Bulan: Juni 2026

  • Merajut Kreativitas Aceh: Festival Seni dan Budaya II Usung Semangat Kolaborasi Tanpa Batas

    Merajut Kreativitas Aceh: Festival Seni dan Budaya II Usung Semangat Kolaborasi Tanpa Batas

    BANDA ACEH – UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh kembali menggelar Festival Seni dan Budaya II dengan tema “Rampak Kreatif Tanah Rencong: Kolaborasi Tanpa Batas”, yang berlangsung pada Rabu, 24 Juni 2026 di Lapangan Taman Seni dan Budaya Aceh.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian festival seni dan budaya yang secara berkelanjutan digelar sebagai ruang ekspresi bagi seniman muda Aceh. Festival tersebut juga menjadi wadah untuk menampung karya, menampilkan bakat, serta memberikan ruang apresiasi bagi para seniman yang selama ini dibina di Taman Seni dan Budaya Aceh.

    Kepala UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh, Cut Rita Mutia, menjelaskan bahwa kegiatan ini pada dasarnya merupakan lanjutan dari program sebelumnya dengan konsep yang serupa, namun menampilkan karya seni yang berbeda serta melibatkan penampil yang juga beragam. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi sekaligus evaluasi terhadap proses pembinaan yang telah dilakukan selama ini.

    “Festival seni dan budaya ini adalah pagelaran seni sebagai wadah untuk menampung karya dan talenta seniman-seniman muda yang dibina di Taman Seni dan Budaya, juga sebagai bentuk apresiasi dan evaluasi hasil dari latihan panjang yang sudah dijalani. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang kesenian Aceh,” ujar Cut Rita.

    Ia menambahkan bahwa beragam pertunjukan seni ditampilkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari sastra Aceh yang dikemas dalam bentuk hikayat, syair, hingga teater. Keberagaman ini diharapkan mampu memperkaya apresiasi masyarakat terhadap seni dan budaya Aceh.

    Lebih lanjut, Cut Rita Mutia menyampaikan bahwa Festival Seni dan Budaya ini akan terus berlanjut dalam beberapa tahap ke depan, meskipun jadwal kegiatan tahap ketiga masih dalam proses pembahasan. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan kegiatan ini penting dalam upaya pelestarian budaya Aceh di tengah perkembangan zaman.

    “Harapan saya pada kegiatan seni dan budaya ini adalah agar kegiatan ini tetap terus berlanjut karena kegiatan ini sangat penting bagi kemajuan dan untuk mempertahankan kebudayaan Aceh agar tidak mudah luntur atau lenyap ditelan zaman,” ungkapnya.

    Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi saat ini, di mana generasi muda cenderung lebih tertarik pada budaya luar. Melalui festival ini, diharapkan generasi muda dapat kembali mengenal, mencintai, dan berperan aktif dalam pelestarian budaya Aceh.

    Menurutnya, Taman Seni dan Budaya Aceh akan terus berkomitmen menjadi ruang kreatif bagi para seniman untuk berkarya dan berinovasi. Selain itu, pihaknya juga akan terus berkolaborasi dengan para pelaku seni guna menghadirkan karya-karya yang mampu memperkuat eksistensi budaya Aceh di tengah arus globalisasi.(Adv)

  • Pelatihan Keselamatan Wisata, Langkah Disbudpar Aceh Perkuat SDM Pariwisata

    Pelatihan Keselamatan Wisata, Langkah Disbudpar Aceh Perkuat SDM Pariwisata

    Pidie –Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh menggelar Pelatihan Peningkatan Keselamatan Wisata yang berlangsung pada 23–25 Juni 2026 di Pidie. Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta dari berbagai komunitas dan pengelola destinasi wisata petualangan alam terbuka seperti Jambo Adventure dan Pidie Adventure.

    kadisbudpar Aceh, Dedy Yuswadi, menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dalam mendukung terciptanya destinasi wisata yang aman, nyaman, dan berkelanjutan sebagai bagian dari penguatan sektor pariwisata daerah.

    Ia juga menekankan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk perhatian Pemerintah Aceh dalam meningkatkan kompetensi pelaku pariwisata, khususnya pada destinasi wisata berbasis alam dan aktivitas petualangan yang memiliki risiko tinggi.

    “Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan, keterampilan, dan budaya keselamatan dalam penyelenggaraan kepariwisataan di Aceh. Keselamatan wisata merupakan unsur fundamental dalam membangun kepercayaan wisatawan serta meningkatkan kualitas pelayanan destinasi wisata,” ujarnya.

    Kegiatan ini didanai melalui APBN Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2026 sebagai bentuk dukungan Kementerian Pariwisata dalam memperkuat pengembangan pariwisata yang aman dan berkelanjutan di daerah. Disbudpar Aceh juga menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara pemerintah pusat dan daerah.

    Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh materi mengenai identifikasi risiko, potensi bahaya, prosedur keselamatan, serta teknik penyelamatan di kawasan wisata sungai. Peserta juga mengikuti praktik lapangan arung jeram untuk mengaplikasikan pengetahuan yang telah diperoleh.

    “Melalui kegiatan ini kami berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, menyerap ilmu yang diberikan oleh para narasumber, serta menerapkannya dalam tugas dan lingkungan kerja masing-masing. Jadikan pelatihan ini sebagai momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan wisata yang aman, tertib, dan berkelanjutan,” katanya.[]

    (Adv)
  • Piala Dunia dan Rezeki Tengah Malam Pemilik Warkop

    Piala Dunia dan Rezeki Tengah Malam Pemilik Warkop

    acehtoday.id/ I Banda Aceh — Bagi sebagian orang, Piala Dunia adalah tentang perebutan gelar juara dan adu gengsi negara-negara terbaik di dunia. Namun bagi pelaku usaha warung kopi di Aceh, turnamen sepak bola terbesar itu memiliki makna lain yang tak kalah penting, yakni menghidupkan kembali keramaian dan mendatangkan tambahan pendapatan.

    Fenomena tersebut sudah menjadi pemandangan yang berulang setiap kali pesta sepak bola dunia digelar. Warung kopi yang biasanya mulai sepi menjelang tengah malam mendadak ramai hingga dini hari. Televisi yang menayangkan pertandingan menjadi pusat perhatian, sementara meja-meja dipenuhi pelanggan yang datang untuk menyaksikan laga bersama teman-teman mereka.

    Feri Mariza, pemilik sebuah warung kopi di kawasan Kajhu, Aceh Besar, mengaku selalu menantikan momen seperti ini. Menurutnya, setiap ada turnamen besar seperti Piala Dunia, jumlah pengunjung meningkat dibandingkan hari-hari biasa.

    “Kalau ada pertandingan besar, terutama yang main dini hari, pelanggan tetap datang. Ada yang dari habis Isya sudah duduk, ada juga yang datang mendekati kick-off. Warung jadi lebih hidup,” kata Feri saat ditemui di warungnya, Rabu (24/6/26).

    Ia mengatakan, peningkatan pengunjung otomatis berdampak pada penjualan. Kopi, teh, mi instan, roti bakar, hingga berbagai makanan ringan menjadi pesanan yang paling banyak dicari selama pertandingan berlangsung.

    Menurut Feri, suasana menonton bersama di warung kopi memiliki daya tarik tersendiri yang sulit digantikan dengan menonton sendirian di rumah. Sorak sorai saat gol tercipta, perdebatan soal keputusan wasit, hingga saling ejek antarpendukung tim favorit justru menjadi bagian dari hiburan yang dicari pelanggan.

    “Orang datang bukan cuma mau lihat pertandingan. Mereka juga ingin merasakan suasana. Kalau nonton ramai-ramai lebih seru, apalagi kalau tim yang didukung menang,” ujarnya sambil tersenyum.

    Budaya menonton sepak bola di warung kopi memang sudah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Warung kopi bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi, tetapi juga ruang sosial tempat berbagai kalangan bertemu dan berdiskusi. Saat Piala Dunia berlangsung, fungsi tersebut terasa semakin kuat.

    Di satu meja bisa terlihat mahasiswa berdampingan dengan pedagang, pekerja swasta, hingga aparatur sipil negara. Perbedaan latar belakang seolah menghilang ketika perhatian mereka tertuju pada layar yang sama.

    Bagi pelaku usaha seperti Feri, keramaian tersebut tentu menjadi berkah tersendiri. Ia bahkan mengaku menyesuaikan jam operasional agar pelanggan tetap bisa menyaksikan pertandingan hingga selesai.

    Meski demikian, menurutnya keuntungan yang diperoleh bukan hanya soal omzet. Ada nilai kebersamaan yang tumbuh dari tradisi menonton bersama yang terus bertahan dari generasi ke generasi.

    “Piala Dunia itu memang empat tahun sekali, tapi suasananya selalu ditunggu. Selain menambah penghasilan, kita juga senang karena warung menjadi tempat orang berkumpul dan menikmati pertandingan bersama,” katanya.

    Di tengah perkembangan teknologi yang memungkinkan siapa saja menonton pertandingan melalui gawai pribadi, warung kopi tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Aceh. Kehangatan percakapan, aroma kopi yang khas, dan riuh rendah dukungan terhadap tim favorit menciptakan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di layar ponsel.

    Karena itu, ketika dunia menanti siapa yang akan mengangkat trofi juara, para pemilik warung kopi juga menyambut momen yang sama dengan harapan berbeda. Bukan tentang kemenangan sebuah tim, melainkan tentang malam-malam panjang yang menghadirkan kebersamaan, keramaian, dan rezeki yang terus mengalir hingga menjelang subuh.**

  • MPU Banda Aceh Jelaskan Keutamaan Tradisi Bubur Asyura dan Bakar Apam

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Tradisi Berbagi ya Menjelang 10 Muharram atau Hari Asyura, aroma bubur yang dimasak dalam kuali besar mulai kembali menghangatkan sudut-sudut gampong di Aceh. Disejumlah daerah, warga berkumpul, bergotong royong mengaduk bubur Asyura, menyiapkan apam, lalu membagikannya kepada tetangga, anak yatim, hingga masyarakat yang membutuhkan.

    Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun itu bukan sekadar soal makanan. Lebih dari itu, ia menjadi simbol kebersamaan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi yang terus hidup dalam masyarakat Aceh.

    Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, Tgk Syibral Malasyi, mengatakan momentum Hari Asyura hendaknya dimanfaatkan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, mulai dari berpuasa, berzikir, membaca Al-Qur'an, bersedekah, hingga mempererat tali silaturahmi.

    "Pada Hari Asyura hendaknya kita memperbanyak puasa, zikir, doa, membaca Al-Qur'an, sedekah, membantu sesama, memuliakan anak yatim, dan mempererat silaturahmi," kata Syibral kepada acehtoday.id/, Rabu (24/6/2026).

    Menurutnya, Hari Asyura memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT, bahkan dalam hadis shahih disebutkan puasa Asyura memiliki keutamaan menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.

    Namun di Aceh, semangat Asyura tidak hanya diwujudkan melalui ibadah personal. Nilai-nilai keislaman itu juga hadir dalam bentuk tradisi sosial yang telah lama mengakar di tengah masyarakat.

    Salah satunya adalah tradisi memasak Bubur Asyura secara bersama-sama. Sejak pagi hari, warga dari berbagai usia biasanya berkumpul di meunasah atau halaman masjid. Ada yang menyiapkan bahan, menyalakan api, mengaduk bubur secara bergantian, hingga membagikannya kepada masyarakat.

    Bagi sebagian warga, momen tersebut menjadi kesempatan langka untuk mempererat hubungan sosial yang mungkin jarang terjalin di tengah kesibukan sehari-hari.

    Syibral menegaskan bahwa tradisi Bubur Asyura maupun bakar apam tidak bertentangan dengan syariat Islam selama tidak disertai keyakinan yang menyimpang.

    "Tradisi bubur Asyura itu bukan bid'ah selama tidak diyakini sebagai ibadah wajib atau amalan khusus yang tidak bersumber dari dalil. Justru kegiatan tersebut dapat bernilai pahala apabila diniatkan sebagai sedekah, silaturahmi, dan berbagi kebahagiaan kepada sesama," ujarnya.

    Menurut Syibral, para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah juga menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak sedekah dan membantu fakir miskin pada Hari Asyura. Sedekah, katanya, tidak selalu harus berupa uang, tetapi juga bisa melalui makanan yang bermanfaat dan disenangi masyarakat.

    Karena itu, kegiatan memasak Bubur Asyura dalam jumlah besar lalu membagikannya kepada anak yatim, fakir miskin, jamaah masjid, dan warga sekitar merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai kepedulian sosial yang diajarkan Islam.

    "Gotong royong masyarakat memasak Bubur Asyura lalu membagikannya kepada sesama merupakan bagian dari semangat bersedekah dan memperkuat ukhuwah Islamiyah," katanya.

    Di tengah perubahan zaman, tradisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa nilai kebersamaan masih tetap hidup di Aceh. Semangkuk Bubur Asyura yang dibagikan dari rumah ke rumah tidak hanya membawa cita rasa, tetapi juga pesan tentang kasih sayang, kepedulian, dan pentingnya menjaga hubungan antar sesama.

    Menjelang Hari Asyura tahun ini, Syibral mengajak masyarakat untuk menjadikan tradisi Bubur Asyura dan bakar apam sebagai sarana memperbanyak amal saleh sekaligus melestarikan warisan budaya yang selaras dengan nilai-nilai syariat Islam.

    "Sebagaimana para ulama Aceh terdahulu mampu memadukan syariat dengan adat yang baik, maka tradisi Bubur Asyura dan apam perlu terus dilestarikan sebagai sarana menebar kebaikan dalam kehidupan masyarakat," tutupnya.**

  • Keutamaan dan Hikmah Puasa Tasu’a dalam Islam

    Seputar Aceh – Puasa Tasu’a memiliki keutamaan yang besar bagi umat Muslim. Dikenal sebagai puasa yang sangat dianjurkan, puasa ini merupakan bagian dari puasa Muharram, yang oleh Nabi Muhammad SAW disebut sebagai puasa paling utama setelah Ramadhan.

    Sebagaimana dilaporkan oleh Majelis Ulama Indonesia, puasa Tasu’a dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram. Keutamaan ini tidak terlepas dari kedudukan bulan Muharram sebagai salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah. Dalam riwayat, berpuasa di bulan Muharram dijanjikan pahala yang besar, menjadikan puasa Tasu’a termasuk dalam amalan yang sangat dianjurkan.

    Pada pelaksanaannya, puasa Tasu’a juga berfungsi sebagai penyempurna puasa Asyura’. Dengan berpuasa pada tanggal 9 Muharram, seorang Muslim mengikuti sunnah Nabi SAW dan membedakan dirinya dari tradisi puasa kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asyura’ saja.

    Keutamaan Puasa Tasu’a

    Keutamaan puasa Tasu’a terletak pada beberapa aspek penting. Pertama, puasa ini merupakan bagian dari puasa yang sangat dianjurkan dalam Islam. Kedua, puasa Tasu’a memiliki nilai pahala yang besar, terutama karena dilaksanakan di bulan yang dimuliakan ini.

    Ketiga, puasa Tasu’a membantu menjaga keselarasan dalam beribadah dengan puasa Asyura’. Hal ini penting agar umat Muslim tidak hanya berpuasa pada hari Asyura’ saja, tetapi juga menyiapkan diri dengan puasa sehari sebelumnya untuk menghindari kesalahan dalam penentuan tanggal.

    Hikmah Puasa Tasu’a

    Hikmah di balik puasa Tasu’a sangatlah beragam. Salah satunya adalah untuk menghindari kesalahan dalam menentukan tanggal 10 Muharram. Dengan berpuasa sehari sebelumnya, seseorang dapat memastikan bahwa mereka tetap berpuasa pada hari Asyura’ meskipun ada perbedaan penentuan awal bulan.

    Selain itu, puasa Tasu’a menjadi bentuk penyelisihan terhadap tradisi kaum Yahudi, yang hanya berpuasa pada hari Asyura’. Praktik ini juga mendukung pelaksanaan puasa yang lebih komprehensif, dengan menghindari pengkhususan puasa hanya pada satu hari saja.

    Pentingnya Puasa Tasu’a bagi Umat Islam

    Puasa Tasu’a tidak hanya berkaitan dengan aspek ibadah, tetapi juga memiliki implikasi sosial dan spiritual bagi umat Muslim. Dengan melaksanakan puasa ini, umat Islam menunjukkan kepatuhan terhadap sunnah Nabi SAW dan memperkuat rasa solidaritas dalam beribadah.

    Puasa ini juga dapat menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk lebih memperhatikan tradisi beribadah, serta berupaya untuk selalu meningkatkan kualitas ibadah mereka. Melalui puasa Tasu’a, diharapkan umat Islam dapat lebih mendalami hikmah dan makna dari setiap ibadah yang dilaksanakan.

  • Usai Ledakan KMP Aceh Hebat 2, DPRA akan Panggil Dishub dan ASDP

    acehtoday.id/ I Banda Aceh — Insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang menyebabkan belasan orang terluka dan satu korban meninggal dunia mulai memantik perhatian serius Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Komisi IV DPRA bahkan memastikan akan memanggil Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh dan pihak ASDP untuk meminta penjelasan lengkap terkait penyebab hingga sistem pengawasan kapal yang selama ini berjalan.

    Anggota Komisi IV DPRA dari Fraksi Golkar, Khalid, mengatakan pemanggilan tersebut diperlukan untuk mengungkap secara terang benderang kronologi kejadian sekaligus memastikan tidak ada prosedur keselamatan yang diabaikan sebelum kapal beroperasi.

    “Komisi IV DPRA akan meminta penjelasan dari Dinas Perhubungan Aceh maupun pihak ASDP terkait kronologi kejadian, kondisi teknis kapal, serta langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan pasca-insiden,” kata Khalid kepada acehtoday.id/, Rabu (24/6/2026).

    Langkah DPRA ini muncul ditengah pertanyaan publik mengenai bagaimana kapal yang melayani transportasi masyarakat itu bisa mengalami ledakan mesin hingga mengakibatkan 14 taruna Politeknik Pelayaran dan seorang Kepala Kamar Mesin (KKM) mengalami luka bakar. Bahkan, satu korban dilaporkan meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUDZA Banda Aceh.

    Khalid menegaskan, fungsi pengawasan parlemen tidak boleh berhenti pada pernyataan belasungkawa semata. Menurutnya, investigasi harus dilakukan secara profesional dan objektif agar penyebab utama insiden benar-benar terungkap.

    “Komisi IV DPRA akan menjalankan fungsi pengawasan dengan meminta perkembangan hasil investigasi secara berkala dari instansi terkait,” ujarnya.

    Lebih jauh, Khalid menilai insiden tersebut harus menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan sektor transportasi laut di Aceh. Ia menegaskan bahwa evaluasi tidak hanya menyasar penyebab ledakan, tetapi juga harus menyentuh aspek standar operasional prosedur (SOP), sistem perawatan kapal, hingga mekanisme inspeksi kelayakan armada yang selama ini diterapkan.

    Pasalnya, jika kapal telah menjalani pemeriksaan sesuai standar, publik tentu berhak mengetahui faktor apa yang menyebabkan ledakan tetap terjadi.

    “Evaluasi ini harus menjadi momentum untuk memperkuat sistem keselamatan transportasi laut di Aceh,” katanya.

    DPRA juga mendorong agar seluruh armada penyeberangan yang beroperasi di Aceh menjalani pemeriksaan teknis secara menyeluruh. Keselamatan penumpang, kata Khalid, tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan operasional maupun target pelayanan.

    “Kami juga mendorong peningkatan pengawasan terhadap operasional kapal guna memastikan layanan transportasi laut tetap aman dan andal,” tegasnya.

    Selain itu, Khalid meminta agar hasil investigasi nantinya tidak disimpan di balik meja birokrasi. Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui hasil pemeriksaan, rekomendasi, dan langkah perbaikan yang akan dilakukan pasca-insiden.

    “Transparansi menjadi bagian penting untuk membangun kembali kepercayaan publik dan memastikan ada perbaikan yang berkelanjutan,” katanya.

    Komisi IV DPRA, lanjut Khalid, akan terus mengawal kasus tersebut hingga penyebab ledakan benar-benar terungkap dan seluruh rekomendasi perbaikan dijalankan oleh pihak terkait.

    “Keselamatan masyarakat sebagai pengguna jasa transportasi laut harus menjadi perhatian utama semua pihak,” tegasnya.

    Di akhir pernyataannya, Khalid menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa para korban dan berharap seluruh proses penanganan, investigasi, serta evaluasi dapat berlangsung cepat, tepat, dan terbuka.

    Namun bagi publik, satu pertanyaan besar masih menggantung, apakah ledakan KMP Aceh Hebat 2 murni kecelakaan teknis, atau ada celah pengawasan yang selama ini luput dari perhatian?**

  • Masuk Tahap Akhir, Calon JPT Aceh Barat Dites Urine Mendadak

    acehtoday.id/| Aceh Barat – Sebanyak 20 peserta tiga besar calon pejabat untuk Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menjalani tes urine, di Kantor Bupati setempat, Rabu (24/6/2026) siang.

    Tes ini dilakukan sebagai tahapan akhir seleksi sebelumnya dilakukan wawancara mendalam oleh Bupati Aceh Barat. Dari total 25 peserta yang terdaftar, lima orang tidak hadir.

    “Ini sama seperti yang kita lakukan tahun lalu. Ada tes urine juga untuk memastikan bahwa mereka betul-betul tidak terkontaminasi narkoba,” terang Bupati Aceh Barat, Tarmizi didampingi Kepala BKPSDM, Hasmi Zuandi dan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Cut Nyak Dhien, Akbar Siregar.

    Dikatakan Tarmizi, pengecekan urine tersebut dilakukan mendadak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada peserta.

    “Kepala BKPSDM sendiri tadi menjelang acara baru tahu. Karena mereka sudah menduga mungkin sebagian, ini kalau sudah dikumpulkan di kantor bupati, semua prosesnya sudah selesai, biasanya ini tes urine. Tapi, sebagian besar tidak ada yang tahu,” katanya.

    Selama proses pengecekan urine berlangsung, Tarmizi ikut serta mengawasi dan menyaksikannya sampai dengan selesai.

    Selain peserta tiga besar calon JPTP, Tarmizi turut memanggil sejumlah staff protokoler setdakab untuk ikut melakukan pengecekan urine.

    “Alhamdulillah tadi negatif. Ke depan mungkin juga secara mendadak akan saya lakukan tes berkala kepada semua ASN,” pungkasnya.

    Masuk Tahap Akhir, Calon JPT Aceh Barat Dites Urine Mendadak
    Petugas kesehatan melakukan pengecekan urine peserta calon pejabat untuk Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) Pemerintah Kabupaten Aceh di kantor bupati setempat (Foto : Uci Setiawanacehtoday.id/)

    3 Besar Seleksi JPT Pratama Aceh Barat

    Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) mengumumkan tiga besar hasil seleksi JPT Pratama Aceh Barat dalam Surat Panitia Seleksi Nomor 11/Pansel-JPTP/V/2026 tentang Hasil Seleksi Terbuka Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Pemerintah Kabupaten Aceh Barat 2026.

    Adapun tiga besar hasil seleksi untuk masing-masing jabatan diantaranya ;

    Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan Rakyat yakni Irwan, Ruswaidi dan Teuku Nofrizal.

    Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah yaitu Abdul Wahab, Dinar Dwiriansyah dan Kemal Pasya.

    Dinas Kelautan dan Perikanan yaitu Azman, Dedek Arisman dan Fariky, kemudian Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Evi Darni, Maimun dan Mashuri MS.

    Dinas Kesehatan yaitu Dewi Sartika, Evi Darni dan Nurhafni. Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian, Amril Nutihihar, Dedi Mulianda dan Edy Sofian.

    Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yaitu Dinar Dwiriansyah, Fadly Octora dan Ferdi Handaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Irwan, Jufrizal dan Zainal Abidin. Selanjutnya Dinas Perkebunan dan Peternakan, Azman, Rahmi Rukhyat dan Said Ikhsan.

    Terakhir, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura yaitu Abdul Wahab, Rahmi Rukhyat dan Said Ikhsan, Sekretariat DPRK Aceh Barat, Fitriana, Ruswaidi dan Teuku Putra Azmisyah

    Dari daftar 11 jabatan yang diumumkan, ada delapan nama peserta yang masuk dalam dua jabatan.

    Laporan : Uci Setiawan

  • Jalan Pascabencana Tak Bisa Ditangani dengan Cara Biasa, Haji Uma Minta BPJN Aceh Lebih Fleksibel

    Jalan Pascabencana Tak Bisa Ditangani dengan Cara Biasa, Haji Uma Minta BPJN Aceh Lebih Fleksibel

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), H. Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, meminta Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh tidak mempersulit akses masyarakat terkait persoalan Jalan Enang-Enang yang sempat dihentikan pengerjaannya.

    Menurut Haji Uma, apabila kondisi jalan tersebut secara teknis telah memenuhi standar kelayakan untuk digunakan masyarakat, maka akses tidak perlu ditunda hanya karena alasan prosedural yang berpotensi memperpanjang penderitaan warga terdampak.

    “Kalau standarnya sudah layak dimanfaatkan untuk akses masyarakat, tidak perlu menunggu prosedur yang berlarut-larut. Yang paling penting saat ini adalah bagaimana masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan normal,” kata Haji Uma kepada acehtoday.id/, Selasa (24/6/2026).

    Ia menilai dalam situasi pascabencana, BPJN Aceh seharusnya hadir sebagai bagian dari solusi dengan membangun kolaborasi bersama masyarakat dan pemerintah daerah, bukan justru menambah kerumitan di lapangan.

    Menurutnya, kondisi darurat membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan proyek pembangunan reguler karena menyangkut kebutuhan mendesak masyarakat.

    BPJN Aceh harus ikut mendukung dan berkolaborasi dengan masyarakat. Di sinilah negara perlu hadir untuk menguatkan akses yang ada sehingga masyarakat tidak terus-menerus terdampak,” ujarnya.

    Haji Uma mengingatkan bahwa pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran khusus rehabilitasi dan rekonstruksi bagi daerah yang terdampak bencana, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

    Karena itu, menurutnya, persoalan akses jalan pascabencana tidak semestinya selalu dibebankan pada mekanisme anggaran rutin yang membutuhkan proses panjang.

    “Untuk daerah terdampak bencana sudah ada skema khusus. Bahkan dibentuk tim satgas yang memang memiliki tugas menangani persoalan seperti ini. Karena itu langkah penanganan harus segera dilakukan,” katanya.

    Ia menegaskan bahwa percepatan penanganan infrastruktur pascabencana tidak berarti melanggar aturan. Justru regulasi telah memberikan ruang bagi pemerintah untuk menetapkan skala prioritas dalam kondisi tertentu.

    “Kita tidak sedang menabrak aturan. Tetapi kita sedang berbicara tentang kemanusiaan dan skala prioritas bagi daerah yang terdampak bencana. Ini yang harus dipahami,” tegasnya.

    Lebih lanjut, Haji Uma menilai persoalan Jalan Enang-Enang bukanlah proyek pembangunan yang bersifat terukur dan jangka panjang sehingga tidak seharusnya menjadi alasan munculnya hambatan birokrasi yang menyulitkan masyarakat.

    Ia juga meminta BPJN Aceh terbuka kepada publik apabila memang terdapat kendala teknis maupun administratif yang menyebabkan akses jalan belum dapat difungsikan.

    “BPJN jangan malu menjelaskan kepada masyarakat apa sebenarnya yang menjadi persoalan. Publik berhak mengetahui kendala yang ada sehingga tidak muncul berbagai asumsi di tengah masyarakat,” katanya.

    Menurut Haji Uma, penyelesaian persoalan ini sangat bergantung pada fleksibilitas dan kecepatan pengambilan keputusan karena situasi yang dihadapi bersifat kondisional dan menyangkut kepentingan masyarakat luas.

    Karena itu, ia mendesak BPJN Aceh segera menyiapkan akses jalan alternatif yang aman dan memadai agar aktivitas masyarakat tidak terus terganggu.

    “Yang terpenting sekarang adalah bagaimana masyarakat diberikan kemudahan untuk beraktivitas. Jika memang ada kendala pada akses utama, maka jalan alternatif harus segera disiapkan sehingga warga tidak menjadi pihak yang paling dirugikan,” pungkasnya.**

  • SEI Desak Hasil Investigasi Ledakan Kapal Aceh Hebat 2 Dibuka ke Publik

    SEI Desak Hasil Investigasi Ledakan Kapal Aceh Hebat 2 Dibuka ke Publik

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Sumatera Environmental Initiative (SEI) mendesak dilakukannya investigasi menyeluruh terhadap insiden ledakan yang terjadi di ruang mesin Kapal Aceh Hebat 2 di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat 12/6/2026 lalu yang mengakibatkan sedikitnya 15 orang mengalami luka bakar satu di antaranya meninggal dunia.

    Direktur Sumatera Environmental Initiative (SEI), Sulaiman, menyatakan bahwa insiden ini perlu mendapat perhatian serius dari seluruh pihak karena melibatkan banyak korban dan terjadi pada sarana transportasi publik yang melayani masyarakat Aceh.

    “Peristiwa ini dapat dikategorikan sebagai kejadian luar biasa dalam sektor transportasi laut karena jumlah korban yang cukup banyak. Selain itu, masih terdapat sejumlah informasi yang belum dijelaskan secara terbuka kepada publik, terutama terkait kronologi kejadian, aktivitas yang berlangsung sebelum ledakan, serta status keberadaan para mahasiswa pelayaran di atas kapal saat insiden terjadi,” ujar Sulaiman dalam keterangan tertulis kepada acehtoday.id/, Rabu (24/6/2026).

    Menurutnya, keterbukaan informasi sangat penting untuk memastikan masyarakat memperoleh penjelasan yang utuh mengenai penyebab kejadian serta langkah-langkah yang akan diambil untuk mencegah peristiwa serupa terulang kembali.

    SEI Desak Hasil Investigasi Ledakan Kapal Aceh Hebat 2 Dibuka ke Publik
    Direktur Sumatera Environmental Initiative (SEI), Sulaiman. Foto Dok Pribadi

    Kapal Aceh Hebat 2 dikelola oleh ASDP

    Kapal Aceh Hebat 2 dikelola oleh ASDP Indonesia Ferry (Persero). Kapal tersebut melayani penyeberangan Banda Aceh – Sabang. Kapal Aceh Hebat dibeli menggunakan dana otonomi khusus.

    SEI meminta pihak Syahbandar, operator kapal, dan instansi terkait untuk menyampaikan kronologi kejadian secara transparan kepada masyarakat. Penjelasan tersebut dinilai penting guna menghindari munculnya spekulasi dan memastikan proses penanganan berjalan secara akuntabel.

    Selain itu, SEI juga mendorong Kepolisian untuk membuka ke publik hasil  olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan terhadap seluruh pihak yang mengetahui atau terlibat dalam operasional kapal sebelum insiden terjadi.

    @acehtoday.id/ 🚢 ASDP memastikan seluruh biaya pengobatan 14 korban insiden KMP Aceh Hebat 2 akan ditanggung penuh. Selain biaya perawatan, kebutuhan keluarga korban yang datang dari luar daerah juga akan difasilitasi selama berada di Banda Aceh. Simak kronologi lengkap insiden yang terjadi di Pelabuhan Ulee Lheue. #SeputarAceh #Aceh #BandaAceh #BeritaAceh #infoaceh ♬ suara asli – Seputar Aceh

    “Kami meminta agar proses investigasi dilakukan secara profesional dan independen. Jika ditemukan adanya unsur kelalaian dalam penerapan standar keselamatan kerja maupun keselamatan pelayaran, maka pihak yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” katanya.

    SEI juga meminta penyidik untuk memeriksa berbagai dokumen yang berkaitan dengan operasional kapal dan keberadaan korban, termasuk dokumen awak kapal, manifes penumpang, dokumen praktik atau pelatihan mahasiswa pelayaran, serta dokumen keselamatan kapal yang relevan.

    Sumatera Environmental Initiative berharap proses investigasi dapat dilakukan secara transparan, objektif, dan berorientasi pada pemenuhan hak-hak korban, sekaligus menjadi momentum evaluasi terhadap sistem keselamatan pelayaran di Aceh.

    Para korban luka bakar dari peristiwa itu merupakan mahasiswa BP2IP/Politeknik Pelayaran Malahayati. Saat ini korban masih dalam perawatan di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Sementara satu orang korban atas nama Fahri Edi Eco meninggal dunia dalam proses perawatan. Jenazah korban sudah disemayamkan di Medan, Sumatera Utara.

    Kamar mesin kapal KMP Aceh Hebat 2 diduga kebakaran saat kapal tersebut hendak merapat di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (12/6/2026) menjelang pukul 12.00 WIB.
    Korban terluka akibat kamar mesin KMP Aceh Hebat 2 sedang dievakuasi di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (12/6/2026).
    Sumber foto: Tim SAR Aceh.
  • Prabowo: Indonesia Siap Jadi Lumbung Padi Dunia

    Seputar Aceh – Indonesia tengah berupaya meningkatkan produksi padi dengan teknologi budidaya modern. Optimisme ini disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto saat meninjau teknologi tersebut di Gorontalo.

    Sebagaimana dilaporkan oleh detikNews, Prabowo melakukan peninjauan setelah memberikan pidato dalam acara Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII pada Rabu, 24 Juni 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia didampingi oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

    Optimisme Prabowo terhadap Produksi Padi

    Prabowo mengungkapkan keyakinannya bahwa dengan teknologi budidaya baru, produktivitas gabah dapat meningkat hingga 100%. Ia menyampaikan bahwa hasil panen yang biasanya mencapai 5 ton kini dapat mencapai 10 ton hingga 12 ton.

    Dalam keterangannya, Prabowo mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh masyarakat pertanian. Ia menyatakan, “Terima kasih saya kira banyak sekali inovasi teknologi baru teknik-teknik baru yang dikembangkan oleh masyarakat pertanian, Menteri Pertanian hasilnya sangat menurut saya cukup revolusioner.”

    Pentingnya Keberlanjutan Sektor Pangan

    Prabowo menegaskan bahwa penguatan sektor pangan nasional harus bersifat jangka panjang dan berkelanjutan. Kesejahteraan petani, menurutnya, harus menjadi perhatian utama agar sektor pertanian Indonesia dapat tumbuh secara stabil.

    Ia menginginkan agar seluruh produksi pangan dapat diamankan melalui intensifikasi, ekstensifikasi, dan hilirisasi. Dengan pengelolaan yang tepat, Prabowo yakin Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara yang kuat di sektor pangan.

    Kesimpulan dan Harapan ke Depan

    Prabowo menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan dalam sektor pertanian. Ia percaya bahwa dengan teknologi yang tepat dan perhatian terhadap kesejahteraan petani, Indonesia bisa menjadi lumbung padi dunia.

    Optimisme ini mengindikasikan harapan besar bagi sektor pangan nasional, dengan tujuan untuk tidak hanya mencukupi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga membantu negara lain.