Banda Aceh – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Aceh pada Juni 2026 menunjukkan perbaikan yang signifikan, dengan nilai ekspor mencapai 85,31 juta dolar AS, meningkat 61,31 persen dibandingkan Mei 2026 dan naik 75,12 persen dibandingkan Juni 2025.
Hal ini diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Agus Andria, berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi Aceh No. 48/08/11/Th. XXIX tentang Perkembangan Ekspor dan Impor Aceh Juni 2026, yang dirilis di Banda Aceh, Senin (3/8/2026).
Sementara itu, nilai impor justru turun tajam menjadi 26,04 juta dolar AS, atau turun 75,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini mendorong Aceh mencatat surplus neraca perdagangan sebesar 59,27 juta dolar AS pada Juni 2026.
Batubara Masih Dominasi, India Jadi Pasar Terbesar
Ekspor Aceh masih didominasi komoditas bahan bakar mineral, yakni batubara, dengan nilai mencapai 52,10 juta dolar AS atau sekitar 61,08 persen dari total ekspor.
Komoditas kopi dan rempah-rempah menyusul dengan kontribusi 18,78 juta dolar AS (22,01 persen), diikuti lemak dan minyak hewan/nabati senilai 11,20 juta dolar AS (13,13 persen). Seluruh ekspor Aceh pada periode ini merupakan komoditas nonmigas.
Dari sisi negara tujuan, India menjadi pasar ekspor terbesar Aceh dengan nilai 47,83 juta dolar AS atau 56,07 persen dari total ekspor, disusul Tiongkok senilai 14,29 juta dolar AS dan Amerika Serikat 12,33 juta dolar AS. Negara tujuan lainnya meliputi Thailand, Jepang, Belgia, Malaysia, dan Kanada.
Berdasarkan sektor, ekspor pertambangan menyumbang 52,16 juta dolar AS (61,15 persen), disusul sektor pertanian 19,87 juta dolar AS (23,29 persen), dan industri pengolahan 13,27 juta dolar AS (15,56 persen).
Dari sisi jalur pengiriman, mayoritas ekspor Aceh, yakni 64,31 juta dolar AS atau 75,39 persen, dikirim melalui pelabuhan di Aceh, sementara sisanya sebesar 21,00 juta dolar AS dikirim melalui pelabuhan luar Aceh, terbesar melalui Sumatera Utara.

Impor Turun Tajam, Gas Propana dan Butana Jadi Komoditas Utama
Meski turun 75,15 persen dibandingkan Mei 2026, nilai impor Aceh pada Juni 2026 masih tercatat naik 23,01 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Komoditas impor terbesar adalah gas propana dan butana senilai 21,63 juta dolar AS, diikuti bahan kimia anorganik 4,02 juta dolar AS, serta garam, belerang, dan kapur senilai 0,39 juta dolar AS. Mayoritas impor Aceh berasal dari Amerika Serikat, Jepang, dan Thailand.
Secara kumulatif periode Januari–Juni 2026, total ekspor Aceh tercatat 366,73 juta dolar AS, sementara total impor mencapai 296,86 juta dolar AS, sehingga menghasilkan surplus kumulatif sebesar 69,87 juta dolar AS.
Membaiknya kinerja perdagangan Aceh ini didorong oleh kombinasi peningkatan tajam ekspor dan penurunan signifikan impor. Batubara tetap menjadi motor utama ekspor Aceh, dengan India sebagai pasar terbesar.
Dominannya pemanfaatan pelabuhan lokal, yang menampung lebih dari tiga perempat total ekspor, turut menunjukkan penguatan peran infrastruktur pelabuhan di Aceh dalam mendukung aktivitas perdagangan luar negeri.**
