Banda Aceh
Aceh

Jelang HUT RI, Penjualan Atribut Merah Putih di Banda Aceh Masih Lesu

Banda Aceh – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, geliat pasar atribut kemerdekaan di Banda Aceh masih…

Oleh Waktu baca: 3 menit
Bagikan

Banda Aceh – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, geliat pasar atribut kemerdekaan di Banda Aceh masih terasa dingin. Sejumlah pedagang mengeluhkan daya beli masyarakat yang belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan signifikan.

Kondisi ini kontras dengan momen serupa di tahun-tahun sebelumnya yang selalu menjadi berkah bagi para penjual pernak-pernik merah putih.

Salah satu pedagang yang merasakan dampak lesunya pasar adalah Rian. Ia menjajakan dagangannya di Jalan Moh Jam, tepat di samping Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Berbagai perlengkapan perayaan kemerdekaan ia gelar, mulai dari umbul-umbul, bando, hingga bendera merah putih untuk perumahan dan kendaraan. Harganya pun bervariasi, mulai dari sekitar Rp25 ribu hingga Rp400 ribu, tergantung jenis dan ukurannya.

“Kalau untuk daya beli sekarang masih melemah. Belum ada peningkatan, belum seperti tahun kemarin,” kata Rian, Selasa (11/8/2026).

Omzet Harian Anjlok, dari Rp10 Juta Jadi Rp6 Juta

Rian mengaku setiap hari mulai berjualan sekitar pukul 08.00 WIB dan baru menutup lapaknya sekitar pukul 22.00 WIB. Meski menghabiskan waktu berjualan yang panjang, pendapatan yang diperoleh belum sebanding. Penjualan atribut merah putih Banda Aceh yang ia rasakan tahun ini jauh lebih rendah.

“Kalau tahun ini bisa sampai Rp6 jutaan per hari. Tahun lalu lumayan tinggi, sampai Rp10 jutaan ke atas per harinya,” ujarnya.

Menurut Rian, umbul-umbul, bendera perumahan, dan background menjadi sejumlah produk yang paling banyak dicari.

Background dan umbul-umbul banyak digunakan untuk menghias perkantoran, sementara bendera perumahan digunakan masyarakat untuk memeriahkan lingkungan tempat tinggal. Namun, permintaan terhadap produk-produk tersebut belum cukup kuat untuk mendongkrak omzet secara signifikan.

Konsumen melihat-lihat bendera merah putih yang dijual di pinggir jalan Moh Jam Banda Aceh. Sumber foto: /Elza
Konsumen melihat-lihat bendera merah putih yang dijual di pinggir jalan Moh Jam Banda Aceh. Sumber foto: /Elza

Kantor Pakai Atribut Lama, Efisiensi Anggaran Jadi Faktor

Rian menduga ada beberapa faktor yang menyebabkan penjualan atribut merah putih tahun ini melemah. Salah satunya adalah banyaknya kantor yang masih menggunakan atribut kemerdekaan yang dibeli pada tahun sebelumnya.

“Karena kantor kemungkinan masih pakai bendera yang tahun kemarin. Makanya tidak dibeli lagi yang lain,” tuturnya.

Selain penggunaan kembali atribut lama, ia juga menduga adanya efisiensi anggaran di berbagai instansi turut mempengaruhi daya beli. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan setiap konsumen mengurangi pembelian. Yang jelas, dampaknya sangat terasa di lapak-lapak kecil seperti miliknya.

Meski penjualan belum meningkat, Rian tetap membuka lapaknya sejak pagi hingga malam untuk melayani masyarakat yang membutuhkan perlengkapan perayaan kemerdekaan.

Dengan waktu perayaan yang semakin dekat, ia dan para pedagang lainnya masih menyimpan harapan agar permintaan atribut merah putih mulai meningkat dan masyarakat kembali berburu perlengkapan untuk menghias rumah, lingkungan, maupun tempat kerja.

Semangat Agustusan diharapkan masih mampu membawa berkah meski tak sederas tahun lalu.**

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.