Banda Aceh – Kelangkaan pasokan dan harga semen yang mahal terjadi belakangan ini dinilai tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Pengamat properti yang juga praktisi pengembang dari Property Aceh Solusi, Endra GK Lhoong, berpendapat kondisi tersebut merupakan dampak dari berbagai faktor yang saling berkaitan sehingga memengaruhi ketersediaan material di pasaran.
Salah satu pemicu utama kenaikan harga semen Aceh, menurut Endra, datang dari sisi permintaan. Sejumlah proyek pemerintah, termasuk pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kantor Koperasi Merah Putih, disebutnya menyerap kebutuhan material bangunan dalam skala besar secara bersamaan.
“Ini adalah multi efek dari kebijakan pemerintah, salah satunya pembangunan kantor MBG dan Koperasi Merah Putih yang gila-gilaan,” katanya kepada , Sabtu (1/8/2026).
Percepatan pembangunan proyek-proyek strategis nasional itu, kata Endra, membuat pasokan semen banyak terserap untuk kebutuhan pemerintah sehingga distribusi ke masyarakat umum dan pengembang swasta menjadi lebih terbatas. Pola serupa, menurut dia, juga pernah terjadi pada komoditas batu bata yang harganya sempat terkerek akibat tingginya permintaan dari proyek dapur MBG.
Faktor kedua yang disorot Endra adalah dugaan permainan di tingkat distribusi. Ia menduga ada kemungkinan praktik penimbunan semen oleh pihak tertentu untuk memanfaatkan momentum tingginya permintaan, meski hal tersebut masih memerlukan pembuktian dan verifikasi dari pihak berwenang.
Faktor ketiga datang dari sisi ongkos angkut. Kelangkaan solar bersubsidi serta kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi seperti Dexlite disebut Endra ikut mengerek biaya transportasi pengiriman material bangunan ke Aceh. Kondisi ini membuat biaya operasional distributor naik, yang kemudian berimbas pada penyesuaian harga jual ke konsumen — terutama di wilayah dengan akses distribusi yang lebih sulit dijangkau.

Harga Semen dan Dampak ke Bisnis Property
Dampak dari tiga faktor tersebut, kata Endra, pada akhirnya akan dirasakan langsung oleh sektor properti. Pengembang disebutnya tidak punya banyak pilihan selain menaikkan harga jual rumah untuk menutupi biaya pembangunan yang terus membengkak, sementara masyarakat sebagai konsumen menjadi pihak yang paling terdampak karena harus membayar lebih mahal.
Ia memperingatkan, gejolak harga material ini juga berpotensi memicu keterlambatan pembangunan, keluhan konsumen, hingga sengketa jika sebuah proyek tidak dapat diselesaikan sesuai perjanjian.
Menyikapi situasi pasar saat ini, Endra menyarankan masyarakat yang tidak memiliki kebutuhan mendesak untuk menunda dulu rencana membangun rumah secara mandiri hingga harga material lebih stabil. Sebaliknya, bagi yang berencana membeli rumah dari pengembang, ia menilai membeli lebih awal justru lebih menguntungkan karena harga rumah yang sudah naik jarang kembali turun.
Kepada pelaku usaha properti, Endra memberikan catatan berbeda. Pengembang yang belum menjual unit atau belum menerima uang muka disarankan mempertimbangkan penundaan proyek. Namun bagi yang sudah menerima uang muka dari konsumen, pembangunan wajib tetap dilanjutkan sesuai komitmen agar terhindar dari sengketa hukum.
Endra juga mengingatkan pengembang pemula agar berhati-hati memanfaatkan pembiayaan bank di tengah fluktuasi harga material, karena berisiko menimbulkan tekanan keuangan hingga proyek mangkrak jika tidak dikelola dengan perencanaan matang.
Laporan Zaky dan Fatih
