Tag: asdp

  • Tiga Nyawa Muda, Satu Ledakan, dan Pertanyaan yang Belum Terjawab

    acehtoday.id/ | Bak petir di tengah keramaian Jumat, ledakan itu mengguncang ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 tepat ketika azan salat Jumat hampir berkumandang, dalam hitungan detik, 15 orang 14 taruna Politeknik Pelayaran Malahayati dan seorang Kepala Kamar Mesin (KKM)  terkapar dengan luka bakar serius, Sejak siang itu Jumat 12 Juni 2026, Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, tak pernah lagi sama.

    Yang tak banyak orang duga, ledakan itu baru permulaan dari duka yang berlarut-larut, Satu per satu para taruna muda yang sempat bertahan di ruang ICU RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) akhirnya kalah dalam perjuangan mereka, Tiga nyawa melayang dalam rentang tak sampai tiga pekan dan hingga kini, penyebab pasti ledakan itu masih menjadi teka-teki yang belum terjawab tuntas.

    Korban terluka akibat kamar mesin KMP Aceh Hebat 2 sedang dievakuasi di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (12/6/2026). Sumber foto: Tim SAR Aceh.

    Satu demi satu, mereka pergi

    Fahri Herdi Eko, 19 tahun asal Medan, adalah yang pertama gugur, Setelah sepekan bertahan di ruang ICU, kondisinya menurun drastis pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, Humas RSUDZA Rahmadi, mengisahkan detik-detik terakhir itu, dari pemantauan intensif pukul 21.00 WIB, hingga akhirnya dinyatakan meninggal pukul 22.50 WIB, di hadapan keluarga dan tim perawat yang telah berjuang bersamanya.

    Foto: Poltekpel Malahayati Aceh.

    Empat hari berselang, giliran Muhammad Bilal Ramzi, taruna asal Sabang, yang menyusul, Ironisnya, kondisi Bilal sempat membaik bahkan sudah dipindahkan dari ruang intensif ke ruang rawat biasa.

    Tapi harapan itu tak berumur panjang, Pada Kamis, 25 Juni 2026, Bilal mengembuskan napas terakhir setelah hampir dua pekan berjuang, Jenazahnya dipulangkan dan dimakamkan di kampung halamannya di Sabang.

    Foto: Poltekpel Malahayati Aceh.

    Publik boleh saja mengira dua kematian sudah cukup menjadi puncak duka, Nyatanya tragedi ini belum selesai bicara, Sepekan setelah Bilal pergi, giliran Muhammad Zulfikar taruna asal Sigli  yang tak lagi bisa diselamatkan, Ia meninggal dini hari, Rabu (1/7/2026) pukul 01.00 WIB, di ruang ICU 2 RSUDZA,Jenazahnya pun telah dipulangkan ke Sigli.

    Foto: Poltekpel Malahayati Aceh.

    Tiga taruna muda, Tiga keluarga yang berduka, dan satu pertanyaan besar yang kian mengeras di benak publik, bagaimana bisa sebuah kapal penyeberangan, yang setiap hari mengangkut ratusan penumpang, mengalami ledakan mesin yang merenggut begitu banyak korban?

    Hingga kini, 11 korban lainnya masih menjalani perawatan di RSUDZA, sementara satu orang telah diperbolehkan pulang lebih dulu.,Sebagian menunjukkan perkembangan positif, namun proses pemulihan diperkirakan masih panjang mengingat tingkat keparahan luka bakar yang berbeda-beda pada setiap korban.

    Ketika parlemen mulai bersuara

    Kematian yang datang bergantian dalam hitungan hari ini rupanya tak hanya menyisakan duka, tapi juga memantik amarah dan kecurigaan, Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) memutuskan turun tangan, memastikan akan memanggil Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh dan PT ASDP Indonesia Ferry untuk membuka kronologi kejadian secara terang benderang.

    Anggota Komisi IV DPRA dari Fraksi Golkar, Khalid, menegaskan bahwa fungsi pengawasan parlemen tak boleh berhenti hanya pada ucapan belasungkawa, “Komisi IV DPRA akan meminta penjelasan dari Dinas Perhubungan Aceh maupun pihak ASDP terkait kronologi kejadian, kondisi teknis kapal, serta langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan pasca-insiden," katanya kepada acehtoday.id/.

    Baginya, insiden ini semestinya jadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan transportasi laut Aceh bukan sekadar soal mesin yang meledak, tapi juga menyangkut standar operasional prosedur, sistem perawatan kapal, hingga mekanisme inspeksi kelayakan armada yang selama ini dijalankan, Ia pun menuntut agar hasil investigasi kelak tidak "disimpan di balik meja birokrasi" sebuah frasa yang seolah menyiratkan kekhawatiran bahwa transparansi bukan sesuatu yang bisa dianggap otomatis terjadi.

    Panggilan itu tak dihindari, baik Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T Faisal, maupun General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan, menyatakan siap hadir memenuhi undangan DPRA.

    (Kiri) adis Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, Foto: Dokumen Humas Dishub Aceh (Kanan) General Manager PT ASDP Ferry Indonesia Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan di IGD RSUDZA.
    Sumber foto: acehtoday.id/Elza

    Kapal yang “sangat layak” tapi tetap meledak

    Di sinilah teka-teki itu makin pelik, dishub Aceh, melalui Faisal, menegaskan bahwa kewenangan teknis soal kelaiklautan kapal sebenarnya berada di tangan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Malahayati, bukan di instansinya, setiap kapal yang berlayar, katanya, wajib mengantongi Surat Persetujuan Berlayar (SPB) yang hanya diterbitkan setelah seluruh syarat keselamatan terpenuhi, KMP Aceh Hebat 2 pun disebut telah menjalani docking tahunan sesuai regulasi.

    Kepala Kantor KSOP IV Malahayati, Amfami acehtoday.id/Elza

    Pertanyaannya jadi sederhana namun sukar untuk dicerna, jika kapal ini benar-benar telah lulus semua prosedur, lantas apa yang membuat mesinnya meledak?

    Kepala KSOP IV Malahayati, Capt Amfami, mencoba menjawab sebagian dari teka-teki itu, Ia memastikan KMP Aceh Hebat 2 dalam kondisi laik laut, telah menjalani docking pada Desember 2025 di Nias, serta lolos ramp check menjelang masa angkutan Lebaran 2026.

    "Jadi kapal itu layak, bukan tidak layak, kapalnya sangat layak, Kemungkinan hanya ada satu pompa yang mengalami malfungsi," ujarnya sebuah pernyataan yang, alih-alih menutup tanda tanya, justru membuka babak baru, bagaimana bisa satu pompa yang malfungsi berujung pada ledakan yang merenggut tiga nyawa?

    Amfami juga mengungkap detail yang tak kalah menarik perhatian, Kegiatan praktik 14 taruna bersama satu KKM di ruang mesin, menurutnya, memang telah diberitahukan ke KSOP namun jam pastinya belum disampaikan karena masih menunggu kesepakatan jadwal antara pengajar dan taruna.

    Momen naik kapal itu sendiri terjadi bersamaan dengan proses debarkasi penumpang, mendekati waktu salat Jumat, KSOP pun mengaku akan mengevaluasi prosedur pelaporan bagi pihak luar yang beraktivitas di atas kapal sebuah celah administratif yang jika benar ada, menyisakan pertanyaan soal siapa yang semestinya memastikan setiap orang di atas kapal tercatat dan diawasi.

    Desakan dari luar birokrasi

    Bukan hanya parlemen yang mempertanyakan, Direktur Sumatera Environmental Initiative (SEI), Sulaiman menyebut insiden ini sebagai kejadian luar biasa dalam sektor transportasi laut  bukan semata karena jumlah korbannya yang banyak, tapi juga karena kronologi kejadian, aktivitas sebelum ledakan, dan status keberadaan para taruna di atas kapal belum dijelaskan secara terbuka kepada publik.

    SEI mendesak agar Syahbandar, operator kapal, dan instansi terkait membuka kronologi secara transparan, sekaligus meminta kepolisian mempublikasikan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP).

    “Jika ditemukan adanya unsur kelalaian dalam penerapan standar keselamatan kerja maupun keselamatan pelayaran, maka pihak yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegas Sulaiman.

    Direktur Sumatera Environmental Initiative (SEI), Sulaiman. Foto Dok Pribadi

    Menunggu di ujung ketidakpastian

    Genap tiga pekan berlalu sejak ledakan itu, namun penyebab pastinya masih terkunci rapat dalam proses penyidikan Polda Aceh. PT ASDP, melalui Andri Setiawan, memilih bersikap hati-hati  tak ingin mendahului hasil resmi dengan spekulasi. “Kami tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian sebelum ada hasil resmi dari pihak yang berwenang,” ujarnya.

    Sikap menahan diri ini bisa dibaca dua arah, sebagai bentuk kehati-hatian yang wajar dalam proses hukum, atau sebagai lambannya keterbukaan informasi yang justru memperpanjang kecemasan publik  terutama keluarga korban yang masih menunggu jawaban atas kematian anak-anak mereka.

    Polisi Periksa 12 Orang Saksi Terkait Ledakan KMP Aceh Hebat 2
    KMP Aceh Hebat 2 di Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh.
    Sumber foto: acehtoday.id/Elza

    KMP Aceh Hebat 2 sendiri masih "dikandangkan", menanti surat resmi dari Polda Aceh yang menyatakan proses olah TKP selesai, sebelum bisa diperiksa ulang dan dioperasikan kembali.

    Tiga taruna telah pergi, Belasan lainnya masih berjuang memulihkan luka bakar mereka, dan satu pertanyaan yang sejak awal mengiringi tragedi ini mengapa kapal yang disebut "Kapal Aceh Hebat" nyatanya tidak sesuai dengan nama yang dibanggakan, justru meledak dan merenggut nyawa mereka yang sedang mengejar cita-cita di dunia maritim  masih menggantung, menunggu jawaban yang katanya sedang dalam proses.

  • Taruna Poltekpel Kembali Meninggal, Korban Ledakan KMP Aceh Hebat 2 Jadi Tiga Orang

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Satu orang lagi taruna Politeknik Pelayaran yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh meninggal dunia, Rabu (1/7/2026).

    Adapun korban yang meninggal dunia bernama Muhammad Zulfikar yang sedang dirawat di ruang perawatan intensif dan meninggal pukul 01.00 WIB.

    “Kami menerima kabar duka atas wafatnya salah satu korban bernama Muhammad Zulfikar, sekitar jam 01.00 WIB,” kata General Manager PT ASDP Ferry Indonesia cabang Banda Aceh, Andri Setiawan saat dikonfirmasi.

    Menurut Andri, Muhammad Zulfikar sebelumnya sedang menjalani perawatan intensif di RSUDZA Banda Aceh. Andri menyebut bahwa jenazahnya telah dipulangkan ke kampung halamannya di Sigli.

    “Sudah dipulangkan ke Sigli,” ujar Andri.

    Sementara itu Humas RSUDZA, Rahmadi mengatakan Muhammad Zulfikar sebelumnya sedang dirawat di ruang ICU 2 hingga akhirnya meninggal dunia.

    Adapun menurutnya saat ini jumlah pasien korban ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang masih dirawat sebanyak 11 orang.

    “Yang masih dirawat 11 orang,” kata Rahmadi.

    Meninggalnya Muhammad Zulfikar, menambah daftar korban kehilangan nyawa setelah terkena ledakan dan mengalami luka bakar saat menjalani kegiatan belajar mengajar di atas kapal KMP Aceh Hebat 2 beberapa waktu lalu.

    Sebelumnya, taruna Fahri Herdi Eko (19) dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (20/6/2026). Menyusul kemudian Muhammad Bilal Ramzi (19) pada Kamis (25/6/2026).

    Adapun insiden meledaknya mesin kapal KMP Aceh Hebat 2 ini menyebabkan 14 taruna Politeknik Pelayaran dan satu kepala kamar mesin (KKM) luka bakar dan menjalani perawatan intensif di RSUDZA Banda Aceh pada Jumat (12/6/2026).

    Sementara itu penyebab pasti meledaknya mesin belum diketahui dan pihak berwajib masih melakukan pendalaman dan pemeriksaan saksi.

    Dua Taruna Sebelumnya

    Fakhri Herdieco, 19 yang pertama meninggal dunia setelah sepekan menjalani perawatan intensif, Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh Humas RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Rahmadi, pada Minggu (21/6/2026). Ia menyebut pasien asal Binjai, Sumatera Utara itu menghembuskan napas terakhir pada Sabtu malam usai dirawat di ruang ICU.

    Menurut Rahmadi, kondisi Fakhri mulai menurun drastis sekitar pukul 21.00 WIB. Tim medis langsung melakukan pemantauan dan penanganan intensif, sekaligus memberi penjelasan kepada pihak keluarga mengenai perkembangan kondisinya yang kian memburuk.

    Muhammad Bilal Ramzi (19) taruna Politeknik Pelayaran asal Kota Sabang yang sempat menjalani perawatan intensif akibat luka bakar, meninggal dunia setelah hampir dua pekan berjuang di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.

    Bilal mengembuskan napas terakhir pada Kamis (25/6/2026), sehingga jumlah korban meninggal dunia dalam insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 kini menjadi dua orang.

    Sebelumnya, Fahri Edi Eko (19), warga Medan, Sumatera Utara, yang juga merupakan taruna Politeknik Pelayaran, meninggal dunia pada Minggu (20/6/2026) setelah menjalani perawatan akibat luka bakar yang dideritanya.

    Kedua taruna tersebut merupakan bagian dari 15 korban ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang terjadi pada Jumat (12/6/2026).

     

  • KSOP Evaluasi ASDP usai Tragedi KMP Aceh Hebat 2, Soroti Prosedur Orang Naik Kapal

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) IV Malahayati akan melakukan evaluasi terhadap prosedur operasional PT ASDP Indonesia Ferry selaku operator kapal, menyusul insiden ledakan KMP Aceh Hebat 2 yang menyebabkan dua taruna Politeknik Pelayaran Malahayati meninggal dunia, hal tersebut disampaikan Kepala KSOP IV Malahayati, Capt Amfami, saat dikonfirmasi acehtoday.id/, Selasa (30/6/2026).

    Amfami mengatakan evaluasi akan dilakukan terutama terkait prosedur pelaporan bagi pihak luar yang melakukan aktivitas di atas kapal selain awak kapal.

    “Kami perlu mengingatkan ASDP sebagai operator, setiap orang selain awak kapal yang melakukan kegiatan di atas kapal harus melapor ke KSOP, terkadang ada yang naik kapal tanpa laporan, ini menjadi evaluasi kita,” ujar Amfami.

    Ia menjelaskan, kewajiban tersebut telah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 8 tentang Inaportnet, khususnya terkait pengajuan orang non-awak kapal untuk naik ke kapal, serta Permenhub Nomor 28 terkait aktivitas di kawasan pelabuhan.

    Amfami mengungkapkan, kegiatan pembelajaran 14 taruna Politeknik Pelayaran Malahayati bersama seorang Kepala Kamar Mesin (KKM) sebenarnya telah diberitahukan kepada KSOP. Namun, waktu pelaksanaan kegiatan belum disampaikan secara pasti karena masih menyesuaikan jadwal antara pengajar dan para taruna.

    “Pemberitahuan sudah ada, tetapi jam pastinya belum disampaikan karena masih menunggu kesepakatan waktu antara taruna dan pengajar. Saat proses debarkasi penumpang, kemungkinan ada kesempatan mereka naik kapal. Saat itu juga waktunya mendekati pelaksanaan salat Jumat,” jelasnya.

    Terkait kondisi kapal sebelum kejadian, Amfami memastikan KMP Aceh Hebat 2 dalam kondisi laik laut. Kapal tersebut sebelumnya telah menjalani docking pada Desember 2025 di Nias, serta melewati proses sertifikasi dan pemeriksaan kelaikan oleh KSOP IV Gunungsitoli.

    KSOP Akan Lakukan Pemeriksaan

    Selain itu, KSOP Malahayati juga telah melakukan pemeriksaan atau ramp check terhadap kapal menjelang masa angkutan Lebaran 2026.

    “Jadi kapal itu layak, bukan tidak layak, Kapalnya sangat layak, Kemungkinan hanya ada satu pompa yang mengalami malfungsi,” katanya.

    Mengenai rencana pengoperasian kembali KMP Aceh Hebat 2, Amfami menyebut pihaknya masih menunggu surat resmi dari Polda Aceh terkait selesainya proses olah tempat kejadian perkara (TKP).

    “Kalau sudah ada surat dari Polda bahwa olah TKP selesai, baru kami lakukan pemeriksaan kembali sebelum kapal dioperasikan,” ujarnya.

    Sebelumnya, ledakan pada bagian mesin KMP Aceh Hebat 2 terjadi pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 11.55 WIB menjelang waktu salat Jumat di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Peristiwa tersebut menyebabkan 15 orang mengalami luka bakar.

    Para korban kemudian dievakuasi dan mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, termasuk menjalani operasi darurat (cyto). Dua taruna Politeknik Pelayaran Malahayati kemudian meninggal dunia, yakni Fahri Herdi Eko (19) pada Sabtu (20/6/2026) dan Muhammad Bilal Ramzi (19) pada Kamis (25/6/2026).

    Hingga saat ini, penyebab ledakan masih dalam proses penyidikan oleh Polda Aceh. Sementara itu, KMP Aceh Hebat 2 belum kembali beroperasi karena masih dalam tahap pemeriksaan dan investigasi oleh pihak berwenang.

  • Polisi Periksa 12 Orang Saksi Terkait Ledakan KMP Aceh Hebat 2

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Aceh masih melakukan pendalaman terkait insiden ledakan yang terjadi di KMP Aceh Hebat 2, Hingga saat ini sebanyak 12 orang saksi telah dimintai keterangan, sementara penyebab pasti ledakan masih menunggu hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik (Labfor).

    Dirreskrimum Polda Aceh Kombes Pol Andre Librian mengatakan, kasus tersebut telah masuk tahap penyidikan. Pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah pihak yang mengetahui kejadian maupun yang berkaitan dengan operasional kapal.

    “Kasus ledakan di KMP Aceh Hebat 2 sudah dalam tahap penyidikan. Tim telah melakukan pemeriksaan terhadap para saksi, juga beberapa korban yang sudah bisa dimintai keterangan,” ujar Andre usai konferensi pers di Meuligoe Polda Aceh, Senin (29/6/2026).

    Ia menyebutkan, belasan saksi yang diperiksa berasal dari berbagai pihak, di antaranya petugas ASDP yang berada di kapal saat kejadian, dua pelajar yang mengetahui peristiwa tersebut, serta pihak sekolah.

    “Dari pihak ASDP, yaitu sebagai petugas yang ada di kapal pada saat itu. Kemudian dari pihak saksi dua anak sekolah yang memang kebetulan tidak ikut turun ke dalam ruangan mesin tersebut, kemudian dari pihak sekolah,” jelasnya.

    Dirreskrimum Polda Aceh, Kombes Pol Andre Librian, Foto : dok Humas Polda Aceh

    Periksa 12 Orang Saksi dan Libatkan Tim Labfor

    Selain meminta keterangan saksi, penyidik juga telah melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian dengan melibatkan tim Labfor untuk mengetahui sumber penyebab ledakan. Namun, hasil pemeriksaan tersebut masih belum diterima oleh pihak kepolisian.

    “Kami masih menunggu hasil uji Labfor. Nanti setelah hasilnya keluar akan kami informasikan,” katanya.

    Andre mengatakan, penyidik masih mendalami berbagai kemungkinan yang berkaitan dengan insiden tersebut, termasuk dugaan adanya unsur kelalaian.

    “Itu masih kita dalami dulu,” ujarnya.

    Sementara itu, proses olah tempat kejadian perkara (TKP) disebut telah selesai dilakukan. Setelah seluruh kebutuhan penyidikan terpenuhi, garis polisi di lokasi akan segera dibuka dan kapal dapat diserahkan kembali kepada pihak ASDP untuk dilakukan pemeriksaan teknis.

    “Untuk olah TKP telah selesai, langkah berikutnya kita akan copot police line, karena olah TKP sudah selesai. Untuk penggunaannya silakan nanti kami serahkan kepada ASDP,” kata Andre.

    Ia menjelaskan, perbaikan kapal dapat dilakukan sebelum hasil pemeriksaan Labfor keluar karena seluruh bukti yang diperlukan dalam proses penyidikan telah dikumpulkan.

    “Karena olah TKP sudah selesai dan alat bukti yang berkaitan dengan penyebab ledakan telah lengkap dikumpulkan penyidik, kapal dapat diserahkan kepada pihak ASDP untuk dilakukan pemeriksaan teknis dan perbaikan,” jelasnya.

    Terkait pengoperasian kembali KMP Aceh Hebat 2, Andre menegaskan keputusan tersebut menjadi kewenangan ASDP setelah memastikan kondisi kapal aman dan layak berlayar.

    “Apabila masih ditemukan kerusakan akibat ledakan, tentu akan diperbaiki terlebih dahulu. Setelah dipastikan aman, barulah kapal dapat dioperasikan kembali. Untuk pengoperasiannya merupakan kewenangan pihak ASDP,” pungkasnya.

     

  • ASDP Ungkap Penyebab Tiket Ferry Banda Aceh-Sabang Sulit Didapat

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — PT ASDP Ferry Indonesia Cabang Banda Aceh menjelaskan tingginya permintaan tiket penyeberangan rute Banda Aceh-Sabang selama masa libur sekolah menjadi salah satu penyebab kuota tiket cepat habis.

    Hal tersebut disampaikan General Manager PT ASDP Ferry Indonesia Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan kepada acehtoday.id/, Senin (29/6/2026).

    “Terkait layanan tiket online lintas Banda Aceh-Sabang, saat ini memang terjadi peningkatan permintaan yang cukup signifikan seiring momen libur sekolah dan meningkatnya kunjungan wisata ke Sabang,” ujar Andri.

    Ia menjelaskan, lonjakan permintaan tiket tersebut terjadi bersamaan dengan keterbatasan kapasitas angkut karena operasional penyeberangan saat ini hanya dilayani oleh satu kapal, yakni KMP BRR.

    “Sehingga kuota tiket pada waktu-waktu tertentu dapat cepat terpenuhi,” katanya.

    Andri menegaskan, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh gangguan pada sistem pemesanan tiket daring, melainkan karena adanya batas kapasitas penumpang yang dapat diangkut kapal sesuai standar keselamatan pelayaran.

    “Ini bukan mengenai sistem, tetapi berkaitan dengan kapasitas penumpang di atas kapal,” jelasnya.

    Menurutnya, kapasitas kapal telah ditentukan berdasarkan jumlah tempat duduk serta ketersediaan alat keselamatan yang wajib dipenuhi selama perjalanan.

    “Kapasitas ditentukan sesuai jumlah tempat duduk dan alat keselamatan yang tersedia,” tambahnya.

    Selain penumpang pejalan kaki, kuota penyeberangan juga mencakup berbagai jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor, kendaraan pribadi, bus, hingga kendaraan logistik.

    “Untuk kapasitas penumpang itu terdiri dari penumpang pejalan kaki, sepeda motor, kendaraan pribadi, bus dan kendaraan logistik,” ungkap Andri.

    Ia menyebutkan, penerapan sistem tiket online bertujuan memberikan kepastian layanan kepada pengguna jasa, mengatur jumlah penumpang sesuai daya angkut kapal, serta memastikan proses penyeberangan berjalan lebih tertib, aman, dan nyaman.

    Meski demikian, ASDP mengakui masih terdapat sejumlah kendala yang dirasakan masyarakat, mulai dari proses pemesanan tiket, check-in, hingga keterbatasan tiket pada jam keberangkatan favorit.

    Karena itu, ASDP bersama para pemangku kepentingan terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan, baik dari sisi sistem layanan maupun pengelolaan operasional di lapangan.

    “ASDP bersama para pemangku kepentingan terkait terus melakukan evaluasi dan perbaikan secara bertahap, baik dari sisi sistem layanan maupun pengelolaan operasional di lapangan, agar masyarakat dan wisatawan dapat memperoleh layanan yang semakin baik,” jelas Andri.

    Pesan Tiket Ferry Sesuai Jadwal

    Ia juga mengimbau masyarakat untuk melakukan pemesanan tiket lebih awal sebelum jadwal keberangkatan serta menyesuaikan waktu perjalanan dengan ketersediaan kuota.

    “Kami mengimbau pengguna jasa untuk melakukan pemesanan tiket lebih awal dan menyesuaikan jadwal perjalanan dengan ketersediaan kuota yang ada. ASDP berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pengguna jasa,” pungkasnya.

    DPRK Sabang Desak Gubernur Aceh Turun Tangan

    untuk diketahui sebelumnya Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Sabang menyesalkan sistem tiket penyeberangan online yang diterapkan PT ASDP Indonesia Ferry pada lintasan Ulee Lheue-Balohan dinilai carut-marut dan merugikan wisatawan maupun masyarakat yang hendak ke Kota Sabang.

    Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua DPRK Sabang, Albina mengatakan pihaknya sejak awal telah mengingatkan bahwa penerapan sistem tiket online secara penuh berpotensi menimbulkan berbagai persoalan.

    “Sejak awal pemberlakuan sistem online penuh ini, kami dari DPRK sudah melihat bahwa persoalan ini akan berdampak panjang terhadap sirkulasi penumpang Banda Aceh-Sabang menggunakan kapal ferry ASDP,” kata Albina kepada acehtoday.id/, Jumat (26/6/2026).

    Menurutnya, sekitar dua bulan lalu DPRK Sabang bahkan telah melayangkan surat kepada Gubernur Aceh untuk meminta Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan memfasilitasi penyelesaian persoalan tersebut.

    Albina menilai Pemerintah Aceh memiliki kewenangan besar karena mengatur izin trayek, tarif penyeberangan, sekaligus sebagai pemilik kapal KMP Aceh Hebat 2 dan KMP BRR yang dioperasikan pada lintasan tersebut.

    “Kami sudah meminta Gubernur untuk memfasilitasi karena kewenangan ada pada Pemerintah Aceh. Namun sampai hari ini kami belum melihat langkah konkret untuk mencari solusi,” ujarnya.

    Kemudian DPRK Sabang menggelar rapat dengar pendapat dengan PT ASDP Indonesia Ferry dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sabang karena belum ada respon dari Gubernur Aceh.

    Dalam pertemuan itu, kata Albina, seluruh pihak mengakui masih banyak kelemahan pada sistem tiket online, mulai dari proses check in yang belum optimal, kuota tiket yang terbatas, hingga kendala masyarakat dalam mengakses aplikasi akibat keterbatasan kemampuan menggunakan teknologi maupun jaringan internet.

    “Dalam rapat itu ASDP berjanji akan melakukan pembenahan terhadap sistem tiket online,” ujarnya.

    Namun hingga kini perbaikan yang dijanjikan belum terlihat. DPRK Sabang bahkan kembali memfasilitasi pertemuan lanjutan di Kantor ASDP Banda Aceh yang turut dihadiri Wali Kota Sabang dan unsur pimpinan DPRK.

    Dalam forum tersebut, DPRK mengusulkan adanya penambahan kuota tiket di luar sistem online serta penyempurnaan mekanisme check in agar masyarakat yang mengalami kendala tetap dapat memperoleh tiket.

    “Sayangnya sampai hari ini belum ada progres yang cukup berarti sebagaimana dijanjikan oleh ASDP maupun KSOP,” ucapnya.

     

     

  • Tolak Spekulasi, ASDP Tunggu Investigasi Resmi Ledakan KMP Aceh Hebat 2

    Tolak Spekulasi, ASDP Tunggu Investigasi Resmi Ledakan KMP Aceh Hebat 2

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Dua taruna muda Politeknik Pelayaran meregang nyawa, 13 korban lainnya masih dalam pemulihan namun penyebab pasti ledakan KMP Aceh Hebat 2 di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, hingga kini belum juga diumumkan secara resmi. Sudah genap dua pekan insiden itu berlalu, hasil investigasi masih ditunggu publik.

    PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh memastikan proses penyelidikan masih terus berlangsung. General Manager ASDP Banda Aceh, Andri Setiawan, menyebut investigasi dijalankan secara menyeluruh oleh tim yang berwenang dan pihaknya memilih bersabar menunggu kesimpulan resmi.

    “Terkait perkembangan investigasi kejadian di KMP Aceh Hebat 2, saat ini proses investigasi masih berlangsung dan dilakukan secara menyeluruh oleh tim yang berwenang,” kata Andri kepada acehtoday.id/, Sabtu (27/6/2026).

    Andri menegaskan ASDP tidak akan mendahului hasil penyelidikan dengan pernyataan spekulatif. Baginya, informasi yang keluar ke publik harus berpijak pada fakta yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan asumsi sepihak.

    “Kami tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian sebelum ada hasil resmi dari pihak yang berwenang,” tegasnya.

    Meski menunggu, ASDP tidak tinggal diam. Andri menyebut perusahaan berkomitmen mendukung penuh jalannya investigasi dan akan segera melakukan evaluasi internal begitu hasil resmi diterbitkan.

    Sementara itu, perhatian utama saat ini diarahkan pada pendampingan korban dan keluarga yang terdampak, tanpa mengabaikan keberlangsungan layanan penyeberangan.

    “Fokus kami tetap pada pendampingan pihak terdampak, memastikan pemulihan berjalan baik, serta menjaga pelayanan kepada masyarakat tetap aman dan optimal,” pungkasnya.

    Insiden bermula pada Jumat, 12 Juni 2026. Saat itu, 14 taruna Politeknik Pelayaran bersama seorang Kepala Kamar Mesin (KKM) tengah menjalani praktik kerja di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 yang sedang bersandar.

    Ledakan tiba-tiba mengakibatkan 15 orang menderita luka bakar serius dan harus menjalani perawatan intensif di RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh.

    Dari belasan korban itu, dua taruna berusia 19 tahun tidak berhasil bertahan. Fahri Herdi Eko, asal Medan, Sumatera Utara, meninggal dunia pada 21 Juni 2026. Empat hari berselang, Muhammad Bilal Ramzi, warga Sabang, juga menghembuskan napas terakhirnya pada 25 Juni 2026. Keduanya pergi dalam usia yang masih sangat muda, saat sedang mengejar cita-cita di dunia pelayaran.

  • Duka KMP Aceh Hebat 2: Dua Taruna Gugur, Publik Menanti Hasil Investigasi

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Korban ledakan KMP Aceh Hebat 2 kembali bertambah, Muhammad Bilal Ramzi (19) taruna Politeknik Pelayaran asal Kota Sabang yang sempat menjalani perawatan intensif akibat luka bakar, meninggal dunia setelah hampir dua pekan berjuang di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.

    Bilal mengembuskan napas terakhir pada Kamis (25/6/2026), sehingga jumlah korban meninggal dunia dalam insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 kini menjadi dua orang.

    Sebelumnya, Fahri Edi Eko (19), warga Medan, Sumatera Utara, yang juga merupakan taruna Politeknik Pelayaran, meninggal dunia pada Minggu (20/6/2026) setelah menjalani perawatan akibat luka bakar yang dideritanya.

    Kedua taruna tersebut merupakan bagian dari 15 korban ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang terjadi pada Jumat (12/6/2026).

    Seluruh korban saat itu langsung dilarikan ke RSUDZA Banda Aceh dan menjalani operasi darurat (cito) karena mengalami luka bakar serius.

    Humas RSUDZA, Rahmadi, mengatakan kondisi Muhammad Bilal Ramzi sebenarnya sempat menunjukkan perkembangan positif sebelum akhirnya meninggal dunia.

    "Kondisi sudah mulai membaik, bahkan sudah kita rawat di ruang biasa," kata Rahmadi kepada acehtoday.id/.

    Saat ini, sebanyak 12 korban lainnya masih menjalani perawatan di RSUDZA, dari jumlah tersebut dua pasien masih dirawat di ruang intensif karena membutuhkan pemantauan ketat menggunakan alat monitor, sementara satu korban telah diperbolehkan pulang.

    Sementara itu, General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan, membenarkan bahwa jenazah Muhammad Bilal Ramzi telah dipulangkan ke kampung halamannya di Kota Sabang.

    "Sudah dimakamkan juga di Sabang," ujarnya singkat.

    Andri turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya dua taruna muda yang menjadi korban ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2.

    Kepergian Bilal semakin memperdalam duka atas tragedi tersebut. Dua korban yang meninggal dunia sama-sama berusia 19 tahun dan tengah menempuh pendidikan sebagai taruna pelayaran, sebuah profesi yang dipersiapkan menjadi bagian dari masa depan dunia maritim Indonesia.

    Meski sebagian besar korban mulai menunjukkan perkembangan kesehatan, proses pemulihan diperkirakan masih berlangsung cukup lama karena mayoritas mengalami luka bakar dengan tingkat keparahan yang berbeda.

    Nasib KMP Aceh Hebat 2

    Insiden ini juga memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap aspek keselamatan pelayaran, kelayakan kapal, serta pengawasan terhadap armada penyeberangan di Aceh.

    Menindaklanjuti kejadian tersebut, Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) berencana memanggil Dinas Perhubungan Aceh dan PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh untuk meminta penjelasan mengenai kronologi ledakan, kondisi teknis kapal, hingga perkembangan proses investigasi.

    Anggota Komisi IV DPRA, Khalid, mengatakan pemanggilan itu merupakan bagian dari fungsi pengawasan legislatif agar penyebab insiden dapat diungkap secara profesional, objektif, dan transparan.

    DPRA juga meminta hasil investigasi nantinya disampaikan kepada publik sebagai bahan evaluasi untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa.

    Merespons rencana pemanggilan tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T. Faisal, melalui humas menyatakan pihaknya siap memenuhi undangan DPR Aceh.

    “Kita siap memenuhi undangan DPRA untuk menjelaskan,” ujarnya.

    Pernyataan senada juga disampaikan General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan.

    “Perihal ini kami tentunya akan hadir,” katanya.

    PT ASDP Indonesia Ferry sebelumnya juga menyatakan akan menanggung seluruh biaya pengobatan korban, termasuk kebutuhan keluarga korban selama mendampingi proses perawatan di Banda Aceh.

    Namun, di balik komitmen tersebut, publik juga menaruh harapan agar investigasi terhadap penyebab ledakan dilakukan secara menyeluruh, independen, dan transparan.

    Pengungkapan penyebab pasti insiden dinilai penting bukan hanya sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada para korban dan keluarga, tetapi juga untuk mengetahui apakah terdapat unsur kelalaian yang menyebabkan tragedi tersebut.

    Hasil investigasi yang terbuka kepada publik diharapkan menjadi dasar evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan pelayaran, perawatan armada, serta pengawasan operasional kapal, sehingga tragedi serupa tidak kembali terjadi dan tidak menambah daftar korban di masa mendatang.

    Sistem Tiket Online Kapal ASDP Carut-Marut, DPRK Sabang Desak Gubernur Aceh Turun Tangan
    KMP Aceh Hebat 2 Foto: acehtoday.id/Elza
  • Sistem Tiket Online Kapal ASDP Carut-Marut, DPRK Sabang Desak Gubernur Aceh Turun Tangan

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Sabang menyesalkan sistem tiket penyeberangan online yang diterapkan PT ASDP Indonesia Ferry pada lintasan Ulee Lheue-Balohan dinilai carut-marut dan merugikan wisatawan maupun masyarakat yang hendak ke Kota Sabang.

    Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua DPRK Sabang, Albina mengatakan pihaknya sejak awal telah mengingatkan bahwa penerapan sistem tiket online secara penuh berpotensi menimbulkan berbagai persoalan.

    "Sejak awal pemberlakuan sistem online penuh ini, kami dari DPRK sudah melihat bahwa persoalan ini akan berdampak panjang terhadap sirkulasi penumpang Banda Aceh-Sabang menggunakan kapal ferry ASDP," kata Albina kepada acehtoday.id/, Jumat (26/6/2026).

    Menurutnya, sekitar dua bulan lalu DPRK Sabang bahkan telah melayangkan surat kepada Gubernur Aceh untuk meminta Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan memfasilitasi penyelesaian persoalan tersebut.

    Albina menilai Pemerintah Aceh memiliki kewenangan besar karena mengatur izin trayek, tarif penyeberangan, sekaligus sebagai pemilik kapal KMP Aceh Hebat 2 dan KMP BRR yang dioperasikan pada lintasan tersebut.

    "Kami sudah meminta Gubernur untuk memfasilitasi karena kewenangan ada pada Pemerintah Aceh. Namun sampai hari ini kami belum melihat langkah konkret untuk mencari solusi," ujarnya.

    Kemudian DPRK Sabang menggelar rapat dengar pendapat dengan PT ASDP Indonesia Ferry dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sabang karena belum ada respon dari Gubernur Aceh.

    Dalam pertemuan itu, kata Albina, seluruh pihak mengakui masih banyak kelemahan pada sistem tiket online, mulai dari proses check in yang belum optimal, kuota tiket yang terbatas, hingga kendala masyarakat dalam mengakses aplikasi akibat keterbatasan kemampuan menggunakan teknologi maupun jaringan internet.

    "Dalam rapat itu ASDP berjanji akan melakukan pembenahan terhadap sistem tiket online," ujarnya.

    Namun hingga kini perbaikan yang dijanjikan belum terlihat. DPRK Sabang bahkan kembali memfasilitasi pertemuan lanjutan di Kantor ASDP Banda Aceh yang turut dihadiri Wali Kota Sabang dan unsur pimpinan DPRK.

    Dalam forum tersebut, DPRK mengusulkan adanya penambahan kuota tiket di luar sistem online serta penyempurnaan mekanisme check in agar masyarakat yang mengalami kendala tetap dapat memperoleh tiket.

    "Sayangnya sampai hari ini belum ada progres yang cukup berarti sebagaimana dijanjikan oleh ASDP maupun KSOP,” ucapnya.

    Sistem Tiket dan Keterbatasan Kapal

    Albina menambahkan kondisi tersebut kini semakin diperparah dengan tidak beroperasinya KMP Aceh Hebat 2 akibat insiden ledakan mesin beberapa waktu lalu. Akibatnya, saat ini hanya satu armada yang melayani penyeberangan Banda Aceh-Sabang.

    Menurutnya, kombinasi antara keterbatasan armada dan sistem tiket online yang belum berjalan optimal telah membuat kondisi transportasi penyeberangan menuju Sabang semakin sulit.

    “Kondisi ini sudah sangat darurat. Sudah bermasalah dengan sistem online yang tidak akomodatif, ditambah lagi armada kapal tinggal satu. Ini tentu semakin memperparah keadaan,” tuturnya.

    DPRK Sabang pun meminta Gubernur Aceh segera mengambil langkah tegas dengan melakukan relaksasi atau penyesuaian sementara terhadap sistem tiket online hingga kondisi armada penyeberangan kembali normal.

    “Kalau gubernur mau mengambil inisiatif melakukan penyesuaian sementara terhadap sistem online karena armada tinggal satu, paling tidak persoalan masyarakat bisa sedikit teratasi sambil menunggu kapal kembali beroperasi,” pungkas Albina.

    untuk diketahui PT ASDP Cabang Banda Aceh akan memberikan kompensasi kepada penumpang yang terlambat diangkut oleh kapal KMP Aceh Hebat 2 setelah terjadi peristiwa ledakan mesin kapal yang melukai 15 orang, Jumat (12/6/2026).

    “Untuk penumpang dan kendaraan yang telat diangkut, kami akan memberikan service meal berupa makanan dan minuman,” kata General Manager PT ASDP Cabang Banda Aceh, Andre Setiawan di depan RSUDZA.

    Berkoordinasi dengan KSOP Kelas IV Malahayati, pihaknya juga akan menyediakan keberangkatan tambahan menggunakan kapal KMP BRR bagi penumpang dan kendaraan yang tetap ingin menyeberang ke pulau Sabang.

    “Biasanya KMP BRR hanya ada 3 trip, tapi kami akan sediakan 4 trip kali ini bagi penumpang dan kendaraan yang ingin menyeberang,” pungkas Andre.

    Sebelumnya, sebanyak 15 orang terluka dalam peristiwa diduga ledakan mesin di KMP Aceh Hebat 2 saat di Pelabuhan Ulee Lheue. Korban yang mengalami luka diantaranya 14 taruna Politeknik Pelayaran serta satu instruktur sekaligus Kepala Kamar Mesin (KKM).

    Akibat ledakan mesin tersebut, para korban dievakuasi dan sedang mendapat perawatan di RSUDZA Banda Aceh.

    Adapun pihak ASDP Cabang Banda Aceh telah menyatakan komitmen untuk menanggung seluruh biaya pengobatan dan kebutuhan korban serta keluarga korban selama di Banda Aceh.

    Sementara itu, polisi masih menyelidiki penyebab diduga mesin kapal yang tiba-tiba meledak saat kegiatan belajar mengajar lapangan ini.

    Sistem Tiket Online Kapal ASDP Carut-Marut, DPRK Sabang Desak Gubernur Aceh Turun Tangan
    Sistem Tiket Online Kapal ASDP Carut-Marut, DPRK Sabang Desak Gubernur Aceh Turun Tangan Foto:
    acehtoday.id/Elza

     

     

  • Dishub Aceh dan ASDP Siap Penuhi Panggilan DPRA Terkait Insiden Ledakan Mesin KMP Aceh Hebat 2

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh dan PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh menyatakan siap memenuhi panggilan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) terkait insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang mengakibatkan 15 orang mengalami luka bakar dan satu korban meninggal dunia.

    Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T Faisal, dan General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan, saat dikonfirmasi acehtoday.id/, Kamis (25/6/2026).

    Melalui Humas Dishub Aceh, T Faisal menegaskan pihaknya siap menghadiri rapat dengan DPRA guna memberikan penjelasan terkait insiden yang terjadi di kapal KMP Aceh Hebat 2.

    “Kami siap memenuhi undangan DPRA untuk memberikan penjelasan,” kata T Faisal singkat.

    Hal senada disampaikan General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan. Ia memastikan pihak ASDP akan hadir apabila dipanggil oleh DPRA.

    “Perihal ini kami tentunya akan hadir,” ujarnya.

    Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPRA dari Fraksi Golkar, Khalid, menyatakan pihaknya akan memanggil Dishub Aceh dan ASDP untuk meminta penjelasan terkait insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang terjadi beberapa waktu lalu.

    Menurut Khalid, pemanggilan tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan DPRA guna memastikan proses investigasi berjalan secara profesional, objektif, dan transparan.

    Dishub Aceh dan ASDP Siap Penuhi Panggilan DPRA Terkait Insiden Ledakan Mesin KMP Aceh Hebat 2
    Kapal KMP Aceh Hebat 2 sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Foto: acehtoday.id/Elza

    Dishub Aceh diminta Pantau Perkembangan Hasil Investigasi

    Selain meminta penjelasan dari kedua instansi tersebut, Komisi IV DPRA juga akan memantau perkembangan hasil investigasi secara berkala. Langkah itu dilakukan agar penyebab pasti insiden dapat diketahui secara jelas sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

    Diketahui, insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 mengakibatkan 15 orang mengalami luka bakar dan harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Dari jumlah tersebut, 14 orang merupakan taruna Politeknik Pelayaran, sementara satu lainnya adalah Kepala Kamar Mesin (KKM) kapal.

    Setelah menjalani perawatan selama beberapa hari di RSUDZA, satu korban dilaporkan meninggal dunia dan jenazahnya telah dipulangkan ke Sumatera Utara.

  • Usai Ledakan KMP Aceh Hebat 2, DPRA akan Panggil Dishub dan ASDP

    acehtoday.id/ I Banda Aceh — Insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang menyebabkan belasan orang terluka dan satu korban meninggal dunia mulai memantik perhatian serius Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Komisi IV DPRA bahkan memastikan akan memanggil Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh dan pihak ASDP untuk meminta penjelasan lengkap terkait penyebab hingga sistem pengawasan kapal yang selama ini berjalan.

    Anggota Komisi IV DPRA dari Fraksi Golkar, Khalid, mengatakan pemanggilan tersebut diperlukan untuk mengungkap secara terang benderang kronologi kejadian sekaligus memastikan tidak ada prosedur keselamatan yang diabaikan sebelum kapal beroperasi.

    “Komisi IV DPRA akan meminta penjelasan dari Dinas Perhubungan Aceh maupun pihak ASDP terkait kronologi kejadian, kondisi teknis kapal, serta langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan pasca-insiden,” kata Khalid kepada acehtoday.id/, Rabu (24/6/2026).

    Langkah DPRA ini muncul ditengah pertanyaan publik mengenai bagaimana kapal yang melayani transportasi masyarakat itu bisa mengalami ledakan mesin hingga mengakibatkan 14 taruna Politeknik Pelayaran dan seorang Kepala Kamar Mesin (KKM) mengalami luka bakar. Bahkan, satu korban dilaporkan meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUDZA Banda Aceh.

    Khalid menegaskan, fungsi pengawasan parlemen tidak boleh berhenti pada pernyataan belasungkawa semata. Menurutnya, investigasi harus dilakukan secara profesional dan objektif agar penyebab utama insiden benar-benar terungkap.

    “Komisi IV DPRA akan menjalankan fungsi pengawasan dengan meminta perkembangan hasil investigasi secara berkala dari instansi terkait,” ujarnya.

    Lebih jauh, Khalid menilai insiden tersebut harus menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan sektor transportasi laut di Aceh. Ia menegaskan bahwa evaluasi tidak hanya menyasar penyebab ledakan, tetapi juga harus menyentuh aspek standar operasional prosedur (SOP), sistem perawatan kapal, hingga mekanisme inspeksi kelayakan armada yang selama ini diterapkan.

    Pasalnya, jika kapal telah menjalani pemeriksaan sesuai standar, publik tentu berhak mengetahui faktor apa yang menyebabkan ledakan tetap terjadi.

    “Evaluasi ini harus menjadi momentum untuk memperkuat sistem keselamatan transportasi laut di Aceh,” katanya.

    DPRA juga mendorong agar seluruh armada penyeberangan yang beroperasi di Aceh menjalani pemeriksaan teknis secara menyeluruh. Keselamatan penumpang, kata Khalid, tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan operasional maupun target pelayanan.

    “Kami juga mendorong peningkatan pengawasan terhadap operasional kapal guna memastikan layanan transportasi laut tetap aman dan andal,” tegasnya.

    Selain itu, Khalid meminta agar hasil investigasi nantinya tidak disimpan di balik meja birokrasi. Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui hasil pemeriksaan, rekomendasi, dan langkah perbaikan yang akan dilakukan pasca-insiden.

    “Transparansi menjadi bagian penting untuk membangun kembali kepercayaan publik dan memastikan ada perbaikan yang berkelanjutan,” katanya.

    Komisi IV DPRA, lanjut Khalid, akan terus mengawal kasus tersebut hingga penyebab ledakan benar-benar terungkap dan seluruh rekomendasi perbaikan dijalankan oleh pihak terkait.

    “Keselamatan masyarakat sebagai pengguna jasa transportasi laut harus menjadi perhatian utama semua pihak,” tegasnya.

    Di akhir pernyataannya, Khalid menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa para korban dan berharap seluruh proses penanganan, investigasi, serta evaluasi dapat berlangsung cepat, tepat, dan terbuka.

    Namun bagi publik, satu pertanyaan besar masih menggantung, apakah ledakan KMP Aceh Hebat 2 murni kecelakaan teknis, atau ada celah pengawasan yang selama ini luput dari perhatian?**