ACEHTODAY.ID – Iran siaga hadapi serangan AS-Israel. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan pasukannya tidak akan lengah dan siap membalas jika musuh kembali menyerang. Sikap itu muncul saat perundingan damai Washington dan Teheran terhenti, Minggu (1/11/2026).
Wakil Urusan Politik IRGC, Brigjen Yadollah Javani, mengatakan militer Iran bekerja dengan asumsi AS atau Israel bisa menyerang kapan saja. Menurutnya, kekuatan Iran tak sebatas bertahan, tetapi mencakup operasi preventif hingga ofensif.
“Sepenuhnya siap menghadapi skenario apa pun yang mungkin dirancang oleh musuh,” kata Javani kepada kantor berita Fars, seperti dikutip Al Jazeera.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei lebih dulu memerintahkan para komandan bersiaga penuh. Ia juga meminta daftar target diperbarui dengan memasukkan aset AS dan Israel, menurut AFP.
Ketua Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyebut perintah itu final dan mengikat. “Tidak akan ada batasan apa pun, baik secara geografis maupun terkait target,” tulisnya di X.
Juru bicara militer Iran, Brigjen Mohammad Akraminia, menambahkan bahwa perang baru akan meluas jauh lebih besar. Anadolu Agency melaporkan, ia menegaskan akhir konflik tak lagi di tangan Trump.
Trump Belum Putuskan, Israel Bersiap dan Iran Siaga

Menlu AS Marco Rubio mengatakan Trump belum memutuskan serangan baru. “Kita dapat mencapai tujuan militer jika kita menghendakinya,” ujarnya di Atlanta.
Menlu Turki Hakan Fidan mendesak penutupan Selat Hormuz segera diakhiri. Ketegangan terkait jalur itu berlanjut meski Washington dan Teheran meneken nota kesepahaman pada Juni.
Di Israel, Channel 13 mengutip seorang perwira senior yang menyebut persiapan rampung. Keputusan akhir, katanya, ada di tangan Trump. Channel 12 melaporkan Netanyahu menekan Trump agar menyerang setelah pemilu paruh waktu AS. Sementara itu, pemimpin Partai Yashar, Gadi Eisenkot, menyatakan tujuan perang belum tercapai.
Kerugian AS Membengkak

Perang yang dimulai 28 Februari ini membebani keuangan AS. The Wall Street Journal melaporkan, citra satelit menunjukkan 274 bangunan di 24 instalasi militer rusak dalam enam bulan pertama.
Serangan Iran pada 17 Juli di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, menewaskan tiga personel AS.
CSIS memperkirakan biaya membangun ulang bangunan rusak melampaui 4 miliar dolar AS. Pentagon menaksir minimal 5 miliar dolar, sedangkan pejabat AS menyebut potensi 15 miliar dolar.
Total biaya perang hingga 16 Oktober mencapai 47,1 miliar dolar. Lebih dari 20 personel AS tewas dan 400 lainnya terluka.
Senator Bernie Sanders mengkritik kenaikan harga bensin 39 persen, sementara laba Exxon melonjak 130 persen dan Chevron 185 persen.
