Banda Aceh
Nasional

Hasto Sesalkan Letusan Senjata di Masjid Raya Baiturrahman

Banda Aceh – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyayangkan insiden letusan senjata Masjid Raya Baiturrahman yang…

Oleh Waktu baca: 3 menit
Bagikan

Banda Aceh – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyayangkan insiden letusan senjata Masjid Raya Baiturrahman yang terjadi saat peringatan Hari Damai Aceh. Ia menilai tindakan represif, terlebih jika sampai terjadi letusan senjata di lingkungan masjid, tidak semestinya terjadi di tempat yang dianggap suci dan sakral.

“PDI Perjuangan sangat menyesalkan terhadap apa yang terjadi di Masjid Baiturrahman Aceh,” kata Hasto dalam saluran Media Sosial Gen Banteng, Selasa (18/8/2026).

Menurutnya, aparat keamanan semestinya mengedepankan komunikasi dan dialog sebelum mengambil tindakan. Salah satunya dengan berkoordinasi dengan Imam Masjid Raya Baiturrahman untuk menyelesaikan persoalan yang muncul secara persuasif.

Hasto menegaskan, Indonesia memiliki simbol kedaulatan berupa bendera Merah Putih yang harus dihormati. Namun, persoalan tersebut tetap harus diselesaikan dengan pendekatan yang mengedepankan dialog dan tidak menggunakan tindakan represif.

“Untuk itu berbagai bentuk tindakan represif, apalagi terjadi letusan senjata di masjid, di tempat yang seharusnya disucikan, disakralkan, tidak boleh terjadi,” ujarnya.

Dialog dan Pemahaman Konteks Sosial

Hasto meminta seluruh aparat keamanan untuk tetap berkepala dingin dengan mengutamakan dialog sekaligus tetap menjalankan proses penegakan hukum sesuai ketentuan. Ia juga mengingatkan agar pendekatan serupa diterapkan dalam menangani persoalan sosial di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Papua dan Kalimantan.

Menurutnya, setiap persoalan yang muncul di daerah perlu dilihat dari konteks sosial dan sosiologisnya. Ia menduga munculnya suara-suara kritis dari masyarakat tidak selalu dapat dipisahkan dari persoalan komunikasi, ketidakadilan, maupun kebijakan yang dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan masyarakat.

“Karena kita melihat konteks sosialnya, kita melihat aspek-aspek sosiologisnya, siapa tahu hal tersebut terjadi akibat kebuntuan proses komunikasi, ketidakadilan yang tidak diselesaikan dengan kebijakan-kebijakan dan melalui penegakan hukum,” katanya.

Keutuhan NKRI dan Ruang Aspirasi

Hasto menegaskan, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap harus dijaga. Ia menyebut wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kedaulatan negara.

“Siapapun tidak berhak untuk mengganggu kedaulatan kita,” tegasnya.

Meski demikian, Hasto menilai aspirasi masyarakat harus tetap mendapatkan ruang untuk disampaikan. Dialog menjadi instrumen penting untuk mencegah persoalan sosial berkembang menjadi konflik. Letusan senjata Masjid Raya Baiturrahman yang terjadi seharusnya menjadi pelajaran bahwa pendekatan keamanan semata tidak cukup.

“Namun aspirasi rakyat harus didengarkan melalui dialog karena pilihan perjuangan, meyakini berbagai persoalan ketidakadilan, persoalan pengelolaan kekayaan alam yang tidak membawa kesejahteraan bagi rakyat, itu yang menjadi alasan pokok mengapa muncul suara-suara kritis yang menggugat ketidakadilan,” ujarnya.

Hasto menyatakan PDI Perjuangan juga menempatkan aspirasi masyarakat sebagai bagian penting yang perlu didengar dan diperhatikan. Ia mengajak seluruh pihak menjaga persatuan dan keutuhan Indonesia sembari memastikan ruang dialog tetap terbuka bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara damai.

“Jaga Indonesia Raya kita, Merdeka!” pungkas Hasto.**

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.