… Banda Aceh
Parlementaria

Syarifah Munirah Pantau Tsunami Drill di Banda Aceh, Dorong OPD Bangun Budaya Siaga Bencana

Oleh
Bagikan

ACEHTODAY.ID | BANDA ACEH – Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus dilatih. Pesan itu mengemuka saat anggota DPRK Banda Aceh, Syarifah Munirah, memantau pelaksanaan Tsunami Drill atau simulasi evakuasi bencana tsunami di sejumlah sekolah, Kamis (5/11/2026), bertepatan dengan Hari Tsunami Internasional.

Syarifah Munirah turun langsung ke sejumlah satuan pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, untuk menyaksikan kesiapan siswa, guru, dan tenaga kependidikan dalam mengikuti prosedur evakuasi bencana.

Sejumlah sekolah yang dikunjungi antara lain SMP Negeri 1 Banda Aceh, Yayasan Al-Wildan, SMP Muhammadiyah, SD Adi Dharma, dan SD Kartika. Sementara SMP Negeri 17 Banda Aceh menjadi salah satu titik pelaksanaan simulasi yang dipusatkan di kawasan Museum Tsunami Aceh. Sekolah lainnya menggelar latihan secara mandiri di lingkungan masing-masing.

Salah satu praktik kesiapsiagaan terlihat di Yayasan Al-Wildan. Para siswa melakukan evakuasi menuju rooftop atau bagian atap gedung sekolah sebagai langkah penyelamatan diri sesuai skenario simulasi.

Dalam kunjungan tersebut, Syarifah Munirah didampingi Kabid Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh, Sarifah Nargis. Keduanya menyaksikan langsung proses simulasi sekaligus memberikan apresiasi terhadap inisiatif sekolah dan Dinas Pendidikan dalam membangun kesadaran menghadapi ancaman bencana.

Menurut Syarifah, pelaksanaan tsunami drill secara mandiri oleh sekolah-sekolah, tanpa dukungan anggaran khusus dalam APBK Banda Aceh, menunjukkan adanya komitmen bersama terhadap keselamatan warga sekolah.

“Ini merupakan langkah yang sangat positif. Saya memberikan apresiasi kepada Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh dan seluruh sekolah yang telah berinisiatif melaksanakan tsunami drill secara mandiri. Walaupun tidak didukung anggaran khusus dalam APBK, kegiatan ini tetap dapat terlaksana berkat kesadaran dan komitmen bersama,” ujar Syarifah Munirah.

Ia menilai, praktik tersebut patut menjadi contoh bagi organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya di lingkungan Pemerintah Kota Banda Aceh. Kesiapsiagaan menghadapi bencana, kata dia, tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau Dinas Pendidikan, melainkan harus dibangun di seluruh lingkungan pemerintahan.

“OPD atau dinas-dinas lain juga perlu melakukan simulasi kesiapsiagaan bencana di lingkungan kerja masing-masing. Walaupun tidak memiliki peserta didik seperti sekolah, setiap kantor pemerintahan tetap perlu memiliki pengetahuan dan prosedur yang jelas tentang bagaimana menyelamatkan diri apabila terjadi gempa bumi, tsunami, kebakaran, maupun bencana lainnya,” tegasnya.

Syarifah juga berharap kegiatan serupa dapat menjadi inspirasi bagi kabupaten dan kota lain di Aceh. Pengalaman panjang Aceh menghadapi bencana harus menjadi landasan untuk memperkuat budaya sadar bencana, terutama melalui edukasi dan latihan secara berkala.

Menurutnya, anak-anak sekolah perlu memahami jalur evakuasi, mengenali arahan guru, serta mengetahui langkah penyelamatan diri ketika terjadi gempa yang berpotensi tsunami. Pengetahuan tersebut menjadi bekal penting untuk mengurangi risiko korban jiwa saat bencana terjadi.

Ia menegaskan, tsunami drill tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial setiap 5 November, tetapi harus menjadi agenda rutin di sekolah maupun instansi pemerintahan.

“Kita tidak pernah tahu kapan bencana akan datang, tetapi kita bisa mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kesiapsiagaan hari ini adalah salah satu usaha kita untuk membangun budaya sadar bencana,” kata Syarifah Munirah.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat semakin meningkat. Sebab, kesiapsiagaan bukan sekadar pengetahuan, melainkan kebiasaan yang dapat menyelamatkan nyawa.(Adv)

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.