Tag: malaysia

  • Kopi Liberika Tangse Nyaris Punah, Kini Dilirik Malaysia

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Selama ini nama kopi Gayo begitu lekat sebagai ikon kopi Aceh di kancah dunia. Namun di balik popularitas tersebut, ada satu varietas kopi lain yang selama puluhan tahun nyaris luput dari perhatian, yakni kopi liberika yang tumbuh di Tangse, Kabupaten Pidie. Kopi ini hanya menyumbang sekitar satu persen dari populasi kopi dunia dan bahkan belum banyak dikenal di daerah asalnya sendiri.

    Owner Barika Coffee, Anugrah, mengungkapkan hal itu saat memaparkan perkembangan kopi liberika Tangse, Senin (20/7/2026). Menurutnya, kopi liberika merupakan komoditas langka yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

    Selama ini, kata dia, persoalan utamanya bukan pada kualitas, melainkan minimnya upaya memperkenalkan kopi tersebut kepada publik.

    Kopi liberika sendiri dikenal di kalangan warga Tangse dengan sebutan kopi panah, karena memiliki cita rasa khas menyerupai buah nangka. Anugrah menjelaskan, kopi ini sudah dibudidayakan di Tangse sejak zaman penjajahan Belanda.

    Sayangnya, bertahun-tahun lamanya petani setempat menjual kopi tersebut dengan harga rendah akibat minimnya edukasi soal budi daya dan penanganan pascapanen. Banyak petani memetik seluruh buah kopi tanpa menyortir tingkat kematangannya, sehingga kualitas yang dihasilkan pun rendah.

    Untuk mengatasi persoalan tersebut, Barika Coffee kini mendampingi petani dengan membeli buah kopi merah berkualitas dengan harga dua kali lipat dari harga pasar. Selain itu, petani juga dibekali edukasi mengenai teknik panen serta penanganan pascapanen agar menghasilkan cita rasa terbaik.

    Menurut Anugrah, langkah ini diharapkan memberi nilai tambah bagi petani, sebab peningkatan kualitas akan berbanding lurus dengan kenaikan harga jual.

    Lebih jauh, pengembangan kopi liberika ini disebut tak semata bertujuan bisnis, melainkan juga menjadi upaya membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat Tangse.

    Anugrah menyampaikan bila kopi ini memiliki nilai ekonomi yang baik, masyarakat tidak perlu lagi bergantung pada aktivitas pertambangan, sehingga hutan pun tetap terjaga seiring meningkatnya kesejahteraan warga.

    Dilirik Malaysia, Diklaim Lebih Tahan Perubahan Iklim

     Owner Barika, Anugrah memegang produk kopi Liberika di depan booth Barika    (Sumber foto: Seputaraceh.id/Elza)
    Owner Barika, Anugrah memegang produk kopi Liberika di depan booth Barika (Sumber foto: acehtoday.id/Elza

    Salah satu keunggulan kopi liberika, menurut Anugrah, adalah daya adaptasinya terhadap perubahan iklim yang dinilai lebih baik dibanding jenis kopi lain. Kopi ini disebut memiliki ketahanan tinggi terhadap kenaikan suhu maupun perubahan cuaca, sehingga banyak dijuluki sebagai salah satu kopi masa depan.

    Ia mencontohkan, arabika kian bergeser ke dataran yang lebih tinggi akibat perubahan iklim, sementara liberika justru mampu bertahan pada kondisi cuaca yang berubah-ubah. Kondisi inilah yang disebutnya mulai menarik perhatian sejumlah negara terhadap varietas tersebut.

    Anugrah mengungkapkan, bibit liberika asal Tangse bahkan telah menarik minat Malaysia. Sejumlah pihak dari negara tersebut diketahui datang langsung ke Tangse untuk mempelajari varietas kopi ini, bahkan turut membawa bibit untuk dikembangkan di negaranya.

    Ia pun mengingatkan agar Aceh tidak sampai kehilangan identitas atas komoditas unggulannya sendiri akibat minimnya perhatian, sebagaimana yang pernah terjadi pada sejumlah komoditas lain yang justru lebih dikenal luas di negara lain.

    Sebagai langkah awal memperkenalkan kopi ini, Barika Coffee telah menghadirkan sejumlah menu berbahan dasar liberika, seperti sanger, americano, dan kopi susu di gerainya. Kopi dalam bentuk biji maupun bubuk turut dipasarkan sebagai oleh-oleh, dengan target dapat masuk ke hotel, kedai kopi, toko suvenir, hingga platform perdagangan daring.

    Menariknya, kopi liberika di tangan Anugrah diolah menggunakan mesin espresso layaknya kopi arabika dan robusta modern, bukan lagi dengan metode saring manual.

    Dari sisi rasa, kopi ini digambarkan berbeda dari arabika maupun robusta. Aroma dan cita rasanya dapat berubah seiring waktu penyimpanan, mulai dari nuansa nangka, durian, kelengkeng, hingga kacang, namun tetap mempertahankan karakter khasnya serta terasa creamy dan aman di lambung.

    Ia bahkan menyarankan cara menikmati kopi liberika dengan menyeruputnya hingga ujung lidah lalu meratakannya di langit-langit, agar rasanya terasa lebih nendang.

    Di akhir penjelasannya, Anugrah berharap kampanye pengenalan kopi liberika dapat dilakukan secara bersama-sama oleh pelaku usaha, media, pemerintah, hingga masyarakat luas. Menurutnya, yang ingin diangkat bukan sekadar nama Barika, melainkan Liberika Tangse secara keseluruhan, sebab semakin dikenal kopi ini, semakin besar pula manfaat yang dirasakan petani dan lingkungan sekitar.**

  • Modus Baru Menjerat Keluarga PMI Bermasalah di Malaysia, BP3MI Aceh Minta Masyarakat Waspada

    Modus Baru Menjerat Keluarga PMI Bermasalah di Malaysia, BP3MI Aceh Minta Masyarakat Waspada

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Kasus dugaan penipuan yang menimpa keluarga seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Pidie yang menjadi korban kekerasan di Malaysia mendapat perhatian dari Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Aceh.

    Kepala BP3MI Aceh, Siti Rolijah, mengungkapkan bahwa pihaknya sejak awal telah berkomunikasi langsung dengan orang tua PMI tersebut dan memastikan kondisi korban dalam keadaan aman setelah mendapatkan penanganan dari Perwakilan Republik Indonesia di Malaysia.

    Menurutnya, pascakejadian kekerasan yang dialami PMI tersebut, korban telah ditangani oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru dan saat ini ditempatkan di rumah singgah atau tempat tinggal sementara milik KJRI.

    “BP3MI Aceh sebelumnya telah terhubung dengan orang tua PMI yang menjadi korban. Kami telah menyampaikan bahwa pasca kasus kekerasan tersebut, anak mereka sudah ditangani oleh Perwakilan RI melalui KJRI Johor Bahru. Kondisinya aman dan saat ini ditempatkan di tempat tinggal sementara KJRI sehingga keluarga tidak perlu khawatir,” kata Siti Rolijah saat dikonfirmasi acehtoday.id/, Senin (22/6/2026).

    Di tengah upaya pemulihan korban, keluarga justru diduga menjadi sasaran penipuan oleh oknum yang mengatasnamakan pejabat daerah untuk meminta sejumlah uang dengan dalih membantu proses penanganan dan pemulangan korban.

    Atas kejadian tersebut, BP3MI Aceh menyatakan keprihatinannya. Siti Rolijah mengingatkan masyarakat, khususnya keluarga PMI yang memiliki anggota keluarga bermasalah di luar negeri, agar tidak mudah percaya terhadap pihak-pihak yang menghubungi dan meminta uang dengan mengatasnamakan pejabat pemerintah maupun lembaga tertentu.

    “BP3MI turut prihatin atas kasus penipuan ini. Kami berharap keluarga PMI maupun masyarakat tidak langsung percaya apabila ada oknum yang mengatasnamakan pejabat atau pihak tertentu untuk meminta sejumlah uang. Setiap informasi terkait bantuan, pemulangan, maupun biaya-biaya tertentu harus dikroscek dan dikonfirmasi terlebih dahulu kepada instansi pemerintah yang berwenang,” ujarnya.

    Ia menegaskan bahwa dalam berbagai kasus perlindungan PMI, pemerintah memiliki mekanisme resmi yang dapat diakses oleh keluarga korban. Karena itu, setiap komunikasi yang mencurigakan sebaiknya segera diverifikasi kepada pemerintah daerah, BP3MI, atau perwakilan RI yang menangani kasus tersebut.

    Kasus ini menjadi pengingat bahwa keluarga PMI yang sedang menghadapi situasi sulit kerap menjadi target empuk para pelaku penipuan.

    Kondisi psikologis keluarga yang sedang cemas menunggu kabar anggota keluarganya di luar negeri sering dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk memperoleh keuntungan.

    BP3MI Aceh mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan yang memanfaatkan nama pejabat, lembaga pemerintah, maupun perwakilan Indonesia di luar negeri. Verifikasi informasi sebelum melakukan transfer uang menjadi langkah penting untuk mencegah jatuhnya korban baru.**

  • Pelaku Catut Nama Bupati Pidie, Keluarga Korban Kekerasan di Malaysia Tertipu

    acehtoday.id/ | Pidie – Keluarga YA (34), warga Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, yang menjadi korban dugaan penganiayaan oleh majikannya di Johor, Malaysia, kembali tertimpa musibah. Mereka menjadi korban penipuan berkedok bantuan sosial dengan kerugian mencapai Rp2,8 juta setelah pelaku mencatat nama bupati Pidie

    Anggota DPD RI asal Aceh, Haji Uma, mengatakan pelaku menghubungi keluarga korban melalui WhatsApp dengan mencatut nama dan foto Bupati Pidie. Pelaku mengirim bukti transfer senilai Rp5,8 juta yang diklaim sebagai bantuan untuk keluarga YA.

    Karena percaya, keluarga korban kemudian mentransfer kembali Rp2,8 juta ke rekening yang disebut milik anak yatim. Namun belakangan diketahui dana bantuan tersebut tidak pernah masuk ke rekening korban.

    “Setelah menyadari dirinya ditipu, korban mencoba menghubungi nomor pelaku, namun sudah tidak aktif,” kata Haji Uma, Minggu (21/6/2026).

    Haji Uma mengecam aksi tersebut dan mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan yang memanfaatkan isu atau musibah yang sedang menjadi perhatian publik.

    Sebelumnya, YA merupakan salah satu dari tiga warga Aceh yang diduga menjadi korban kekerasan oleh majikan mereka di Johor, Malaysia. Saat ini kasus tersebut masih dalam pendampingan KJRI Johor Bahru.

  • Tiga Pekerja Indonesia Disiksa Majikan di Malaysia, Pemerintah Kawal Kasus Hingga Tuntas

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Tiga pekerja Indonesia diduga mengalami penyiksaan di Johor Bahru, Malaysia, oleh majikannya. Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) akan terus mengawal penanganan kasus kekerasan tersebut hingga tuntas.

    Kasus tersebut menjadi perhatian publik setelah beredarnya video dugaan kekerasan di media sosial. Berdasarkan informasi Perwakilan Republik Indonesia di Johor Bahru, kasus terungkap setelah seorang PMI berinisial YY melaporkan dugaan kekerasan fisik yang dialaminya melalui layanan KSATRIA KJRI Johor Bahru pada 13 Juni 2026.

    Dalam laporannya, YY juga menyebut dua PMI lainnya, yakni YA dan SH, diduga mengalami perlakuan serupa saat bekerja sebagai asisten rumah tangga di Johor Bahru.

    Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, mengatakan para korban diduga telah mengalami kekerasan selama bekerja.  “Salah satu peristiwa pemukulan dilaporkan terjadi pada akhir tahun 2025 hingga Januari 2026. Setelah kejadian tersebut, para korban ditinggalkan oleh pemberi kerja di wilayah Kampung Melayu Majidee, Johor,” ujar Mukhtarudin di Jakarta, Senin (15/6/2026).

    Berdasarkan hasil pendataan, ketiga PMI tersebut diketahui bekerja secara nonprosedural dan tidak memiliki izin kerja yang sah. Paspor mereka juga masih dikuasai oleh pemberi kerja sehingga para korban merasa takut melaporkan peristiwa yang dialami kepada pihak berwenang.

    Karena merasa keselamatannya terancam, salah satu korban akhirnya meminta bantuan kepada Perwakilan RI.

    Menindaklanjuti laporan tersebut, KP2MI berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, KJRI Johor Bahru, dan KBRI Kuala Lumpur guna memastikan langkah pelindungan dan pendampingan berjalan secara cepat dan terpadu.

    “Pada saat yang sama, KJRI Johor Bahru juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat guna memastikan laporan korban ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” kata Mukhtarudin.

    Berdasarkan informasi dari otoritas Malaysia, Ibu Pejabat Polis Daerah (IPD) Larkin telah mengamankan empat orang yang diduga terkait dengan kasus tersebut untuk kepentingan penyelidikan.

    Saat ini dua korban telah berada dalam pelindungan KJRI Johor Bahru dan ditempatkan di Tempat Tinggal Sementara (TTS). Sementara itu, proses penjemputan terhadap satu korban lainnya yang berada di Kuala Lumpur masih terus dilakukan.

    Perwakilan RI juga akan memfasilitasi pelaporan kepada kepolisian serta memberikan pendampingan hukum guna memastikan hak-hak para korban terpenuhi selama proses hukum berlangsung.

    Mukhtarudin mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Kementerian Luar Negeri, KJRI Johor Bahru, dan KBRI Kuala Lumpur dalam memberikan pelindungan kepada para korban. “KP2MI akan terus mengawal perkembangan kasus ini dan memastikan seluruh korban memperoleh pendampingan serta pelindungan yang diperlukan hingga proses penanganan selesai,” tegasnya.

    KP2MI juga mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi terkait kronologi maupun pihak-pihak yang terlibat sebelum proses hukum selesai dilakukan oleh otoritas yang berwenang.

    Selain itu, masyarakat diingatkan untuk bekerja ke luar negeri melalui jalur resmi dan sesuai prosedur agar memperoleh pelindungan hukum serta hak ketenagakerjaan yang lebih optimal. “Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk bekerja ke luar negeri melalui jalur yang prosedural dan sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga memperoleh pelindungan hukum dan ketenagakerjaan yang lebih optimal,” pungkas Mukhtarudin.