Bulan: Juni 2026

  • Muzakir Manaf Lantik Misran Fuadi sebagai Kepala Dinas Syariat Islam Aceh

    Muzakir Manaf Lantik Misran Fuadi sebagai Kepala Dinas Syariat Islam Aceh

    Gubernur Aceh Muzakir Manaf melantik Dr. Misran Fuadi, S.Ag., MAP sebagai Kepala Dinas Syariat Islam Aceh dalam prosesi yang berlangsung di Pendopo Gubernur Aceh, Selasa (23/6/2026).

    Pelantikan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Aceh untuk memperkuat pelaksanaan program pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai syariat Islam sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik di lingkungan Dinas Syariat Islam Aceh.

    Dalam sambutannya, Gubernur Aceh berharap pejabat yang baru dilantik dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, profesional, dan mampu memperkuat implementasi syariat Islam sesuai dengan kewenangan serta kekhususan yang dimiliki Aceh.

    Muzakir Manaf menegaskan bahwa Dinas Syariat Islam memiliki peran strategis dalam mendukung pelaksanaan syariat Islam di Aceh, baik melalui program pembinaan, pengawasan, maupun edukasi kepada masyarakat.

    Misran Fuadi sendiri merupakan birokrat yang telah lama berkiprah di lingkungan pemerintahan dan memiliki pengalaman dalam berbagai posisi strategis. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi modal untuk memperkuat kinerja lembaga dalam menjalankan berbagai program yang berkaitan dengan syariat Islam.

    Pelantikan berlangsung khidmat dan turut dihadiri sejumlah pejabat Pemerintah Aceh serta tamu undangan lainnya.

    Dengan dilantiknya Misran Fuadi sebagai Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Pemerintah Aceh berharap berbagai program pembinaan dan pengembangan syariat Islam dapat berjalan lebih optimal, efektif, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

    Selain memperkuat implementasi syariat Islam, kepemimpinan baru di Dinas Syariat Islam juga diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat serta memperkuat sinergi dengan berbagai pihak dalam mendukung pembangunan Aceh yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

  • Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh Farid Nyak Uma Hadiri Coffee Morning ASOKULAM Bersama Forkopimcam Kuta Alam

    Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh Farid Nyak Uma Hadiri Coffee Morning ASOKULAM Bersama Forkopimcam Kuta Alam

    BANDA ACEH – Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Uma, menghadiri kegiatan Coffee Morning yang diselenggarakan oleh Asosiasi Keuchik Kuta Alam (ASOKULAM) bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kuta Alam.

    Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban tersebut menjadi wadah untuk memperkuat komunikasi, koordinasi, dan sinergi antara unsur pemerintah kecamatan, aparatur gampong, serta para pemangku kepentingan dalam mendukung pembangunan dan pelayanan masyarakat di wilayah Kecamatan Kuta Alam.

    Farid Nyak Uma mengapresiasi inisiatif ASOKULAM yang terus membangun ruang dialog dan silaturahmi antara para keuchik dengan unsur Forkopimcam. Menurutnya, komunikasi yang baik menjadi salah satu kunci dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat serta mempercepat pelaksanaan program pembangunan di tingkat gampong.

    “Melalui forum seperti ini, berbagai masukan dan aspirasi dari gampong dapat disampaikan secara langsung sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan maupun program pembangunan yang lebih tepat sasaran,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan komitmen DPRK Banda Aceh untuk terus mendukung berbagai upaya yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat tata kelola pemerintahan gampong, serta menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.

    Kegiatan Coffee Morning tersebut diharapkan dapat semakin mempererat hubungan antara pemerintah, aparatur gampong, dan masyarakat, sehingga kolaborasi dalam membangun Kota Banda Aceh dapat berjalan lebih optimal.(Adv)

  • Dokumen Investasi Rp200 Triliun Tak Kunjung Dibuka, APEL Green Aceh Siap Gugat Pemkab Nagan Raya

    acehtoday.id/ | Nagan Raya – Investasi Rp200 Triliun di Kabupaten Nagan Raya kembali menjadi sorotan. Yayasan APEL Green Aceh menyatakan siap membawa sengketa informasi publik terkait dokumen nota kesepahaman (MoU) investasi tersebut ke Komisi Informasi apabila Pemerintah Kabupaten Nagan Raya tetap tidak memberikan respons atas permintaan dokumen yang diajukan.

    Sikap tersebut diambil sebagai bentuk desakan terhadap pemerintah daerah agar lebih transparan dalam membuka informasi publik, khususnya mengenai kerja sama investasi yang nilainya mencapai Rp200 triliun dan menjadi perhatian masyarakat.

    Langkah itu diambil setelah organisasi masyarakat sipil tersebut mengirimkan permohonan informasi publik untuk kedua kalinya kepada Pemerintah Kabupaten Nagan Raya melalui Atasan PPID Utama, yakni Sekretaris Daerah (Sekda). Sebelumnya, permohonan informasi yang diajukan tidak memperoleh tanggapan sebagaimana mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

    Direktur Yayasan APEL Green Aceh, Syukur Tadu, menegaskan masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka isi dan ruang lingkup kerja sama investasi bernilai fantastis yang telah diumumkan pemerintah daerah tersebut.

    Investasi Rp200 Triliun Dipertanyakan

    “Investasi sebesar Rp200 triliun merupakan kebijakan strategis yang berdampak luas terhadap daerah. Publik berhak mengetahui siapa pihak yang terlibat, apa isi kesepakatannya, serta bagaimana potensi dampak sosial dan lingkungan yang dapat muncul,” kata Syukur, Selasa (24/6).

    Peserta Aksi unjuk rasa yang berasal dari Masyarakat Beutong Ateuh menenteng sejumlah tulisan yang berisi penolakan tambang di depan Kantor Bupati Kabupaten Nagan Raya (Photo : Uci Setiawan)
    Peserta Aksi unjuk rasa yang berasal dari Masyarakat Beutong Ateuh menenteng sejumlah tulisan yang berisi penolakan tambang di depan Kantor Bupati Kabupaten Nagan Raya (Photo : Uci Setiawan)

    Menurutnya, keterbukaan informasi merupakan kewajiban badan publik, terutama ketika menyangkut pengelolaan sumber daya alam, investasi berskala besar, dan arah pembangunan daerah dalam jangka panjang.

    APEL Green Aceh menyatakan akan menunggu tanggapan pemerintah daerah selama 30 hari kerja sejak surat keberatan diajukan. Jika hingga batas waktu tersebut tidak ada jawaban atau dokumen yang diminta tetap tidak diberikan, organisasi tersebut memastikan akan mengajukan sengketa informasi publik ke Komisi Informasi.

    “Kami akan menggunakan seluruh mekanisme hukum yang tersedia untuk memastikan hak masyarakat memperoleh informasi publik tetap terlindungi,” ujarnya.

    Selain menyoroti belum terbukanya dokumen investasi, APEL Green Aceh juga mempertanyakan penghargaan keterbukaan informasi publik yang diterima Pemerintah Kabupaten Nagan Raya pada Juni 2026.

    Menurut Syukur, penghargaan tersebut menjadi kontradiktif apabila permohonan informasi terkait proyek investasi bernilai Rp200 triliun justru tidak mendapatkan respons yang memadai dari badan publik.

    @acehtoday.id/ 🚨 Ratusan warga Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, menggelar aksi demonstrasi menolak aktivitas pertambangan di wilayah mereka. Aksi berlangsung di Kantor Bupati Nagan Raya pada Senin (22/6/2026). Warga menyuarakan aspirasi mereka dan meminta pemerintah mendengar tuntutan terkait dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas tambang di daerah tersebut. #SeputarAceh #NaganRaya #Beutong #TolakTambang #Aceh ♬ suara asli – Seputar Aceh

    “Jika informasi mengenai investasi sebesar ini tidak dapat diakses publik, maka masyarakat tentu berhak mempertanyakan sejauh mana prinsip keterbukaan benar-benar dijalankan,” katanya.

    APEL Green Aceh menilai keterbukaan informasi menjadi faktor penting dalam mengawal investasi skala besar karena berpotensi memengaruhi tata ruang wilayah, pengelolaan sumber daya alam, kawasan hutan, serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem lingkungan di Kabupaten Nagan Raya.

    Bagi kalangan masyarakat sipil, transparansi merupakan instrumen utama untuk memastikan setiap investasi yang masuk ke daerah dapat diawasi publik dan tidak menimbulkan persoalan sosial maupun dampak lingkungan di kemudian hari.

    Kini, polemik dokumen MoU investasi Rp200 triliun tersebut dinilai bukan lagi sekadar persoalan administrasi, melainkan menjadi ujian terhadap komitmen Pemerintah Kabupaten Nagan Raya dalam menjalankan prinsip akuntabilitas, keterbukaan informasi, dan partisipasi publik dalam pembangunan daerah.**

  • Wakil Wali Kota dan Sekda Banda Aceh Turun Langsung Ikut Patroli Syariat Islam

    Wakil Wali Kota dan Sekda Banda Aceh Turun Langsung Ikut Patroli Syariat Islam

    Wakil Wali Kota Banda Aceh Afdhal Khalilullah bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banda Aceh Jalaluddin turun langsung mengikuti Patroli Pengawasan Terpadu (Pawasdu) yang digelar Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH) Banda Aceh yang digelar pada Minggu (21/6/2026) malam hingga Senin (22/6/2026) dini hari lalu.

    Patroli yang berlangsung hingga pukul 02.00 WIB itu menyasar sejumlah kawasan dalam wilayah Kota Banda Aceh sebagai bagian dari upaya pengawasan dan pencegahan pelanggaran syariat Islam.

    Kegiatan tersebut melibatkan unsur Pemerintah Kota Banda Aceh bersama personel Satpol PP-WH dengan mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis kepada masyarakat.

    Kepala Satpol PP-WH Banda Aceh, Muhammad Rizal, mengatakan kehadiran Wakil Wali Kota dan Sekda dalam patroli tersebut menjadi bentuk dukungan nyata pemerintah daerah terhadap pelaksanaan syariat Islam di ibu kota Provinsi Aceh.

    “Pawasdu ini merupakan agenda rutin yang bersifat preventif dan humanis guna membangun kesadaran bersama bahwa menjaga marwah syariat Islam di Kota Banda Aceh menjadi tanggung jawab bersama,” kata Rizal, Rabu (24//6/2026).

    Menurutnya, patroli tidak hanya bertujuan melakukan pengawasan, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

    Ia menjelaskan, Pawasdu selama ini menjadi salah satu instrumen yang digunakan pemerintah kota untuk menjaga ketertiban dan ketenteraman masyarakat, terutama di lokasi-lokasi yang dinilai rawan terjadi pelanggaran syariat.

    Dalam pelaksanaannya, petugas lebih mengedepankan pendekatan pembinaan dan sosialisasi agar masyarakat memahami aturan yang berlaku tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan.

    Rizal menambahkan, kegiatan pengawasan terpadu tersebut akan terus dilaksanakan secara berkala dengan melibatkan berbagai unsur pemerintah dan masyarakat guna memperkuat pengawasan serta menjaga pelaksanaan syariat Islam di Kota Banda Aceh.

    “Melalui keterlibatan semua pihak, kami berharap kesadaran masyarakat untuk mematuhi syariat Islam semakin meningkat sehingga ketertiban dan kenyamanan di Banda Aceh dapat terus terjaga,” ujarnya.(Adv)

  • Gunung Geurutee, Destinasi Panorama yang Memikat di Pesisir Aceh

    Gunung Geurutee, Destinasi Panorama yang Memikat di Pesisir Aceh

    Perjalanan melintasi jalur Banda Aceh–Calang di kawasan Aceh Jaya selalu menyuguhkan pemandangan yang memanjakan mata. Jalan yang berkelok di antara perbukitan terkadang membuat perjalanan terasa melelahkan, namun rasa lelah itu seakan hilang ketika kendaraan mulai memasuki kawasan Puncak Gunung Geurutee.

    Dari ketinggian ini, hamparan laut biru terbentang luas di hadapan mata. Gugusan pulau kecil yang terlihat dari kejauhan berpadu dengan langit yang membentang tanpa batas, menciptakan panorama alam yang menjadi salah satu daya tarik wisata di pesisir barat Aceh.

    Puncak Gunung Geurutee telah lama dikenal sebagai salah satu ikon wisata alam di jalur penghubung Banda Aceh dan Calang. Berada di kawasan perbukitan yang langsung menghadap ke Samudra Hindia, tempat ini menawarkan pemandangan laut yang berpadu dengan hijaunya perbukitan serta udara sejuk khas pegunungan.

    Bagi banyak wisatawan, Geurutee bukan hanya tempat untuk beristirahat dalam perjalanan. Lokasi ini menjadi ruang untuk menikmati suasana alam dan melepas sejenak kepenatan dari aktivitas sehari-hari. Angin yang berembus perlahan, suara alam, serta pemandangan laut luas menciptakan pengalaman sederhana yang terasa istimewa.

    Salah satu hal yang sering dilakukan pengunjung adalah menikmati kelapa muda sambil duduk menghadap langsung ke lautan. Kesegaran minuman khas tropis tersebut berpadu dengan panorama alam yang terbuka luas. Memandangi ombak dari kejauhan sambil menikmati udara segar membuat waktu terasa berjalan lebih lambat.

    Salah seorang wisatawan, Srikandi, mengaku terkesan dengan suasana yang ditawarkan Puncak Gunung Geurutee. Menurutnya, tempat tersebut memberikan pengalaman berbeda karena wisatawan tidak hanya melihat keindahan alam, tetapi juga dapat merasakan ketenangan.

    “Pemandangannya luar biasa. Setelah perjalanan yang cukup panjang, berhenti di sini membuat pikiran lebih segar. Duduk melihat laut sambil menikmati suasana sekitar menjadi pengalaman yang sulit dilupakan,” ujar Srikandi.

    Keindahan Puncak Gunung Geurutee juga menjadikannya lokasi favorit untuk mengabadikan momen. Banyak wisatawan datang bersama keluarga, sahabat, maupun orang terdekat untuk berfoto dengan latar belakang laut lepas. Sebagian lainnya memilih menikmati suasana dalam kesunyian, mencari ketenangan di tengah perjalanan.

    Bagi masyarakat Aceh maupun wisatawan yang melintas, Puncak Gunung Geurutee bukan sekadar tempat singgah. Tempat ini menjadi pengingat bahwa perjalanan tidak selalu tentang tujuan akhir, tetapi juga tentang menikmati setiap momen yang ditemui sepanjang jalan.

    Di atas ketinggian Geurutee, alam menghadirkan ruang untuk bernapas lebih lega. Laut yang luas, angin yang sejuk, dan pemandangan yang menenangkan menjadikan kawasan ini salah satu destinasi wisata alam Aceh Jaya yang selalu mengundang siapa pun untuk berhenti dan kembali menikmati pesonanya.(Adv)

  • Draft NBA 2026: Semua Pilihan dan Reaksi dari Brooklyn

    Seputar Aceh – NBA Draft 2026 telah dimulai dengan AJ Dybantsa terpilih sebagai pilihan pertama oleh Washington Wizards. Acara ini menandai peringatan 80 tahun NBA Draft, yang diadakan di Brooklyn.

    Sebagaimana dilaporkan oleh NBA.com, Dybantsa dipilih pada malam pertama, yang akan diikuti dengan putaran kedua pada 24 Juni 2026. Draft ini dapat disaksikan di ABC, ESPN, dan NBA League Pass secara internasional.

    Diskusi Pilihan Utama dalam Draft NBA 2026

    Dalam acara malam ini, Milwaukee Bucks memilih Brayden Burries dari Arizona sebagai pilihan ke-10. Burries memiliki ukuran 6’4″ dan mampu mencetak 16.1 poin per game, serta 1.5 steal, yang diharapkan dapat menambah kekuatan tim.

    Selanjutnya, Dallas Mavericks memperkenalkan Morez Johnson Jr. dari Michigan sebagai pilihan ke-9. Johnson dikenal karena kekuatan dan atletisismenya, yang diharapkan dapat memperkuat barisan depan Mavericks.

    Analisis Dampak NBA Draft 2026

    Setiap tahun, NBA Draft menjadi momen penting bagi tim dan pemain. Pemilihan Dybantsa sebagai nomor satu menunjukkan kepercayaan Washington Wizards akan potensi besar yang dimilikinya. Hal ini juga mencerminkan kebutuhan tim untuk membangun masa depan yang kuat.

    Pemilihan pemain muda, seperti Darius Acuff Jr. dari Arkansas oleh Sacramento Kings, yang merupakan pemenang penghargaan Bob Cousy, menunjukkan bahwa tim mencari pemain yang tidak hanya berbakat tetapi juga memiliki pengalaman di level kompetisi tinggi.

    Kesimpulan dari Draft NBA 2026

    NBA Draft 2026 menawarkan banyak potensi bagi tim yang ingin membangun kembali. Keputusan yang diambil malam ini akan sangat memengaruhi arah tim di musim mendatang. Dengan banyaknya bakat yang muncul, penggemar dapat berharap untuk melihat perkembangan yang menarik dari para pemain baru ini.

  • Saat Kota Baru Terbangun, Warung Kopi Banda Aceh Sudah Lebih Dulu Hidup

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Warung kopi Banda Aceh sudah mulai ramai ketika langit masih menyisakan warna gelap menjelang pagi.

    Lampu-lampu warung menyala sejak usai salat Subuh, sementara jarum jam bahkan belum menunjukkan pukul 06.00 WIB, namun kursi-kursi di sejumlah kedai sudah terisi.

    Asap tipis dari secangkir kopi hitam mengepul, menemani obrolan ringan yang mengalir di antara para pelanggan.

    Di kota yang dikenal sebagai salah satu pusat budaya kopi di Indonesia ini, warung kopi bukan sekadar tempat menikmati minuman berkafein.

    Ia telah menjadi ruang sosial yang hidup sejak pagi buta, bahkan sebelum sebagian besar aktivitas kota dimulai.

    Usai salat Subuh, sejumlah warga langsung menuju warung kopi langganan. Ada yang datang sendiri sambil membaca berita di ponsel, ada pula yang berkumpul bersama rekan kerja atau sahabat untuk berbincang tentang berbagai hal, mulai dari harga kebutuhan pokok, sepak bola, hingga isu-isu politik terbaru.

    Pemandangan seperti ini bukanlah hal baru. Budaya ngopi pagi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banda Aceh selama puluhan tahun.

    Di banyak sudut kota, aktivitas warung kopi bahkan dimulai ketika jalanan masih lengang dan toko-toko belum membuka pintunya.

    Bagi sebagian warga, secangkir kopi pagi bukan sekadar pelepas kantuk. Ritual itu menjadi cara memulai hari.

    Aroma kopi yang khas, suasana santai, dan kesempatan bertemu banyak orang menjadikan warung kopi sebagai tempat yang sulit dipisahkan dari keseharian masyarakat Aceh.

    Saat Kota Baru Terbangun, Warung Kopi Banda Aceh Sudah Lebih Dulu Hidup
    Secangkir kopi hitam hangat menemani pagi di salah satu warung kopi Banda Aceh. Budaya ngopi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Foto : acehtoday.id/-Nandar

    Warung Kopi Banda Aceh Jadi Pusat Pertemuan semua Kalangan

    Di meja-meja kayu sederhana maupun kafe modern, berbagai kalangan bercampur tanpa sekat.

    Pegawai negeri, pedagang, mahasiswa, sopir angkutan, hingga pensiunan duduk berdampingan menikmati kopi favorit mereka.

    Perbedaan profesi dan latar belakang seolah melebur dalam hangatnya suasana pagi.

    Tak sedikit pula yang memanfaatkan waktu ngopi untuk bekerja. Dengan fasilitas internet yang tersedia hampir di setiap kedai, warung kopi kini berkembang menjadi ruang produktif.

    Laptop terbuka di atas meja, sementara secangkir sanger atau kopi arabika menjadi teman menyelesaikan berbagai pekerjaan.

    Fenomena ini menunjukkan bagaimana warung kopi di Banda Aceh terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang interaksi sosial.

    Meski teknologi mengubah cara orang berkomunikasi, budaya bertemu langsung di warung kopi tetap bertahan.

    Bahkan bagi para pelaku usaha, ramainya pengunjung sejak pagi menjadi berkah tersendiri. Aktivitas ekonomi bergerak lebih awal.

    Dari penjual kopi, penyedia roti canai, hingga pedagang kue tradisional, semuanya mendapat manfaat dari budaya ngopi yang kuat di tengah masyarakat.

    Saat matahari mulai meninggi dan lalu lintas kota semakin padat, sebagian pelanggan beranjak meninggalkan meja mereka.

    Ada yang menuju kantor, pasar, kampus, atau tempat usaha masing-masing. Namun satu hal tetap sama, hari mereka telah dimulai dari warung kopi.

    Di Banda Aceh, ketika sebagian kota masih terlelap, warung kopi sudah lebih dulu hidup.

    Dari tempat inilah percakapan dimulai, informasi bertukar, hubungan sosial terjalin, dan denyut kehidupan kota perlahan bergerak menyambut pagi.

    Suasana subuh di sebuah warung kopi Banda Aceh. Tradisi menikmati kopi sebelum memulai aktivitas telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh selama puluhan tahun. Foto : Dewantara Kupi Maps
  • Saham SMIL dan PGEO Jadi Pilihan Quick Trade di IHSG

    Seputar Aceh – Tim Analis Bareksa merekomendasikan PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (SMIL) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) sebagai pilihan quick trade jangka pendek pada 22 Juni 2026. IHSG diprediksi berpeluang bergerak terbatas di zona positif.

    Sebagaimana dilaporkan oleh Bareksa.com, Tim Analis Bareksa merekomendasikan SMIL dan PGEO untuk quick trade. IHSG diprediksi bergerak di kisaran 6.074–6.300, dengan kemungkinan terbatas di zona positif. Rekomendasi ini datang setelah SMIL mengalami kenaikan harga 0,75% ke Rp270 pada perdagangan 19 Juni 2026.

    Rekomendasi Saham SMIL dan PGEO

    SMIL direkomendasikan untuk hold atau quick trade di area Rp238–266. Secara teknikal, SMIL berada di atas MA20 Rp259 dan mendekati MA50 Rp271. Ini mencerminkan momentum rebound yang mulai terbentuk, dengan potensi breakout MA50 yang terbuka. RSI di level 62,50 menunjukkan momentum beli yang menguat.

    Support terdekat untuk SMIL berada di Rp266–259, sementara resistance di kisaran Rp271–284. Strategi yang direkomendasikan adalah quick trade atau buy saat pullback ke area Rp238–266. Investor disarankan memprioritaskan entry di kisaran Rp238–259 untuk memperoleh rasio risk/reward yang lebih optimal.

    Analisis Pergerakan IHSG dan Katalis

    PGEO juga direkomendasikan untuk hold atau quick trade di area Rp815–885. Harga terakhir saham PGEO naik 1,13% ke Rp895 pada perdagangan 19 Juni 2026. Secara teknikal, PGEO berada di atas MA20 Rp866 dan mendekati MA50 Rp941, menunjukkan momentum rebound yang terbentuk dengan potensi breakout MA50 yang terbuka.

    Support terdekat untuk PGEO berada di Rp885–866, sementara resistance di kisaran Rp940–941. Sebagai emiten panas bumi terbesar di Indonesia, PGEO dapat dicermati di tengah tren transisi energi yang mendorong permintaan energi terbarukan secara global. Hal ini berpotensi menjadi katalis tambahan bagi aliran modal asing ke saham-saham berkapitalisasi menengah seperti PGEO menjelang pengumuman klasifikasi MSCI yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026.

    Strategi Investasi untuk SMIL dan PGEO

    Investor disarankan untuk melakukan quick trade atau buy saat pullback ke area Rp815–885 untuk PGEO. Memprioritaskan entry di kisaran Rp815–866 sangat dianjurkan untuk memperoleh rasio risk/reward yang lebih baik. Target ambil untung untuk PGEO berada di kisaran Rp940–941 dengan batas rugi di Rp800.

    Dengan rekomendasi ini, diharapkan investor dapat memanfaatkan peluang di pasar saham yang sedang bergerak positif. Penting untuk selalu memantau pergerakan IHSG dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pasar untuk pengambilan keputusan investasi yang lebih baik.

  • ABK KM Emirates Meninggal Saat Melaut, Ditpolairud Polda Aceh Evakuasi Jenazah

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Seorang ABK KM Emirates, Zulkifli Dendeh (59), meninggal saat melaut di perairan Aceh. Ditpolairud Polda Aceh evakuasi jenazah di Pelabuhan TPI Lampulo.

    Seorang nelayan asal Aceh Timur ditemukan tak bernyawa di atas kapal penangkap ikan GT 60, KM Emirates, saat masih berada di tengah perairan Aceh. Ditpolairud Polda Aceh langsung bergerak menangani evakuasi jenazah begitu kapal merapat di Pelabuhan TPI Lampulo, Banda Aceh, Selasa (23/6/2026).

    Korban diidentifikasi sebagai Zulkifli Dendeh, 59 tahun, warga Dusun Matang Beureuhoi, Desa Seuneubok Peusangan, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. Insiden berawal pada Senin (22/6/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, ketika korban tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri di area buritan kapal.

    Nahkoda KM Emirates, Irwan, menyatakan korban sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sakit sebelum kejadian. Rekan-rekan sesama ABK sempat memberikan pertolongan, namun nyawa Zulkifli tidak terselamatkan.

    Informasi kematian ABK KM Emirates pertama kali diterima petugas Pamopstib Pelabuhan TPI Lampulo, Aipda M. Nuruzzahri, pada Senin malam sekitar pukul 20.00 WIB dari sejumlah nelayan. Saat laporan masuk, kapal masih dalam perjalanan pulang menuju Banda Aceh.

    KM Emirates sendiri telah bertolak dari Dermaga TPI Kuala Idi, Aceh Timur, pada Minggu 7 Juni 2026 pukul 14.30 WIB—menjadikan pelayaran tersebut berlangsung selama sekitar 16 hari sebelum akhirnya kembali bersandar di Lampulo pada Selasa (23/6/2026) pukul 09.30 WIB.

    Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol. Joko Krisdiyanto, memastikan tim medis dan personel Ditpolairud langsung memeriksa jenazah setibanya kapal di dermaga. Jenazah Zulkifli selanjutnya dibawa menggunakan ambulans menuju kediaman keluarga di Kecamatan Peureulak, Aceh Timur, untuk disemayamkan dan dimakamkan.

  • KWPSI: Pelantikan Kadis Syariat Islam Jadi Momentum Perkuat Benteng Moral Masyarakat Aceh

    KWPSI: Pelantikan Kadis Syariat Islam Jadi Momentum Perkuat Benteng Moral Masyarakat Aceh

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Ketua Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), Dosi Elfian, menilai pelantikan Dr. Misran Fuadi sebagai Kepala Dinas Syariat Islam Aceh merupakan momentum penting untuk memperkuat peran lembaga tersebut dalam menghadapi berbagai tantangan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

    Menurut Dosi, Dinas Syariat Islam memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi salah satu instrumen utama Pemerintah Aceh dalam menjaga identitas keislaman daerah yang telah dibangun dan dipertahankan selama puluhan tahun.

    “Aceh adalah daerah yang diberi kekhususan untuk menjalankan syariat Islam. Karena itu, Dinas Syariat Islam bukan sekadar institusi birokrasi, tetapi juga benteng peradaban yang menjaga nilai-nilai Islam tetap hidup dalam kehidupan masyarakat,” kata Dosi.

    Ia menilai tantangan penerapan syariat Islam saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Perkembangan teknologi digital, derasnya arus informasi global, serta perubahan pola hidup masyarakat menuntut pendekatan yang lebih adaptif dan edukatif dalam menjalankan pembinaan syariat.

    “Generasi muda hari ini hidup di ruang digital yang nyaris tanpa batas. Mereka terpapar berbagai budaya, ideologi, dan gaya hidup dari luar. Karena itu, Dinas Syariat Islam harus mampu hadir dengan pendekatan yang lebih modern, persuasif, dan relevan agar nilai-nilai Islam tetap menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

    Dosi menegaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan syariat Islam tidak semata-mata diukur dari aspek penegakan aturan, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai Islam mampu membentuk karakter masyarakat, memperkuat ketahanan keluarga, serta melahirkan generasi yang berakhlak mulia.

    “Syariat Islam harus dipahami sebagai sistem nilai yang membangun peradaban. Ketika moral masyarakat kuat, keluarga kuat, dan generasi mudanya memiliki akhlak yang baik, maka pembangunan Aceh akan berjalan lebih kokoh dan berkelanjutan,” katanya.

    Ia juga berharap di bawah kepemimpinan Misran Fuadi, Dinas Syariat Islam dapat memperluas program pembinaan umat, memperkuat literasi keislaman di era digital, serta membangun kolaborasi yang lebih erat dengan ulama, dayah, akademisi, media massa, dan berbagai elemen masyarakat.

    “Kami berharap Dinas Syariat Islam menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah Aceh. Syariat Islam harus terus dirawat, diperkuat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai identitas sekaligus kekuatan sosial masyarakat Aceh,” pungkas Dosi.**