Banda Aceh – Pengangguran di Aceh 5,89 persen pada Mei 2026. Angka ini mengalami kenaikan tipis 0,01 persen poin dibandingkan Februari 2026 yang tercatat sebesar 5,88 persen. Data tersebut dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), Kamis (6/8/2026).
Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, menjelaskan bahwa persentase itu menggambarkan kondisi riil pasar tenaga kerja di Serambi Mekkah.
“TPT hasil Sakernas Mei 2026 sebesar 5,89 persen. Hal ini berarti dari 100 orang angkatan kerja terdapat sekitar lima sampai enam orang penganggur,” ujarnya.
BPS mencatat jumlah penduduk usia kerja di Aceh mereka yang berusia 15 tahun ke atas mencapai 4,2 juta orang. Dari angka tersebut, sebanyak 2,67 juta orang masuk kategori angkatan kerja, sementara 1,53 juta orang lainnya merupakan bukan angkatan kerja. Komposisi angkatan kerja terdiri atas sekitar 2,52 juta penduduk yang bekerja dan sekitar 157 ribu orang berstatus penganggur.
Sektor Pertanian Masih Jadi Tumpuan Utama
Jika dibandingkan Februari 2026, terdapat penambahan jumlah penduduk bekerja sebanyak 15 ribu orang. Sinyal positif ini menunjukkan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja, meskipun belum cukup signifikan untuk menekan angka pengangguran secara drastis.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Mei 2026 tercatat 63,59 persen, naik 0,15 persen poin dari periode sebelumnya.
Sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Aceh dengan kontribusi 39,31 persen dari total penduduk bekerja. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 14,77 persen, disusul sektor industri pengolahan sebesar 7,12 persen.
Data BPS juga mengungkap fakta bahwa pengangguran di Aceh tidak terdistribusi merata. Berdasarkan jenis kelamin, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) laki-laki lebih tinggi, yakni 6,17 persen, dibandingkan perempuan yang sebesar 5,41 persen.
Sementara itu, berdasarkan wilayah tempat tinggal, TPT di kawasan perkotaan mencapai 6,52 persen, lebih tinggi dibanding pedesaan yang sebesar 5,44 persen.

Pekerja Informal Dominan, Lulusan SMA Terbanyak
Potret ketenagakerjaan Aceh masih diwarnai dominasi sektor informal. BPS mencatat 62,12 persen penduduk bekerja di kegiatan informal. Hanya 37,88 persen yang bekerja di sektor formal.
Status pekerjaan paling banyak adalah sebagai buruh, karyawan, atau pegawai sebesar 33,07 persen, sementara yang paling sedikit adalah kelompok berusaha dibantu buruh tetap dan dibayar, yakni 4,82 persen.
Dari sisi pendidikan, tenaga kerja di Aceh masih didominasi lulusan SMA dengan persentase 36,76 persen. Adapun lulusan sarjana DIV/S1 ke atas yang bekerja baru tercatat sebesar 14,16 persen. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah untuk mendorong link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.
Mengenai jam kerja, mayoritas penduduk bekerja merupakan pekerja penuh dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu. Persentasenya mencapai 60,48 persen. Sisanya adalah setengah pengangguran sebesar 9,48 persen dan pekerja paruh waktu sebesar 30,04 persen.
Meski pengangguran di Aceh 5,89 persen terlihat kecil secara statistik, dominasi pekerja informal dan paruh waktu menandakan masih adanya kerentanan dalam kualitas lapangan kerja yang tersedia.**
