Dunia – Gelombang migran Maroko yang sempat membanjiri wilayah kantong Spanyol itu kini berbalik arah. Ribuan warga Maroko yang nekat menyeberang pekan ini pulang dengan tangan kosong, membawa kekecewaan mendalam setelah mimpi mengadu nasib di Eropa kandas di tengah jalan.
Kericuhan bermula ketika kabar bohong menyebar lewat media sosial bahwa perbatasan menuju Ceuta telah dibuka. Foto-foto pemuda yang merayakan keberhasilan masuk ke wilayah Spanyol itu ikut memperkuat disinformasi tersebut, memicu ribuan orang di kota Fnideq bergegas menuju perbatasan tanpa banyak rintangan dari aparat.
Pemerintah Spanyol turut menuding disinformasi terkait putusan mahkamah agung soal migrasi sebagai pemicu kerumunan. Menurut sumber yang mengetahui operasi evakuasi, pos pemeriksaan gendarmerie yang ada di sepanjang jalur hanya bersifat rutin, bukan pengerahan khusus untuk membendung membeludaknya massa menuju Ceuta.
Sesampainya di Ceuta, harapan akan sambutan hangat justru berbalik menjadi mimpi buruk bagi banyak migran Maroko. Mohamed Nias, penjual buah berusia 23 tahun asal Tangier, bercerita bahwa ia berenang menyeberang untuk mencari kehidupan lebih baik, namun dua hari di kota itu ia lewati tanpa makanan.
“Jangan pernah datang ke sini, kalian hanya akan menderita,” katanya memperingatkan warga lain yang berniat mengikuti jejaknya seperti dilansir al-monitor.com
Toko-toko di Ceuta banyak yang tutup usai Konfederasi Bisnis Ceuta menganjurkan pelaku usaha menutup gerai sampai situasi keamanan terjamin. Kondisi itu membuat ratusan pendatang, termasuk Sadi Tribak yang membawa harapan masa depan lebih baik bagi anak-anaknya, kembali dengan tangan hampa dan mengaku tertipu oleh gambaran yang beredar di media sosial.
Di balik eksodus ini, tragedi kemanusiaan ikut mengiringi. Otoritas Spanyol mencatat 72 orang tewas, sementara Asosiasi Hak Asasi Manusia Maroko (AMDH) menyebut angka kematian mendekati 130 jiwa, dengan puluhan lainnya masih dinyatakan hilang. Lebih dari 60.000 orang tercatat sempat memasuki wilayah tersebut sebelum sebagian besar dipulangkan menggunakan bus ke Fnideq.
Di pagar perbatasan, para orang tua seperti Rachida Mamakh menanti kabar anak mereka sambil menunjukkan foto kepada setiap orang yang kembali. Putranya, Zouhair, sempat mengabari keberadaannya di Ceuta namun tak lagi memberi kabar sejak itu.
Di balik nekatnya penyeberangan ini, kesenjangan ekonomi antara Maroko dan Spanyol tetap menjadi pendorong utama. Meski ekonomi Maroko tumbuh lima persen pada 2025, PDB per kapita Spanyol tercatat delapan kali lipat lebih tinggi menurut data Bank Dunia, mendorong generasi muda Maroko nekat mengambil risiko demi masa depan yang mereka anggap lebih cerah.
