Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menutup sebelas Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di Indonesia hingga Agustus 2026. Penutupan ini terjadi setelah pencabutan izin usaha secara resmi. Terakhir, izin usaha BPR di Bekasi dicabut pada 19 Agustus 2026.
Setelah izin usaha dicabut, semua kegiatan operasional bank dihentikan dan kantor ditutup. Penyelesaian hak nasabah dan kewajiban bank akan dilakukan oleh tim likuidasi yang dibentuk oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Direksi, dewan komisaris, dan pemegang saham dari bank yang izinnya dicabut tidak diperbolehkan melakukan tindakan hukum terkait aset dan kewajiban bank tanpa persetujuan tertulis dari LPS. Berikut adalah daftar sebelas bank yang telah ditutup hingga Agustus 2026: PT BPR Suliki Gunung Mas, Sumatra Barat – 7 Januari 2026; PT BPR Prima Master Bank, Surabaya, Jawa Timur – 27 Januari 2026; Perumda BPR Bank Cirebon, Jawa Barat – 9 Februari 2026.
Selanjutnya, PT BPR Kamadana, Bangli, Bali – 18 Februari 2026; PT BPR Koperindo Jaya, Jakarta Pusat, DKI Jakarta – 9 Maret 2026; PT BPR Pembangunan Nagari, Agam, Sumatra Barat – 31 Maret 2026; PT BPR Ceper Permata Artha, Klaten, Jawa Tengah – 25 Juni 2026.
PT BPR Dwicahaya Nusaperkasa, Batu, Jawa Timur – 3 Juli 2026; PT BPR Mataram Mitra Manunggal, Yogyakarta – 7 Juli 2026; PT BPR Syariah Hasanah Mandiri, Depok, Jawa Barat – 16 Juli 2026; dan PT BPR Citra Bersada Abad, Bintara, Bekasi Barat, Kota Bekasi – 19 Agustus 2026.[]
Sumber: CNBC Indonesia
