Tag: Investor

  • Investor Masuk, Pemkab Aceh Barat Pasang Syarat 70 Persen Serapan Tenaga Kerja Lokal

    acehtoday.id/ | Aceh Barat – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat mewajibkan setiap investor baru yang menanamkan modal di daerah tersebut untuk memperkerjakan masyarakat lokal dengan porsi minimum 70 persen dari total tenaga kerja yang dibutuhkan.

    Kebijakan ini disampaikan Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil, saat menyampaikan jawaban bupati atas pemandangan umum DPRK dalam Rapat Paripurna DPRK Aceh Barat, Rabu (15/7/2026).

    “Di sektor pertambangan dan tenaga kerja, Aceh Barat terbuka pada investasi, namun investasi harus bermartabat. Kami wajibkan kuota 70 persen tenaga kerja lokal, menindak tegas pelanggaran UMK,” ujarnya.

    Pengawasan Ketat Sektor Tambang

    Said turut menyinggung persoalan pengelolaan limbah Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) oleh PT Sumber Cipta Yoenanda (SCY), serta sejumlah usaha tambang galian C yang diduga belum sesuai aturan. Pemkab mewajibkan seluruh pihak terkait untuk mematuhi standar lingkungan yang berlaku sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi daerah.

    Ia menambahkan, Pemkab turut mendukung langkah Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh Barat yang saat ini tengah menghadapi gugatan hukum akibat menjalankan tugas pengawasan lapangan terkait aktivitas tambang. Dukungan tersebut diberikan demi menjaga tertibnya aturan berinvestasi di wilayah Aceh Barat.

    Tuntut Perbaikan Jalan Akibat Tambang

    Pemkab Aceh Barat menegaskan tidak akan berkompromi terkait keselamatan warga, khususnya menyangkut kerusakan jalan akibat aktivitas angkutan batu bara.

    Pihaknya telah menginstruksikan PT Ajb dan PT IPE untuk menanggung sepenuhnya biaya perbaikan kerusakan jalan di lintas Balee–Meureubo–Blang Geunang akibat aktivitas pengangkutan tersebut.

    Kebijakan-kebijakan ini disampaikan sebagai bagian dari komitmen Pemkab Aceh Barat untuk memastikan investasi yang masuk ke daerah memberikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal, sekaligus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan serta infrastruktur.**

  • OJK: Aset Perbankan Aceh Tembus Rp65 Triliun

    OJK: Aset Perbankan Aceh Tembus Rp65 Triliun

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh, Daddi Peryoga, menyebut kondisi sektor jasa keuangan di Aceh hingga Mei 2026 masih menunjukkan tren positif. Total aset perbankan di provinsi ini tercatat mencapai sekitar Rp65 triliun, tumbuh 6,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Hal itu disampaikan Daddi dalam keterangannya pada Kamis (9/7/2026). Selain pertumbuhan aset, dana pihak ketiga (DPK) turut mengalami peningkatan sebesar 15,60 persen, sementara penyaluran pembiayaan tumbuh 11,66 persen dibandingkan tahun lalu.

    Kualitas pembiayaan pun dinilai masih terjaga dengan baik, tercermin dari rasio Non Performing Financing (NPF) sebesar 2,16 persen, jauh di bawah ambang batas lima persen yang menjadi standar kewaspadaan.

    “Alhamdulillah relaksasi yang diberikan OJK pasca bencana berjalan baik sehingga NPF di Aceh tetap berada di bawah threshold lima persen,” ujar Daddi.

    Investor Pasar Modal Terus Bertambah

    Dari sisi pasar modal, jumlah investor di Aceh kini telah mencapai 224.722 Single Investor Identification (SID). Angka ini menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap industri keuangan di daerah tersebut, sekaligus menunjukkan literasi investasi masyarakat Aceh yang terus membaik dari tahun ke tahun.

    Selain menjaga stabilitas sektor keuangan, OJK melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) terus memperluas akses keuangan masyarakat bersama para pemangku kepentingan di daerah.

    Hingga triwulan I 2026, program Simpanan Pelajar (SimPel) tercatat telah menghimpun 1,4 juta rekening dengan total nilai simpanan mencapai Rp186 miliar.

    Sementara itu, program pembiayaan UMKM Mikro (UMi) telah menyalurkan dana sebesar Rp73,25 miliar kepada 12.420 debitur.

    Adapun Kredit Usaha Rakyat (KUR) tercatat telah disalurkan sebesar Rp570,87 miliar kepada 5.527 debitur di Aceh, menunjukkan geliat pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah di daerah ini terus berjalan.

    OJK Perkuat Perlindungan Konsumen dari Investasi Ilegal

    Di sisi lain, Daddi mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih produk dan layanan jasa keuangan. Ia menyebut kunci utamanya hanya ada dua: memastikan produk keuangan tersebut legal dan logis.

    “Intinya hanya dua, pastikan produk keuangan itu legal dan logis. Kalau dua hal itu dipahami masyarakat, insya Allah berbagai persoalan pengaduan bisa ditekan,” ujarnya.

    Untuk memperkuat perlindungan konsumen, OJK telah membentuk Satgas PASTI serta Indonesia Anti-Scam Center (IASC) guna memberantas aktivitas keuangan ilegal dan penipuan.

    Hingga Maret 2026, tercatat OJK telah menghentikan atau memblokir 14.959 entitas keuangan ilegal di seluruh Indonesia.

    Daddi menutup keterangannya dengan menegaskan bahwa ketahanan ekonomi tidak hanya bergantung pada kuatnya industri keuangan semata, melainkan juga dibangun melalui kepercayaan masyarakat, komunikasi yang jujur, informasi yang akurat, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

    “Kami berharap masyarakat semakin memahami produk keuangan yang digunakan sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat dan ikut memperkuat ketahanan ekonomi Aceh,” pungkasnya.*

  • Investor Alihkan Fokus ke Saham Defensif, IHSG Uji Level Krusial

    Seputar Aceh – Saham defensif menjadi pilihan utama bagi investor dalam menghadapi tekanan yang dialami oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Peralihan ini terjadi di tengah situasi yang menguji level support IHSG, terutama di pekan ini.

    Sebagaimana dilaporkan oleh IDNFinancials.com, rotasi investor global dari saham teknologi telah menyebabkan pergeseran fokus ke sektor defensif. Pelaku pasar dalam negeri juga mencermati rencana penerbitan Patriot Bonds dan Merah Putih Bonds, bersamaan dengan rilis sejumlah data ekonomi penting yang akan datang. Analis dari Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa pelemahan bursa Wall Street pada Jumat (26/6) diakibatkan oleh pergeseran ini.

    Perubahan Perilaku Investor di Pasar Saham

    Peralihan ke saham defensif terlihat jelas ketika saham produsen chip mengalami penurunan. Penyebabnya adalah laporan yang menyebutkan bahwa OpenAI mempertimbangkan untuk menunda Initial Public Offering (IPO) hingga 2027. Hal ini berpotensi memperlambat investasi dalam infrastruktur AI, yang sebelumnya diharapkan dapat meningkatkan nilai pasar.

    Investor juga memantau perkembangan terkait penerbitan Patriot Bonds dan Merah Putih Bonds. Menurut Phintraco Sekuritas, langkah ini menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menarik investasi. Namun, terdapat kekhawatiran terkait imunitas yang diberikan kepada para pembeli surat utang tersebut, yang dapat memengaruhi minat investor.

    Sentimen Pasar dan Data Ekonomi

    Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS), yang dapat memengaruhi lalu lintas perdagangan global. Dari sisi domestik, pelaku pasar sedang menunggu hasil S&P Global Manufacturing PMI, neraca perdagangan, dan data inflasi yang akan dirilis. Riset dari CGS International Sekuritas Indonesia menunjukkan bahwa pelemahan di Wall Street dan adanya aksi jual oleh investor asing tetap menjadi sentimen negatif bagi pasar domestik.

    Meski demikian, kenaikan harga komoditas seperti emas, timah, tembaga, dan batu bara dapat menjadi katalis positif bagi IHSG. Analis memperkirakan bahwa IHSG akan menguji area 5.700-5.800 pada pekan ini dengan kisaran support di level 5.745/5.595 dan resistance di level 6.050/6.200.

    Perspektif dan Implikasi bagi Investor

    Pergeseran ini menunjukkan bahwa investor lebih memilih untuk berinvestasi di sektor yang lebih stabil di tengah ketidakpastian pasar. langkah ini tidak hanya melindungi investasi mereka, tetapi juga mencerminkan keprihatinan terhadap potensi risiko yang ada di pasar saham. Investor disarankan untuk tetap memantau perkembangan ekonomi dan politik yang dapat berdampak pada pasar.

    Kesimpulan dan Langkah Selanjutnya

    Dalam situasi ini, perhatian utama investor adalah pada penerbitan Patriot Bonds dan kondisi pasar global. Dengan adanya potensi pergeseran nilai investasi, pelaku pasar diharapkan dapat mengambil langkah strategis untuk melindungi aset mereka dan memanfaatkan peluang yang ada dalam perdagangan saham. Oleh karena itu, penting bagi investor untuk terus memperbarui informasi dan analisis terkait pasar.