ACEHTODAY.ID – Hj. Suharti, pendiri jaringan rumah makan legendaris Ayam Goreng Suharti, meninggal dunia pada Jumat (30/10/2026) malam pukul 23.21 WIB. Kepergiannya meninggalkan duka bagi dunia kuliner Tanah Air.
Jenazah disemayamkan di rumah duka RM Ayam Goreng Suharti, Jalan Laksda Adisucipto Nomor 208, Yogyakarta. Pemakaman direncanakan Sabtu (31/10) pukul 14.00 WIB di Makam Keluarga Candisari, Bendan, Tirtomartani, Kalasan.
Kabar itu disampaikan keluarga lewat akun Instagram resmi @ayamgorengsuhartiofficial. “Dengan penuh duka, kami sekeluarga mengabarkan bahwa telah berpulang ke rahmatullah Ibunda dan Eyang tercinta, Hj. Suharti,” tulis akun tersebut, dikutip Sabtu (31/10/2026).
Keluarga juga memohon doa. “Kami memohon dibukakan pintu maaf atas segala kesalahan almarhumah semasa hidup,” tulis mereka. Ucapan belasungkawa dari masyarakat pun mengalir. Sebagian diunggah ulang ke Instagram Story, mengenang Suharti sebagai sosok yang ikut menjaga tradisi ayam goreng khas Indonesia.

Jejak Ayam Goreng Suharti dari Sepeda Tua
Semuanya bermula pada 1956. Suharti kala itu baru sekitar 26 tahun. Dibantu sang ayah, ia membawa bakul besar berisi ayam goreng dengan sepeda tua. Ia menjajakannya berkeliling dari Yogyakarta hingga Surakarta.
Menurut tayangan kanal YouTube Fuel of Legends, keahlian itu tumbuh dari warisan keluarga. Suharti adalah cucu Mbok Berek, pelopor ayam goreng gaya Kalasan yang bernama asli Nyi Kiem. Julukan itu konon berasal dari anak sulungnya yang sering merengek (“berek-berek”) saat ikut berdagang.
Dari keluarga itu pula lahir Kardi, ayah Suharti, yang membantunya di awal perjalanan. Bagi mereka, ayam goreng adalah kerja harian, mulai dari meracik bumbu hingga menjaga rasa agar pelanggan kembali.
Awalnya Suharti memakai nama Mbok Berek. Namun dari hari ke hari, pelanggan justru mengenal dirinya sendiri.
Dari Pasar Gandean ke Rumah Makan
Pada 1961, Suharti menikah dengan Bambang Saklan Pratoharjo, pegawai kepatihan Yogyakarta. Skuter Saklan dipakai mengangkut dagangan.
Mereka berjualan di Pasar Gandean. Dari sekitar 100 ekor ayam, mereka disebut bisa menyisihkan kurang lebih Rp1.000 per hari. Angkanya kecil, tetapi kebiasaan bekerja dan menabung itulah modalnya.
View this post on Instagram
Sekitar 1968, pasangan ini membeli tanah seluas kurang lebih 900 meter persegi di Maguwoharjo, Yogyakarta. Rumah makan pertama beroperasi pada awal 1970-an dengan delapan meja dan kapasitas sekitar 40 orang.
Pola kerja berubah total. Dulu mereka mendatangi pembeli. Kini mereka harus membuat pelanggan nyaman datang dan kembali, sambil mengatur persediaan, kebersihan, pelayanan, dan biaya.
Suharti lalu memilih memakai namanya sendiri dan menamai usahanya Rumah Makan Ayam Suharti. Alasannya sederhana pelanggan sudah mengenal dirinya.
Usaha itu kemudian dikenal di Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, dan Denpasar. Perluasan membawa tantangan baru, yakni menjaga rasa tetap konsisten dan standar kerja tetap seragam.
Perpisahan yang Melahirkan Dua Logo

Pernikahan Suharti dan Saklan berakhir pada 1991. Beredar cerita tentang dugaan perempuan lain dalam kehidupan Saklan di Jakarta.
Namun persoalannya lebih panjang dari urusan pribadi. Restoran tetap buka, karyawan tetap bekerja, dan seseorang harus memutuskan siapa meneruskan usaha serta siapa berhak memakai nama yang sudah dikenal.
Saklan melanjutkan usaha lama dengan nama Ayam Goreng Nyonya Suharti dan mempertahankan lambang dua ayam.
Dalam cerita yang beredar, potret dan lukisan Suharti diturunkan dari sejumlah rumah makan. Suharti memulai lagi pada 1991 dengan nama Ayam Goreng Suharti, memakai potret dirinya sebagai logo.
Pada 1992, nama rumah makan ayam goreng Suharti memperoleh perlindungan merek. Namun kisahnya tidak sesederhana gugatan yang dimenangkan.
Saklan meneruskan usaha lama, sementara Suharti membangun identitas baru. Bagi pelanggan lama, selisih satu kata, “Nyonya”, menjadi tanda dua kelanjutan dari satu sejarah.
Dalam dunia usaha, nama berkaitan dengan dokumen, kepemilikan, dan perlindungan hukum, bukan sekadar siapa yang paling berjasa.
Warisan Suharti melampaui resep. Ada perjalanan dari berjualan keliling ke rumah makan, keputusan memakai nama sendiri, kerja sama suami istri, hingga perpisahan yang mengubah identitas bisnis.
Bagi pelaku usaha, pesannya jelas pikirkan merek sejak awal. Kepemilikan, pendaftaran merek, pembagian peran, dan kesepakatan jika hubungan berubah adalah bagian dari bisnis yang bertahan lama.
