acehtoday.id/ | Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat sektor ekonomi kreatif melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satu upaya tersebut diwujudkan lewat Pelatihan Bordir Kreatif Berbasis Wastra Aceh yang resmi dibuka Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banda Aceh, Selasa (14/7/2026).
Pelatihan yang berlangsung selama lima hari itu merupakan hasil kolaborasi antara Dekranasda Kota Banda Aceh dan BPVP Banda Aceh. Sebanyak 20 peserta dari berbagai gampong mengikuti kegiatan yang ditujukan bagi pelaku industri kecil menengah (IKM) dan perajin bordir.
Materi pelatihan meliputi pengembangan desain berbasis wastra Aceh, teknik pembuatan pola, praktik membordir, proses penyelesaian (finishing), pengendalian mutu, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran agar mampu menjawab kebutuhan pasar.
Dalam sambutannya, Illiza menilai kolaborasi antara Dekranasda dan BPVP menjadi langkah konkret dalam memperkuat kapasitas pelaku UMKM di Banda Aceh.
Menurutnya, keberhasilan sebuah produk saat ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas, tetapi juga kemampuannya menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen.
“Saat ini yang dibutuhkan bukan hanya produk yang bagus, tetapi juga produk yang mampu menjawab kebutuhan pasar,” ujar Illiza.
Ia menegaskan bahwa wastra Aceh memiliki nilai yang jauh lebih besar dibanding sekadar kain. Di dalamnya terkandung sejarah, identitas budaya, serta jati diri masyarakat Aceh yang perlu terus dilestarikan.
Menurutnya, pelestarian budaya akan semakin memberikan manfaat apabila mampu menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat. Ketika motif-motif khas Aceh diolah menjadi produk fesyen maupun suvenir, maka budaya dan ekonomi dapat berkembang secara bersamaan.
Pada kesempatan itu, Illiza juga memaparkan potensi ekonomi Banda Aceh. Saat ini ibu kota Provinsi Aceh tersebut memiliki jumlah penduduk sebanyak 269.552 jiwa dengan sekitar 47.460 pelaku UMKM. Ia menyebutkan, dalam satu tahun terakhir pemerintah kota juga berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 6,95 persen menjadi 5,45 persen.
Pelatihan bordir berbasis wastra Aceh ini, lanjutnya, juga menjadi bagian dari implementasi Program Cepat atau Ciptakan Ekonomi yang Produktif, Akseleratif, dan Tumbuh. Program tersebut berjalan seiring dengan Banda Aceh Academy yang difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, baik aparatur pemerintah maupun masyarakat.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Banda Aceh, Amir Ridha, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bentuk komitmen organisasi dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di sektor kerajinan.
Ia berharap para peserta mampu menghasilkan produk bordir yang berkualitas sekaligus memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Menurutnya, pelestarian budaya akan semakin kuat apabila mampu memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Amir juga berharap karya-karya bordir yang dihasilkan peserta nantinya memiliki identitas khas Banda Aceh sehingga mampu menembus pasar yang lebih luas.
Di sisi lain, Sekretaris Dekranasda Kota Banda Aceh, Inayati Sa’aduddin Djamal, menjelaskan bahwa pelatihan ini diperuntukkan bagi perajin yang telah memiliki kemampuan dasar membordir.
Menurutnya, fokus kegiatan adalah meningkatkan keterampilan agar produk yang dihasilkan semakin kompetitif, tidak hanya di pasar Aceh, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
Selain peningkatan kualitas produk, Inayati juga menekankan pentingnya membangun jejaring antarpengrajin. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar para perajin mampu memenuhi permintaan dalam jumlah besar sekaligus menjadikan bordir berbasis wastra Aceh sebagai salah satu produk unggulan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat.**
Tinggalkan Balasan