Banda Aceh
Berita

Pengalaman Gani: Menjadi ASN di Bali Penuh Tantangan dan Rindu Istri

Gani berbagi kisahnya sebagai ASN di Bali yang harus berjuang dengan tantangan hidup yang tidak mudah.

Oleh Waktu baca: 2 menit
Bagikan

Gani, seorang ASN berusia 27 tahun, telah bekerja di Denpasar selama lima tahun. Meskipun banyak yang menganggapnya beruntung, Gani merasakan kesulitan yang tidak terduga. Ia harus meninggalkan istrinya di Jogja dan menghadapi kenyataan hidup yang ruwet di Bali.

Selama tinggal di Denpasar, Gani mengeluhkan kemacetan yang parah. Perjalanan sehari-hari menjadi melelahkan dan menghabiskan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk beristirahat. Ia menyatakan, “Kalau di Jogja, mau ke mana-mana rasanya lebih gampang. Di sini kadang perjalanan yang harusnya sebentar bisa jadi lama karena macet.”

Masalah lain adalah biaya hidup yang tinggi. Gaji yang terlihat lebih besar di Bali tidak menjamin kenyamanan hidup. Berdasarkan data dari BPS Bali, UMK untuk Denpasar pada 2026 ditetapkan sebesar Rp3.499.878,78, lebih tinggi dibandingkan dengan Yogyakarta yang hanya Rp2.827.593. Namun, hal ini tidak mencerminkan daya beli yang lebih baik.

Gani juga merasa tertekan dengan lingkungan tempat tinggalnya. Ia tinggal di area yang banyak dihuni oleh orang-orang yang gemar berjudi dan mabuk, yang membuatnya tidak betah. Meski ia tidak menilai semua lingkungan di Bali demikian, pengalaman tersebut sangat mempengaruhi kehidupannya jauh dari rumah.

Selain itu, Gani juga menghadapi tantangan dalam menemukan makanan halal. Sebagai seorang muslim, kesulitan ini menambah beban emosionalnya. Ia merindukan masakan dan kenyamanan rumahnya di Jogja.

Dengan semua tantangan ini, Gani merasa bahwa menjadi ASN di Bali tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Ia menghadapi banyak kesulitan yang mengurangi kualitas hidupnya. Rindu kepada istri dan kenyamanan rumah di Jogja selalu menghantui pikirannya.[]

Sumber: Mojok.co

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.