BAGI RUSLAN M. Daud, politik tidak pernah dimaknai sekadar ajang kuasa. Pria yang akrab disapa HRD ini memandang setiap amanah sebagai panggung untuk merekatkan hubungan antara rakyat, ulama, dan negara. Kini, ia tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) periode 2024-2029 dengan nomor anggota A-2, mewakili Daerah Pemilihan Aceh II dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.
Akar Pendidikan dan Bisnis
Ruslan lahir di Samalanga, Kabupaten Bireuen, pada 11 Mei 1970. Pendidikan dasarnya dimulai dari SD Simpang Mamplam yang diselesaikan pada 1985, lalu SMP Pandrah pada 1989.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan di LPI Mudimesra Samalanga dan lulus pada 1999. Gelar Sarjana Ekonomi diraihnya dari STIE Indonesia Medan pada 2018, kemudian ia menuntaskan Magister Administrasi Publik di Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama Jakarta pada 2022.
Jauh sebelum memasuki pemerintahan, Ruslan telah merintis usaha sejak 1985 sebagai pemilik mini market. Rangkaian bisnisnya berkembang pesat. Ia menjabat Direktur Utama CV Jeumpa Electronic dan CV Meuligio Property sejak 2008, lalu mendirikan Meuligio Hotel pada 2009. Pengalaman mengelola usaha inilah yang kelak membentuk naluri kepemimpinan yang efisien, profesional, dan selalu membumi.
Organisasi, Pemerintahan, dan Parlemen
Kiprah Ruslan di organisasi kemasyarakatan sangat luas. Ia pernah menjadi Ketua Dewan Pembina Pelajar Islam Indonesia (2012-2013), Ketua Majelis Pembimbing Cabang Gerakan Pramuka (2013-2018), Dewan Penasihat Forum Kerukunan Masyarakat Bireuen (2013-2019), Ketua Dewan Pembina HIPMI (sejak 2013), hingga A’wan Pengurus PCNU Bireuen (2014-2019).
Ia juga aktif di PMI, KNPI, dan organisasi kepemudaan lainnya. Di bidang keagamaan, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Divisi Organisasi dan Kelembagaan Tastafi Aceh (2018-2019).
Loncatan besar terjadi pada 2012. Diusung Partai Aceh, Ruslan berpasangan dengan Mukhtar Abda memenangkan Pemilihan Bupati Bireuen dengan 87.891 suara. Selama periode 2012-2017, ia fokus memajukan infrastruktur dasar, pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi desa.
Sejumlah penghargaan pun diraih, di antaranya Satya Lencana Adhitya Karya Mahatva Yudha (2017), Adhi Karya Pangan Nusantara (2016), dan Darma Bakti Gerakan Pramuka (2013).
Kepercayaan publik terus mengalir. Pada Pemilu 2019, ia terpilih sebagai Anggota DPR RI. Ia kembali mendapat mandat pada Pemilu 2024, kali ini sebagai anggota MPR RI dari Dapil Aceh II. Sebelum bergabung dengan PKB, Ruslan pernah menjadi Penasehat Partai Aceh (2007-2017) dan Ketua DPC Gerindra Bireuen (2017-2018).
Suara Lantang untuk Aceh
Di parlemen, Ruslan memusatkan perhatian pada pembangunan infrastruktur, transportasi, perumahan rakyat, hingga penanganan bencana. Salah satu isu yang ia suarakan lugas adalah permanensi dana otonomi khusus Aceh.
“Pemerintah pusat harus melakukan sesuatu untuk merebut hati rakyat Aceh, dan salah satu caranya adalah dengan mempermanenkan dana otsus karena itu sebuah keniscayaan sekaligus amanah,” tegasnya.
Ia juga aktif mendorong hadirnya jalur kereta api di Aceh, terutama rute Sungai Liput menuju Langsa sepanjang 45 kilometer.
Sebagai wujud komitmen menyerap aspirasi, selepas pelantikan ia mendirikan Rumah Aspirasi HRD. Tempat ini menjadi ruang bersama bagi warga menyampaikan harapan, yang kemudian ia bawa ke meja kebijakan di Jakarta.
Ulama sebagai Kompas Pengabdian
Satu ciri menonjol dari Ruslan adalah kedekatannya dengan para ulama dan pimpinan dayah. Ia meyakini pembangunan Aceh tidak bisa dilepaskan dari peran ulama sebagai penjaga nilai-nilai Islam dan budaya. Karena itu, ia rajin bersilaturahmi ke dayah dan meminta nasihat para tengku dalam banyak keputusan penting.
Sikap ini tercermin saat DPW PKB Aceh mengusulkan namanya sebagai calon Wakil Gubernur Aceh mendampingi Nova Iriansyah. Ia tidak langsung menyanggupi.
Ia terlebih dahulu berkonsultasi kepada dua ulama kharismatik seperti Tgk. H. Muhammad Amin (Abu Tumin) dan Teungku Haji Hasanoel Bashry (Abu Mudi). Bagi Ruslan, pencapaian karier adalah anugerah Allah yang mesti disertai tawakal dan restu orang tua serta ulama.
Kini, sebagai Ketua DPW PKB Aceh, Ruslan terus memperkuat konsolidasi partai dan mendorong lahirnya kader-kader yang religius serta berpihak pada rakyat. Dari Simpang Mamplam hingga Senayan, langkahnya menjadi cermin bahwa kepercayaan rakyat adalah amanah yang mesti dirawat dengan kerja nyata.**
