Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan adanya 25 merek beras fortifikasi palsu di pasaran. Beras ini seharusnya memiliki kandungan gizi tinggi untuk kelompok rentan, seperti ibu menyusui dan balita. Keberadaan beras fortifikasi ini penting, sehingga pemerintah memberikan subsidi untuk produk tersebut.
Dari total 27 merek beras fortifikasi, 90 persen di antaranya ternyata palsu. Pedagang nakal memanfaatkan situasi ini untuk meraih keuntungan yang besar. Menurut Amran, beras yang seharusnya dijual seharga Rp 13.000 per kilogram, malah dijual dengan harga Rp 57.000, yang berarti keuntungan mencapai Rp 44.100 per kilogram.
Amran menegaskan bahwa pihaknya akan menarik semua merek beras fortifikasi palsu tersebut. Selain itu, langkah hukum akan diambil karena tindakan ini masuk dalam kategori tindak pidana penipuan. Satu tugas pangan Polri juga mulai menyelidiki distribusi beras fortifikasi palsu yang merugikan konsumen.
Proses penyelidikan oleh polisi akan dilanjutkan berdasarkan bukti yang telah disampaikan oleh Mentan. Dengan pengungkapan ini, pemerintah berharap dapat melindungi konsumen dari produk yang tidak sesuai standar. Masyarakat diminta untuk lebih berhati-hati dalam memilih produk beras fortifikasi.[]
Sumber: Kompas.com
