acehtoday.id/ | Simeulue — Pemerintah Kabupaten Simeulue mengusulkan pengadaan sekitar 1 juta bibit cengkeh kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh sebagai upaya mengembalikan kejayaan komoditas cengkeh yang pernah menjadi penopang utama perekonomian daerah berjuluk “Petrodollar”, usulan tersebut diajukan melalui pendanaan APBN dan APBA Tahun Anggaran 2027, dengan pengadaan bibit cengkeh jenis Zanzibar dan cengkeh lokal.
Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Kabupaten Simeulue, Syuhelmi, SP, mengatakan pemerintah daerah berkomitmen menghidupkan kembali sektor perkebunan cengkeh yang selama puluhan tahun menjadi ikon sekaligus sumber penghasilan utama masyarakat.
"Kita serius untuk mengembalikan kekayaan dan masa keemasan cengkeh, yang dulu membuat Simeulue dikenal sebagai 'Petrodollar' dari cengkeh, karena itu kami mengajukan usulan pengadaan sekitar 1 juta bibit cengkeh kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh untuk tahun anggaran 2027," kata Syuhelmi kepada acehtoday.id/, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, usulan tersebut baru dapat diajukan untuk tahun 2027 karena alokasi anggaran APBN dan APBA Tahun 2026 telah ditetapkan sehingga tidak lagi memungkinkan untuk mengakomodasi program tersebut.
1 Juta Bibit Cengkeh Dirancang Untuk Rehabilitasi Kebun
Program pengadaan bibit tersebut dirancang untuk mendukung rehabilitasi kebun cengkeh seluas 8.230 hektare sekaligus pengembangan kebun cengkeh baru seluas 160 hektare, Syuhelmi menjelaskan, luas perkebunan cengkeh di Kabupaten Simeulue saat ini mencapai 16.026 hektare, dari total tersebut, sekitar 8.602 hektare berada dalam kondisi rusak, 2.024 hektare merupakan tanaman yang belum menghasilkan, sedangkan 5.400 hektare lainnya masih produktif dan terus dirawat oleh para petani.
Ia menegaskan, cengkeh telah lama menjadi identitas Kabupaten Simeulue, Bahkan buah cengkeh menjadi bagian dari logo pemerintah daerah sebagai simbol sejarah dan potensi daerah tersebut.
“Simeulue sejak dulu dikenal sebagai penghasil cengkeh, itu dibuktikan dengan logo Pemda yang memuat buah cengkeh, jadi ikon sebenarnya Simeulue adalah cengkeh, karena itu pemerintah daerah serius mengembalikan masa keemasan komoditas ini,” ujarnya.

Selain mengusulkan pengadaan 1 juta bibit cengkeh, Pemerintah Kabupaten Simeulue juga memberi perhatian terhadap kondisi perkebunan kelapa yang merupakan salah satu komoditas unggulan masyarakat di seluruh kecamatan.
Saat ini, luas perkebunan kelapa mencapai 8.289 hektare, namun sekitar 65 persen tanaman telah berusia lebih dari 40 tahun, kondisi tersebut menyebabkan tanaman rentan terserang hama, produktivitas menurun, kualitas kopra semakin rendah, serta berdampak pada menurunnya pendapatan petani.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Simeulue juga mengusulkan sejumlah program kepada Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat, meliputi intensifikasi pengendalian hama, pemupukan tanaman, peremajaan atau penanaman ulang, serta penggunaan bibit kelapa lokal maupun bibit kelapa unggul.
“Dulu Simeulue dikenal dengan julukan ‘Petrodollar’ dari cengkeh, sementara dari kelapa dikenal sebagai Pulau Seribu Kelapa. Julukan itu harus kita kembalikan. Tentunya, hal tersebut membutuhkan dukungan dari Pemerintah Aceh maupun Pemerintah Pusat,” tutup Syuhelmi.