acehtoday.id/ | Banda Aceh — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda lima kabupaten di Provinsi Aceh secara bersamaan, memaksa aparat kepolisian turun tangan sekaligus memburu pelaku yang diduga sengaja memicu api.
Polda Aceh mengonfirmasi, kejadian tersebut berlangsung di Kabupaten Aceh Tengah, Nagan Raya, Aceh Selatan, Aceh Barat, dan Aceh Barat Daya (Abdya). Titik terpanas perhatian polisi tertuju pada Kampung Toweran Toa, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah, di mana kebakaran pada Minggu (31/5/2026) diduga merupakan tindakan kesengajaan.
Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto menyampaikan, lahan sekitar 400 meter persegi bervegetasi pinus dan rumput kering hangus terbakar sebelum akhirnya berhasil dipadamkan gabungan personel Polri, Damkar, dan warga setempat.
Kapolda Aceh Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah telah menginstruksikan jajarannya untuk menangkap pelaku dan memprosesnya secara hukum.
Karhutla Hanguskan 10 Hektar
Di luar Aceh Tengah, karhutla turut menghanguskan sekitar 10 hektare lahan di Desa Kayee Unoe dan Babah Lueng, Nagan Raya. Di Aceh Selatan, api membakar satu hektare di Desa Kapa Sesak, Kecamatan Trumon Timur. Kabupaten Aceh Barat mencatat kebakaran satu hektare di Desa Kuta Padang, Kecamatan Bubon, sementara di Abdya, lahan seluas 500 meter persegi di Desa Teladan Jaya, Babahrot, ikut terdampak.
Seluruh titik api kini telah dipadamkan. Polda Aceh mengingatkan masyarakat bahwa pembakaran lahan melanggar Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan mengancam keselamatan lingkungan.
BANDA ACEH — Dua mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) resmi ditetapkan sebagai tersangka pembakaran laboratorium dan pengrusakan ruang kuliah Fakultas Pertanian yang terjadi pada 21 Mei 2026 dini hari. Penetapan tersangka dilakukan Satreskrim Polresta Banda Aceh setelah memeriksa 18 saksi dan menggelar perkara secara maraton sejak Kamis (21/05/2026).
Kedua tersangka adalah WS (22) dan MAM (20) — keduanya sebelumnya juga diperiksa dalam kapasitas saksi. Kasatreskrim Polresta Banda Aceh, Kompol Miftahuda Dizha Fezuono, mengumumkan penetapan tersebut pada Sabtu (30/05/2026).
Mengutip tribratanewspolrestabandaaceh,WS diduga berperan sebagai koordinator lapangan (korlap) dalam aksi penyerangan, sedangkan MAM bertindak sebagai eksekutor yang terlibat langsung di lapangan. Keduanya dijerat Pasal 262 juncto Pasal 308 juncto Pasal 521 juncto Pasal 522 KUHP.
Penyidik turut menyita sejumlah barang bukti, antara lain tiga unit sepeda motor rusak berat, pagar besi stainless steel yang terbakar, dua pecahan botol diduga bom molotov, satu bom molotov utuh, pakaian pelaku saat kejadian, serta satu unit DVR CCTV milik fakultas.
Kronologi konflik bermula pada 18 Mei 2026, saat unjuk rasa mahasiswa di Kantor Gubernur Aceh. Mahasiswa Fakultas Teknik menolak bergabung dengan Fakultas Pertanian dalam aksi tersebut. Saat rombongan Pertanian melintas di depan Fakultas Teknik sambil menggeber kendaraan, gesekan mulai memanas.
Pada hari yang sama, sekitar pukul 17.41 WIB, sejumlah mahasiswa Pertanian diduga memaksa masuk ke Sekretariat BEM USK yang sedang menggelar rapat, hingga seorang mahasiswa Teknik mengalami luka robek di kaki dan dirawat di RSUD Zainoel Abidin.
Meski sempat dimediasi pihak kampus, ketegangan tak mereda. Pada 21 Mei 2026 dini hari, puluhan mahasiswa Pertanian menyerang Fakultas Teknik, melukai dua mahasiswa dan memecahkan sejumlah kaca gedung. Aksi ini memicu serangan balasan: ratusan mahasiswa Teknik menyerbu Fakultas Pertanian sekitar pukul 04.00 WIB dengan lemparan batu dan bom molotov, mengakibatkan kerusakan serius pada gedung dan laboratorium.
Kompol Miftahuda menegaskan, konflik ini murni terjadi antarmahasiswa internal USK — antara Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik — tanpa keterlibatan mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Penyidikan masih berlanjut dengan rencana pemeriksaan 18 saksi tambahan, sehingga total saksi yang diperiksa akan mencapai 36 orang termasuk dua tersangka.
Kronoligis di Balik Penetapan Tersangka Pembakaran Laboratorium
Polisi memeriksa mahasiswa dalam kasus pembakaran laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Foto Dok Polresta Banda Aceh
Sebagaimana diberitakan sebelumnya oleh media ini, Penyidik Satreskrim Polresta Banda Aceh telah memintai keterangan 15 saksi terkait kejadian terbakarnya Gedung Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) pada Kamis (21/5/2026) dini hari. Dari 15 saksi tersebut, 13 di antaranya merupakan mahasiswa, satu dosen, dan satu saksi pelapor.
Kasat Reskrim Kompol Miftahuda Dizha Fezuono menjelaskan bahwa pemeriksaan ini berdasarkan laporan polisi oleh pihak Fakultas Pertanian Nomor LP/B/418/V/2026/SPKT/Polresta Banda Aceh/Polda Aceh, tanggal 21 Mei 2026. Dalam proses pemeriksaan, 13 mahasiswa didampingi oleh Wakil Dekan Fakultas Teknik, Bambang Setiawan.
Kejadian bermula dari keributan antara dua kelompok mahasiswa dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik. Keributan yang berlangsung selama dua hari tersebut berujung pada pengrusakan fasilitas kampus. Dua mahasiswa Fakultas Teknik dilaporkan mengalami luka-luka, sehingga sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik melakukan aksi pembalasan dengan melempar batu dan bom molotov ke Fakultas Pertanian.
Akibat kejadian ini, Gedung Fakultas Pertanian, laboratorium, Pos Satpam, tiga unit sepeda motor, dan satu unit mobil terbakar. Api berhasil dipadamkan oleh petugas DPKP Kota Banda Aceh dan BPBD Aceh Besar. Kerugian ditaksir mencapai Rp20 miliar.
Penyidik telah mengumpulkan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian, antara lain batu, kayu, kendaraan yang terbakar, serta pecahan kaca yang diduga berasal dari bom molotov. Unit Inafis Satreskrim Polresta Banda Aceh juga telah melakukan olah TKP guna mengungkap sumber awal kebakaran. Selain itu, uji Laboratorium Forensik terhadap sejumlah barang bukti akan segera dilakukan.
Polresta Banda Aceh mengimbau masyarakat yang mengetahui identitas pelaku untuk segera melapor, dengan jaminan kerahasiaan pelapor tetap terjaga.
Pemerintah Aceh menegaskan pentingnya penguatan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik dunia.
Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir saat memimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di halaman Kantor Gubernur Aceh, Senin (1/6/2026).
Dalam kesempatan itu, M. Nasir membacakan amanat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila yang menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan dan memastikan nilai-nilai Pancasila tetap menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Tahun ini Pancasila kembali ditegaskan sebagai jangkar moral bangsa dalam menghadapi berbagai turbulensi global, mulai dari perkembangan teknologi hingga dinamika geopolitik yang terus berubah,” kata M. Nasir saat membacakan amanat tersebut.
Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.” Tema tersebut menekankan peran Pancasila tidak hanya sebagai pemersatu bangsa yang majemuk, tetapi juga sebagai nilai yang relevan dalam mendukung terciptanya perdamaian dunia.
Dalam amanat tersebut disebutkan bahwa keberagaman Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dan ratusan kelompok etnis dapat tetap terjaga dalam satu ikatan kebangsaan karena nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Nilai musyawarah, persatuan, dan keadilan sosial dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan zaman.
Selain memperkuat persatuan nasional, Indonesia juga disebut memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam menjaga ketertiban dunia sebagaimana amanat konstitusi. Peran Indonesia dalam berbagai misi perdamaian internasional, mediasi konflik regional, serta konsistensi menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa yang masih tertindas menjadi bagian dari implementasi nilai-nilai Pancasila di tingkat global.
Melalui momentum Hari Lahir Pancasila, pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari agar tetap relevan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Upacara yang berlangsung khidmat tersebut diikuti unsur Forkopimda Aceh, para kepala SKPA, serta aparatur sipil negara dari berbagai instansi di lingkungan Pemerintah Aceh.( Adv)
Aroma bakaran yang khas berpadu dengan harum saus kental seketika menarik perhatian siapa saja yang melintasi kawasan kuliner di sepanjang bibir pantai Pulau Weh. Di atas bara api yang menyala, deretan tusuk sate bertekstur unik perlahan berubah warna menjadi kecokelatan, menghadirkan pemandangan yang menggugah selera.
Di balik kepulan asap panggangan itu, ada satu kuliner yang telah menjadi identitas Kota Sabang: Sate Gurita. Hidangan berbahan dasar hasil laut ini bukan hanya sekadar makanan khas, tetapi telah menjelma menjadi bagian dari pengalaman wisata yang wajib dicoba para pengunjung yang datang ke ujung barat Indonesia.
Lahir dari kekayaan laut sekitar Sabang, Sate Gurita menjadi bukti bagaimana potensi alam dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi masyarakat pesisir. Gurita yang digunakan umumnya berasal dari hasil tangkapan nelayan lokal, menjadikan kuliner ini memiliki cita rasa yang erat dengan kehidupan bahari Pulau Weh.
Berbeda dengan sate pada umumnya yang menggunakan daging ayam atau kambing, Sate Gurita menawarkan pengalaman rasa yang berbeda. Teksturnya kenyal namun tetap lembut ketika disantap. Proses pengolahan yang tepat menjadi kunci utama, mulai dari perebusan dengan racikan rempah hingga tahap pembakaran yang menghilangkan aroma laut dan menghasilkan rasa gurih yang khas.
Dalam penyajiannya, Sate Gurita biasanya hadir dengan pilihan dua jenis bumbu favorit. Ada saus kacang dengan cita rasa gurih dan manis yang pekat, serta bumbu padang dengan karakter rempah yang lebih kuat dan sensasi pedas menggoda. Hidangan ini semakin lengkap dengan potongan lontong hangat yang membuat satu porsi terasa semakin nikmat.
Dengan harga sekitar Rp30.000 per porsi, wisatawan dapat menikmati sajian laut khas Sabang yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga membawa cerita tentang hasil bumi dan laut masyarakat setempat.
Seiring berkembangnya sektor pariwisata, Sate Gurita tidak lagi hanya menjadi makanan rumahan. Kuliner ini telah tumbuh menjadi salah satu daya tarik wisata gastronomi Sabang. Banyak wisatawan yang datang bukan hanya untuk menikmati panorama laut, tetapi juga mencari pengalaman mencicipi makanan lokal yang tidak mudah ditemukan di daerah lain.
Bagi para pelaku UMKM kuliner, popularitas Sate Gurita menjadi peluang untuk terus mengembangkan usaha sekaligus memperkenalkan identitas Sabang melalui cita rasa. Setiap tusuk sate yang disajikan membawa cerita tentang kerja keras nelayan, kreativitas masyarakat pesisir, dan upaya menjaga warisan kuliner lokal.
Bagi para pelaku usaha sate di Sabang, khususnya mereka yang meneruskan usaha keluarga, mempertahankan Sate Gurita bukan hanya tentang menjaga sebuah menu, tetapi juga merawat identitas daerah yang telah tumbuh bersama masyarakat pesisir.
Di tengah perkembangan kuliner modern dengan berbagai inovasi baru, para penjual Sate Gurita tetap mempertahankan cita rasa khas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi mereka, setiap proses pengolahan bukan sekadar aktivitas memasak, melainkan cara menjaga cerita dan tradisi yang melekat pada kehidupan masyarakat laut Sabang.
Duta Wisata Kota Sabang, Cut Adek Humaira, menyebut Sate Gurita sebagai salah satu representasi kuat dari identitas pariwisata Sabang.
“Sate Gurita adalah wajah dari pariwisata Sabang. Jika Anda ke Sabang tetapi belum mencicipi hidangan ini, maka petualangan Anda belum bisa dikatakan sempurna. Kami selalu menonjolkan kuliner ini karena ia menceritakan tentang kearifan lokal nelayan kita dan kekayaan ekosistem laut yang kita miliki. Sate ini adalah bentuk diplomasi rasa; ia meninggalkan kesan mendalam yang sering kali menjadi alasan utama wisatawan rindu untuk kembali pulang ke Sabang,” jelas Humaira.
Di tengah geliat wisata Pulau Weh, Sate Gurita hadir sebagai penghubung antara laut, budaya, dan ekonomi masyarakat. Sebuah sajian sederhana dari hasil tangkapan laut yang berhasil menjelma menjadi simbol rasa khas Sabang yang terus dicari para pelancong.
Menikmati senja di tepi pantai Pulau Weh sambil menyantap kehangatan sate yang autentik ini adalah sebuah keharusan. Jadi, pastikan Sate Gurita berada di barisan teratas dalam daftar kuliner yang wajib Anda coba saat berkunjung ke Sabang!
caption: Duta Wisata Kota Sabang, Cut Adek Humaira mencicipi hidangan Sate Gurita.Sate Gurita sebagai salah satu representasi kuat dari identitas pariwisata Sabang. Foto: Humaira (Adv)