acehtoday.id/ | Banda Aceh – Pakar ekonomi Aceh, Prof Apridar, menyebut lesunya aktivitas ekonomi di Pasar Tradisional Saree bukan disebabkan oleh keberadaan Jalan Tol Sigli-Banda Aceh, melainkan fenomena pengalihan arus lalu lintas yang lazim terjadi di dunia ekonomi transportasi.
Menurutnya, tol tidak mematikan roda ekonomi, tetapi menggeser pusat aktivitas ke lokasi lain. Ia menyebut ada tiga teori yang menjelaskan fenomena tersebut.
“Singkatnya, tol tidak mematikan ekonomi, tetapi memindahkan pusat ekonominya,” tegas Apridar, Rabu (15/7/2026).
Tiga Faktor Penyebab Sepinya Saree
Faktor pertama adalah efek pengalihan arus. Pengendara dari Banda Aceh menuju Medan kini memilih jalan tol karena waktu tempuh 40 hingga 60 menit lebih singkat dibanding melintasi Saree. Akibatnya, kendaraan yang dulu singgah membeli kopi, durian, ikan, atau oleh-oleh semakin berkurang.
Apridar menyebut kedai-kedai di Saree kehilangan sekitar 70 hingga 80 persen pelanggan yang sebelumnya hanya mampir karena kebetulan melintasi jalur tersebut.
Faktor kedua adalah perubahan aksesibilitas. Kondisi Jalan Nasional Seulawah yang gelap, rusak, dan minim penerangan membuat masyarakat enggan berhenti, terutama malam hari, sehingga lebih memilih tol yang dinilai lebih terang dan aman.
Faktor ketiga adalah konsentrasi ekonomi, di mana aktivitas usaha cenderung terpusat di kawasan pintu keluar tol seperti Indrapuri dan Banda Aceh, sehingga UMKM di jalur lama sulit bersaing dengan minimarket maupun usaha di sekitar rest area.
Apridar juga mengaitkan kondisi ini dengan teori biaya transaksi dan risiko. Ia menggambarkan keputusan masyarakat untuk berhenti berbelanja dengan rumus sederhana: keuntungan belanja dikurangi biaya waktu dan biaya risiko.
“Kalau biaya risiko meningkat karena jalan rusak dan gelap, orang akan memilih lewat tol walaupun harus membayar karena lebih aman dan cepat,” jelasnya.
Ia menambahkan, banyaknya kedai yang terbengkalai juga sejalan dengan teori Creative Destruction milik ekonom Joseph Schumpeter, di mana usaha yang tak mampu beradaptasi akan tergantikan.
Solusi Bangkitkan Ekonomi Saree
Apridar menilai pembangunan tol tak bisa dilawan, sehingga solusinya adalah repositioning atau mengubah wajah ekonomi Saree dari pasar transit menjadi pasar tujuan.
“Saree harus memiliki produk ikonik yang membuat orang rela keluar dari tol hanya untuk datang ke sana,” ujarnya, sembari mengusulkan branding seperti “Kota Durian Saree” atau “Kopi Saree”, serta pengembangan wisata syariah dan wisata alam Seulawah.
Ia juga mendorong perbaikan last mile connectivity, seperti pemasangan lampu tenaga surya, perbaikan jalan rusak, dan rambu penunjuk arah menuju Pasar Saree dari pintu keluar tol terdekat.
Selain itu, Apridar menyarankan pembentukan kawasan UMKM terpadu melalui koperasi agar pedagang tidak bersaing sendiri-sendiri, serta pemanfaatan pemasaran digital seperti TikTok Shop dan layanan pesan-antar.
Ia menyebut fenomena serupa pernah terjadi di Pasar Bawen usai Tol Semarang-Solo dan Pasar Nagreg usai Tol Cipularang dibuka, namun kembali bangkit setelah mengembangkan kuliner dan produk khas.
Apridar menyimpulkan kondisi Saree saat ini hanya masa transisi selama tiga hingga lima tahun, dan pemerintah daerah perlu menganggarkan revitalisasi khusus untuk koridor jalan non-tol.
“Kalau jalan lama terus dibiarkan gelap dan rusak, sama saja membiarkan kematian ekonomi di sepanjang koridor tersebut,” pungkasnya.**
Tinggalkan Balasan