Banda Aceh
Figur

Siapa Nurdiansyah Alasta?

DI RUANG tunggu kantor DPD Partai Demokrat Aceh, seorang pria berkemeja biru duduk tenang sembari membolak-balik map biru di pangkuannya. Jari-jarinya…

Oleh Waktu baca: 3 menit
Bagikan

DI RUANG tunggu kantor DPD Partai Demokrat Aceh, seorang pria berkemeja biru duduk tenang sembari membolak-balik map biru di pangkuannya. Jari-jarinya sesekali berhenti pada selembar formulir pendaftaran yang sudah terisi lengkap. Lalu, dengan langkah pasti, ia beranjak menuju meja panitia Sterring Comitte (SC). Pria itu adalah drh. Nurdiansyah Alasta, M.Kes. Hari itu ia resmi mendaftar sebagai calon Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, membawa semangat yang ia sebut sebagai kelanjutan dari perjuangan panjang sang ayah.

Warisan Sang Ayah yang Tak Pernam Padam

Bagi pria yang akrab disapa Dian ini, politik bukan sekadar panggung kekuasaan. Ada kenangan mendalam yang membentuk jalan hidupnya. Ayahanda Dian, almarhum H. Jamidin Hamdani, wafat saat masih menjabat sebagai anggota DPRA dan Ketua DPC Partai Demokrat Aceh Tenggara. Sebelum menjadi politisi, sang ayah adalah jurnalis dan pernah memimpin PWI Aceh Tenggara.

“Bapak sebelum terjun ke politik juga seorang jurnalis, kerap melibatkan saya menulis, begitu juga di politik, kerap mengajak saya turun ke masyarakat, mungkin itu salah satu sebab saya ingin terus bersama masyarakat,” kenang Dian.

Kalimat itu seperti menjelaskan mengapa ia berani meninggalkan zona nyaman sebagai aparatur sipil negara. Sebelum terjun ke politik, Dian meniti karier sebagai pegawai negeri di Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan serta Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Tenggara.

Jabatan yang ia emban tidak main-main, mulai dari Kepala Sub Bagian Keuangan dan Pelaporan, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner, hingga Kepala Bidang Peternakan.

Akan tetapi, di puncak karier birokrat itu, Dian justru merasa gelisah. Ia merasa perannya kurang maksimal menyentuh masyarakat secara langsung. Maka pada 2019, setelah sang ayah berpulang, ia mengambil keputusan besar. Ia melepas status ASN dan memilih Partai Demokrat sebagai kendaraan perjuangan.

Nurdiansyah Alasta saat menyerahkan Berkas Pencalonannya kepada SC Musda Demokrat Aceh (Foto: Dok. untuk )
Nurdiansyah Alasta saat menyerahkan Berkas Pencalonannya kepada SC Musda Demokrat Aceh (Foto: Dok. untuk )

Muda Adalah Kekuatan, Kepercayaan Adalah Modal

Keputusan itu membawa Dian bertarung di pemilihan legislatif pada tahun yang sama. Ia maju mewakili Daerah Pemilihan VIII yang meliputi Aceh Tenggara dan Gayo Lues.

Hasilnya, ia berhasil melenggang ke Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. “Alhamdulillah, sejak tahun 2020 saya juga dipercaya sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Aceh Tenggara,” ujar alumnus SMA Patra Nusa itu.

Jabatan terus mengalir. Dalam kepengurusan DPD Partai Demokrat Aceh periode 2021-2026 di bawah kepemimpinan Muslim, Dian didapuk sebagai Bendahara. Posisi ini diyakininya sebagai pintu untuk lebih luas menjalankan misi kemasyarakatan.

“Tanggung jawab ini harus bisa saya jalankan sebaik-baiknya dan berguna untuk kesuksesan partai ke depan,” tuturnya.

Dian bukan tipikal politisi yang suka berdebat tanpa arah. Ia lebih memilih bekerja dan berinovasi. Prinsipnya sederhana, namun tajam. “Ketum AHY selalu mengingatkan kepada kita para kader tentang ‘Muda Adalah Kekuatan’, dalam hal politik kekuatan itu adalah kepercayaan,” katanya.

Pendidikan yang ia tempuh juga membentuk karakter analitisnya. Dian menyelesaikan kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala pada 2002-2007, lalu melanjutkan pendidikan profesi dokter hewan di kampus yang sama hingga 2009.

Gelar Magister Kesehatan Masyarakat ia raih dari Universitas Sumatera Utara pada 2013. Kombinasi ilmu kesehatan dan pengalaman birokrasi itulah yang membuatnya lincah memahami persoalan teknis di parlemen.

Kini, dengan mendaftar sebagai calon Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Dian ingin melebarkan sayap pengabdian. Ia sadar, partai harus terus berkoalisi dengan rakyat, bukan sekadar sibuk dengan urusan internal.

Bagi Dian, politik adalah jalan mewarisi harapan, melanjutkan jejak ayah, dan menyalakan api perjuangan bagi masyarakat Aceh yang lebih sejahtera. Langkah tenangnya sore itu di kantor DPD mungkin baru sebentuk awal, namun gema komitmennya sudah terasa di antara kader-kader yang menyambutnya dengan penuh keyakinan.**

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.