acehtoday.id/ | Aceh Barat – Tim Wildlife Respone Unit (WRU) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh masih berupaya memburu gajah liar untuk pemasangan GPS collar.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah, mengatakan, awalnya tim turun ke Desa Pungki, Kecamatan Sungai Mas untuk menangkap seekor gajah liar yang kerap kali dilaporkan masuk pemukiman warga.
Penangkapan dilakukan untuk pemasangan GPS collar guna mengantisipasi konflik antar gajah dengan warga di kawasan tersebut.
"Yang kami tangani pertama ya di Desa Pungki. Di saat kami tangani ini, tiba-tiba dapat informasi. Ada gajah berinteraksi dengan warga di Desa Alue Meuganda (Alungganda), Kecamatan Woyla Timur, di jalur koridor tengah," kata Ronald kepada acehtoday.id/, Senin (20/7/2026).
Pihaknya lalu mengutus tim ke lokasi tersebut dan berhasil menghalau gajah. Namun tak lama berselang, masih di koridor yang sama, pihaknya kembali mendapat laporan gajah masuk ke pemukiman warga di Desa Canggai dan Desa Lawet Kecamatan Pante Ceureumen.
"Akhirnya kita kirimkan tim dari Pungki, karena di Pungki ini sudah lima hari belum ketemu dan sudah tidak efektif lagi. Posisi gajahnya sudah masuk ke hutan," ungkapnya.
Dijelaskan Ronald, Aceh Barat memiliki tiga koridor utama habitat alami gajah yang mengikuti bentang alam di antara DAS (Daerah Aliran Sungai) Krueng Woyla dan Krueng Meureubo.
Ketiga koridor tersebut, pertama membentang dari Woyla ke Teunom Aceh Jaya, koridor tengah berada di antara DAS Wolya dan DAS Meureubo yaitu dari Panton Reu hingga Aceh Tengah, serta koridor tiga terbentang di antara Kawasan Pasie Meugat, Kaway XVI, hingga Nagan Raya.
Saat ini, kata Ronald, tim sedang berupaya untuk memasang GPS collar pada gajah liar yang berada di koridor satu dan koridor tengah. Sementara di koridor tiga, pemasangan GPS collar sudah berhasil dilakukan tahun lalu.
Selama proses, tim juga melibatkan dua ekor gajah jinak dari CRU Sare, Kabupaten Aceh Besar. Gajah jinak tersebut digunakan untuk membantu proses pendekatan, pemasangan GPS collar, sekaligus menggiring kawanan gajah liar agar proses berlangsung aman bagi petugas maupun satwa.
GPS Collar Dipakai untuk Deteksi Jalur Gajah
Plt. Kalaksa BPBD Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah mengatakan GPS collar dipakai untuk mengetahui jalur jelajah gajah, lokasi gajah beristirahat (home range), memantau pergerakan kawanan, membantu menghitung populasi, serta memprediksi potensi konflik dengan masyarakat.
Menurutnya, karena gajah hidup berkelompok, satu ekor yang dipasangi GPS dapat memberikan informasi mengenai pergerakan kawanan secara keseluruhan.
Ditambah lagi, gajah sering kembali ke permukiman karena ia merupakan satwa cerdas dan memiliki jalur jelajah tetap. Oleh karena itu, konflik sering berulang di lokasi yang sama.
Dengan GPS collar, tim dapat mengetahui lebih dini arah pergerakan gajah sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum gajah memasuki permukiman.

