Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, menyatakan tidak terpengaruh oleh tekanan setelah timnya gagal menang dalam dua pertandingan terakhir. Spalletti mengatakan, “Belajar menerima tekanan itu ibarat obat; hal itu membantu Anda menjalani hidup dengan benar.” Dia mengingat pengalaman sulit yang dihadapinya ketika berusia 10 tahun, saat harus membantu keluarga yang mengalami masa sulit.
Juventus baru saja menelan kekalahan 2-3 dari Sassuolo. Lini belakang tim ini kembali menjadi sorotan karena dianggap rapuh dan mudah ditembus. Sebelumnya, Juventus juga hanya mampu meraih hasil imbang 1-1 saat melawan AC Milan.
Dengan hasil-hasil tersebut, Juventus kini menempati posisi kedelapan klasemen Serie A dengan tujuh poin. Mereka tertinggal lima angka dari AS Roma yang berada di puncak klasemen. Tekanan terhadap Spalletti meningkat, dan media mulai mengaitkan namanya dengan Antonio Conte, mantan pelatih Juventus.
Spalletti menegaskan bahwa ia tidak ingin terpengaruh oleh pemberitaan negatif setelah hasil buruk. “Saya yang memutuskan apa yang harus saya perhatikan dan kapan memilih tidak, dan dalam kasus ini, saya memilih untuk tidak memikirkannya,” ujarnya. Dia mengaku tidak terkejut dengan munculnya tekanan tersebut, terutama karena dua pelatih lain sudah kehilangan pekerjaan di awal musim ini.
“Kami memiliki prioritas sendiri, yaitu memenangkan pertandingan dan menunjukkan jati diri kami sebagai Juventus,” tegas Spalletti. Juventus akan memiliki kesempatan untuk bangkit dalam kompetisi Eropa. Mereka akan menjamu klub Belanda, NEC Nijmegen, pada matchday pertama fase grup Liga Europa di Allianz Stadium.[]
Sumber: ANTARA News
