Kategori: Ekonomi & Bisnis

  • Komisaris Baru Harapan Baru, DPRA Minta Bank Aceh Hadir Lebih Dekat untuk Pelaku UMKM

    Komisaris Baru Harapan Baru, DPRA Minta Bank Aceh Hadir Lebih Dekat untuk Pelaku UMKM

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Penetapan Sekretaris Daerah Aceh Muhammad Nasir sebagai Komisaris Utama PT Bank Aceh Syariah periode 2026–2030 mendapat perhatian dari kalangan legislatif. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Tati Meutia Asmara, S.KH., M.Si., menilai susunan baru komisaris dan direksi Bank Aceh Syariah harus menjadi momentum pembenahan menyeluruh terhadap tata kelola perusahaan dan peningkatan kontribusi bank daerah tersebut bagi perekonomian Aceh.

    Keputusan tersebut ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung di Pendopo Gubernur Aceh, Selasa (23/6/2026). Selain menetapkan Muhammad Nasir sebagai Komisaris Utama, rapat juga menyetujui Faisal sebagai Komisaris Independen dan Erwin Konadi sebagai Direktur Bisnis Bank Aceh Syariah untuk periode 2026–2030.

    Menanggapi keputusan tersebut, Tati Meutia Asmara mengucapkan selamat kepada jajaran komisaris dan direksi yang telah mendapatkan amanah baru. Namun, menurutnya, kepercayaan yang diberikan pemegang saham harus dijawab dengan kerja nyata, terukur, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat Aceh.

    “Bank Aceh Syariah bukan sekadar lembaga perbankan daerah, tetapi juga instrumen strategis yang memiliki peran besar dalam menggerakkan ekonomi Aceh. Karena itu, masyarakat tentu berharap hadirnya kepemimpinan baru mampu membawa perubahan yang lebih baik terhadap kinerja, pelayanan, dan daya saing Bank Aceh ke depan,” ujar Tati.

    Politisi perempuan DPR Aceh itu menegaskan bahwa tantangan dunia perbankan saat ini semakin kompetitif. Oleh sebab itu, jajaran komisaris dan direksi yang baru harus mampu menghadirkan inovasi dan transformasi yang berkelanjutan agar Bank Aceh tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi bank syariah regional yang kuat dan terpercaya.

    “Kita ingin Bank Aceh Syariah menjadi lembaga keuangan yang profesional, modern, akuntabel, dan mampu bersaing dengan perbankan nasional. Penguatan tata kelola perusahaan atau good corporate governance harus menjadi prioritas utama karena kepercayaan publik merupakan modal terbesar bagi sebuah bank,” katanya.

    Tati juga menyoroti pentingnya optimalisasi fungsi intermediasi Bank Aceh dalam mendukung sektor-sektor produktif yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Menurutnya, keberadaan Bank Aceh harus mampu memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sektor pertanian, perikanan, ekonomi kreatif, hingga investasi daerah.

    “Ke depan, kami berharap Bank Aceh lebih agresif dan inovatif dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM. Banyak pelaku usaha yang membutuhkan dukungan modal untuk berkembang. Bank Aceh harus hadir sebagai mitra pembangunan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia usaha,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Tati menekankan bahwa peningkatan laba perusahaan semestinya berjalan seiring dengan peningkatan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat Aceh. Sebagai bank milik daerah, Bank Aceh dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk turut mendukung agenda pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    “DPR Aceh tentu akan terus memberikan dukungan sekaligus menjalankan fungsi pengawasan agar Bank Aceh Syariah tetap berada pada jalur yang benar, sehat secara bisnis, kuat secara kelembagaan, dan mampu memberikan kontribusi maksimal terhadap Pendapatan Asli Daerah serta pembangunan ekonomi Aceh,” tegasnya.

    Menurut Tati, kolaborasi yang solid antara pemerintah daerah, pemegang saham, regulator, dan manajemen perusahaan akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan Bank Aceh Syariah menghadapi tantangan ekonomi di masa mendatang.

    Pentingnya Perhatian Bank Aceh Syariah kepada pelaku UMKM perempuan

    Tati juga memberikan perhatian khusus terhadap pelaku UMKM perempuan yang jumlahnya terus bertambah di berbagai sektor usaha, mulai dari kuliner, kerajinan, perdagangan, hingga industri rumahan. Menurutnya, kaum perempuan memiliki kontribusi besar dalam menggerakkan ekonomi keluarga dan ekonomi daerah sehingga perlu mendapatkan dukungan yang lebih maksimal dari lembaga perbankan.

    “Perempuan pelaku UMKM merupakan salah satu pilar penting perekonomian Aceh. Banyak di antara mereka yang tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat di sekitarnya. Karena itu, mereka harus mendapatkan perhatian khusus dalam hal akses pembiayaan dan pengembangan usaha,” kata Tati.

    Ia menilai masih banyak pelaku usaha perempuan yang menghadapi berbagai kendala untuk mendapatkan tambahan modal usaha, baik karena keterbatasan informasi, pendampingan, maupun persyaratan administratif yang terkadang sulit dipenuhi oleh usaha mikro dan rumahan.

    “Kami berharap Bank Aceh dapat menghadirkan skema pembiayaan yang lebih mudah diakses oleh perempuan pelaku UMKM, terutama mereka yang sedang merintis atau mengembangkan usaha. Kemudahan akses modal akan sangat membantu meningkatkan kapasitas usaha, memperluas pasar, dan pada akhirnya memperkuat ekonomi keluarga,” ujarnya.

    Menurut Tati, pemberdayaan ekonomi perempuan harus menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah. Sebab ketika perempuan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan usaha, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha itu sendiri, tetapi juga oleh keluarga, pendidikan anak, dan kesejahteraan masyarakat secara luas.

    “Bank Aceh sebagai bank milik rakyat Aceh harus mampu hadir memberikan solusi pembiayaan yang inklusif dan berpihak kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan pelaku usaha yang selama ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi akar rumput di Aceh,” tegasnya.

    “Kami berharap kepemimpinan baru ini mampu melahirkan berbagai terobosan yang berdampak langsung kepada masyarakat. Targetnya bukan hanya pertumbuhan aset dan keuntungan perusahaan, tetapi juga meningkatnya kepercayaan publik, kualitas pelayanan, serta kontribusi nyata terhadap pembangunan dan kesejahteraan rakyat Aceh,” pungkasnya.**

  • Harga Emas di Banda Aceh Turun Lagi, Kini Rp7,85 Juta per Mayam

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Harga emas perhiasan di Banda Aceh kembali mengalami penurunan dan melanjutkan tren koreksi dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa (23/6/2026), harga emas tercatat berada di level Rp7.850.000 per mayam di Toko Emas Bina Nusa, Pasar Aceh.

    “Harga emas hari ini Rp7.850.000 per mayam, belum termasuk ongkos pembuatan,” kata pemilik Toko Emas Bina Nusa, Erwin, Selasa (23/6/2026).

    Ia menjelaskan, biaya pembuatan perhiasan atau ongkos kerja berkisar antara Rp100.000 hingga Rp200.000 per mayam, tergantung tingkat kesulitan desain dan model yang dipilih pembeli.

    Jika dibandingkan dengan perdagangan sehari sebelumnya, harga emas kembali terkoreksi sebesar Rp60.000 per mayam dari posisi Senin (22/6/2026) yang masih berada di angka Rp7.910.000.

    Dalam sepekan terakhir, harga emas di Banda Aceh tercatat bergerak fluktuatif namun cenderung melemah setelah sempat bertahan di kisaran Rp7,9 juta hingga Rp8 juta per mayam pada awal Juni 2026.

    Selain emas perhiasan, harga logam mulia (LM) juga terpantau bergerak turun. Hari ini, harga jual LM berada di Rp2.435.000 per gram, sementara harga beli di Rp2.365.000 per gram.

    Untuk emas lokal, harga jual tercatat Rp2.360.000 per gram dan harga beli berada di level Rp2.300.000 per gram.

    Pelaku pasar menyebut, pergerakan harga emas umumnya dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global, termasuk nilai tukar mata uang serta dinamika ekonomi dan geopolitik dunia yang membuat harga emas cenderung berfluktuasi.

    Dengan tren penurunan yang masih berlangsung hingga akhir Juni, pelaku usaha perhiasan di Banda Aceh menilai pasar saat ini berada dalam fase penyesuaian harga setelah sempat bertahan di level tinggi pada periode sebelumnya.**

  • Pertamax Naik, Warga Aceh Beralih ke Pertalite

    Pertamax Naik, Warga Aceh Beralih ke Pertalite

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.650 per liter mulai dirasakan masyarakat Aceh.

    Sejumlah pengguna kendaraan roda dua di Banda Aceh dan Aceh Besar mengaku terpaksa beralih ke Pertalite karena tidak lagi sanggup menanggung biaya pengisian bahan bakar yang semakin mahal.

    Amatan acehtoday.id/, antrian kendaraan Stasiun Pengisian Bahan Umum (SPBU) Lamsayeun, Jalan Soekarno – Hatta, Meunasah Manyet, Aceh Besar dan SPBU Simpang Jam, Jalan Teuku Umar, Sukaramai, Banda Aceh terlihat normal

    Sementara itu, respon masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar terhadap kenaikan harga Pertamax cukup beragam. Seorang pegawai swasta di Banda Aceh, Agus (28) mengaku akan beralih menggunakan BBM jenis Pertalite dari Pertamax karena kondisi ekonomi.

    “Saya sudah bertahun-tahun menggunakan Pertamax, tapi melihat kondisi ekonomi seperti ini, pastinya akan beralih ke Pertalite. sudah tidak memungkinkan lagi untuk pakai Pertamax dengan harga segitu,” kata Agus pada acehtoday.id/, Kamis (11/6/2026).

    Agus mengatakan setelah kenaikan harga Pertamax, ia segera beralih ke Pertalite dengan alasan menghemat pengeluaran.

    “Iya sudah beralih ke Pertalite. Kalau harga dulu, biasanya isi Pertamax Rp50 ribu sudah 4 liter. Sekarang palingan cuma 3 liter. kalau isi Pertalite Rp50 ribu sudah 5 liter. Jauh perbedaanya,” ujarnya.

    Ia menyebut saat ini menggunakan kendaraan roda dua jenis skuter matik. Agus berujar selama ini terus menggunakan BBM jenis Pertamax untuk performa kendaraan.

    “Pakai skuter matik. Isi Pertamax karena dari pabriknya itu adalah mesin yang memiliki rasio kompresi tinggi yaitu 12:1. Jadi bahan bakar dengan angka oktan minimal RON 92 (Pertamax) diperlukan agar performanya tetap stabil,” jelasnya.

    Agus menuturkan pemakaian BBM untuk kendaraan roda dua dapat menghabiskan kisaran 25 hingga 30 liter Pertamax sebulan. Sehingga alokasi pendapatannya untuk BBM akan jauh lebih membengkak dari sebelumnya.

    “Kalau isi Pertamax dengan harga sekarang itu bisa sampai Rp400 – Rp500 ribu sebulan. Sedangkan isi Pertalite cuma Rp250 – Rp300 ribu per bulan. Selisihnya itu sudah jauh kali,” tuturnya.

    Sementara itu, Otli (54) mengaku hal yang sama mengenai peralihan penggunaan BBM jenis Pertamax ke Pertalite untuk kendaraannya.

    “Saya pakai motor matik. Pakai Pertamax dulu tapi dari kemarin sudah ganti ke Pertalite karena harga naik,” kata Otli.

    Ia menyebut, penggantian BBM dari Pertamax ke Pertalite untuk sepeda motor terasa memberatkan karena bisa mempengaruhi performa mesin.

    “Performa motor pasti berbeda kalau ganti jenis BBM. Apalagi sudah pernah masuk bengkel, jadi disarankan kombinasi banyakin isi Pertamax. Kalau sekarang terpaksa banyak kombinasi Pertalite dibanding Pertamax karena harganya,” pungkas Otli.

    Pertamax Rp16.650 Ribu per Liter di Aceh

    Perlu diketahui untuk wilayah Aceh, harga Pertamax Ron 92 dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.650 per liter dan Pertamax Ron 95 dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000. Sementara harga Pertalite masih normal Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

    Tangkapan Layar Harga BBM per Tanggal 10 Juni 2026
  • Harga Pertamax di Aceh Tembus Rp16.650, Warga: Sangat Memberatkan

    Harga Pertamax di Aceh Tembus Rp16.650, Warga: Sangat Memberatkan

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green mulai Rabu (10/6/2026).

    Dikutip portal PT Pertamina Persero harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.650 per liter, sementara Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

    Adapun harga Pertamax (RON 92) di Provinsi sedikit labih tinggi yakni Rp16.650 per liter. Sedangkan wilayah Free Trade Zone (FTZ) Sabang harga Pertamax (RON 92) Rp15.250 per liter.

    Pantauan acehtoday.id/, antrian sejumlah SPBU di Banda Aceh dan Aceh Besar masih terlihat normal per hari ini. Sementara itu, kebijakan kenaikan harga Pertamax dikeluhkan beberapa warga Aceh.

    Seorang ibu rumah tangga sekaligus pekerja swasta di Banda Aceh, Nurma menyampaikan keluh kesah terkait kenaikan harga Pertamax mulai hari ini.

    “Kenaikan harga per Juni ini sangat memberatkan ya. Apalagi saya sehari-hari memang berkegiatan lapangan, jemput anak dan bekerja,” kata Nurma.

    Nurma mengatakan dengan kenaikan harga ini, ia perlu meng kalkulasi ulang soal pengeluaran transportasi harian serta jangka waktu isi ulang BBM ke kendaraan.

     

    @acehtoday.id/ ⛽ Pertamax resmi naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. Kenaikan ini disebut dipengaruhi harga minyak dunia yang masih tinggi, konflik di Timur Tengah, hingga pelemahan rupiah terhadap dolar AS. #SeputarAceh #BBM #Pertamax #InfoTerkini #BeritaHariIni ♬ suara asli – Seputar Aceh

    “Kalau dulu dengan dana Rp50 ribu dapat sekitar 4 liter, tapi sekarang hanya 3 liter untuk kendaraan roda dua. Dulu 4 liter bisa sampai 3 – 4 hari dengan rute perjalanan saya, kini mungkin per dua hari sekali harus isi ulang BBM ke pom bensin,” ujarnya.

    Nurma mengaku memilih menggunakan Pertamax untuk performa kendaraan dan efisiensi bahan bakar yang lebih baik. Sehingga tetap akan menggunakan Pertamax meski harganya mengalami kenaikan.

    “Pakai Pertamax karena tarikan ke motor lebih kencang dan lebih hemat. Jadi saat ini tidak berencana beralih ke Pertalite meski harga Pertamax naik,” tuturnya.

    Nurma berharap pemerintah dapat segera menstabilkan harga BBM terutama jenis Pertamax. Baginya kenaikan harga Pertamax cukup berdampak kepada pengeluarannya.

    “Karena pendapatan kita juga ngepas, jadi saat ini harapannya agar pemerintah segera menstabilkan harga BBM terutama Pertamax,” ucap Nurma.

    Keluhan serupa juga dikeluhkan oleh seorang warga Aceh Besar dan pekerja swasta, Hendri, Ia mengaku kenaikan harga Pertamax memberatkan pengeluaran bulanannya.

    “Memang memberatkan kenaikan harga ini karena berdampak pada pengeluaran,” kata Hendri.

    Meski demikian, Hendri mengaku pasrah dengan kenaikan harga BBM karena sehari-harinya memang menggunakan Pertamax.

    “Mau gimana, pasrah saja. Karena hari-hari memang pakai Pertamax,” tutup Hendri.

    PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi, Pertamax dan Pertamax Green mulai Rabu (10/6/2026).
    Petugas pom bensin sedang mengisi BBM ke sepeda motor konsumen di SPBU Lamsayeun, Aceh Besar, Rabu (10/6/2026).
    Sumber foto: acehtoday.id/Elza

    Kenapa BBM khususnya Harga Pertamax Lebih Mahal di Aceh?

    Harga BBM non-subsidi jenis Pertamax di Aceh tercatat lebih tinggi dibanding sejumlah daerah lain di Indonesia. Kondisi ini kerap menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat, terutama setelah adanya penyesuaian harga yang diumumkan PT Pertamina Patra Niaga.

    Perbedaan harga tersebut bukan tanpa alasan. Salah satu faktor utama yang memengaruhi harga BBM non-subsidi di Aceh adalah biaya distribusi dan logistik.

    Letak geografis Aceh yang berada di ujung barat Indonesia membuat proses pengiriman BBM membutuhkan rantai distribusi yang lebih panjang dibanding daerah yang dekat dengan kilang atau terminal bahan bakar utama.

    Selain itu, harga BBM non-subsidi juga dipengaruhi oleh kebijakan daerah, termasuk Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) yang besarannya dapat berbeda di setiap provinsi. Perbedaan komponen pajak ini turut memengaruhi harga jual BBM kepada konsumen.

    Pertamina juga menerapkan skema harga berdasarkan wilayah pemasaran. Karena itu, harga Pertamax di Aceh tidak selalu sama dengan harga yang berlaku di Jakarta, Jawa Barat, maupun daerah lainnya.

    Menariknya, kondisi berbeda justru terjadi di Kota Sabang. Sebagai kawasan Free Trade Zone (FTZ), harga BBM di Sabang umumnya lebih rendah dibanding wilayah Aceh lainnya karena mendapatkan fasilitas perpajakan tertentu.

    Dengan berbagai faktor tersebut, harga BBM non-subsidi di Aceh kerap berada di atas rata-rata harga nasional. Meski demikian, masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait dapat terus menjaga stabilitas harga energi agar tidak semakin membebani pengeluaran rumah tangga maupun pelaku usaha.

  • Kebun Pekarangan Binaan Medco E&P Malaka Hasilkan Pendapatan Tambahan, Warga Indra Makmu Kian Mandiri Pangan

    Kebun Pekarangan Binaan Medco E&P Malaka Hasilkan Pendapatan Tambahan, Warga Indra Makmu Kian Mandiri Pangan

    acehtoday.id/ | Aceh Timur — Program pemanfaatan lahan pekarangan yang dijalankan PT Medco E&P Malaka mulai menunjukkan hasil nyata di Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur, tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sayur-mayur keluarga, sebagian warga peserta program kini juga memperoleh tambahan pendapatan dari hasil panen yang dijual kepada masyarakat sekitar.

    Perubahan tersebut dirasakan oleh delapan warga yang mengikuti Program Edukasi dan Praktik Budidaya Sayuran melalui Rumah Pemberdayaan Ibu dan Anak (RPIA) sejak Oktober 2025, program ini mendorong masyarakat memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah menjadi kebun produktif yang mampu menopang kebutuhan pangan rumah tangga.

    Berdasarkan hasil monitoring terbaru, para peserta masih aktif membudidayakan berbagai jenis sayuran seperti kangkung, bayam, sawi, cabai, tomat, timun, dan terong. Aktivitas bercocok tanam yang awalnya dilakukan sebagai bagian dari pelatihan kini berkembang menjadi kebiasaan produktif yang terus berlanjut secara mandiri.

    Selain mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pangan sehari-hari, keberadaan kebun pekarangan juga mulai membuka peluang ekonomi baru. Sejumlah peserta mengaku hasil panen yang berlebih dapat dijual kepada tetangga maupun warga sekitar sehingga memberikan tambahan pemasukan bagi keluarga.

    Senior Manager Communication Medco E&P, Leony Lervyn, mengatakan program tersebut dirancang bukan sekadar memberikan pelatihan jangka pendek, melainkan membangun keterampilan yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan.

    “Program ini kami harapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi menjadi keterampilan yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, dari hasil monitoring kami melihat konsistensi peserta dalam mengelola kebun sayur rumah tangga, bahkan sebagian sudah mulai menghasilkan nilai ekonomi,” ujar Leony.

    Menurutnya, pemanfaatan pekarangan rumah menjadi lahan produktif merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar terhadap ketahanan pangan keluarga, di tengah fluktuasi harga bahan pangan kemampuan masyarakat menghasilkan kebutuhan sayur secara mandiri menjadi nilai tambah yang penting bagi ekonomi rumah tangga.

    Salah seorang peserta program, Yusmiana, warga Desa Jambo Balee, mengaku manfaat program sangat dirasakan keluarganya. Kebutuhan sayur harian kini dapat dipenuhi dari hasil kebun sendiri tanpa harus membeli ke pasar.

    “Sekarang kami bisa memenuhi kebutuhan sayur sehari-hari dari kebun sendiri, sebagian juga kami jual untuk menambah penghasilan,” katanya.

    Hal serupa disampaikan Muliyani, warga Desa Blang Nisam, Ia menuturkan lahan kosong yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kini berubah menjadi kebun yang memberikan manfaat nyata bagi keluarga.

    “Halaman rumah yang dulu tidak dimanfaatkan kini jadi kebun sayur yang bermanfaat untuk keluarga dan tetangga,” ujarnya.

    Program pemanfaatan lahan pekarangan yang dijalankan PT Medco E&P Malaka mulai menunjukkan hasil nyata di Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur, tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sayur-mayur keluarga, sebagian warga peserta program kini juga memperoleh tambahan pendapatan dari hasil panen yang dijual kepada masyarakat sekitar.
    Warga peserta program budidaya sayuran binaan PT Medco E&P Malaka memperlihatkan hasil panen sayur yang ditanam di pekarangan rumah di Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur. Program ini mendorong ketahanan pangan sekaligus meningkatkan ekonomi keluarga. FOTO/IST

    Pendampingan Medco E&P Malaka Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga

    Pelatih budidaya sayuran dalam program tersebut, Ustadz Wandi, menilai keberlanjutan aktivitas para peserta menunjukkan bahwa konsep ketahanan pangan keluarga dapat dibangun dari tingkat rumah tangga. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah hasil panen, tetapi juga dari perubahan pola pikir masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

    “Menanam sayur bukan hanya soal hasil panen, tetapi juga membangun kebiasaan hidup produktif dan mandiri,” katanya.

    Program ini turut didukung dengan pemberian bibit, pupuk, polybag, serta berbagai peralatan budidaya yang dibutuhkan peserta. Pendampingan dilakukan secara berkala guna memastikan warga mampu mengembangkan kebun secara mandiri setelah pelatihan selesai.

    Keberhasilan sejumlah peserta mempertahankan aktivitas bercocok tanam selama berbulan-bulan menjadi indikator bahwa program pemberdayaan tersebut mulai menghasilkan dampak yang berkelanjutan. Selain memperkuat ketahanan pangan keluarga, keberadaan kebun pekarangan juga berpotensi menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis rumah tangga yang dapat direplikasi di desa-desa lain di wilayah binaan perusahaan.

    Melalui program tersebut, PT Medco E&P Malaka menyatakan akan terus melakukan pendampingan dan evaluasi agar manfaat yang telah dirasakan masyarakat dapat terus berkembang serta menjangkau lebih banyak keluarga di wilayah operasional perusahaan.

  • Cara Taufik Kopi Jaga Kualitas Robusta di Tengah Badai Ekonomi

    Cara Taufik Kopi Jaga Kualitas Robusta di Tengah Badai Ekonomi

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Industri kopi lokal di Serambi Mekkah terus menunjukkan taringnya di kancah nasional. Salah satu produsen yang konsisten menjaga mutu dan eksistensinya adalah Taufik Kopi, pabrik produsen kopi legendaris asal Banda Aceh yang telah beroperasi sejak tahun 2005 hingga saat ini.

    Fokus pada pengolahan biji kopi berjenis Robusta, Taufik Kopi kini telah berhasil memikat hati masyarakat dan memiliki ratusan konsumen setia yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

    Terletak di jalan Cut Makmun II, Beurawe, Kecamatan Kuta Alam, berdiri sebuah bangunan yang dijadikan pabrik pengolahan kopi. Di lahan 200 meter persegi ini pengolahan biji kopi mentah (green bean) diproses hingga menjadi bubuk kopi siap edar.

    Aris Irawan, merupakan seorang pegawas pabrik mengatakan kunci kelezatan cita rasa bubuk kopi produksi Taufik Kopi berasal dari pemilihan bahan bakunya. Ia mengakui pabrik ini menggunakan green bean dari beberapa daerah yang ada di Aceh seperti Takengon dan Lamno.

    “Kami pakai bean dari Takengon dan Lamno dengan karakteristik yang berbeda,” ungkap Aris kepada acehtoday.id/, Kamis (4/6/2026).

    Banda Aceh — Industri kopi lokal di Serambi Mekkah terus menunjukkan taringnya di kancah nasional. Salah satu produsen yang konsisten menjaga mutu dan eksistensinya adalah Taufik Kopi, pabrik produsen kopi legendaris asal Banda Aceh yang telah beroperasi sejak tahun 2005 hingga saat ini.
    Proses Penimbangan Bubuk Kopi Sebelum Siap Diedarkan. (Foto: Chairil Aqshaacehtoday.id/)

    Aris menambahkan, proses pengolahan di pabrik ini masih mempertahankan sistem semi-mesin. Biji kopi mentah dimasukkan ke dalam tungku khusus yang diputar menggunakan mesin elektrik, sementara proses penyangraiannya tetap mengandalkan aroma khas dari pembakaran kayu bakar.

    “Kita masih menggunakan kayu bakar sebagai sumber bahan bakar tungku,” Tambahnya.

    Taufik Kopi dalam Tantangan Ekonomi dan Penyesuaian Pasar

    Perjalanan pabrik Taufik Kopi dalam mempertahankan bisnisnya tentu tidak luput dari dinamika ekonomi. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS beberapa waktu terakhir turut memberikan dampak pada peta kekuatan produksi mereka.

    Sebelum terjadinya lonjakan nilai tukar dolar, Taufik Kopi mampu memproduksi sekitar 8 hingga 10 ton kopi per bulan. Namun, guna menyiasati daya beli dan mengikuti pergeseran permintaan pasar saat ini, volume produksi disesuaikan secara dinamis menjadi 6 hingga 8 ton per bulan.

    Banda Aceh — Industri kopi lokal di Serambi Mekkah terus menunjukkan taringnya di kancah nasional. Salah satu produsen yang konsisten menjaga mutu dan eksistensinya adalah Taufik Kopi, pabrik produsen kopi legendaris asal Banda Aceh yang telah beroperasi sejak tahun 2005 hingga saat ini.
    Seorang Pekerja Sedang Menjaga Nyala Api Tungku Penyangrai Kopi. (Foto: Chairil Aqshaacehtoday.id/)

    Aris mengatakan, lonjakan harga untuk beberapa bahan baku seperti plastik kemasan, gula, minyak dan harga kayu bakar sangat mempengaruhi daya produksi pabriknya dan terkait dengan menurun nya permintaan pasar.

    “Ada beberapa bahan baku yang naik, tetapi tetap kita upayakan untuk produksi tetap berjalan,” Ungkapnya.

    Untuk menjangkau penikmat kopi rumahan hingga para pemilik kedai kopi, Aris mengaku menyediakan dua pilihan produk dengan harga bersaing. Produk tersebut meliputi biji kopi mentah atau green bean yang dibanderol Rp70.000 per kilogram, serta varian kopi yang sudah di-roasting dan siap konsumsi dengan harga Rp140.000 per kilogram.

    “Kita tetap usahakan harga sama agar dapat dijangkau masyarakat,” Tambah Aris.

     

  • Ekspor Batubara Aceh 2026 Tembus USD 45,57 Juta, India Jadi Pasar Utama

    Ekspor Batubara Aceh 2026 Tembus USD 45,57 Juta, India Jadi Pasar Utama

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Ekspor Batubara Aceh April 2026 kembali menjadi penyumbang terbesar nilai ekspor Provinsi Aceh, Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat komoditas batubara mendominasi hampir 80 persen dari total nilai ekspor daerah tersebut selama April 2026.

    Kepala BPS Aceh, Agus Andria, mengatakan nilai ekspor Aceh pada April 2026 mencapai USD 56,99 juta, angka tersebut sedikit menurun dibandingkan Maret 2026 yang tercatat sebesar USD 59,33 juta.

    “Batubara menyumbang USD 45,57 juta atau sekitar 79,95 persen dari total ekspor Aceh,” kata Agus dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).

    Selain batubara, komoditas lain yang turut menyumbang nilai ekspor Aceh adalah kopi dan rempah-rempah sebesar USD 9,05 juta serta berbagai produk kimia senilai USD 1,30 juta.

    India Jadi Pasar Terbesar Ekspor Batubara Aceh April 2026

    India masih menjadi negara tujuan utama dalam Ekspor Batubara Aceh April 2026. Nilai ekspor Aceh ke negara tersebut mencapai USD 38,14 juta.

    Dari jumlah tersebut, komoditas batubara mendominasi dengan nilai USD 37,33 juta, sedangkan berbagai produk kimia menyumbang USD 0,81 juta.

    Thailand menempati posisi kedua sebagai tujuan ekspor terbesar Aceh dengan nilai ekspor mencapai USD 4,49 juta, komoditas yang dikirim meliputi batubara sebesar USD 3,94 juta dan daging serta ikan olahan senilai USD 0,55 juta.

    Sementara itu, Vietnam berada di posisi ketiga dengan total nilai ekspor USD 4,29 juta. Seluruh nilai ekspor tersebut berasal dari komoditas batubara.

    Batubara Masih Menjadi Andalan Ekspor Aceh

    Menurut Agus, dominasi batubara dalam struktur ekspor Aceh tidak terlepas dari tingginya kebutuhan industri di negara tujuan ekspor yang umumnya menggunakan sistem kontrak jangka panjang.

    “Ekspor batubara biasanya memiliki kontrak transaksi jangka panjang yang harus dipenuhi eksportir dalam nilai dan jumlah tertentu, karena itu pergerakannya relatif stabil dan tidak terlalu dipengaruhi faktor musiman,” ujarnya.

    Meski demikian, Agus menilai Aceh masih memiliki sejumlah komoditas potensial yang dapat memperkuat kinerja ekspor di masa mendatang.

    Beberapa komoditas yang dinilai berpotensi menjadi penopang ekspor Aceh antara lain produk olahan kelapa sawit (CPO), daging dan ikan olahan, serta minyak nilam yang memiliki permintaan tinggi di pasar internasional.

    Menurutnya, komoditas-komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi yang besar dan dibutuhkan secara berkelanjutan oleh pasar global.

    “Tantangannya adalah kapasitas dan kemampuan eksportir untuk memenuhi permintaan pasar secara konsisten, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas produk,” tutup Agus.

    Ekspor Batubara Aceh April 2026 kembali menjadi penyumbang terbesar nilai ekspor Provinsi Aceh. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat komoditas batubara mendominasi hampir 80 persen dari total nilai ekspor daerah tersebut selama April 2026.
    Infografis. Seputaracaeh.id- Ai
  • Inflasi Aceh Naik 0,60 Persen Mei 2026, Tomat dan Cabai Jadi Pemicu

    Inflasi Aceh Naik 0,60 Persen Mei 2026, Tomat dan Cabai Jadi Pemicu

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menyebut kenaikan harga beberapa komoditas utama menjelang Hari Raya Idul Adha menjadi faktor naiknya inflasi Aceh bulanan (m-to-m) pada Mei 2026.

    Kepala BPS Aceh, Agus Andria mengatakan komoditas utama yang menjadi andil inflasi bulanan di Aceh diantaranya tomat sebesar 0,30 persen, cabai merah 0,19 persen, bahan bakar rumah tangga 12 persen, minyak goreng 0,04 persen dan nasi dengan lauk 0,03 persen.

    Sementara komoditas yang menjadi andil deflasi bulanan yakni daging ayam ras, ikan tongkol, ikan dencis, emas perhiasan, dan telur ayam ras.

    “Harga-harga komoditas tersebut cenderung tinggi disebabkan pasokan yang terbatas namun permintaan tinggi menjelang momen meugang dan hari raya Idul Adha,” kata Agus saat dikonfirmasi, Rabu (3/6/2026).

    Inflasi Aceh Mei 2026 Didominasi Kenaikan Harga Bahan Pangan

    Selain itu, kelompok pengeluaran yang memberikan andil besar terhadap inflasi bulanan (m-to-m) adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,96 persen dengan kontribusi terhadap inflasi sebesar 0,37 persen pada bulan Mei 2026.

    Adapun secara tahunan (y-on-y), kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 6,89 persen dengan kontribusi tertinggi terhadap inflasi yaitu sebesar 2,59 persen.

    Menurut Agus pada bulan Mei 2025, Aceh juga mengalami deflasi bulanan yang menyebabkan perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) cukup tinggi dibandingkan pada Mei 2026 sehingga perubahan angka inflasi tahunan (y-on-y) cukup tinggi.

    BPS Aceh juga mencatat provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 0,60 persen pada Mei 2026. Sementara inflasi tahunan di provinsi Aceh sebesar 5,12 persen.

    Berdasarkan pantauan BPS Aceh, lima kabupaten/kota di provinsi Aceh mengalami inflasi tahunan (y-on-y) tertinggi diantaranya Aceh Tengah sebesar 6,09 persen, Meulaboh 3,99 persen, Aceh Tamian 5,69 persen, Banda Aceh 4,77 persen dan Lhokseumawe 4,62 persen.

    Sementara wilayah Kabupaten/kota yang mengalami inflasi tertinggi bulanan (m-to-m) pada Mei 2026 diantaranya Banda Aceh sebesar 0,93 persen, Meulaboh 0,64 persen, Aceh Tengah 0,61 persen, Aceh Tamiang 0,42 persen dan Lhokseumawe 0,03 persen.

    Agus juga menyebut komoditas di Kota Banda Aceh yang menjadi andil inflasi bulanan diantaranya tomat, bahan bakar rumah tangga,cabai merah, nasi dengan lauk, ikan cakalang, dan daging sapi.

     

    Banda Aceh - Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menyebut kenaikan harga beberapa komoditas utama menjelang Hari Raya Idul Adha menjadi faktor naiknya inflasi Aceh bulanan (m-to-m) pada Mei 2026.
    Komoditas tomat di Pasar (acehtoday.id/-Elza)

    Selain itu, komoditas nasi dengan lauk menjadi salah satu andil inflasi di kota Banda Aceh yang didorong oleh kenaikan harga bahan baku pangan dan harga bahan bakar rumah tangga.

    “Momentum Idul Adha tentu memberikan pengaruh pada pola konsumsi masyarakat yang berpengaruh pada permintaan sejumlah komoditas tertentu seperti daging sapi, cabai merah, tomat, dan bawang merah. Pasokan yang terbatas tentu mendorong kenaikan harga komoditas-komoditas tersebut pada momentum Idul Adha,” pungkas Agus.

  • Mubadala Siap Produksi Gas Andaman, Cadangan Raksasa 10 TCF Jadi Harapan Baru Energi Indonesia

    Mubadala Siap Produksi Gas Andaman, Cadangan Raksasa 10 TCF Jadi Harapan Baru Energi Indonesia

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Mubadala Energy terus mempercepat pengembangan proyek gas raksasa di Blok South Andaman, Aceh, yang memiliki potensi cadangan mencapai 8 hingga 10 Trillion Cubic Feet (TCF), proyek strategis tersebut kini ditargetkan memasuki tahap produksi perdana (first gas) pada tahun 2028.

    Penemuan cadangan gas di kawasan Laut Andaman dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu temuan terbesar di Asia Tenggara.

    Pemerintah pusat menilai proyek ini akan memainkan peran penting dalam mendukung ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi di masa mendatang.

    Mubadala Sebut Cadangan Gas Raksasa di Lepas Pantai Aceh

    Cadangan gas tersebut berasal dari temuan sumur Layaran-1 dan Tangkulo-1 yang berada di wilayah kerja South Andaman, sekitar 65 kilometer lepas pantai utara Sumatra.

    Temuan Layaran-1 diperkirakan menyimpan lebih dari 6 TCF gas, sementara Tangkulo-1 menambah potensi sekitar 2 TCF sehingga total sumber daya yang telah teridentifikasi mencapai sekitar 8 TCF dan masih berpotensi bertambah melalui eksplorasi lanjutan.

    Chief Executive Officer Mubadala Energy, Mansoor Mohammed Al Hamed, menyebut keberhasilan eksplorasi di South Andaman sebagai pencapaian penting yang dapat mengubah masa depan energi kawasan.

    “Penemuan ini berpotensi mentransformasi lanskap energi Indonesia dan Asia Tenggara,” ujar Mansoor Mohammed Al Hamed dalam keterangan resmi Mubadala Energy.

    Pernyataan tersebut menunjukkan besarnya nilai strategis proyek South Andaman yang saat ini menjadi salah satu fokus utama pengembangan migas nasional.

    Target Produksi 2028

    Mubadala Energy bersama mitra kerjanya saat ini tengah mempercepat tahapan studi teknik, perencanaan pengembangan lapangan, hingga proses pengambilan keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID).

    Pemerintah melalui SKK Migas menargetkan produksi gas pertama dari South Andaman dapat dimulai pada periode 2028 hingga 2029, kehadiran proyek ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gas domestik yang terus meningkat, terutama untuk sektor industri, pembangkit listrik, pupuk, dan petrokimia.

    Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, sebelumnya menyatakan bahwa penemuan gas di South Andaman merupakan kabar positif bagi industri hulu migas Indonesia.

    “Ini memberikan dorongan positif bagi SKK Migas dan industri hulu migas dalam mendukung ketahanan energi nasional,” kata Dwi Soetjipto.

    Besarnya cadangan yang ditemukan juga mendapat perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

    Dalam beberapa kesempatan, Presiden menyebut potensi gas di kawasan Andaman sebagai salah satu penemuan terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa dekade terakhir.

    Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, proyek South Andaman tidak hanya akan menjadi salah satu investasi energi terbesar di Aceh, tetapi juga berpotensi menjadi tulang punggung baru ketahanan energi Indonesia.

    Kehadiran produksi gas dari Laut Andaman diyakini dapat membantu mewujudkan target swasembada energi nasional sekaligus meningkatkan daya tarik investasi migas di Tanah Air.

  • Kerja Sama Aceh UEA 2026, Wagub Fadhlullah Jajaki Investasi Lingkungan dan Pariwisata

    Kerja Sama Aceh UEA 2026, Wagub Fadhlullah Jajaki Investasi Lingkungan dan Pariwisata

    acehtoday.id/ | Jakarta – Kerja Sama Aceh UEA menjadi fokus utama dalam pertemuan Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah dengan Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Al-Dhaheri, di Kedutaan Besar UEA, Jakarta, Senin (25/5/2026).

    Pertemuan tersebut membahas berbagai peluang kerja sama Aceh UEA di sektor lingkungan hidup, energi, investasi, hingga pengembangan pariwisata yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh.

    Fadhlullah menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Aceh. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah upaya menjaga kelestarian kawasan hutan dan ekosistem Gunung Leuser yang dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia.

    Menurutnya, kerja sama dengan negara sahabat seperti Uni Emirat Arab dapat memperkuat program konservasi lingkungan sekaligus membuka peluang investasi hijau yang memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.

    Dalam pembahasan tersebut, kedua pihak turut menjajaki peluang kerja sama Aceh UEA di sektor energi, termasuk pengembangan energi terbarukan yang memiliki potensi besar di Aceh.

    Selain itu, pemberdayaan ekonomi masyarakat juga menjadi perhatian. Pemerintah Aceh berharap kemitraan dengan UEA dapat menghadirkan investasi yang berdampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    Fadhlullah menilai Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah serta potensi energi bersih yang dapat dikembangkan melalui sinergi dengan mitra internasional.

    Kerja Sama Aceh UEA Dorong Pengembangan Pariwisata Sabang

    Selain lingkungan dan energi, kerja sama Aceh UEA juga diarahkan pada pengembangan sektor pariwisata, khususnya kawasan Sabang yang dinilai memiliki daya tarik besar bagi wisatawan mancanegara.

    Pengembangan wisata bahari, ekowisata, serta pembangunan infrastruktur pendukung menjadi bagian dari pembahasan dalam pertemuan tersebut.

    Pemerintah Aceh berharap dukungan investasi dari UEA dapat mempercepat pengembangan destinasi wisata unggulan yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal.

    Menurut Fadhlullah, potensi pariwisata Aceh masih sangat terbuka untuk dikembangkan. Karena itu, kerja sama dengan investor dan mitra internasional menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan Aceh ke pasar global.

    Ia optimistis hubungan yang terjalin antara Pemerintah Aceh dan Uni Emirat Arab dapat membuka peluang baru di berbagai sektor pembangunan, mulai dari lingkungan hidup, energi terbarukan, hingga industri pariwisata yang berkelanjutan.