Banda Aceh – Rangkaian Pembinaan Akademik dan Karakter Mahasiswa Baru (PAKARMARU) Universitas Syiah Kuala (USK) Tahun 2026 resmi berakhir. Menutup kegiatan tersebut, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) USK, Safrizal ZA, menitipkan lima pesan Safrizal ZA untuk mahasiswa baru USK sebagai bekal menjalani kehidupan akademik hingga memasuki dunia profesional.
Pesan tersebut disampaikan Safrizal saat penutupan PAKARMARU 2026 di Stadion Mini USK, Banda Aceh, Kamis (13/8/2026), di hadapan lebih dari 8.000 mahasiswa baru.
Safrizal mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan bangku kuliah sekadar jalan untuk meraih gelar. Menurutnya, pendidikan harus membentuk pribadi yang dapat dipercaya, memiliki kemampuan, mampu berpikir kritis di tengah perkembangan teknologi, berani berkarya di Aceh, serta tetap memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.
“Jangan kehilangan hati. Karena pendidikan yang tinggi seharusnya membuat kita lebih manusiawi, lebih peduli, dan lebih bermanfaat,” kata Safrizal.
Dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Nilai
Safrizal mengajak mahasiswa mengubah cara pandang dari sekadar pencari kerja atau job seeker menjadi pencipta nilai atau value creator. Menurutnya, kondisi fiskal Aceh yang semakin terbatas membutuhkan generasi muda yang mampu menciptakan peluang dan solusi, bukan hanya menunggu lapangan pekerjaan.
“Kalau belajar ekonomi, ciptakan usaha. Kalau belajar teknologi, ciptakan solusi. Kalau belajar pertanian, tingkatkan nilai tambah,” ujarnya.
Ajakan tersebut bukan tanpa alasan. Safrizal memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan. Angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi Aceh telah mencapai 42,81 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di angka 32,89 persen.
Namun, tingginya akses pendidikan tinggi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan kerja bagi lulusan.
Ia mengungkapkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan perguruan tinggi di Aceh meningkat dari 10,07 persen menjadi 14,80 persen pada November 2025. Lulusan perguruan tinggi bahkan menjadi salah satu kelompok dengan kontribusi pengangguran terbesar di Aceh, mencapai 8,68 persen.
Kondisi tersebut, kata Safrizal, menjadi tantangan sekaligus peringatan bagi mahasiswa baru agar sejak awal kuliah tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun kompetensi, pengalaman, jejaring, dan kemampuan menciptakan nilai.

AI Bukan Pengganti Kemampuan Berpikir
Di tengah perubahan dunia kerja akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), mahasiswa juga diminta tidak kehilangan kemampuan berpikir dan keterampilan sosial.
Safrizal mengutip World Economic Forum melalui Future of Jobs Report 2025 yang memproyeksikan sekitar 170 juta lapangan kerja baru akan tercipta secara global hingga 2030, sementara 92 juta jenis pekerjaan lainnya diperkirakan bergeser akibat perubahan teknologi.
Karena itu, ia menilai kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan keterampilan interpersonal tetap menjadi modal penting yang tidak boleh diabaikan mahasiswa.
“AI hanya menjadi co-pilot, bukan pengganti kemampuan berpikir. Teknologi boleh semakin pintar, manusia harus semakin bijaksana,” tegasnya.
Safrizal juga mengajak mahasiswa melihat Aceh bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai ruang untuk berkarya dan membangun masa depan. Berbagai persoalan di Aceh justru dapat menjadi peluang bagi generasi muda untuk melahirkan inovasi dan solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di sisi lain, ia mengingatkan mahasiswa agar keberhasilan akademik tidak membuat mereka kehilangan kepedulian sosial. Ilmu pengetahuan akan memiliki nilai lebih ketika digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.
Lima pesan Safrizal ZA untuk mahasiswa baru USK ini diharapkan menjadi kompas awal bagi ribuan mahasiswa baru dalam menapaki perjalanan akademik yang bermakna.**
