BANDA ACEH – Ratusan massa yang sebelumnya berkumpul di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, bergerak menuju Kantor DPR Aceh dan Kantor Gubernur Aceh, Sabtu (15/8/2026) sore.
Pergerakan massa dilakukan setelah mediasi dengan Kapolda Aceh. Namun, massa menilai hasil mediasi belum memenuhi tuntutan yang mereka sampaikan.
Pantauan di lokasi sekitar pukul 15.31 WIB, massa berjalan kaki dari kawasan pendopo menuju pusat pemerintahan Aceh. Mereka membawa sejumlah bendera Bulan Bintang sembari meneriakkan yel-yel, termasuk seruan “Aceh Merdeka”.
Ratusan massa tersebut terus bergerak dalam satu rombongan. Sebagian di antaranya bahkan berjalan tanpa menggunakan alas kaki.
Aksi berlangsung di tengah pengamanan aparat kepolisian yang ditempatkan di sejumlah titik. Massa tetap melanjutkan perjalanan sambil membawa bendera dan menyuarakan tuntutan yang sebelumnya disampaikan dalam aksi di kawasan Masjid Raya Baiturrahman.
Sebelumnya, massa yang mengikuti doa tolak bala dan zikir akbar di Masjid Raya Baiturrahman juga mengibarkan bendera Bulan Bintang dan bendera putih. Massa datang dari berbagai daerah di Aceh.

Kegiatan doa dan orasi telah dimulai sejak sekitar pukul 07.00 WIB. Pada awal kegiatan, massa hanya mengibarkan bendera putih. Mereka yang tiba sejak dini hari hingga waktu subuh mengikuti zikir dengan khidmat.
Namun, sekitar pukul 09.00 WIB, sejumlah massa mulai mengeluarkan bendera Bulan Bintang yang telah mereka bawa. Bendera tersebut dibentangkan menggunakan tangan dan sebagian lainnya dipasang pada bambu.
Sejumlah prajurit TNI sempat berupaya menghentikan pengibaran bendera Bulan Bintang. Namun, upaya tersebut mendapat perlawanan dari massa.
Panitia kegiatan sebelumnya juga sempat meminta peserta agar tidak mengibarkan bendera tersebut. Permintaan itu tidak sepenuhnya digubris.
Beberapa orang kemudian naik ke gapura bagian tengah halaman Masjid Raya Baiturrahman untuk mengibarkan bendera Bulan Bintang. Massa juga membentangkan sejumlah spanduk berisi tuntutan politik, salah satunya bertuliskan “Acheh Has Every Right to be Independent”.
Seruan “merdeka” terdengar berulang kali sepanjang kegiatan. Selain bendera Bulan Bintang dan bendera putih, massa juga terlihat mengibarkan bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Salah seorang warga Pidie Jaya, Muhammad Jamil, mengatakan dirinya sengaja datang ke Banda Aceh untuk mengikuti kegiatan zikir setelah mendapat seruan ulama.
Ia mengaku membawa bendera Bulan Bintang karena menilai pengibaran bendera tersebut merupakan bagian dari keinginan masyarakat.
“21 tahun dalami kami tidak dapat apa-apa. Kami harap ada satu hak untuk masyarakat,” ujarnya.

Pengibaran bendera Bulan Bintang juga terlihat di sejumlah bagian halaman Masjid Raya Baiturrahman. Bahkan, massa memasang bendera tersebut di atas tangga yang digunakan untuk memperbaiki fasilitas payung elektrik.
Aksi tersebut berlangsung bersamaan dengan kegiatan doa bersama dan zikir dalam rangka memperingati 21 tahun perdamaian antara Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Selain bendera, massa membawa sejumlah spanduk dengan berbagai pesan, di antaranya “Homeland or Death”, “Aceh Call For The World”, “Acheh Has Every Right To Be” serta “Self Determination We Want to Stand Alone as a Sovereign Nation”.
Setelah mediasi dengan Kapolda Aceh dinilai belum menghasilkan kesepakatan yang dapat memenuhi tuntutan mereka, massa kemudian meninggalkan kawasan Masjid Raya Baiturrahman dan bergerak menuju Kantor DPR Aceh serta Kantor Gubernur Aceh.
Pergerakan massa tersebut mendapat pengawalan aparat keamanan hingga menuju kawasan pusat pemerintahan Aceh.
