… Banda Aceh
Uncategorized

Vitamin D dan 5 Kebiasaan Ini Disebut Bisa Jauhkan Anda dari Pikun

Oleh
Bagikan

ACEHTODAY.ID – Vitamin D yang dianggap cukup belum tentu yang terbaik bagi tubuh. Pandangan ini disampaikan dokter spesialis ortopedi dr. Henry Suhendra, Sp.OT(K), dalam perbincangannya dengan Rhenald Kasali. Menurutnya, usia panjang dan otak yang tetap tajam dibangun dari kebiasaan harian, bukan hanya dari obat.

Diskusi itu membahas cara menjaga kesehatan, memperpanjang usia harapan hidup, dan mencegah penurunan fungsi kognitif atau pikun. Dr. Henry mengajak publik menengok kembali hal mendasar: otot, nutrisi, tidur, dan stres.

Kadar Vitamin D Cukup Belum Tentu Optimal

Dalam podcast di kanal YouTube Rhenald Kasali, dr. Henry menyebut kadar vitamin D 30–40 ng/mL yang sering dianggap cukup belum tentu ideal untuk kesehatan jangka panjang. Ia bahkan menyebut kadar di atas 100 ng/mL sebagai target untuk membantu melawan penyakit kronis, seperti kanker dan penyakit autoimun.

Mencapai angka itu, kata dia, tidak cukup dengan berjemur. Warna kulit ikut berperan. Melanin melindungi kulit dari sinar ultraviolet, tetapi juga menekan produksi vitamin D. Variasi genetik turut memengaruhi respons tubuh.

Karena itu, ia menyarankan tes darah sebelum memutuskan suplementasi. Dosis tidak boleh ditebak. Harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing lewat konsultasi dokter.

Ia juga membahas vitamin D3 yang dipadukan dengan vitamin K2 dan magnesium. Vitamin K2 berperan dalam metabolisme kalsium, sedangkan magnesium dibutuhkan dalam metabolisme vitamin D. Meski begitu, penggunaan suplemen tetap harus mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi setiap orang.

Keluhan yang Dikaitkan dengan Kekurangan Vitamin D

Menurut penjelasan dr. Henry dalam podcast Rhenald Kasali, kekurangan vitamin D dapat berkaitan dengan sejumlah keluhan. Ia menyinggung bisulan atau jerawat sebagai kemungkinan petunjuk. Kadar yang rendah juga dapat memengaruhi pemulihan otot, sehingga badan terasa nyeri lebih lama setelah latihan.

Namun, jerawat, bisulan, dan nyeri otot tidak khas menandakan kekurangan vitamin D. Penyebabnya beragam. Pemeriksaan lebih lanjut tetap diperlukan.

Otot, Protein, dan Pola Hidup Jadi Fondasi

Selain vitamin D, dr. Henry menekankan pentingnya massa otot. Otot menopang metabolisme dan membantu mencegah cedera. Latihan beban tidak harus di pusat kebugaran dengan alat canggih. Yang penting rutin dan terukur.

Asupan protein yang cukup juga ia tekankan untuk menjaga dan membangun otot. Pola makan itu perlu berjalan bersama latihan beban teratur.

Ia turut mengingatkan risiko obat pelangsing, termasuk golongan GLP-1, bila dipakai tanpa memperhatikan otot. Berat badan yang turun tanpa upaya menjaga otot berisiko membuat massa otot ikut berkurang. Hal ini perlu diperhatikan dalam pengelolaan berat badan jangka panjang.

Dr. Henry juga mengkritik pengobatan yang terlalu berfokus pada obat tanpa membenahi akar masalah, yakni pola makan, aktivitas fisik, dan pengelolaan stres. Menurutnya, perubahan gaya hidup dapat membantu mengendalikan banyak masalah kesehatan.

Diskusi itu berujung pada satu pesan: kesehatan dibangun dari kebiasaan sehari-hari. Mulai dari latihan beban, pola makan seimbang, kecukupan vitamin D, tidur yang cukup, hingga pengelolaan stres.

Pemeriksaan kesehatan dan konsultasi dengan tenaga medis tetap diperlukan agar upaya menjaga kebugaran dan memperpanjang usia dilakukan secara tepat.

Sumber: Podcast kanal YouTube Rhenald Kasali

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.