Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 beroperasi tidak sesuai dengan desain awal yang dirancang untuk pelayaran dekat pantai. Masalah ini diduga menjadi salah satu faktor penyebab karamnya kapal tersebut. Investigasi Harian Kompas mengungkapkan, KMP Virgo awalnya dirancang untuk rute perairan dekat di Jepang.
KMP Virgo digunakan untuk melayani rute Surabaya-Banjarmasin, yang lebih berisiko dibandingkan dengan rute asalnya. Pelacakan digital menunjukkan, KMP Virgo adalah kapal bekas Jepang yang dulunya bernama Feri Kurushima. Kapal ini dibangun pada tahun 1987 untuk melayani rute Kokura-Matsuyama yang jaraknya sekitar 180 kilometer.
Sementara itu, rute Surabaya-Banjarmasin sejauh sekitar 490 kilometer melintasi Laut Jawa. Dokumen dari Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang menyebutkan bahwa Feri Kurushima digunakan di rute perairan dekat pesisir dengan jarak kurang dari 20 mil laut dari garis pantai.
Menurut Saut Gurning, Guru Besar Risiko Logistik Maritim ITS, kapal yang dirancang untuk perairan dekat pesisir memiliki stabilitas dan kemampuan manuver yang berbeda dari kapal untuk laut lepas. Feri Kurushima diimpor ke Indonesia pada pertengahan 2025 dan mulai beroperasi pada Juli 2026 di rute Surabaya-Banjarmasin.
Wasis Dwi Aryawan dari Maritime Centre ITS menilai, penggunaan kapal yang tidak sesuai peruntukannya sangat berisiko. Gelombang di rute Surabaya-Banjarmasin lebih tinggi dibandingkan dengan rute asal Feri Kurushima. Dengan demikian, jika kapal yang dirancang untuk perairan dekat pesisir digunakan untuk laut lepas, perlu dilakukan perhitungan ulang untuk memastikan keselamatan.
KMP Virgo yang beroperasi di rute tersebut telah menimbulkan banyak pertanyaan mengenai keselamatan pelayaran. Desain awal kapal tidak mempertimbangkan tantangan operasional yang ada di laut lepas. Hal ini harus menjadi perhatian serius bagi pihak yang berwenang dalam pengoperasian kapal di Indonesia.[]
Sumber: Kompas.id
