Banda Aceh – Suasana semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia begitu terasa di kawasan Krueng Lampaseh, Senin (17/8/2026). Warga dari berbagai kalangan ramai-ramai menyaksikan sekaligus mengikuti rangkaian perlombaan tradisional yang digelar di kawasan bantaran sungai.
Pantauan , antusiasme masyarakat begitu tinggi. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa tampak memadati tepian sungai. Sebagian membawa payung untuk berteduh dari terik matahari, sambil mengabadikan keseruan perlombaan dengan gawai masing-masing.
Lomba Tradisional yang Menghibur
Salah satu lomba yang paling mencuri perhatian adalah pukul bantal di atas batang bambu yang dipasang di tengah sungai. Para peserta bersemangat mengayunkan bantal ke arah lawan sambil menjaga keseimbangan di atas bambu yang licin. Beberapa peserta bahkan terlihat tercebur ke sungai, disambut sorak-sorai dan tawa penonton yang memadati tepian.
Selain pukul bantal, warga juga mengikuti lomba tangkap bebek dan panah batu atau ketapel. Ketiga lomba ini menjadi magnet yang menyedot perhatian masyarakat Banda Aceh untuk datang dan berbaur dalam kegembiraan.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menyampaikan apresiasinya atas tingginya partisipasi warga. Menurutnya, rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari semarak HUT RI ke-81 di Banda Aceh yang digelar bersama masyarakat.
“Alhamdulillah, semarak peringatan 81 tahun Indonesia Merdeka ini di Banda Aceh sangat meriah,” kata Illiza.
Pesan tentang Olahraga Rakyat dan Lingkungan
Bagi Illiza, perlombaan tradisional bukan sekadar hiburan untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, sportivitas, dan kebahagiaan masyarakat.
“Ini adalah olahraga masyarakat yang memang harus kita lestarikan. Kita lihat bagaimana sukacita, kebahagiaan, kekompakan, sportivitas itu diwujudkan,” ujarnya.
Ia menilai kegiatan yang dilaksanakan di kawasan sungai memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Warga menjadi lebih peduli terhadap kebersihan dan kelestarian sungai.
“Sungai ini menjadi bersih, masyarakat akan merawat, menjaga, karena ini tempat permainan mereka,” kata Illiza.
Lebih jauh, Illiza menilai permainan tradisional memiliki efek berganda atau multiplier effect, mulai dari membangun interaksi sosial, kekompakan, sportivitas, hingga menghadirkan kegembiraan bersama. Ia mendorong kegiatan serupa tidak hanya muncul setiap peringatan HUT Kemerdekaan.
“Ini tidak hanya di 17 Agustus, tapi bisa dilaksanakan secara reguler, event-event dengan gampong,” lanjutnya.

Sumber foto: /Elza
Kemerdekaan dan Tanggung Jawab
Dalam momentum HUT ke-81 RI, Illiza juga mengingatkan masyarakat bahwa kemerdekaan bukan berarti kebebasan tanpa batas. Menurutnya, kebebasan harus diarahkan untuk memberikan kontribusi positif bagi kota dan masyarakat.
“Memang kemerdekaan itu kebebasan, tapi kebebasan itu kebebasan yang terpimpin, tidak bisa kebablasan,” ujarnya.
Ia mengajak warga Banda Aceh mengisi kemerdekaan dengan menjaga lingkungan, menciptakan kota yang bersih dan bebas sampah, serta membangun akhlak dan perilaku yang baik. Baginya, perjuangan para pahlawan harus diteruskan melalui aktivitas yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Bagaimana kita berkontribusi untuk kota kita, menjaga lingkungan kita agar bersih, bebas sampah, sungai kita. Begitu juga bagaimana akhlak, perilaku pribadi kita,” tutupnya.
Perayaan semarak HUT RI ke-81 di Banda Aceh ini menjadi cerminan bahwa kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan upacara, tetapi juga dengan mempererat kebersamaan dan mencintai lingkungan sekitar.**
