ACEHTODAY.ID – Di balik tumpukan kerajinan eceng gondok, tas, dan jaket bermotif Aceh yang dijual di Meuseraya Festival Aceh, Jumat (23/10/2026), ada tangan-tangan perempuan yang menjaga usaha tetap hidup, dari perajin di Aceh Barat hingga anak muda di Banda Aceh.
Meuseraya Festival Aceh, Jumat (23/10/2026), menjadi etalase bagi pelaku UMKM yang mengolah budaya dan bahan lokal menjadi produk bernilai jual. Harganya beragam, dari Rp25.000 untuk tempat pensil hingga Rp10 juta untuk sofa.
Denyut transaksi di festival ini ditopang pengunjung. Voucher belanja dan pembayaran QRIS memudahkan mereka membeli makanan, minuman, pakaian, hingga aksesori dari stan UMKM.
Damaisatul, salah seorang pengunjung, datang untuk berbelanja sekaligus mengikuti seminar. Ia tertarik karena banyak stan makanan dan ada voucher. “Bagus ya. Banyak stan-stan makanan, terus dapat voucher juga,” ujarnya. Ia membeli minuman, tas, dan makanan ringan, lalu berharap festival digelar tiap tahun.
Bagi Zura, QRIS jadi alasan belanja terasa lebih ringan. “Kalau menurut saya tuh saya tuh kayak malas ya pegang uang cash. Jadi kalau QRIS tuh lebih mempermudah,” katanya. Makanan dan pakaian paling menarik perhatiannya.

Salsa, yang sudah dua kali datang, merasakan hal serupa karena tidak perlu menarik tunai di ATM. Ia juga menilai produk UMKM membantu anak muda mengenal kekhasan daerah. “Menarik. Karena ini kan menonjolkan karya-karya setiap daerah. Dan juga bikin anak muda lebih paham,” ujarnya.
Perempuan di Balik Kerajinan Meuseraya Festival Aceh
Dari Aceh Barat, Eg.craft (Kreatif Kubu) mengolah eceng gondok menjadi aneka kerajinan. Usaha yang berjalan sejak 2016 ini awalnya kelompok perempuan produktif, sempat berhenti, lalu kembali aktif. Pemilik Eg.craft, Cut Afni Zara, menyebut seluruh perajinnya perempuan, sebagian besar kepala keluarga.
“Dari sampah jadi berkah,” ujarnya tentang eceng gondok yang kerap dianggap gulma.
Selain eceng gondok, mereka memakai daun pandan, daun pisang, dan lidi sawit dengan pola anyaman dasar, anyaman kupu, hingga anyaman tikar.
Bahan harus dikeringkan dulu, sekitar 15 hari jika cuaca mendukung, dan mereka punya rumah pengering.

Pesanan dari Bali datang sekitar tiga bulan sekali. Selama festival, perajin menyelesaikan pesanan yang dijadwalkan kirim akhir Oktober. Satu set baki tiga ukuran termasuk yang paling diminati.
Perempuan juga terlibat di Werkin Tandem, usaha berdiri sejak 2019 yang menghadirkan budaya Aceh lewat tumbler, dompet, vest, dan jaket.
Desain dibuat sendiri oleh pendirinya, Aldian Meutia Sari dan Cut Chaira Ashdiqa, yang berlatar desainer dan ilustrator. Motifnya mengambil penajoh, bunga jeumpa, dan kesenian tradisional.
“Owner kami pengen membuat produk lifestyle, kehidupan sehari-hari, fashion juga, tapi pengen mengangkat culture Aceh, tapi dengan cara yang lebih modern dan fun,” kata Nia, penjaga stan.
Harganya mulai Rp30 ribuan. Remaja dan mahasiswa memilih aksesori, sementara pembeli lain mencari vest dan jaket. Penjualan masih mengandalkan bazar dan pameran.
Produksi dilakukan di Desa Lamdingin, Kuta Alam, Banda Aceh. Mereka pernah tampil di Inacraft Jakarta dan Karya Kreatif Indonesia yang dibina Bank Indonesia.
Pasar Lokal Jadi Tantangan

Di sisi lain, Yagi Forest, merek perawatan kulit dan tubuh berbahan alami, justru lebih dikenal di luar Aceh. Mengutip situs resmi Yagi Forest, usaha ini didirikan Farhaniza atau Dara, yang mulai mendalami bahan perawatan kulit setelah mengalami masalah kesehatan terkait hormon.
Produknya meliputi body butter, sampo, body serum, hingga deodoran dengan bahan seperti VCO, cocoa butter, dan shea butter.
Yasmin, penjaga stan, menyebut deodoran berbahan garam magnesium laut dirancang mengurangi bau badan tanpa menahan keringat. Penjualan lewat Shopee, Tokopedia, Simpang Lima Grosir, dan Almond Victory belum cukup menembus pasar lokal.
“Cuma di Aceh memang kurang pasarnya, karena orang Aceh tuh jarang tahu-tahu membelinya,” ujarnya. Merek ini juga punya komunitas Yagi Rangers yang rutin menghadirkan dokter.

Sulaman Benang Emas Pidie di Meuseraya Festival Aceh
Dari Pidie, sulaman benang emas diolah menjadi sarung bantal, taplak meja, hingga tas berpadu kulit. Giskah, penjaga stan, mengatakan bahan diperoleh dari pengrajin Pante Are, dengan motif padi menunduk yang tengah dikembangkan.
Tikar dijual Rp70 ribu hingga Rp600 ribu, sedangkan satu set lima bantal dan satu taplak meja Rp650 ribu. Produk ini juga tersedia di showroom Dekranasda, alun-alun Sigli.
“Pesan untuk Gen Z, jangan pernah lupakan tradisi kita,” kata Giskah.
