Tag: usk

  • Tim Dosen USM dan USK Kembangkan Demplot TOGA Berbasis Kearifan Lokal di Aceh Besar

    acehtoday.id/ | Aceh Besar – Tim dosen Universitas Serambi Mekkah (USM) dan Universitas Syiah Kuala (USK) memberdayakan ibu-ibu Posyandu serta kader kesehatan melalui pengembangan demplot percontohan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) berbasis kearifan lokal di Gampong Blang Tingkeum, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Sabtu (4/7/2026).

    Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pemberdayaan Ibu-Ibu Kelompok Posyandu melalui Pengembangan Tanaman Obat Keluarga Berbasis Kearifan Lokal” itu diikuti sekitar 30 peserta. Program tersebut memadukan penyuluhan, diskusi, dan praktik langsung penanaman berbagai jenis tanaman obat pada lahan percontohan yang telah dipersiapkan bersama masyarakat.

    Ketua Tim PkM, Dr. Saudah, M.Si. dari Universitas Serambi Mekkah, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam membudidayakan tanaman obat keluarga, mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan rumah, sekaligus melestarikan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

    Tim pengabdian terdiri atas Dr. Saudah, M.Si., Dr. Masyudi, M.Kes. dari USM, serta Dr. Risa Nursanty, M.S. dari Universitas Syiah Kuala. Ketiganya berkolaborasi sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, pendampingan hingga evaluasi program sebagai bentuk sinergi antarperguruan tinggi dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

    Materi penyuluhan disampaikan oleh dosen USM, Dr. Elvrida Rosa, S.P., M.P. Ia menjelaskan pentingnya pemanfaatan TOGA untuk mendukung kesehatan keluarga sekaligus menjadikan pekarangan rumah lebih produktif.

    Dalam penyuluhan tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai tanaman yang mudah dibudidayakan, seperti jahe, kunyit, temulawak, kencur, serai, daun sirih, daun mint, kemangi, bawang Dayak, dan jeruk kasturi.

    “Tanaman obat keluarga tidak hanya membuat pekarangan menjadi lebih hijau, tetapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran dan pendukung pemeliharaan kesehatan keluarga. Pengembangannya sekaligus menjadi salah satu cara untuk menjaga pengetahuan lokal agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya,” ujar Dr. Elvrida Rosa.

    Dr. Saudah menambahkan, program tersebut tidak hanya meningkatkan pemahaman peserta, tetapi juga mendorong masyarakat memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah menjadi lebih produktif.

    “Kami berharap demplot ini menjadi contoh yang dapat dikembangkan oleh masyarakat. Pekarangan yang sebelumnya belum dimanfaatkan dapat ditanami tanaman obat sehingga memberikan manfaat bagi keluarga,” katanya.

    Tim dosen Universitas Serambi Mekkah (USM) dan Universitas Syiah Kuala (USK) memberdayakan ibu-ibu Posyandu serta kader kesehatan melalui pengembangan demplot percontohan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) berbasis kearifan lokal di Gampong Blang Tingkeum, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Sabtu (4/7/2026).

    Ia menegaskan bahwa pemanfaatan tanaman obat harus dilakukan secara tepat dan berdasarkan pengetahuan yang benar. Tanaman obat dapat dimanfaatkan untuk menunjang kesehatan, namun tidak menggantikan pemeriksaan maupun pengobatan oleh tenaga kesehatan apabila seseorang memerlukan penanganan medis.

    Usai penyuluhan, peserta bersama tim dosen dan aparatur gampong melakukan praktik penanaman bibit TOGA pada lahan percontohan yang telah dipersiapkan masyarakat beberapa hari sebelumnya.

    Bibit yang ditanam meliputi serai, kencur, jahe, temulawak, daun sirih, daun mint, kemangi, bawang Dayak, dan jeruk kasturi, serta beberapa jenis tanaman obat lain yang mudah dibudidayakan.

    Suasana gotong royong tampak mewarnai kegiatan. Ibu-ibu Posyandu, kader kesehatan, tim dosen, pemateri, dan aparatur gampong bersama-sama menata serta menanam bibit di setiap petak demplot. Peserta juga aktif berdiskusi mengenai teknik budidaya, perawatan tanaman, waktu panen, hingga cara memanfaatkan tanaman obat secara bijak.

    “Ilmu yang diberikan tidak boleh berhenti di ruang penyuluhan. Demplot ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran bersama dan mendorong masyarakat untuk mengembangkan kebun TOGA di pekarangan rumah masing-masing,” tambah Dr. Saudah.

    Demplot TOGA Berbasis Kearifan Lokal Mendapat Apresiasi

    Keuchik Gampong Blang Tingkeum, Zahrul Mubarak, mengapresiasi kolaborasi tim dosen USM dan USK tersebut. Menurutnya, program pengembangan TOGA memberikan manfaat nyata karena masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga kesempatan mempraktikkan langsung teknik budidaya tanaman obat.

    “Kami berharap kerja sama seperti ini dapat terus dilanjutkan. Demplot yang telah dibangun hendaknya dirawat bersama-sama sehingga menjadi tempat belajar dan contoh bagi masyarakat yang ingin mengembangkan tanaman obat di rumah,” ujarnya.

    Melalui kegiatan ini, Tim PkM berharap masyarakat Gampong Blang Tingkeum semakin terampil memanfaatkan lahan pekarangan, mampu merawat dan mengembangkan kebun TOGA secara berkelanjutan, serta terus melestarikan pemanfaatan tanaman obat sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Aceh.

    Tim PkM juga menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia atas dukungan pendanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026 berdasarkan Kontrak Induk Nomor 216/C3/DT.05.00/PM/2026 dan Kontrak Turunan Nomor 18/LL13/AL.04/AKA.PM/2026 melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Serambi Mekkah dengan Nomor Kontrak 020/LPPM-USM/IV/2026.

    Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat peran perguruan tinggi untuk menghadirkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan program pemberdayaan yang relevan serta mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

     

  • USK-Guangdong Ocean University Genjot Kolaborasi Riset AI Kelautan, Sepakati 3 Program Baru

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) memperkuat kolaborasi riset AI kelautan dengan Guangdong Ocean University (GDOU) Tiongkok, dalam pertemuan strategis di Ruang Rapat Presiden GDOU, Guangdong, Jumat (3/7/2026). Pertemuan ini menindaklanjuti nota kesepahaman kedua kampus yang telah berjalan selama dua tahun terakhir.

    Delegasi USK dipimpin Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Bisnis, Dr. Ramzi Adriman, didampingi Project Leader kerja sama USK-GDOU, Prof. Dr. Ir. Muhammad Irham. Dari pihak GDOU, hadir Wakil Presiden Prof. Deng Fengguang bersama pimpinan fakultas dan Kantor Urusan Internasional.

    Dr. Ramzi menyebut kolaborasi riset AI kelautan ini sebagai wujud komitmen membangun kemitraan akademik berorientasi riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia bertaraf internasional. Ia menjelaskan bahwa kedua kampus akan memperluas kerja sama ke bidang sains komputer, kecerdasan buatan, sains data, dan teknik.

    “Universitas Syiah Kuala dan Guangdong Ocean University memiliki kekuatan yang saling melengkapi, khususnya di bidang ilmu kelautan, perikanan, keberlanjutan lingkungan, dan ekonomi biru,” ujar Dr. Ramzi.

    Menurutnya, integrasi teknologi AI akan berkontribusi pada pengelolaan sumber daya kelautan, perikanan cerdas, hingga mitigasi bencana. USK juga mendorong penelitian bersama, pendidikan pascasarjana, serta program gelar ganda dan sandwich.

    Prof. Deng Fengguang menyambut positif rencana tersebut. Kerja sama disebut memasuki fase baru yang mencakup ilmu pangan, sains hewan, teknik, hingga kecerdasan buatan. GDOU dijadwalkan berkunjung balik ke USK pada November 2026.

    Pertemuan menyepakati sejumlah poin konkret, di antaranya proyek perikanan laut Marine Ranching, pembentukan Workshop LUBAN dan Pusat Bahasa Mandarin di kedua kampus, riset AI untuk pertanian padi laut, serta pertukaran 20 mahasiswa dari masing-masing kampus setiap tahun.

    Prof. Muhammad Irham menegaskan kolaborasi riset AI kelautan ini menjadi tonggak penting posisi USK di kancah internasional, sekaligus mendorong inovasi bagi tantangan kelautan, pangan, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan global.

  • USK Perkuat Jejaring Internasional melalui Forum Pendidikan Tinggi Indonesia–Prancis

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) kembali mempertegas komitmennya dalam memperluas jejaring internasional melalui partisipasi pada 14th Franco–Indonesian Joint Working Group (JWG) on Higher Education, Research, Innovation and Entrepreneurship yang berlangsung di Angers, Prancis, pada 1–3 Juli 2026.

    Dalam forum bergengsi yang mempertemukan pemimpin perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, dan sektor industri dari Indonesia serta Prancis tersebut, USK diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Heru Fahlevi. Tidak hanya mengikuti berbagai agenda strategis, Prof. Heru juga mendapat kehormatan menjadi discussion pada workshop bertajuk Strengthening Research Collaboration, bersama narasumber dari Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) Perancis dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

    Joint Working Group (JWG) merupakan forum bilateral yang telah berlangsung lebih dari satu dekade sebagai wadah utama untuk memperkuat kerja sama pendidikan tinggi, penelitian, inovasi, dan kewirausahaan antara Indonesia dan Prancis. Pada penyelenggaraan ke-14 ini, sekitar 350 peserta hadir mewakili kementerian, lembaga riset, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan dunia industri dari kedua negara.

    Rangkaian kegiatan dipusatkan di Université d’Angers dan ESSCA School of Management, meliputi sesi pleno, workshop tematik, pertemuan tingkat tinggi, hingga kegiatan networking yang dirancang untuk memperluas peluang kolaborasi antar lembaga.

    Delegasi Indonesia terdiri atas perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, BRIN, LPDP, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Prancis, serta lebih dari 20 perguruan tinggi Indonesia. Sementara itu, delegasi Prancis melibatkan berbagai kementerian, universitas, lembaga penelitian terkemuka, serta mitra industri yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan tinggi dan riset.

    Wakil Rektor Bidang Akademik USK, Prof. Heru Fahlevi, mengatakan kehadiran USK dalam forum ini merupakan bagian dari strategi universitas untuk memperkuat internasionalisasi sekaligus memperluas kemitraan akademik dan riset di tingkat global.

    “Joint Working Group merupakan forum yang sangat strategis untuk membangun kolaborasi yang lebih konkret antara institusi pendidikan tinggi Indonesia dan Perancis. Melalui forum ini, terbuka peluang yang semakin luas untuk mengembangkan riset bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, penyelenggaraan program akademik bersama, hingga kolaborasi dengan dunia industri. USK harus memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat internasionalisasi dan meningkatkan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat global,” ujar Prof. Heru.

    Pada sesi Strengthening Research Collaboration, diskusi berfokus pada berbagai strategi membangun kemitraan riset yang berkelanjutan, mulai dari peningkatan kualitas publikasi ilmiah internasional, pengembangan laboratorium riset bersama, hingga pemanfaatan berbagai skema pendanaan internasional guna mendorong kolaborasi yang lebih luas antara peneliti Indonesia dan Prancis.

    Keikutsertaan USK dalam JWG 2026 menjadi semakin relevan seiring meningkatnya hubungan bilateral Indonesia dan Prancis menjadi Strategic Partnership. Status tersebut membuka peluang yang lebih besar bagi kedua negara untuk memperluas kerja sama di bidang pendidikan tinggi, sains, teknologi, inovasi, serta pengembangan sumber daya manusia.

    Keikutsertaan pada JWG 2026 sekaligus menegaskan komitmen USK untuk terus meningkatkan reputasi internasional dan memperluas jejaring global sebagai bagian dari upaya mewujudkan universitas bereputasi dunia yang berkontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan.

  • Ada Bau Hidrokarbon, Polisi Temukan Jejak Dugaan Pembakaran Fasilitas Kampus USK

    Ada Bau Hidrokarbon, Polisi Temukan Jejak Dugaan Pembakaran Fasilitas Kampus USK

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polri Cabang Medan dan Unit Inafis Satreskrim Polresta Banda Aceh menemukan sejumlah barang bukti penting dalam dugaan pembakaran dan perusakan fasilitas di Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala (USK) beberapa waktu lalu.

    Barang bukti tersebut ditemukan saat petugas memeriksa dan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) selama dua hari.

    “Barang bukti yang ditemukan berupa botol terbakar beraroma khas hidrokarbon, batu, potongan kayu, dan gir sepeda motor,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Banda Aceh, Kompol Mifthahuda Dhiza Fezuono, Jumat (5/6/2026).

    Selain menemukan barang bukti, tim juga menemukan di berbagai fasilitas gedung, seperti jendela, kusen dan pintu. Kerusakan tersebut diduga akibat adanya aksi pendobrakan, pencongkelan, pelemparan dan pembakaran.

    Adapun barang bukti yang ditemukan telah dibawa ke Labfor Polri untuk didalami dan dianalisis lebih lanjut.

    Selama dua hari olah TKP, tim didampingi oleh pihak Fakultas Pertanian USK. Menurutnya, olah TKP dan pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mendalami dan mengidentifikasi bentuk perusakan yang terjadi di gedung Fakultas Pertanian USK.

    Sebelumnya, pada Kamis, (21/5/2026) dini hari. Dilaporkan adanya dugaan penyerangan mahasiswa Fakultas Teknik ke gedung Fakultas Pertanian. Situasi ini dipicu adanya perbedaan pendapat antara mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian yang menimbulkan korban luka-luka hingga harus dirawat dan menjalani perawatan medis.

    Kemudian mahasiswa Fakultas Teknik mengumpulkan massa dan menyerang ke gedung Fakultas Pertanian pada pukul 04.00 WIB. Sejumlah mahasiswa melempar bom molotov dan batu sehingga menimbulkan kerusakan yang cukup parah terhadap fasilitas kampus.

    Sementara itu, Polresta Banda Aceh telah menetapkan dua orang tersangka dalam kasus ini berinisial WS (22) dan MAM (20) setelah sebelumnya memanggil dan memeriksa 18 saksi dan mengumpulkan berbagai bukti dari lokasi kejadian. Polisi juga memanggil 18 saksi tambahan untuk kepentingan proses hukum.

  • 2 Mahasiswa USK Ditetapkan Tersangka Pembakaran Laboratorium Fakultas Pertanian

    2 Mahasiswa USK Ditetapkan Tersangka Pembakaran Laboratorium Fakultas Pertanian

    BANDA ACEH — Dua mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) resmi ditetapkan sebagai tersangka pembakaran laboratorium dan pengrusakan ruang kuliah Fakultas Pertanian yang terjadi pada 21 Mei 2026 dini hari. Penetapan tersangka dilakukan Satreskrim Polresta Banda Aceh setelah memeriksa 18 saksi dan menggelar perkara secara maraton sejak Kamis (21/05/2026).

    Kedua tersangka adalah WS (22) dan MAM (20) — keduanya sebelumnya juga diperiksa dalam kapasitas saksi. Kasatreskrim Polresta Banda Aceh, Kompol Miftahuda Dizha Fezuono, mengumumkan penetapan tersebut pada Sabtu (30/05/2026).

    Mengutip tribratanewspolrestabandaaceh,WS diduga berperan sebagai koordinator lapangan (korlap) dalam aksi penyerangan, sedangkan MAM bertindak sebagai eksekutor yang terlibat langsung di lapangan. Keduanya dijerat Pasal 262 juncto Pasal 308 juncto Pasal 521 juncto Pasal 522 KUHP.

    Penyidik turut menyita sejumlah barang bukti, antara lain tiga unit sepeda motor rusak berat, pagar besi stainless steel yang terbakar, dua pecahan botol diduga bom molotov, satu bom molotov utuh, pakaian pelaku saat kejadian, serta satu unit DVR CCTV milik fakultas.

    Kronologi konflik bermula pada 18 Mei 2026, saat unjuk rasa mahasiswa di Kantor Gubernur Aceh. Mahasiswa Fakultas Teknik menolak bergabung dengan Fakultas Pertanian dalam aksi tersebut. Saat rombongan Pertanian melintas di depan Fakultas Teknik sambil menggeber kendaraan, gesekan mulai memanas.

    Pada hari yang sama, sekitar pukul 17.41 WIB, sejumlah mahasiswa Pertanian diduga memaksa masuk ke Sekretariat BEM USK yang sedang menggelar rapat, hingga seorang mahasiswa Teknik mengalami luka robek di kaki dan dirawat di RSUD Zainoel Abidin.

    Meski sempat dimediasi pihak kampus, ketegangan tak mereda. Pada 21 Mei 2026 dini hari, puluhan mahasiswa Pertanian menyerang Fakultas Teknik, melukai dua mahasiswa dan memecahkan sejumlah kaca gedung. Aksi ini memicu serangan balasan: ratusan mahasiswa Teknik menyerbu Fakultas Pertanian sekitar pukul 04.00 WIB dengan lemparan batu dan bom molotov, mengakibatkan kerusakan serius pada gedung dan laboratorium.

    Kompol Miftahuda menegaskan, konflik ini murni terjadi antarmahasiswa internal USK — antara Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik — tanpa keterlibatan mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Penyidikan masih berlanjut dengan rencana pemeriksaan 18 saksi tambahan, sehingga total saksi yang diperiksa akan mencapai 36 orang termasuk dua tersangka.

    Kronoligis di Balik  Penetapan Tersangka Pembakaran Laboratorium

    Tersangka Pembakaran Laboratorium
    Polisi memeriksa mahasiswa dalam kasus pembakaran laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Foto Dok Polresta Banda Aceh

    Sebagaimana diberitakan sebelumnya oleh media ini, Penyidik Satreskrim Polresta Banda Aceh telah memintai keterangan 15 saksi terkait kejadian terbakarnya Gedung Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) pada Kamis (21/5/2026) dini hari. Dari 15 saksi tersebut, 13 di antaranya merupakan mahasiswa, satu dosen, dan satu saksi pelapor.

    Kasat Reskrim Kompol Miftahuda Dizha Fezuono menjelaskan bahwa pemeriksaan ini berdasarkan laporan polisi oleh pihak Fakultas Pertanian Nomor LP/B/418/V/2026/SPKT/Polresta Banda Aceh/Polda Aceh, tanggal 21 Mei 2026. Dalam proses pemeriksaan, 13 mahasiswa didampingi oleh Wakil Dekan Fakultas Teknik, Bambang Setiawan.

    Kejadian bermula dari keributan antara dua kelompok mahasiswa dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik. Keributan yang berlangsung selama dua hari tersebut berujung pada pengrusakan fasilitas kampus. Dua mahasiswa Fakultas Teknik dilaporkan mengalami luka-luka, sehingga sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik melakukan aksi pembalasan dengan melempar batu dan bom molotov ke Fakultas Pertanian.

    Akibat kejadian ini, Gedung Fakultas Pertanian, laboratorium, Pos Satpam, tiga unit sepeda motor, dan satu unit mobil terbakar. Api berhasil dipadamkan oleh petugas DPKP Kota Banda Aceh dan BPBD Aceh Besar. Kerugian ditaksir mencapai Rp20 miliar.

    Penyidik telah mengumpulkan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian, antara lain batu, kayu, kendaraan yang terbakar, serta pecahan kaca yang diduga berasal dari bom molotov. Unit Inafis Satreskrim Polresta Banda Aceh juga telah melakukan olah TKP guna mengungkap sumber awal kebakaran. Selain itu, uji Laboratorium Forensik terhadap sejumlah barang bukti akan segera dilakukan.

    Polresta Banda Aceh mengimbau masyarakat yang mengetahui identitas pelaku untuk segera melapor, dengan jaminan kerahasiaan pelapor tetap terjaga.