Misi pencari fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap dugaan kejahatan perang oleh Amerika Serikat (AS) di Iran. Dalam laporan terbaru, PBB meyakini AS terlibat dalam dua serangan militer pada bulan Februari lalu. Serangan tersebut menargetkan sebuah sekolah dan fasilitas olahraga di Iran, yang menyebabkan kematian 120 anak.
Laporan ini akan diserahkan kepada Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB di Jenewa pada Kamis, 18 September 2026. Selain tuduhan terhadap AS, laporan ini juga mencatat bahwa aparat Iran melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam penanganan demonstrasi anti-pemerintah yang berujung pada banyaknya korban jiwa.
Laporan Independent International Fact-Finding Mission on Iran meneliti dua isu utama. Pertama, tindakan AS selama konflik yang dimulai pada Februari. Kedua, respons pemerintah Iran terhadap gejolak nasional yang mulai muncul pada akhir Desember tahun lalu.
Pentagon menolak memberikan komentar mengenai laporan tersebut, dengan menyatakan bahwa investigasi mereka masih berlangsung. Seorang juru bicara Pentagon menyatakan, “Saat ini tidak ada yang dapat kami umumkan.”
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, mengkritik laporan PBB. Ia menyebut Dewan HAM PBB tidak menghasilkan manfaat bagi hak asasi manusia dan menyatakan bahwa Iran adalah satu-satunya pihak yang melakukan kejahatan perang dalam konflik ini.
Pihak AS sebelumnya juga berpendapat bahwa operasi militer mereka sesuai dengan hukum konflik bersenjata. Iran, di sisi lain, membantah tuduhan pelanggaran HAM secara sistematis.
PBB menjelaskan bahwa misi pencari fakta adalah badan investigasi, bukan lembaga peradilan. Temuan mereka tidak dapat membuka perkara pidana, tetapi dapat digunakan untuk penyelidikan oleh pengadilan nasional atau lembaga internasional seperti Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Negara-negara anggota PBB akan membahas hasil laporan tersebut dalam sidang Dewan HAM PBB di Jenewa pada hari Senin mendatang. Dalam konteks serangan terhadap sekolah di Minab, para pakar PBB telah menemukan dasar yang cukup untuk meyakini bahwa pasukan AS terlibat dalam insiden tersebut.[]
Sumber: CNBC Indonesia
