Karyawan di berbagai perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) tidak sepakat dengan pendapat bahwa teknologi ini dapat membahayakan umat manusia. Dalam berbagai percakapan, mereka menunjukkan skeptisisme terhadap ide bahwa pengembangan AI yang tidak terkontrol akan menyebabkan alat yang dapat membunuh orang secara massal.
Reaksi yang muncul di antaranya adalah tanggapan santai seperti “Lol” dan “Haaaaaa” terhadap peringatan dari beberapa orang di industri. Meskipun ketakutan ini sudah ada sejak lama, klaim yang diungkapkan oleh Jacob Coxon, mantan karyawan Anthropic, kembali viral dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Para karyawan dari Anthropic, OpenAI, dan DeepMind, serta Elon Musk dari xAI, mendukung ide bahwa alat AI di masa depan bisa berbahaya. Namun, semua karyawan yang berbicara kepada BBC melakukannya secara anonim karena larangan berbicara kepada pers. Identitas mereka diketahui oleh BBC.
Salah satu mantan karyawan OpenAI mengungkapkan bahwa mereka merasa lucu dengan ketakutan eksistensial yang baru muncul ini. Menurutnya, kurangnya detail dari para pendukung klaim tersebut menjadi alasan utama ketidakpercayaan mereka. Klaim-klaim tersebut sering kali dianggap “vague” atau kabur.
Coxon mengklaim bahwa sekelompok agen AI yang berbasis pada model yang belum ada saat ini dapat menciptakan dan mengarahkan senjata biologi. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci bagaimana hal itu dapat terjadi. Rishub Jain, pendiri perusahaan penelitian keselamatan AI Sampura Research, juga menyatakan bahwa nada di kalangan banyak orang yang bekerja di bidang AI terkait ketakutan baru ini lebih bersifat lelucon.
Jain menambahkan bahwa ide bahwa AI dapat membunuh orang bukanlah hal baru dan bahwa orang di perusahaan AI tidak baru menyadari bahaya tersebut. Colin Fraser, seorang ilmuwan data di Meta, menyatakan di media sosial bahwa tidak ada bukti nyata yang mendukung klaim bahwa AI akan membahayakan manusia.[]
Sumber: BBC News
