acehtoday.id/ | Banda Aceh – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem menyebut akibat mata pencarian hilang angka kemiskinan di Aceh meningkat pasca enam bulan bencana hidrometeorologi di provinsi Aceh.
Hal tersebut ia sampaikan usai rapat koordinasi dan evaluasi percepatan pemulihan bencana yang dihadiri oleh Mendagri, Tito Karnavian di ruang serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Selasa (9/6/2026).
“Sebenarnya (pengentasan) kemiskinan sudah mulai rampung. Tapi karena musibah, (naik) dari 12 menjadi 17 persen sekian,” kata Mualem.
Mata Pencarian Hilang Mejadi Faktor Utama
Ia menyebut penyebab meningkatnya angka kemiskinan di Aceh pasca bencana hidrometeorologi disebabkan hilangnya mata pencarian masyarakat serta fasilitas umum yang memadai.
Menurutnya saat ini provinsi Aceh membutuhkan penanganan bencana pada perbaikan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan serta perbaikan sawah dan irigasi yang berkaitan dengan mata pencarian masyarakat.
“Kita di Aceh (membutuhkan) sawah, irigasi, jembatan, jalan, tanah, yang berkaitan dengan mata pencarian masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai kabupaten Aceh Utara dan Aceh Tamiang menjadi wilayah dengan dampak bencana hidrometeorologi terparah di provinsi Aceh, karenanya prioritas penanganan pemulihan pasca bencana harusnya difokuskan di dua wilayah tersebut.
“Aceh Tamiang dan Aceh Utara itu paling berat terdampak,” tutup Mualem.

Sumber foto: acehtoday.id/elza
Sebelumnya Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut provinsi Aceh merupakan wilayah paling berat terdampak bencana hidrometeorologi yang melanda Pulau Sumatera pasca enam bulan lalu.
Hal itu ia sampaikan dalam temu awak media usai melakukan rapat koordinasi dan evaluasi capaian penanganan serta percepatan pemulihan pasca bencana hidrometeorologi di Aceh secara tertutup yang digelar di ruang rapat serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Selasa 9/6/2026.
Rapat tersebut juga dihadiri oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, sejumlah kementerian, serta Bupati dan Walikota Kota Aceh.
“Melihat beberapa data yang ada, dampak yang paling masif itu di Aceh,” kata Tito.
Tito menyampaikan berdasarkan hasil rapat membahas capaian selama masa transisi tanggap darurat, aktivitas masyarakat terdampak sekaligus fasilitas umum berangsur-angsur normal namun masih belum ideal.
“Banyak yang sudah kembali normal tapi belum permanen, normalnya fungsional. Pergerakan orang dan barang berjalan baik, listrik oke, SPBU operasional berjalan, internet jalan, logistik tidak kekurangan. Tapi belum ideal,” ungkapnya.

Sumber foto: acehtoday.id/elza