Rakyat News – Topan Bavi, yang terbesar dalam beberapa dekade, menerjang Asia Timur. Badai ini menyebabkan kerusakan parah dan menewaskan 15 orang. Ribuan orang di Taiwan dan China dievakuasi menjelang terjangan topan ini.
Pada Sabtu (11/7/2026), Bavi menghantam Pulau Sakishima di Jepang selatan. Hujan lebat dan angin kencang mengiringi pergerakan topan menuju Taiwan. Pihak berwenang Jepang memperingatkan potensi banjir dan tanah longsor.
Di Pulau Ishigaki, puing-puing terlihat di jalan-jalan kosong. Hanya sedikit kendaraan yang berani melintasi angin kencang dan hujan. Perahu di pelabuhan bergoyang akibat arus kuat dengan angin mencapai 144 kilometer per jam di dekat pusat topan.
Penerbangan dan layanan feri di Ishigaki ditangguhkan. Sebelumnya, pada Jumat (10/7/2026), topan Bavi bergerak dari Guam dan Kepulauan Mariana Utara menuju China. Dalam perjalanannya, topan ini melewati Filipina dan Taiwan.
Di Filipina, topan Bavi dikenal sebagai topan Inday. Badai ini memicu tanah longsor yang menewaskan 10 orang di kota Malapatan, Provinsi Sarangani. Laporan menyebutkan lima orang lainnya tewas dalam tanah longsor di Provinsi Lanao del Sur.
Meski Bavi diturunkan statusnya menjadi topan biasa saat memasuki Filipina, dampak pergerakannya tetap diwaspadai. Badan cuaca Filipina, PAGASA, memperingatkan potensi hujan lebat dan banjir di beberapa daerah, termasuk Manila.
Wali Kota Malapatan, Salway Sumbo Jr, mengungkapkan bahwa sebagian warga desa dievakuasi. Hujan lebat terus berlanjut di wilayah tersebut. Setelah melewati Filipina, Bavi bergerak ke Taiwan, dengan wilayah timur dan utara diperkirakan sangat terdampak.
Badan Meteorologi Pusat Taiwan (CWA) mencatat saat melewati Taiwan, kecepatan maksimum angin Bavi melambat menjadi 155 kilometer per jam. Embusan angin mencapai 190 kilometer per jam.
”Mulai (Jumat) malam hingga (Sabtu) siang adalah periode ketika topan berada paling dekat dengan Taiwan dan dampaknya akan paling signifikan,” ujar badan meteorologi.
