Banda Aceh
Ruang Nalar

Kelekatan

Satu kali, Hakam, sejarawan agung asal Blitar, pernah bertitah. Menurutnya, orang Aceh memiliki kesamaan seperti orang Jawa. "Mereka menghafal sejarah…

Oleh Waktu baca: 3 menit
Bagikan

Satu kali, Hakam, sejarawan agung asal Blitar, pernah bertitah. Menurutnya, orang Aceh memiliki kesamaan seperti orang Jawa. “Mereka menghafal sejarah orang-orang besar. Sejarah para raja, para panglima perang.”

Hakam tidak mengarang. Dia paham betul tentang gerak napas yang seirama antara Aceh dan Jawa tentang masa lalu mereka. Ada kelekatan keduanya terhadap kisah lampau.

Kelekatan yang teramat dalam itu, seperti dalam kesaksian Muhammad Amin, pernah membuat Eros Djarot jengkel setengah mati. Eros Djarot bukan orang asing bagi Aceh. Dia telah membuat publik Aceh mengharu biru dengan film Cut Nyak Dhien-nya.

Kala itu, Amin, yang masih menempuh studi doktoral di Jakarta, melihat Eros Djarot mengkritik kecenderungan orang Aceh yang terlampau asyik masyuk ke masa lalunya dalam sebuah acara diskusi publik.

Kira-kira, dengan agak retorik, sebagaimana cerita Amin kepada saya, Eros mencambuk kesadaran orang Aceh agar tidak terlampau larut terhadap kebesaran masa, yang tidak terbantahkan itu, seperti kata Eros, dengan bangkit menata masa depan. Satu kritikan yang membuat seorang sejarawan dari Aceh, yang hadir di forum tersebut, meradang.

Muhammad Alkaf Dosen IAIN Langsa
Muhammad Alkaf
Dosen IAIN Langsa

Orang Aceh memang hidup dalam balutan sejarahnya. Setiap tarikan napasnya selalu ditautkan dengan masa lalunya itu.

Para cendekiawan Aceh kontemporer berjasa untuk menjadikan masa lalu Aceh sebagai alasan untuk bertahan demi masa depan.

Mereka melakukan pembacaan yang bersifat poskolonial ketika membalikkan pernyataan pemerintah Hindia Belanda bahwa yang membunuh aparat militer kolonial adalah mereka yang frustrasi akan hidupnya.

Para cendekiawan menyergah, “Tidak!”

Orang Aceh yang datang ke tangsi atau yang bertemu tentara Belanda di jalanan, kemudian menusuknya, bukanlah orang-orang yang patah arang atau bukanlah mereka yang telah putus asa akan hidupnya. Mereka melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang Aceh yang Muslim: membela tanah air dari tangan-tangan kaphe.

Generasi cendekiawan demikian yang juga mengkonstruksi kepahlawanan Teuku Umar, yang sebelumnya telah berbelok menentang pejuang Aceh, menjadi satu sikap kecerdikan tiada tara.

Mereka meminjam rasa malu orang Belanda yang merasa ditipu mentah-mentah oleh Teuku Umar setelah mendapatkan fasilitas, seperti senjata, lalu berbalik arah, untuk ditulis dengan epos kepahlawanan.

Segala kebesaran dan segenap patriotisme dari masa lalu memang telah memberi modal kultural kepada orang Aceh untuk berpikir dan bertindak. Kelekatan mereka kepada masa lalu telah jadi bintang penuntun, meminjam frasa Bung Karno, untuk hidup di masa depan.

Namun, apa yang dianggap sebagai bintang penuntun, berubah menjadi candu ketika kelekatan terhadap masa lalu sudah terlampau dominan. Terutama, ketika masa lalu, menjadi standar untuk masa depan, seperti kebijakan Iskandar Muda dipersepsikan sebagai tindakan terbaik yang harus dicontoh oleh orang Aceh yang hidup di zaman ini.

Apalagi, seperti yang sudah-sudah, masa lalu menjadi alasan untuk mempertaruhkan hidup yang semestinya lebih berharga dibandingkan dengan kisah yang sesungguhnya cukup dijadikan inspirasi untuk bertindak lebih baik di hari ini.

Mungkin, hal demikian, yang disadari dengan mendalam oleh generasi teknokrat Aceh ketika menanam kembali pohon mahoni di lokasi tempat Kohler ditembak dua abad lalu. Pohon baru, karena pohon aslinya telah dibawa ke Belanda, menjadi cara orang Aceh melihat terhadap masa lalunya tanpa membuang harapan akan masa depan. Cara yang semestinya kita contoh agar tidak jatuh terlalu dalam sampai tidak bisa mendongak lagi.

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.