RI-India Sepakat Kembangkan Pelabuhan Sabang-Nikobar, Ini Kata Wali Kota Zulkifli H Adam

acehtoday.id/ | Sabang – Investasi Pelabuhan Sabang mendapat angin segar setelah Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi menyepakati pengembangan dua pelabuhan yang saling terhubung, yaitu Pelabuhan Sabang di Aceh dan pelabuhan di Kepulauan Andaman-Nikobar milik India. Kesepakatan ini lahir dari pertemuan bilateral kedua kepala negara di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Selasa, 7 Juli 2026, dan langsung disambut antusias oleh Pemerintah Kota Sabang.

Wali Kota Sabang Zulkifli H Adam menyebut kondisi alam pelabuhan kota itu menjadi modal utama menarik minat investor asing. Menurutnya, Pelabuhan Sabang memiliki kedalaman laut hingga 26 meter tanpa perlu pengerukan, kondisi yang jarang dimiliki pelabuhan lain di dunia.

“Pelabuhan Sabang memiliki kedalaman 24 hingga 26 meter tanpa harus melakukan pengerukan. Itu sebenarnya suatu hal yang luar biasa sekali,” ujar Zulkifli kepada acehtoday.id/ dihubungi, Kamis (9/7/2026).

Posisi Sabang yang berada tepat di jalur pelayaran Selat Malaka menjadi alasan utama investasi Pelabuhan Sabang dinilai strategis. Setiap hari, lebih dari 1.600 kapal melintasi selat tersebut.

Zulkifli mengatakan sejumlah pemilik kapal telah menyampaikan keinginan mereka untuk singgah dan melakukan pembongkaran minyak di Sabang, asalkan ada jaminan keamanan dan kepastian hukum dari pemerintah pusat kepada kapal-kapal yang melintas.

ASDP Ungkap Penyebab Tiket Ferry Banda Aceh-Sabang Sulit Didapat
PT ASDP Ferry Indonesia Cabang Banda Aceh menyebut tingginya permintaan tiket penyeberangan rute Banda Aceh-Sabang selama masa libur sekolah menjadi salah satu faktor kuota tiket cepat habis. Foto dok Dishub Aceh

Setelah pembongkaran minyak, kapal-kapal itu berpeluang melanjutkan aktivitas ship-to-ship transfer di perairan Sabang, lalu mengisi ulang air bersih. Kebutuhan air setiap kapal saat singgah mencapai minimal 800 metrik ton, sementara harga air di Singapura saat ini sekitar 50 dolar AS per metrik ton. Zulkifli menyebut Sabang memiliki sumber air melimpah dari air terjun, danau, dan waduk yang selama ini belum dimanfaatkan optimal.

“Sabang memiliki anugerah yang luar biasa dari Allah, tapi selama ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh negara. Apabila potensi ini dimanfaatkan sebaik mungkin, hasilnya bukan hanya untuk Sabang, tetapi juga akan memberikan kontribusi besar terhadap APBN. Potensi ini sangat luar biasa sebagai sumber penerimaan negara,” kata Zulkifli.

Rencana kerja sama semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Perjanjian serupa pernah dijajaki pada 2018, namun hingga kini belum terealisasi.  Informasi yang dihimpun Seputar Aceh, Detailed Project Report (DPR) pengembangan Pelabuhan Sabang – Nikobar telah tuntas disusun, namun Indonesia hingga kini belum menyebutkan besaran kontribusi investasi.

Pelabuhan Sabang dan Kepastian Regulasi

Zulkifli menjelaskan investor asing selalu menuntut kepastian hukum dan regulasi yang tidak berbelit sebagai syarat utama sebelum menanamkan modal. Ia optimistis, jika kepastian itu diberikan, kapal-kapal asing akan lebih memilih singgah di Sabang dibandingkan negara lain.

Pemerintah Kota Sabang mengaku telah lebih dulu melakukan pendekatan dengan India, Malaysia, dan beberapa negara lain, termasuk menyampaikan potensi ini kepada sejumlah menteri dan pejabat terkait. Sejumlah pengusaha kapal bahkan meminta difasilitasi bertemu langsung dengan Presiden. Zulkifli meyakini, jika peluang ini benar-benar dibuka, bukan hanya kapal asal India yang akan datang, melainkan juga kapal dari berbagai negara lain.

Pelabuhan Sabang. Foto Dok SeputarAceh
Pelabuhan Sabang. Foto Dok SeputarAceh

Zulkifli menyebut proyek ini sebenarnya tidak membutuhkan anggaran besar karena kapal tidak wajib masuk ke dalam pelabuhan; aktivitas ship-to-ship transfer bisa dilakukan di kawasan ujung Sabang. Syarat utama yang dibutuhkan hanyalah izin dari Syahbandar, yang bisa diterbitkan atas perintah menteri terkait.

Ia menambahkan, fasilitas yang perlu disiapkan hanya unit penyulingan atau pengolahan air, dengan biaya yang tidak terlalu mahal, dan bisa dibangun oleh pemerintah maupun Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS). Peluang ini semakin terbuka lantaran pasokan air dari Johor, Malaysia, ke Singapura yang selama ini digunakan untuk memasok kapal-kapal di sana, dikabarkan akan dihentikan meski kontraknya berlaku hingga 2040.

Kesepakatan Pelabuhan Sabang Nikobar ini juga menjadi bagian dari penguatan ekonomi biru antara Indonesia dan India, dua negara maritim yang berdekatan di Samudra Hindia. Selain sektor pelabuhan, kerja sama turut mencakup keamanan maritim melalui kolaborasi penjaga pantai kedua negara, momentum percepatan pembahasan Indonesia-India Preferential Trade Agreement, hingga peninjauan ulang ASEAN-India Trade in Goods Agreement untuk mendorong volume perdagangan bilateral.

Ke depan, investasi Pelabuhan Sabang diproyeksikan memperkuat posisi Sabang sebagai pintu gerbang barat Indonesia sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi Aceh, sejalan dengan agenda kerja sama pertahanan, manajemen bencana, dan industri yang turut disepakati kedua kepala negara.

Related posts

Leave a Comment