Banda Aceh – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Mujiburrahman MAg, mengingatkan pentingnya menjaga perdamaian Aceh 21 tahun yang telah berlangsung pascakonflik. Ia menegaskan bahwa daerah dan bangsa hanya bisa dibangun jika kondisi wilayah aman, tenteram, dan jauh dari huru-hara.
“Daerah kita dan bangsa kita ini hanya bisa dibangun kalau kondisi daerah dan negeri ini dalam kondisi damai, aman, tenteram, nyaman, tidak huru-hara, tidak ada konflik, dan tidak ada perang,” kata Mujiburrahman dalam tausyiahnya di Masjid Fathun Qarib, Banda Aceh, Selasa (18/8/2026).
Momentum Zikir dan Doa Kebangsaan yang digelar civitas akademika UIN Ar-Raniry menjadi sarana untuk menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus memperingati Hari Perdamaian Aceh yang jatuh setiap 15 Agustus. Kegiatan ini menghadirkan suasana khidmat di lingkungan kampus.
Perdamaian Harus Memberi Kesejahteraan
Mujiburrahman menekankan bahwa perdamaian Aceh 21 tahun tidak cukup hanya dipertahankan sebagai keadaan tanpa konflik. Perdamaian harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
“Mari kita jaga perdamaian yang telah berusia 21 tahun dan kemerdekaan yang telah berusia 81 tahun ini agar betul-betul memberi kesejahteraan kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, Zikir dan Doa Kebangsaan merupakan arahan Menteri Agama Republik Indonesia yang dilaksanakan serentak di seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri atau PTKN di Indonesia.
Selain zikir dan doa, Kementerian Agama mendorong perguruan tinggi keagamaan melaksanakan kegiatan sosial dan kemasyarakatan yang memberi dampak bagi masyarakat.
Zikir dan doa yang dipimpin Ustaz H. Jamhuri Ramli bersama tim tersebut dihadiri para wakil rektor, kepala biro, dekan, Ketua dan Sekretaris Badan Kemakmuran Masjid, jajaran pengurus BKM, dosen, tenaga kependidikan, pengurus Dharma Wanita Persatuan, civitas akademika, serta jemaah Masjid Fathun Qarib.
Momentum Renungan Damai dan Kemerdekaan
Bagi Aceh, peringatan 21 tahun perdamaian menjadi momentum untuk melihat kembali makna damai setelah konflik bersenjata berakhir. Bersamaan dengan peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia, Mujiburrahman berharap perdamaian dan kemerdekaan tidak berhenti sebagai momentum seremonial.
Ia berharap keduanya menjadi modal bagi terciptanya keamanan, pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat. Dengan begitu, perjalanan damai Aceh tidak hanya dirayakan, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kegiatan zikir dan doa ini memperlihatkan komitmen UIN Ar-Raniry dalam merawat ingatan sejarah sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi sebagai penjaga nilai-nilai perdamaian dan kebangsaan di Aceh.
