ACEHTODAY.ID – Lapangan kerja Banda Aceh belum mampu menampung lulusan dari banyaknya perguruan tinggi di kota ini. Pada umumnya pendapatan pemuda di bawah masih di bawah Rp 3 juta. Sebagian anak muda akhirnya mencari pekerjaan ke luar daerah.
Persoalan itu mengemuka dalam kegiatan Ruang Tengah: Meet the Mayor bersama Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal di Politeknik Aceh, Rabu (28/10/2026).
Ketua DPD II KNPI Banda Aceh, Farizan, yang membuka persoalan tersebut. Menurut dia, masalah anak muda bukan hanya soal mendapat pekerjaan. Penghasilan juga harus cukup. Jika sebagian besar uang habis untuk kebutuhan pokok, menabung atau menyiapkan kehidupan berkeluarga jadi sulit.
Farizan merujuk data BPS untuk menggambarkan jurangnya. Upah minimum Aceh berada di kisaran Rp3,9 juta, namun rata-rata pendapatan anak muda Aceh hanya sekitar Rp2,9 juta.
Kota Kampus yang Ijazahnya Sulit Laku
Kesenjangan lain terlihat antara pendidikan dan peluang kerja. Banda Aceh punya banyak kampus. Namun, ijazah hasil kuliah bertahun-tahun belum tentu memudahkan lulusan mendapat pekerjaan.
“Banda Aceh ini kota kampus, kampus di mana-mana, tapi ijazahnya tidak laku di mana-mana,” sindir Farizan.
Ia mengapresiasi pembentukan Banda Aceh Academy dan berbagai pelatihan bagi pemuda. Tetapi, menurutnya, keterampilan harus diikuti kesempatan kerja. Tanpa ruang untuk menerapkannya, bekal itu tidak menghasilkan penghasilan.
Keterbatasan itu ikut memengaruhi keputusan merantau. Farizan menilai pergi ke luar daerah demi pengalaman atau karier adalah hal wajar. Yang ia soroti adalah anak muda yang merasa tak punya pilihan lain.
Farizan juga melihat industri kreatif sebagai penggerak ekonomi. Konser dan acara besar bisa menghidupkan hotel, transportasi, hingga UMKM. Ia berharap pelaku kreatif bisa menggelar acara mandiri tanpa menunggu kegiatan pemerintah. Syaratnya, ada kepastian aturan dan perizinan, termasuk yang berkaitan dengan syariat Islam dan kekhususan Aceh.
Lapangan Kerja Banda Aceh Minim, Ini Respon Wali Kota
Illiza menjawab dengan menekankan keterhubungan pelatihan dan dunia kerja. Menurutnya, pelatihan harus berlanjut ke sertifikasi, magang, inkubasi, hingga penempatan kerja sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Direktur BAA, kata dia, sudah bertemu pengusaha lokal dan nasional yang bersedia menerima peserta magang. Peserta berkinerja baik berpeluang diangkat bekerja.
“Harus link and match dengan DUDI,” kata Illiza.
Dari pemaparan Pemko Banda Aceh, program Jaringan Kreatif Pemuda (JUARA) telah melatih 160 wirausaha muda. Sekitar 400 peserta lain, mayoritas pelaku UMKM muda, mengikuti pelatihan kecerdasan buatan (AI).
Lebih dari 200 UMKM muda juga difasilitasi berjualan di Car Free Day (CFD). Omzet mencapai Rp2 juta hingga Rp4 juta selama tiga jam. Perputaran uang di kawasan CFD disebut sampai Rp300 juta. Pemko berencana menggabungkan CFD dengan Pasar Tani agar petani ikut berjualan.
Pemko juga menyiapkan ruang komunitas di gedung BAA untuk musik, teater, dan latihan berbicara di depan publik. Ruang itu bagian dari program “Banda Aceh sebagai Kota Panggung Indonesia”.
Illiza meminta organisasi kepemudaan berkomunikasi dengan OPD terkait agar gagasan bisa ditindaklanjuti. Ia pun membuka ruang kritik dari anak muda. “Saya butuh kritikan keras dari anak-anak muda,” ujarnya.
Ia mengingatkan pemuda agar tidak takut gagal. “Orang yang enggak berani mencoba, merekalah orang gagal yang sebenarnya,” kata Illiza.
