotika, pengamanan objek vital dan investasi, hingga dinamika sosial dan Partai Politik local yang membutuhkan pendekatan hukum secara tegas namun tetap humanis.
Brigjen Ruddi Setiawan tidak hanya dituntut menjaga stabilitas keamanan, tetapi juga membuktikan bahwa pergantian kepemimpinan mampu menghadirkan perubahan nyata.
Publik Aceh menanti langkah tegas dalam memberantas kejahatan tanpa pandang bulu, memperkuat profesionalisme anggota di lapangan, serta membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian yang dalam beberapa waktu terakhir kerap menjadi bahan evaluasi publik.
Jejak Karier Brigjen Pol Ruddi Setiawan, Kapolda Aceh yang Baru
Brigjen Pol Ruddi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H., merupakan perwira tinggi Polri lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1996 yang dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang reserse, khususnya pemberantasan narkotika dan tindak pidana khusus. Sebagian besar perjalanan kariernya dihabiskan sebagai penyidik dan pejabat operasional, mulai dari Polda Metro Jaya, Bareskrim Polri, hingga Badan Narkotika Nasional (BNN).
Sebelum dipercaya memimpin Polda Aceh, Ruddi menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Kapuslitbang) Polri.
Jabatan tersebut diembannya setelah sebelumnya menduduki sejumlah posisi strategis di BNN, di antaranya Direktur Intelijen BNN RI dan Direktur Narkotika BNN RI.
Pengalaman tersebut memperkuat kapasitasnya dalam penanganan kejahatan narkotika, baik di tingkat nasional maupun lintas negara.
Nama Ruddi bukan sosok baru bagi masyarakat Aceh. Pada 2021, ia dipercaya menjabat sebagai Direktur Reserse Narkoba Polda Aceh. Selama bertugas di Tanah Rencong, ia memimpin berbagai operasi pemberantasan narkotika dan pengungkapan jaringan peredaran narkoba yang melibatkan sindikat nasional maupun internasional.
Kini, setelah kembali ke Aceh sebagai Kapolda, Brigjen Ruddi membawa bekal pengalaman yang lebih lengkap, mulai dari penegakan hukum, pemberantasan narkotika, intelijen, hingga penyusunan kebijakan berbasis riset di lingkungan Polri.
Pengalaman tersebut diharapkan menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan di Aceh, termasuk pemberantasan narkoba, kejahatan lintas negara, pengamanan investasi strategis, serta menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
acehtoday.id/ | Banda Aceh – BT (52), pria asal Kajhu, Kabupaten Aceh Besar, yang mengalami putus tangan dalam kasus dugaan pencurian, kini berangsur pulih dan telah diperbolehkan pulang setelah menjalani serangkaian perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.
Kepala Perwakilan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Besar, Muhammad Nur, mengatakan BT telah menjalani tiga kali operasi penanganan pada tangan kanannya yang mengalami cedera parah.
“Tangannya tidak dapat disambung lagi saat operasi ketiga, namun BT sudah bisa pulang,” kata Muhammad Nur kepada acehtoday.id/, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, pada operasi pertama dan kedua, tim medis masih berupaya menyambungkan kembali bagian tangan yang terputus. Namun, kondisi jaringan yang terus memburuk membuat upaya tersebut tidak berhasil dipertahankan.
Saat operasi ketiga, dokter akhirnya memutuskan melakukan amputasi karena jaringan pada tangan BT sudah mengalami kerusakan berat.
“Kondisi tangannya sudah membusuk saat operasi ketiga sehingga diamputasi,” ujarnya.
Meski demikian, kondisi kesehatan BT disebut terus menunjukkan perkembangan positif. Saat ini, ia hanya perlu menjalani rawat jalan secara berkala di RSUDZA.
“Sekarang berobat jalan tiga hari sekali ke RSUDZA,” tambahnya.
Sementara itu, YARA memastikan proses hukum terkait kasus tersebut masih terus berjalan. Darmiati, istri BT, sebelumnya telah melaporkan pihak yang diduga memotong tangan suaminya ke Polda Aceh atas dugaan tindak pidana penganiayaan berat.
“Mengenai laporan sedang berlanjut,” pungkas Muhammad Nur.
Awal Mula Kejadian di Kajhu
Sebelumnya, BT diduga melakukan pencurian di kawasan Kajhu Aceh Besar, dalam peristiwa tersebut BT mengalami putus tangan dan kemudian menjalani perawatan medis di RSUDZA. Darmiati selanjutnya melaporkan pihak yang diduga memotong tangan suaminya ke Polda Aceh dengan dugaan tindak pidana penganiayaan berat.
Darmiati tidak menerima suaminya mendapat penganiayaan setelah kepergok warga hingga berujung satu tangannya terputus. Darmiati yang didampingi Ketua YARA Aceh Besar, Muhammad Nur dan Advokat, Muzakir, resmi melaporkan kasus tersebut ke Polda Aceh, pada Senin (15/6/2026).
Muzakir menceritakan kronologi kejadian saat Darmiati diberitahu oleh seorang warga bahwa tangan suaminya telah dibacok. Mendengar itu, Darmiati bergegas ke lokasi pembacokan dan diberitahu kalau suaminya telah dibawa ke Polsek Baitussalam.
Sesampainya di Polsek Baitussalam, suami Darmiati ternyata telah dibawa ke RSUDZA Banda Aceh dan Darmiati mendapati suaminya yang telah pingsan dengan kondisi tangan kanan terputus di ranjang rumah sakit.
“Di rumah sakit diserahterimakan suami klien kepada klien kami. Katanya, suaminya ini telah ditetapkan sebagai tersangka. Tapi atas perkara apa juga tidak disebut, pun tidak diberi surat penetapan tersangka,” ujar Muzakir.
Muhammad Nur menekankan pelaporan ini berfokus pada tindak penganiayaan yang diterima oleh suami Darmiati, terlepas dari dugaan berbagai kasus yang beredar di masyarakat.Adapun pihak keluarga menduga pelaku penganiayaan berat yang menyebabkan tangan suami Darmiati putus adalah seorang oknum kepolisian. “Keluarga menduga yang melakukannya adalah oknum polisi,” pungkasnya. Hingga kini, penyelidikan atas laporan yang diajukan keluarga korban masih berlangsung di Polda Aceh.
Darmiati (tengah), istri seorang pria terduga pelaku pencurian di Kajhu, Aceh Besar, yang berujung tangannya terputus. (acehtoday.id/Elza
acehtoday.id/ | Banda Aceh – Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh dan PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh menyatakan siap memenuhi panggilan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) terkait insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang mengakibatkan 15 orang mengalami luka bakar dan satu korban meninggal dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T Faisal, dan General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan, saat dikonfirmasi acehtoday.id/, Kamis (25/6/2026).
Melalui Humas Dishub Aceh, T Faisal menegaskan pihaknya siap menghadiri rapat dengan DPRA guna memberikan penjelasan terkait insiden yang terjadi di kapal KMP Aceh Hebat 2.
“Kami siap memenuhi undangan DPRA untuk memberikan penjelasan,” kata T Faisal singkat.
Hal senada disampaikan General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan. Ia memastikan pihak ASDP akan hadir apabila dipanggil oleh DPRA.
“Perihal ini kami tentunya akan hadir,” ujarnya.
Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPRA dari Fraksi Golkar, Khalid, menyatakan pihaknya akan memanggil Dishub Aceh dan ASDP untuk meminta penjelasan terkait insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang terjadi beberapa waktu lalu.
Menurut Khalid, pemanggilan tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan DPRA guna memastikan proses investigasi berjalan secara profesional, objektif, dan transparan.
Kapal KMP Aceh Hebat 2 sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Foto: acehtoday.id/Elza
Dishub Aceh diminta Pantau Perkembangan Hasil Investigasi
Selain meminta penjelasan dari kedua instansi tersebut, Komisi IV DPRA juga akan memantau perkembangan hasil investigasi secara berkala. Langkah itu dilakukan agar penyebab pasti insiden dapat diketahui secara jelas sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Diketahui, insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 mengakibatkan 15 orang mengalami luka bakar dan harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Dari jumlah tersebut, 14 orang merupakan taruna Politeknik Pelayaran, sementara satu lainnya adalah Kepala Kamar Mesin (KKM) kapal.
Setelah menjalani perawatan selama beberapa hari di RSUDZA, satu korban dilaporkan meninggal dunia dan jenazahnya telah dipulangkan ke Sumatera Utara.