Banda Aceh – Program Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Internasional tidak hanya menjadi wadah pengabdian bagi mahasiswa, tetapi juga menghadirkan pengalaman hidup yang memperluas wawasan lintas budaya. Hal itu dirasakan oleh Alzena Natasya, mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, yang mengikuti KPM Internasional 2026 di Thailand Selatan.
Selama sekitar satu bulan, Alzena bersama peserta lainnya ditempatkan di Muslimeen Suksa School, Tha Chang, Distrik Bang Klam, Provinsi Songkhla, Thailand Selatan. Program tersebut menjadi momentum baginya untuk mengabdikan ilmu sekaligus mempelajari kehidupan masyarakat Muslim di negara tetangga.
Perjalanan menuju lokasi pengabdian dimulai dari Banda Aceh menuju Kuala Lumpur, Malaysia, kemudian dilanjutkan melalui jalur darat menuju Hatyai sebelum tiba di sekolah tujuan. Setibanya di Thailand Selatan, para peserta disambut oleh Al-Hidayah Wakaf Foundation sebelum ditempatkan di sekolah masing-masing.
Menurut Alzena, kesan pertama yang ia rasakan adalah keramahan masyarakat setempat yang membuat proses adaptasi berlangsung lebih cepat.
“Keramahan masyarakat Thailand Selatan membuat kami cepat merasa diterima, meski berada jauh dari kampung halaman,” ujar Alzena.
Ia menuturkan, sambutan hangat dari pihak sekolah, yayasan, dan masyarakat sekitar membuat dirinya bersama rekan-rekan merasa nyaman selama menjalani program. Suasana kekeluargaan yang terjalin sejak awal membuat perbedaan negara maupun budaya bukan menjadi hambatan dalam berinteraksi.
Selama berada di Muslimeen Suksa School, Alzena dipercaya mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris kepada siswa mulai dari tingkat sekolah dasar hingga aliyah. Bagi mahasiswi Ilmu Hukum, pengalaman mengajar di lingkungan pendidikan internasional menjadi tantangan sekaligus pengalaman baru yang berharga.
Namun, proses pembelajaran tidak selalu berjalan mudah. Perbedaan bahasa menjadi kendala utama yang harus dihadapi. Sebagian besar siswa menggunakan bahasa Melayu Patani dan bahasa Thailand dalam komunikasi sehari-hari, sementara para peserta KPM mengandalkan bahasa Inggris sebagai bahasa penghubung.
Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menghalangi proses belajar mengajar. Berbagai pendekatan dilakukan, mulai dari penggunaan bahasa Inggris sederhana, gestur, hingga metode pembelajaran interaktif agar materi tetap dapat dipahami siswa.
“Perbedaan bahasa memang jadi tantangan tersendiri, tapi dengan gestur dan bahasa Inggris sederhana, kami tetap bisa membangun kedekatan dengan siswa,” kata Alzena.

Alzena Natasya, mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda AcehMenurutnya, komunikasi tidak hanya dibangun melalui kata-kata, tetapi juga melalui sikap, kesabaran, dan empati. Seiring berjalannya waktu, hubungan antara peserta KPM dengan siswa maupun para guru semakin akrab.
Selain mengajar, peserta KPM Internasional juga mengikuti berbagai kegiatan pengenalan budaya dan sejarah Thailand Selatan. Rangkaian kunjungan dilakukan ke sejumlah destinasi, di antaranya Kota Tua Songkhla, Masjid Songkhla, Central Mosque of Songkhla, Samila Beach, Khlong Hae Floating Market, Chang Puak Elephant Camp, Sleeping Buddha, Greenway Night Market, ASEAN Night Bazaar, hingga kawasan Central Hatyai.
Melalui kunjungan tersebut, Alzena mengaku memperoleh pemahaman lebih luas mengenai kehidupan masyarakat Thailand Selatan yang memiliki keberagaman budaya dan agama. Meski Thailand merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Buddha, masyarakat Muslim di wilayah selatan tetap hidup berdampingan secara harmonis dengan kelompok masyarakat lainnya.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting mengenai arti toleransi dan saling menghormati di tengah keberagaman.
Momen lain yang paling membekas selama mengikuti program adalah ketika merayakan Hari Raya Iduladha bersama masyarakat Muslim Thailand Selatan. Meski suasananya lebih sederhana dibandingkan dengan perayaan di Indonesia, Alzena justru menemukan makna yang berbeda dari perayaan tersebut.
“Suasananya memang lebih sederhana dibanding di Indonesia, tapi justru di situ kami belajar arti persaudaraan dan toleransi yang sesungguhnya,” ungkapnya.
Ia menilai, kesederhanaan perayaan tidak mengurangi makna kebersamaan yang dirasakan. Sebaliknya, pengalaman itu memperlihatkan kuatnya solidaritas dan semangat persaudaraan di tengah masyarakat Muslim Thailand Selatan.
Menjelang berakhirnya masa pengabdian, Muslimeen Suksa School menggelar acara perpisahan yang berlangsung penuh haru. Dalam kegiatan tersebut dilakukan penyerahan sertifikat kepada para peserta serta penyampaian pesan dan harapan agar hubungan baik yang telah terjalin dapat terus berlanjut.
“Kami berharap silaturahmi dengan Muslimeen Suksa School tetap terjaga meski program sudah selesai,” pungkas Alzena.
Bagi Alzena, KPM Internasional bukan hanya menjadi bagian dari kewajiban akademik selama menempuh pendidikan di UIN Ar-Raniry, tetapi juga menjadi pengalaman yang membentuk karakter, meningkatkan kemampuan beradaptasi, serta memperluas perspektif terhadap kehidupan masyarakat global.
“KPM Internasional ini bukan sekadar tugas akademik, tapi pengalaman hidup yang membentuk karakter dan memperluas cara pandang kami terhadap dunia,” tuturnya.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat menginspirasi mahasiswa lainnya untuk berani mengikuti program pengabdian di tingkat internasional.
Menurutnya, pengabdian lintas negara tidak hanya memberikan kesempatan berbagi ilmu, tetapi juga memperkaya wawasan, memperkuat kemampuan komunikasi lintas budaya, serta menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan yang akan menjadi bekal berharga di masa depan.**
