Media sosial kembali menunjukkan dampak teknologi kecerdasan buatan, khususnya dalam membangun kepercayaan palsu. Sebuah video di TikTok menampilkan wajah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dengan narasi yang mengarahkan masyarakat untuk mendaftar dana bantuan pemerintah. Dalam video itu, masyarakat diminta untuk mencantumkan usia dan asal daerah di kolom komentar, serta disediakan nomor WhatsApp yang diklaim sebagai jalur konsultasi.
Penggunaan wajah pejabat publik sebagai alat untuk memengaruhi perilaku masyarakat di ruang digital menjadi masalah serius. Jika diteliti lebih lanjut menggunakan pendekatan ilmiah, ada beberapa kejanggalan yang membuat video ini patut dicurigai. Tim Pemeriksa Fakta Mafindo menemukan adanya ketidaksesuaian antara gerakan bibir dan suara dalam tayangan video tersebut.
Pemeriksaan menggunakan Hive Moderation menunjukkan probabilitas 99,3 persen bahwa video ini adalah hasil rekayasa deepfake berbasis AI. Penelusuran lebih lanjut mengungkap bahwa materi asli berasal dari dokumentasi Muhammadiyah pada Desember 2023 saat Abdul Mu’ti menjabat Sekretaris Umum PP Muhammadiyah dan tidak ada hubungannya dengan program pendaftaran bantuan.
Identitas dua nomor WhatsApp dalam unggahan juga diperiksa melalui basis data Getcontact, dan tidak ditemukan keterkaitan resmi dengan Kementerian Pendidikan atau mekanisme penyaluran bantuan pemerintah. Situasi ini menegaskan pentingnya literasi digital dan kemampuan verifikasi informasi. Manusia cenderung lebih mudah mempercayai pesan yang menggunakan simbol atau wajah tokoh berotoritas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya mempermudah produksi informasi, tetapi juga meningkatkan kemampuan pihak tertentu untuk menciptakan informasi yang tampak meyakinkan meskipun palsu. Penulis mengemukakan bahwa bahaya terbesar dari kasus ini bukan hanya keberadaan video palsu, tetapi perubahan cara masyarakat dalam menentukan kebenaran.
Wajah pejabat, jumlah tanda suka, banyaknya komentar, dan tingginya jumlah pembagian ulang tidak dapat dijadikan bukti bahwa informasi tersebut benar. Sebaliknya, semakin meyakinkan sebuah video AI, semakin penting bagi masyarakat untuk mengujinya. Metode sederhana dalam verifikasi informasi sangat diperlukan di era digital ini.[]
Sumber: Kompasiana.com
