Simeulue – Kunjungan turis mancanegara Simeulue nyaris mutlak didominasi oleh wisatawan berjenis kelamin laki-laki. Data dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Simeulue menunjukkan bahwa 85 persen dari total kunjungan adalah pria, sementara perempuan hanya menyumbang 15 persen saja.
Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Simeulue, Zulfatah, SP, mengungkapkan bahwa faktor utama di balik ketimpangan ini adalah karakter wisata yang bertumpu pada olahraga selancar.
“Dari rincian perbulan data kunjungan turis mancanegara ke Pulau Simeulue, didominasi turis laki-laki sebanyak 85 persen. Sedangkan turis perempuan hanya 15 persen,” kata Zulfatah kepada , Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, para peselancar pria asing menjadikan ombak Simeulue sebagai destinasi favorit. Sayangnya, ketersediaan objek wisata alternatif yang mampu memikat turis perempuan masih sangat terbatas, sehingga kunjungan dari segmen ini tidak tumbuh maksimal.
Surfing Magnet Utama, Destinasi Lain Minim Dilirik
Data kunjungan menunjukkan tren peningkatan setiap tahun meskipun biaya transportasi udara, laut, dan darat terus melonjak. Tahun 2022, jumlah turis asing masih di bawah 500 orang. Angka itu kemudian stabil di kisaran 1.300 orang pada 2023, 2024, dan 2025.
Memasuki Juli 2026 saja, sudah tercatat 800 kunjungan dengan target akhir tahun mencapai 1.500 orang. Rata-rata mereka tinggal kurang dari sepuluh hari.
Zulfatah menyayangkan minimnya perputaran uang yang seharusnya bisa lebih besar jika lebih banyak turis perempuan datang.
“Secara historis, kaum emak-emak ras terkuat di bumi ini lebih banyak belanja dibandingkan kaum bapak-bapak, begitu juga dengan turis perempuan mancanegara yang berkunjung ke daerah kita,” imbuhnya.
Resort Harus Jadi Bapak Angkat Homestay Warga
Menutup celah tersebut, Zulfatah mendorong para pelaku usaha resort untuk menjadi “bapak angkat” bagi usaha homestay berbasis rumah warga. Langkah ini sekaligus sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Simeulue 2025-2029 yang mewajibkan pelibatan aktif masyarakat di sektor wisata, mulai dari kuliner hingga penginapan.
“Pelaku utama usaha resort supaya menjadi bapak angkat bagi usaha homestay yang dikelola warga. Kerjasama dengan memanfaatkan rumah warga menjadi homestay, sehingga tercipta keharmonisan, tidak ada kecemburuan sosial dan pelancong pun nyaman,” tutup Zulfatah.
Dengan strategi itu, kunjungan turis mancanegara Simeulue diharapkan bukan hanya membawa ombak bagi peselancar, tetapi juga geliat ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat lokal.**
