Bulan: Juni 2026

  • Sempat Dirawat di RSUDZA, Bilal Ramzi Tutup Usia Akibat Ledakan KMP Aceh Hebat 2

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Korban tewas KMP Aceh Hebat 2 kembali bertambah. Muhammad Bilal Ramzi meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh sejak mengalami luka dalam insiden ledakan ruang mesin kapal tersebut.

    Bilal Ramzi mengembuskan napas terakhir pada Kamis (25/6/2026) sekitar pukul 20.30 WIB. Ia dirawat sejak ledakan yang terjadi di pertengahan Juni 2026.

    General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan, membenarkan kabar duka tersebut. Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum atas wafatnya salah satu korban terdampak ledakan KMP Aceh Hebat 2.

    Menurut Andri, sejak insiden terjadi, perusahaan terus memberikan pendampingan kepada korban dan keluarganya. ASDP juga berkoordinasi dengan pihak rumah sakit serta instansi terkait agar seluruh kebutuhan penanganan korban dapat terpenuhi secara maksimal.

    Ia menegaskan keselamatan penumpang, pengguna jasa, dan seluruh pekerja di lingkungan operasional ASDP menjadi prioritas utama perusahaan. Karena itu, setiap perkembangan pascakejadian menjadi perhatian serius sebagai bagian dari upaya memperkuat aspek keselamatan operasional.

    ASDP Sampaikan apresiasi kepada Tenaga Medis

    Selain terus mendukung korban yang masih menjalani pemulihan, ASDP menyampaikan apresiasi kepada tenaga medis, pemerintah daerah, aparat, serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses penanganan sejak hari pertama kejadian.

    Perusahaan juga memastikan tetap mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung guna mengungkap penyebab pasti ledakan di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2. Hasil evaluasi menyeluruh nantinya akan menjadi bagian dari langkah peningkatan standar keselamatan operasional sekaligus kualitas pelayanan kepada masyarakat.

    Sebelumnya, ledakan ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 terjadi saat kapal berada di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, pada Jumat (12/6/2026). Peristiwa itu mengakibatkan 15 orang mengalami luka bakar dan menjalani perawatan di RSUDZA.

    Sebelum Bilal Ramzi meninggal dunia, korban pertama yang wafat akibat insiden tersebut adalah Fakhri Herdieco, taruna Politeknik Pelayaran Malahayati, pada Sabtu (20/6/2026) malam. Dengan meninggalnya Bilal Ramzi, jumlah korban tewas akibat ledakan KMP Aceh Hebat 2 kini menjadi dua orang.**

  • Masjid Agung Babussalam, Destinasi Religi yang Menyejukkan Hati di Sabang

    Masjid Agung Babussalam, Destinasi Religi yang Menyejukkan Hati di Sabang

    Di tengah perjalanan menikmati pesona Pulau Weh, wisatawan tidak hanya disuguhkan keindahan laut dan panorama alam, tetapi juga ruang-ruang penuh ketenangan yang menghadirkan pengalaman berbeda. Salah satunya adalah Masjid Agung Babussalam, yang berdiri megah sebagai salah satu ikon religi di pusat Kota Sabang.

    Bagi wisatawan yang datang berkunjung, masjid ini bukan sekadar tempat untuk menunaikan ibadah, tetapi juga menjadi ruang peristirahatan yang menawarkan suasana damai setelah menempuh perjalanan panjang menjelajahi Sabang.

    Daya tarik masjid ini sudah terasa bahkan sebelum kaki melangkah masuk. Saat menyentuh pintu-pintu besarnya, pengunjung akan disambut oleh ukiran yang sangat indah dan detail. Pegangan pintunya yang khas memberikan kesan unik, seolah mengajak siapa pun yang membukanya untuk berhenti sejenak dan mengagumi keahlian kriya tersebut.

    Langkah pertama memasuki pelataran langsung disambut oleh kemegahan kubah-kubah besarnya. Perpaduan warna hijau pada kubah pendamping dan warna perunggu pada kubah utama tampak kontras namun serasi dengan langit biru Sabang yang cerah. Arsitektur Masjid Babussalam memadukan nuansa putih dan perunggu dengan aksen lokal yang kental. Garis-garis geometris pada dindingnya tidak hanya berfungsi sebagai estetika, tetapi juga dirancang cerdas untuk menciptakan sirkulasi udara alami.

    Begitu melewati pintu utama, hawa sejuk seketika menyergap. Dinding-dinding masjid ini seolah memiliki kemampuan magis untuk meredam teriknya matahari pesisir. Lantai marmer yang dingin serta hamparan karpet lembut di dalamnya mengundang siapa saja untuk bersimpuh, melepas penat dari hiruk-pikuk duniawi.

    Interior masjid dirancang khusus untuk menghadirkan kekhusyukan. Cahaya matahari yang menyelinap melalui celah-celah ventilasi memberikan pencahayaan alami yang lembut, menciptakan suasana tenteram yang syahdu. Di sini, pengunjung tidak hanya disuguhi keindahan visual, tetapi juga atmosfer spiritual yang mendalam.

    Bagi wisatawan, merasakan kekhusyukan di sini adalah pengalaman yang berbeda. Ada harmoni yang tercipta dari berbagai elemen: mulai dari lantunan ayat suci yang menggema syahdu menjelang azan Magrib, hingga detail kaligrafi pada lingkar dinding bagian atas yang memanjakan mata. Halamannya yang luas memungkinkan pengunjung untuk benar-benar beristirahat dari panjangnya perjalanan mengeksplorasi Sabang.

    Duta Wisata Sabang, Cut Adek Humaira, menilai Masjid Agung Babussalam memiliki peran lebih dari sekadar tempat ibadah. Menurutnya, masjid tersebut menjadi ruang yang memberikan rasa nyaman bagi siapa saja yang datang ke Sabang.

    “Masjid ini adalah tempat rehat sejenak untuk menikmati Sabang dari porsi yang disajikan di gerbang kota. Kerap kali wisatawan yang tiba pada sore hari langsung menuju Masjid Babussalam untuk memulihkan energi sebelum melanjutkan perjalanan ke penginapan atau mencari kuliner malam,” ujarnya.

    Hal senada disampaikan Umi Nita, Ketua Persaudaraan Muslimah (Salimah) Sabang. Ia menyebut Masjid Agung Babussalam telah menjadi seperti rumah kedua bagi masyarakat sekitar.

    Menurutnya, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pembelajaran bagi berbagai kalangan, mulai dari ibu-ibu, remaja, hingga anak-anak yang datang untuk menuntut ilmu.

    “Masjid Babussalam seperti rumah kedua. Banyak kegiatan yang dilakukan di sini, tempat belajar, berkumpul, dan juga menjadi tempat bagi wisatawan yang ingin beristirahat sejenak, melaksanakan salat, duduk di halaman, hingga mengabadikan momen,” tuturnya.

    Masjid Babussalam adalah saksi bisu bagaimana napas keislaman menyatu erat dengan keseharian warga. Letaknya yang strategis di pusat kota menjadikannya titik kumpul yang hangat. Keramahtamahan pengurus masjid dan warga setempat dalam menyambut wisatawan baik yang ingin beribadah maupun sekadar mengagumi arsitektur mencerminkan nilai-nilai luhur yang diajarkan di balik dinding suci ini.

    Keberadaan Masjid Agung Babussalam menambah warna perjalanan wisata di Sabang. Di antara aktivitas menjelajah pantai, laut, dan berbagai destinasi alam, masjid ini hadir sebagai ruang teduh yang menawarkan ketenangan, keramahan, dan pengalaman spiritual bagi setiap orang yang singgah.

    Menjelang senja, ketika azan Magrib berkumandang dan suara muazin menggema di antara suasana kota, masjid ini menghadirkan momen yang penuh makna. Di balik dinding Masjid Babussalam, kita diingatkan bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, selalu ada tempat untuk “pulang” dan bersujud dalam kedamaian yang hakiki.(Adv)

  • Simeulue Butuh Rp127 Miliar untuk Bangun 16 Jembatan Permanen

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Pemerintah Kabupaten Simeulue membutuhkan dana sekitar Rp127,41 miliar untuk mewujudkan pembangunan jembatan permanen Simeulue sebanyak 16 unit yang tersebar di tiga kecamatan. Usulan tersebut telah diajukan kepada Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat, namun hingga kini belum mendapat respons.

    Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kabupaten Simeulue, Irawan Fuady, mengungkapkan hal itu kepada acehtoday.id/, Rabu, 24 Juni 2026. Ia menyebut usulan tersebut pertama kali disampaikan pada 2023, namun belum ada tanda-tanda persetujuan dari pihak mana pun.

    “Berdasarkan perhitungan yang diusulkan, untuk pembangunan permanen 16 unit jembatan itu diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp127.410.000.000,” ujar Irawan.

    Ke-16 jembatan tersebut saat ini masih menggunakan konstruksi bailey yang sudah berusia lama. Lokasinya mencakup Kecamatan Salang, Kecamatan Alafan, dan Kecamatan Simeulue Barat — ketiganya merupakan jalur penghubung antarkecamatan yang vital di pulau tersebut.

    Simeulue Tidak Bisa Pakai Anggaran Daerah

    Dari rincian usulan yang diajukan, jembatan dengan kebutuhan anggaran terbesar adalah Jembatan Along (50 meter, Rp18 miliar), disusul tiga jembatan sepanjang 40 meter masing-masing — Luan Lalla, Tameng, Mahao, dan Donggek — yang masing-masing membutuhkan Rp14 miliar. Jembatan Ujung Salang sepanjang 24 meter dianggarkan Rp8,68 miliar, sementara Jembatan Dila (16 meter) memerlukan Rp5,81 miliar.

    Sejumlah jembatan lainnya dengan bentang 10 hingga 12 meter, yakni Uhun, Oi, Lafakha, Lhok Dalam 1, Lewak, Lhok Pauh, Langi, dan Lhok Dalam 2, masing-masing dianggarkan antara Rp3,78 miliar hingga Rp4,48 miliar. Adapun Jembatan Serafon 2 sepanjang 14 meter membutuhkan Rp5,18 miliar.

    Irawan menegaskan, Pemkab Simeulue tidak bisa menggunakan anggaran daerah untuk menangani jembatan-jembatan tersebut. Pasalnya, seluruh titik lokasi masuk dalam daftar kewenangan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat. Jika dipaksakan menggunakan APBK, dikhawatirkan akan menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan.

    Meski belum ada lampu hijau, komunikasi dengan pemerintah di atasnya terus dilakukan secara intensif. “Kondisinya sudah seharusnya dibangun permanen,” tutup Irawan. (AMD)

     

  • New Honda Vario Evo 160: Skutik Sporti yang Benar-Benar Berevolusi

    acehtoday.id/ | Jakarta – PT Astra Honda Motor (AHM) resmi meluncurkan New Honda Vario Evo 160 — generasi terbaru skutik 160cc yang datang bukan sekadar facelift biasa. Ada perubahan nyata di sisi desain, performa mesin, hingga deretan fitur yang makin relevan untuk mobilitas sehari-hari.

    Tampilan New Honda Vario Evo 160 langsung terasa berbeda. Bagian depan dan samping dirancang lebih tajam dengan elemen aliran udara yang memperkuat kesan aerodinamis — bukan gimmick, tapi bagian dari karakter desain yang memang disasar untuk segmen anak muda.

    Soal pilihan warna, AHM tampaknya serius. Tipe CBS hadir dalam Glossy Blue Lime (biru dengan aksen kuning-putih) dan Glossy White Red dengan striping merah-biru-hitam. Tipe CBS Nitro menawarkan dua warna two-tone: Nitro Matte Black Red dengan velg merah, dan Nitro Glossy Grey Lime. Sementara tipe ABS mempertahankan konsep single tone dengan emblem 3D — tersedia dalam Matte Black, Matte White, Matte Red, dan satu warna baru yang cukup berani: Ultimate Matte Purple.

    Mesin 160cc  New Honda Vario Evo 160 Lebih Bertenaga 

    Di balik tampilan sportinya, New Honda Vario Evo 160 mengandalkan mesin 160cc 4 katup eSP+ berpendingin cairan. Tenaga maksimalnya mencapai 11,3 kW di 8.500 rpm, dengan torsi puncak 14,0 Nm di 6.500 rpm.

    Yang menarik bukan sekadar angka spesifikasinya — melainkan bagaimana mesin ini terasa di jalan. AHM mengklaim peningkatan performa di putaran menengah, yang secara praktis berarti respons gas lebih terasa saat digunakan di kondisi stop-and-go perkotaan. Untuk akselerasi, skuter ini sanggup menempuh 0–200 meter dalam 11,9 detik dengan top speed 109 km/jam.

    New Honda Vario Evo 160
    New Honda Vario Evo 160

    Efisiensinya pun tidak diabaikan. Dengan Idling Stop System aktif, konsumsi bahan bakarnya tercatat 46,7 km/liter berdasarkan metode pengujian WMTC EURO 3. Ban tubeless lebar — 100/80-14 di depan dan 120/70-14 di belakang — turut mendukung stabilitas, terutama saat menikung.

    Harga dan Ketersediaan

    • Tipe CBS: Rp 28.525.000

    • Tipe CBS Nitro: Rp 28.775.000

    • Tipe ABS: Rp 31.406.000

    Dua penambahan fitur yang paling terasa praktis: USB Type-C Charger di bagasi depan kiri, dan Pop Up Center Hook yang bisa dilipat untuk menggantung tas atau barang bawaan. Kecil, tapi kerap jadi kebutuhan yang sering luput di kelas skutik.

    Di luar itu, New Honda Vario Evo 160 sudah dilengkapi Honda Smart Key System dengan alarm dan answer back system, pencahayaan full LED, serta panel meter digital lengkap — menampilkan speedometer, indikator bahan bakar, jam digital, konsumsi BBM, tegangan baterai, pengingat ganti oli, trip meter, indikator ISS, hingga indikator ABS (khusus tipe ABS).

    Kapasitas bagasi 18 liter dengan desain flat deck cukup untuk menampung helm half face — standar yang memadai untuk kebutuhan komuter harian.

    Untuk pengereman, tipe ABS menggunakan cakram hidrolik 220 mm di depan dan belakang, dilengkapi sistem ABS. Tipe CBS menggunakan cakram 190 mm di depan dengan rem tromol di belakang.

  • Target Lima Besar MTQ Aceh, Bupati Aceh Barat Percepat MTQ Tingkat Kabupaten

    acehtoday.id/ | Aceh Barat – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat berencana mempercepat pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) kabupaten yang sebelumnya dijadwalkan pada tahun 2027.

    Langkah ini diambil sebagai upaya memperkuat pembinaan dan persiapan peserta agar mampu meraih hasil maksimal pada MTQ tingkat Provinsi Aceh.

    Agar upaya tersebut berjalan, Bupati Aceh Barat, Tarmizi meminta Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh Barat untuk terlebih dulu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MTQ di Pidie Jaya sebelumnya, mulai dari proses pembinaan, pelaksanaan kegiatan hingga capaian prestasi yang diraih kontingen Aceh Barat.

    “Evaluasi harus dilakukan secara objektif agar kita mengetahui apa yang perlu diperbaiki. Pembinaan harus lebih terarah dan seleksi peserta dilakukan secara ketat mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten,” katanya, Kamis (25/6/2026).

    Bupati menargetkan Aceh Barat mampu menembus peringkat lima besar di tingkat Provinsi Aceh serta melahirkan qari dan qariah terbaik yang dapat mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.

    Terlebih, Aceh akan menjadi tuan rumah MTQ Nasional pada tahun 2028, sehingga pembinaan harus dipersiapkan sejak sekarang.

    “Kita ingin Aceh Barat memiliki duta-duta Al-Qur’an yang mampu bersaing dan berprestasi di tingkat nasional. Dengan pembinaan yang serius dan berkelanjutan, saya yakin target tersebut dapat kita capai,” sambungnya.

    Di kesempatan yang sama, Bupati juga melakukan pertemuan dengan jajaran pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten Aceh Barat untuk membahas strategi pembinaan generasi Qurani sekaligus upaya peningkatan prestasi Aceh Barat pada ajang MTQ.

    Ia menegaskan agar LPTQ menjadi motor penggerak dalam membangun budaya cinta Al-Qur’an di tengah masyarakat.

    Menurut Tarmizi, pembinaan tidak boleh hanya berfokus pada persiapan menjelang MTQ, namun harus berkelanjutan sejak usia dini.

    “Harus ada prestasi yang kita capai. Karena itu, pembinaan harus diperkuat dan melibatkan semua pihak, termasuk dayah-dayah yang menjadi garda terdepan dalam melahirkan generasi Qurani,” ujar Tarmizi.

    Ia juga mendorong agar program pembinaan membaca Al-Qur’an secara intensif diperluas hingga ke lingkungan sekolah. Melalui program “LPTQ Masuk Sekolah”, mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA/MA.

    “Kita tidak ingin ada lagi anak-anak Aceh Barat yang buta aksara Al-Qur’an atau tidak mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Pembinaan harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat, khususnya kalangan pelajar,” tegasnya.

    Tarmizi menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelatihan bagi qari, qariah, hafiz, hafizah, serta peserta cabang-cabang MTQ lainnya agar mampu bersaing di tingkat provinsi maupun nasional.

    Di kesempatan itu, bupati juga menerima berbagai masukan dari pengurus LPTQ terkait program pembinaan serta kondisi keuangan yang menjadi tantangan dalam pengembangan kegiatan keagamaan di daerah.

    Laporan : Uci Setiawan

  • Pria Putus Tangan di Kajhu Keluar dari RS, YARA: Laporan Tetap Berlanjut

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – BT (52), pria asal Kajhu, Kabupaten Aceh Besar, yang mengalami putus tangan dalam kasus dugaan pencurian, kini berangsur pulih dan telah diperbolehkan pulang setelah menjalani serangkaian perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.

    Kepala Perwakilan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Besar, Muhammad Nur, mengatakan BT telah menjalani tiga kali operasi penanganan pada tangan kanannya yang mengalami cedera parah.

    “Tangannya tidak dapat disambung lagi saat operasi ketiga, namun BT sudah bisa pulang,” kata Muhammad Nur kepada acehtoday.id/, Kamis (25/6/2026).

    Menurutnya, pada operasi pertama dan kedua, tim medis masih berupaya menyambungkan kembali bagian tangan yang terputus. Namun, kondisi jaringan yang terus memburuk membuat upaya tersebut tidak berhasil dipertahankan.

    Saat operasi ketiga, dokter akhirnya memutuskan melakukan amputasi karena jaringan pada tangan BT sudah mengalami kerusakan berat.

    “Kondisi tangannya sudah membusuk saat operasi ketiga sehingga diamputasi,” ujarnya.

    Meski demikian, kondisi kesehatan BT disebut terus menunjukkan perkembangan positif. Saat ini, ia hanya perlu menjalani rawat jalan secara berkala di RSUDZA.

    “Sekarang berobat jalan tiga hari sekali ke RSUDZA,” tambahnya.

    Sementara itu, YARA memastikan proses hukum terkait kasus tersebut masih terus berjalan. Darmiati, istri BT, sebelumnya telah melaporkan pihak yang diduga memotong tangan suaminya ke Polda Aceh atas dugaan tindak pidana penganiayaan berat.

    “Mengenai laporan sedang berlanjut,” pungkas Muhammad Nur.

    Awal Mula Kejadian di Kajhu

    Sebelumnya, BT diduga melakukan pencurian di kawasan Kajhu Aceh Besar, dalam peristiwa tersebut BT mengalami putus tangan dan kemudian menjalani perawatan medis di RSUDZA. Darmiati selanjutnya melaporkan pihak yang diduga memotong tangan suaminya ke Polda Aceh dengan dugaan tindak pidana penganiayaan berat.

    Darmiati tidak menerima suaminya mendapat penganiayaan setelah kepergok warga hingga berujung satu tangannya terputus. Darmiati yang didampingi Ketua YARA Aceh Besar, Muhammad Nur dan Advokat, Muzakir, resmi melaporkan kasus tersebut ke Polda Aceh, pada Senin (15/6/2026).

    Muzakir menceritakan kronologi kejadian saat Darmiati diberitahu oleh seorang warga bahwa tangan suaminya telah dibacok. Mendengar itu, Darmiati bergegas ke lokasi pembacokan dan diberitahu kalau suaminya telah dibawa ke Polsek Baitussalam.

    Sesampainya di Polsek Baitussalam, suami Darmiati ternyata telah dibawa ke RSUDZA Banda Aceh dan Darmiati mendapati suaminya yang telah pingsan dengan kondisi tangan kanan terputus di ranjang rumah sakit.

    “Di rumah sakit diserahterimakan suami klien kepada klien kami. Katanya, suaminya ini telah ditetapkan sebagai tersangka. Tapi atas perkara apa juga tidak disebut, pun tidak diberi surat penetapan tersangka,” ujar Muzakir.

    Muhammad Nur menekankan pelaporan ini berfokus pada tindak penganiayaan yang diterima oleh suami Darmiati, terlepas dari dugaan berbagai kasus yang beredar di masyarakat.Adapun pihak keluarga menduga pelaku penganiayaan berat yang menyebabkan tangan suami Darmiati putus adalah seorang oknum kepolisian. “Keluarga menduga yang melakukannya adalah oknum polisi,” pungkasnya. Hingga kini, penyelidikan atas laporan yang diajukan keluarga korban masih berlangsung di Polda Aceh.

    Pria Putus Tangan di Kajhu Keluar dari RS, YARA: Laporan Tetap Berlanjut
    Darmiati (tengah), istri seorang pria terduga pelaku pencurian di Kajhu, Aceh Besar, yang berujung tangannya terputus. (acehtoday.id/Elza

     

     

  • YS dan ND Tersangka Khalwat Diserahkan ke Kejari Banda Aceh

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – YS dan ND tersangka khalwat diserahkan kepada Kejaksaan Negeri Banda Aceh, Kamis (25/6/2026). Mereka akan segera menjalani proses persidangan.

    YS (42) bersama seorang perempuan ND (41)  keduanya ditangkap oleh  Satpol PP dan WH Banda Aceh saat berada di dalam kamar hotel Ayani di Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh pada akhir Mei lalu.

    Kepala Kejaksaan Negeri Banda Aceh, Bobbi Sandri, mengatakan pihaknya telah menerima penyerahan tanggung jawab tersangka dan barang bukti setelah berkas perkara dinyatakan lengkap atau P21.

    “Kami telah menerima penyerahan tanggung jawab dan tersangka tahap II dari penyidik PPNS Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh atas nama tersangka berinisial YS dan ND,” kata Bobbi.

    Menurutnya, kedua tersangka disangkakan melanggar Pasal 23 Ayat (1) juncto Pasal 25 Ayat (1) Qanun Aceh Nomor 12 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat terkait jarimah khalwat dan ikhtilat.

    “Keduanya terancam hukuman maksimal 30 kali cambuk, denda setara 300 gram emas murni, atau pidana penjara paling lama 30 bulan,” ujarnya.

    Usai pelimpahan tahap II, kedua tersangka langsung ditahan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Banda Aceh di Kajhu selama 15 hari, terhitung sejak 25 Juni hingga 9 Juli 2026.

    Selanjutnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) akan melimpahkan perkara tersebut ke Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh untuk menjalani proses persidangan.

    Tersangka pelanggad syariat Islam saat menjalani pemeriksaan dan perekaman identitas diri di Kejaksaan Negeri Kota Banda Aceh, Kamis (25/6/2026).

    Awal Mula Kasus Terduga Ajudan Petinggi DPRA

    Bobbi menjelaskan, kasus ini bermula saat Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh menggelar razia rutin di salah satu hotel di kawasan Peunayong pada Minggu (24/5/2026).

    Dalam razia tersebut, petugas mendatangi salah satu kamar hotel dan menemukan YS bersama ND berada di dalam kamar. Berdasarkan identitas kependudukan yang diperiksa, keduanya memiliki alamat berbeda dan mengaku bukan pasangan suami istri.

    Petugas juga menemukan sejumlah barang bukti serta memperoleh pengakuan dari kedua tersangka yang menyatakan tidak terikat dalam hubungan perkawinan yang sah.

    “Berdasarkan hasil pemeriksaan, keduanya diduga melakukan perbuatan ikhtilat berupa bermesraan, berpelukan, dan berciuman di dalam kamar hotel tersebut,” tutur Bobbi.

    Setelah diamankan, YS dan ND dibawa ke Kantor Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh untuk menjalani proses penyidikan hingga berkas perkara dinyatakan lengkap.

    Sementara itu, Kepala Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh, Muhammad Rizal, yang turut hadir dalam proses pelimpahan tahap II menyebut pihaknya telah menuntaskan seluruh proses penyidikan sesuai ketentuan yang berlaku.

    “Kami telah melakukan pemberkasan dan menyerahkan berkas yang telah dinyatakan P21. Hari ini kami menyerahkan tersangka dan barang bukti kepada Kejaksaan Negeri Banda Aceh,” kata Rizal.

    @acehtoday.id/ Tersangka kasus ikhtilath, YS dan ND, resmi ditahan Kejari Banda Aceh usai berkas perkara dinyatakan lengkap. Keduanya akan menjalani proses hukum selanjutnya sesuai ketentuan yang berlaku. #SeputarAceh #BandaAceh #BeritaAceh #InfoAceh #AcehTerkini ♬ suara asli – Seputar Aceh

    Menurutnya, setelah pelimpahan tahap II, proses hukum sepenuhnya menjadi kewenangan jaksa penuntut umum hingga perkara diputus oleh Mahkamah Syar’iyah.

    “Kewenangan Satpol PP dan WH sudah selesai. Selanjutnya menjadi kewenangan penuntut umum dan Mahkamah Syar’iyah sampai nantinya diputuskan dan dieksekusi,” ujarnya.

    Rizal menambahkan, tugas Satpol PP dan WH selanjutnya adalah menyiapkan sarana dan prasarana, termasuk tenaga kesehatan, saat pelaksanaan eksekusi terhadap terpidana pelanggaran syariat Islam.

    Ia juga menegaskan bahwa penegakan syariat Islam di Banda Aceh dilakukan tanpa pandang bulu.

    “Tidak ada tebang pilih, tidak ada tumpul ke atas tajam ke bawah. Kami menjalankan tugas sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.

  • Dishub Aceh dan ASDP Siap Penuhi Panggilan DPRA Terkait Insiden Ledakan Mesin KMP Aceh Hebat 2

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh dan PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh menyatakan siap memenuhi panggilan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) terkait insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang mengakibatkan 15 orang mengalami luka bakar dan satu korban meninggal dunia.

    Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T Faisal, dan General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan, saat dikonfirmasi acehtoday.id/, Kamis (25/6/2026).

    Melalui Humas Dishub Aceh, T Faisal menegaskan pihaknya siap menghadiri rapat dengan DPRA guna memberikan penjelasan terkait insiden yang terjadi di kapal KMP Aceh Hebat 2.

    “Kami siap memenuhi undangan DPRA untuk memberikan penjelasan,” kata T Faisal singkat.

    Hal senada disampaikan General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan. Ia memastikan pihak ASDP akan hadir apabila dipanggil oleh DPRA.

    “Perihal ini kami tentunya akan hadir,” ujarnya.

    Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPRA dari Fraksi Golkar, Khalid, menyatakan pihaknya akan memanggil Dishub Aceh dan ASDP untuk meminta penjelasan terkait insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang terjadi beberapa waktu lalu.

    Menurut Khalid, pemanggilan tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan DPRA guna memastikan proses investigasi berjalan secara profesional, objektif, dan transparan.

    Dishub Aceh dan ASDP Siap Penuhi Panggilan DPRA Terkait Insiden Ledakan Mesin KMP Aceh Hebat 2
    Kapal KMP Aceh Hebat 2 sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Foto: acehtoday.id/Elza

    Dishub Aceh diminta Pantau Perkembangan Hasil Investigasi

    Selain meminta penjelasan dari kedua instansi tersebut, Komisi IV DPRA juga akan memantau perkembangan hasil investigasi secara berkala. Langkah itu dilakukan agar penyebab pasti insiden dapat diketahui secara jelas sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

    Diketahui, insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 mengakibatkan 15 orang mengalami luka bakar dan harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Dari jumlah tersebut, 14 orang merupakan taruna Politeknik Pelayaran, sementara satu lainnya adalah Kepala Kamar Mesin (KKM) kapal.

    Setelah menjalani perawatan selama beberapa hari di RSUDZA, satu korban dilaporkan meninggal dunia dan jenazahnya telah dipulangkan ke Sumatera Utara.

  • Jejak Karier Arman Fauzi, Dari Dapur Redaksi ke Komisi Informasi Pusat

    Jejak Karier Arman Fauzi, Dari Dapur Redaksi ke Komisi Informasi Pusat

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Nama Arman Fauzi kini menjadi salah satu representasi Aceh di tingkat nasional setelah dipercaya sebagai Anggota Komisi Informasi (KI) Pusat periode 2026–2030.

    Di balik capaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang seorang mantan wartawan yang mengabdikan diri pada isu keterbukaan informasi dan pelayanan publik.

    Pria kelahiran Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya, 10 April 1980 itu mengawali karier profesionalnya di dunia jurnalistik. Arman pernah menjadi jurnalis Tabloid Modus Aceh dan dipercaya menjabat sebagai Koordinator Liputan pada 2004.

    Pengalaman sebagai wartawan membawanya akrab dengan kerja-kerja investigasi, pengumpulan data, serta pemahaman mengenai pentingnya akses informasi bagi masyarakat.

    Dari dunia pers, Arman kemudian melanjutkan kiprahnya sebagai investigator di LSM GeRAK Aceh. Kariernya di lembaga tersebut terus berkembang hingga dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif GeRAK Aceh pada periode 2005–2009.

    Di fase inilah ia semakin aktif menggeluti isu transparansi, akuntabilitas, dan kebijakan publik.

    Selain aktif dalam advokasi, Arman juga memiliki pengalaman di bidang pembangunan daerah.

    Ia pernah menjadi konsultan UNICEF untuk program pemenuhan hak anak di Aceh dan ditempatkan di Bappeda Aceh Jaya guna memberikan pendampingan teknis terkait perencanaan serta penganggaran daerah.

    Perjalanan pengabdiannya di sektor publik turut ditopang oleh aktivitas organisasi yang dijalaninya sejak masa kuliah. Saat menempuh pendidikan di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

    Ia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum BEM Fakultas MIPA periode 2002–2003. Arman juga pernah memimpin paguyuban Ikatan Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa Susoh (IPPELMAS) pada 2006 serta menjabat Sekretaris DPD II KNPI Kabupaten Aceh Selatan.

    Kariernya di bidang keterbukaan informasi semakin menonjol ketika dipercaya menjadi Komisioner Komisi Informasi Aceh periode 2016–2020. Kepercayaan itu kembali diberikan pada periode 2020–2024.

    Berbekal pengalaman sebagai wartawan, aktivis, dan pegiat pelayanan publik, Arman Fauzi akhirnya melangkah ke tingkat nasional sebagai Anggota Komisi Informasi Pusat periode 2026–2030.

    Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa pengalaman dari ruang redaksi dapat menjadi modal penting dalam mengawal transparansi dan hak masyarakat memperoleh informasi.**

  • Utang RSUDZA Setara Bangun Rumah Sakit Baru, APH Didesak Lakukan Audit dan Penyelidikan

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Utang RSUDZA sebesar Rp416 miliar yang diduga terakumulasi selama lima tahun terakhir menjadi perbincangan publik, Nilai yang fantastis tersebut bahkan disebut setara dengan biaya pembangunan sebuah rumah sakit baru, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai tata kelola keuangan Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.

    Besarnya nilai utang tersebut memunculkan pertanyaan mengenai tata kelola keuangan rumah sakit rujukan utama di Aceh itu.

    Kondisi tersebut juga mendorong berbagai pihak mendesak dilakukannya audit investigatif secara menyeluruh serta penyelidikan oleh aparat penegak hukum guna mengungkap penyebab dan aliran penggunaan anggaran selama ini.

    Analis Kebijakan Publik, Nasrul Zaman, menilai persoalan tersebut tidak dapat dipandang sebagai masalah administratif semata.

    Menurutnya, nilai utang yang mencapai ratusan miliar rupiah mengindikasikan adanya persoalan serius dalam tata kelola keuangan rumah sakit milik Pemerintah Aceh tersebut.

    “Nilai Rp416 miliar bukan angka kecil, jika dibandingkan, jumlah tersebut bahkan dapat digunakan untuk membangun sebuah rumah sakit modern baru, Karena itu perlu ada penelusuran menyeluruh terhadap pengelolaan keuangan yang terjadi selama ini,” ujar Nasrul dalam keterangannya kepada acehtoday.id/, 25/06/2025.

    Ia menjelaskan, akumulasi utang dalam jumlah besar yang berlangsung dalam rentang waktu cukup lama berpotensi menunjukkan adanya persoalan pada manajemen arus kas, perencanaan anggaran, maupun pengendalian keuangan internal.

    Karena itu, Nasrul mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) agar tidak terburu-buru menyetujui atau memvalidasi pengakuan utang tersebut sebelum dilakukan audit investigatif secara komprehensif oleh Inspektorat.

    Menurutnya, audit harus difokuskan pada penelusuran aliran dana atau follow the money guna mengetahui secara rinci penggunaan anggaran selama lima tahun terakhir, termasuk mengidentifikasi kemungkinan terjadinya inefisiensi, salah kelola, maupun penyimpangan.

    “Publik berhak mengetahui ke mana saja dana tersebut dialokasikan, audit investigatif menjadi langkah penting untuk memastikan seluruh proses berjalan transparan dan akuntabel,” katanya.

    Utang RSUDZA Setara Bangun Rumah Sakit Baru, APH Didesak Lakukan Audit dan Penyelidikan

    Minta Pihak Kepolisian Usut Utang RSUDZA

    Selain audit internal, Nasrul juga meminta aparat penegak hukum, baik Kepolisian maupun Kejaksaan, untuk segera melakukan langkah-langkah penyelidikan awal guna mengungkap penyebab terjadinya utang yang terus menumpuk.

    Ia menilai, defisit yang bersifat struktural dan berlangsung bertahun-tahun harus diuji melalui proses hukum yang transparan untuk memastikan ada atau tidaknya unsur tindak pidana, termasuk dugaan korupsi, penyalahgunaan kewenangan, maupun kelalaian manajerial yang berpotensi merugikan keuangan daerah.

    “Jangan menunggu terlalu lama, persoalan ini menyangkut uang negara dan pelayanan kesehatan masyarakat. Jika ada indikasi pelanggaran hukum, harus segera diungkap,” tegasnya.

    Nasrul menambahkan, sebagai rumah sakit rujukan utama di Aceh yang dibiayai melalui anggaran negara, RSUDZA memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan.

    Menurutnya, pembiaran terhadap tata kelola keuangan yang bermasalah berpotensi mengganggu stabilitas fiskal daerah sekaligus berdampak pada kualitas layanan kesehatan yang diterima masyarakat.

    “Yang dipertaruhkan bukan hanya keuangan daerah, tetapi juga keberlangsungan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Aceh, Karena itu penyelesaian persoalan ini harus dilakukan secara terbuka dan tuntas,” pungkasnya.