PerJuni 2026 Inflasi Aceh Tembus 5,84 Persen, Harga Bahan Pokok Terus Bergejolak

Written by

in

acehtoday.id/ | Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat inflasi tahunan (year-on-year) Aceh pada Juni 2026 mencapai 5,84 persen, sementara inflasi bulanan (month-to-month) tercatat sebesar 0,56 persen. Kenaikan harga barang dan jasa masih didominasi oleh kelompok pangan serta biaya transportasi, berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Aceh yang dirilis Rabu (1/7/2026).

Plh. Kepala BPS Provinsi Aceh, Abd. Hakim, menjelaskan bahwa secara bulanan, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan tingkat inflasi mencapai 2,75 persen, atau memberikan andil sebesar 0,27 persen terhadap inflasi Juni 2026.

“Pada Juni 2026, inflasi bulanan Aceh sebesar 0,56 persen. Kenaikan harga terutama dipengaruhi kelompok transportasi, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang masih memberikan tekanan cukup besar terhadap inflasi,” ujarnya.

Kenaikan harga bensin disebut menjadi faktor dominan pendorong inflasi kelompok transportasi. Di sektor pangan, harga cabai merah, bawang merah, ikan dencis, dan beras turut mengalami kenaikan sehingga memperbesar tekanan inflasi sepanjang Juni.

Di sisi lain, penurunan harga pada komoditas tomat, ikan bandeng, udang basah, telur ayam ras, dan daging ayam ras sedikit menahan laju kenaikan harga secara keseluruhan.

Untuk inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi kontributor terbesar dengan andil mencapai 2,95 persen, menandakan sektor pangan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga di Aceh sepanjang setahun terakhir.

Menurut Abd. Hakim, komoditas dengan andil inflasi tahunan terbesar meliputi nasi dengan lauk, emas perhiasan, beras, cabai merah, dan bensin, sementara tarif air minum PAM, baju muslim wanita, tarif SMA, ikan kuniran, dan tarif SMP justru memberikan andil terhadap deflasi.

Dari sisi kewilayahan, seluruh daerah acuan penghitungan inflasi di Aceh mencatatkan inflasi tahunan. Kabupaten Aceh Tengah menempati posisi tertinggi dengan 7,25 persen, sedangkan Meulaboh mencatat angka terendah sebesar 3,89 persen.

Untuk inflasi bulanan, Aceh Tamiang menjadi daerah dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,79 persen, sementara Meulaboh justru menjadi satu-satunya daerah yang mengalami deflasi tipis 0,03 persen.

Abd. Hakim menambahkan, tekanan inflasi bulanan masih dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, bawang merah, ikan dencis, beras, cabai rawit, bawang putih, cabai hijau, hingga wortel. Sementara secara tahunan, beras, cabai merah, rokok kretek, tomat, minyak goreng, ikan tongkol, dan bawang merah menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi Aceh.

“Kami berharap seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat koordinasi dalam menjaga pasokan, memperlancar distribusi, serta melakukan pengendalian harga agar inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat dapat terjaga,” tutup Abd. Hakim.**

Laporan: Zaki

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *