ADA satu pertanyaan mendasar yang wajib kita renungkan ketika berbicara tentang masa depan Barat Selatan Aceh atau yang disebut Barsela, yaitu apakah kita sedang melihat Barsela sebagai sekumpulan wilayah, atau sebagai sebuah kesatuan kawasan yang utuh?
Pertanyaan ini sebenarnya sederhana, tetapi sesungguhnya akan sangat menentukan kemana arah Barsela ini nantinya akan kita bawa.
Sebuah kawasan tidak lahir hanya karena beberapa wilayah berada dalam satu bentang geografis. Kawasan lahir ketika tumbuh kesadaran bahwa ruang-ruang yang berbeda memiliki hubungan, kepentingan, potensi, dan masa depan yang saling terhubung.
Kawasan pesisir Barsela memiliki lanskap kaya dan modal sumberdaya yang melimpah, mulai dari pegunungan dan hutan, sungai, rawa, pertanian, pesisir, laut, pulau-pulau, perikanan, perkebunan, pariwisata, serta posisi geografis yang strategis.
Namun sumber daya yang besar tidak dengan sendirinya menghasilkan kesejahteraan. Sumber daya hanya akan menjadi kekuatan ketika dikelola sebagai sebuah sistem, dan sebuah sistem hanya akan bekerja ketika bagian-bagiannya menyadari bahwa mereka merupakan bagian dari sistem yang sama.
Jadi kesadaran kawasan adalah kemampuan melihat ruang melampaui batas-batas administratif wilayah. Ia mengubah pertanyaan dari “apa yang dapat dibangun di wilayah saya?” menjadi “apa yang dapat kita bangun sebagai sebuah kawasan?”
Perubahan pertanyaan ini sangat fundamental. Tanpa kesadaran kawasan, setiap sub-kawasan akan cenderung berebut kesempatan membangun dirinya sendiri. Dalam egoismenya masing-masing, mereka akan saling bersikukuh ingin memiliki pusat perdagangan, kawasan industri, destinasi wisata, dan infrastrukturnya sendiri-sendiri.
Di permukaan, mungkin semuanya terlihat sebagai gerak pembangunan, tapi jika dilihat dari perspektif ruang, yang terjadi malah duplikasi, fragmentasi, dan kompetisi internal yang potensial penuh friksi, benturan, dan ketegangan.
Wilayah yang seharusnya saling melengkapi akhirnya justru saling berkompetisi. Infrastruktur yang seharusnya membentuk jaringan berhenti sebagai proyek tunggal berbasis kepentingan wilayah. Pusat industri yang seharusnya merangkul berujung menjadi ajang kompetisi.
Potensi yang seharusnya membentuk rantai nilai justru dikembangkan secara parsial. Jika ini yang terjadi takkan pernah hadir yang namanya perubahan dan transformasi, yang bermuara pada kemajuan, kemakmuran, dan kesejahteraan hakiki di Barsela.
Karena itu, kesadaran kawasan bukan sekadar slogan kebersamaan. Ia adalah syarat mutlak bagi strategi pembangunan kawasan Barsela. Tanpa kesadaran kawasan, sulit membangun visi bersama. Tanpa visi bersama, sulit menentukan diferensiasi fungsi ruang.
Tanpa diferensiasi fungsi, sub-kawasan akan saling berebut fungsi yang sama. Dan ketika setiap wilayah ingin menjadi pusat, kawasan secara keseluruhan akan kehilangan kemampuannya untuk menjadi sebuah kekuatan.
Masa depan Barsela tidak membutuhkan setiap wilayah berdiri pada posisi yang sepenuhnya sama. Justru kekuatan Barsela terletak pada keragaman ruang dan keunggulan yang berbeda-beda.
Karena itu, pembangunan kawasan harus dibangun atas prinsip diferensiasi, yaitu pembedaan fungsi dan peran, serta komplementaritas, yaitu saling memperkuat, mengisi, dan melengkapi.
Tidak semua wilayah harus menjadi pusat karena niscaya setiap wilayah memiliki fungsi strategisnya masing-masing, yang justru di sinilah harus digerakkan bersama-sama untuk melahirkan manfaat yang terdistribusi secara adil dan merata di seluruh kawasan.
Jika kita bersetuju dengan perspektif ini, maka ruang kawasan dapat dikembangkan melalui tiga fungsi besar, yaitu zona inti, zona penyangga, dan zona pendukung. Zona inti menjadi pusat penciptaan nilai dan aktivitas strategis kawasan.
Zona penyangga menopang keberlangsungan zona inti melalui penyediaan sumber daya dan input produksi, sekaligus menjaga dan mengelola ekosistem. Zona pendukung memperkuat konektivitas, logistik, pelayanan, perdagangan, distribusi, akses pasar, investasi, dan hubungan kawasan dengan jaringan ekonomi yang lebih luas.
Ketiganya bukan struktur hirarkis yang menempatkan satu wilayah lebih penting daripada wilayah lainnya. Ketiganya merupakan fungsi yang saling melengkapi dalam satu sistem ruang. Karena itu, pertanyaannya bukan lagi “wilayah mana yang menjadi pusat?”, tetapi “fungsi apa yang paling strategis ditempatkan di ruang mana agar seluruh kawasan memperoleh manfaat terbesar?”
Cara pandang ini sekaligus menuntut kita untuk berhenti menetapkan fungsi ruang dan program strategis kawasan semata-mata berdasarkan kepentingan administratif atau tarik-menarik kepentingan antar kabupaten/kota.
Nilai strategis ruang dan program pembangunan harus ditetapkan berdasarkan pertimbangan yang objektif, logis, dan rasional. Pertimbangannya bisa mencakup karakter geografis dan ekologis, potensi dan dukungan sumber daya alam, struktur ekonomi, keterhubungan antarwilayah, infrastruktur, modal manusia, akses pasar, posisi strategis, kelayakan teknis, serta peluang integrasinya dengan jaringan regional, nasional, dan global.
Dengan demikian, penetapan zona inti, zona penyangga, dan zona pendukung bukanlah hasil deal dan kompromi kepentingan, tetapi hasil dari pemahaman tentang fungsi terbaik setiap ruang dalam keseluruhan sistem kawasan, di mana ruang tidak lagi diperlakukan sebagai objek perebutan proyek, melainkan sebagai aset strategis yang harus ditempatkan pada fungsi terbaiknya.
Barsela sesungguhnya telah memiliki hampir semua modalitas yang diperlukan untuk membangun sebuah ekosistem pembangunan melalui konsep yang pernah digagas oleh politisi yang juga putra Barsela, kini anggota DPRA, Nurchalis, yaitu Ekosistem Kesejahteraan Berkelanjutan Barsela atau SWEB, singkatan dari Sustainable Wealth Eco-system of Barsela, yang memposisikan Barsela sebagai jejaring interaksi berbagai modalitas yang saling mengisi, mempengaruhi, melengkapi, dan memperkuat untuk menghasilkan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Kelima modalitas tersebut adalah sumber daya alam, modal manusia, letak geografis, pasar, dan infrastruktur. Kelimanya bukanlah daftar potensi yang berdiri sendiri. Sumber daya alam tanpa manusia yang mampu mengelolanya hanya menjadi potensi.
Letak geografis tanpa konektivitas tidak otomatis menjadi keuntungan strategis. Pasar tanpa basis produksi menjadikan kawasan sebagai konsumen. Infrastruktur tanpa ekosistem ekonomi hanya menjadi aset fisik.
Karena itu, inti SWEB bukan terletak pada banyaknya modalitas yang dimiliki Barsela, tetapi pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan di Barsela menghubungkan seluruh modalitas tersebut menjadi satu siklus penciptaan nilai.
Dalam skema ini, infrastruktur memiliki posisi penting sebagai penghubung antara sumber daya dengan produksi, produksi dengan pasar, manusia dengan kesempatan, serta Barsela dengan jaringan ekonomi yang lebih luas. Dengan demikian, infrastruktur bukan sekadar proyek fisik. Infrastruktur adalah arsitektur konektivitas kawasan.
Agar memberi nilai tambah, modalitas tersebut kemudian membutuhkan mesin transformasi. Empat program strategis berbasis potensi, yaitu KEK Halal Barsela sebagai pusat industri pengolahan komoditas agro dan perikanan, KEK Pariwisata Simeulue-Pulau Banyak, Poros Wisata Hijau dan Biru Barsela, serta Agrowisata Kebun Raya Rempah Barsela, dapat ditempatkan dalam satu arsitektur transformasi yang saling mendukung dan memperkuat satu sama lain, bukan proyek yang berdiri sendiri-sendiri.
Untuk sektor pariwisata dengan segala potensi green and blue tourism-nya, konsep The Great Barsela Journey juga dapat digagas dan dikembangkan untuk menghubungkan pegunungan, hutan, sungai, rawa, pertanian, pesisir, laut, dan pulau-pulau dalam satu pengalaman kawasan.
Nilainya bukan hanya pada banyaknya destinasi, tetapi pada keterhubungan pengalaman yang dapat dinikmati wisatawan. Dengan demikian, pariwisata tidak hanya menjadi salah satu sektor pembangunan ekonomi, tetapi sekaligus juga dapat menjadi instrumen untuk membangun kesadaran kawasan itu sendiri.
Namun sekali lagi, semua gagasan ini akan kehilangan daya transformasinya apabila dikembangkan secara parsial dan terpisah-pisah. Kekuatan Barsela bukan terletak pada banyaknya program dan proyek, melainkan pada kemampuan mengelola berbagai modalitas menjadi sebuah sistem yang saling memperkuat.
Di sinilah catatan pengingat ini menjadi penting. Kita dapat terus membangun jalan, pelabuhan, bandara, kawasan ekonomi, destinasi wisata, sentra produksi, dan berbagai infrastruktur lainnya. Namun apabila semua itu dibangun tanpa kesadaran kawasan, pembangunan tersebut akan berisiko menghasilkan akumulasi aset tanpa integrasi sistem.
Antar kabupaten/kota akan saling berkompetisi. Potensi cenderung akan dikembangkan secara parsial berbalut sentimen dan kepentingan sektoral-kewilayahan. Alhasil, fungsi ekonomi akan mengalami duplikasi.
Investasi diperebutkan tanpa strategi pembagian peran. Infrastruktur dibangun tanpa jaringan nilai yang jelas. Destinasi wisata saling berkompetisi alih-alih bersinergi. Sumber daya terus keluar dalam bentuk bahan mentah. Pada akhirnya, kawasan yang memiliki modal strategis besar justru terpuruk dalam mode “mati segan hidup tak mau”.
Inilah paradoks pembangunan kawasan, kita dapat memiliki banyak potensi tetapi tetap lemah jika tidak memiliki kemampuan mengelola potensi tersebut sebagai sebuah sistem. Tanpa kesadaran kawasan, batas administratif dapat berubah menjadi batas imajinasi.
Setiap wilayah hanya akan fokus melihat kepentingannya masing-masing. Setiap pemimpin memperjuangkan proyek politiknya sendiri. Setiap institusi bekerja berdasarkan kewenangannya sendiri. Akhirnya tidak ada kekuatan yang benar-benar bertanggung jawab terhadap masa depan kawasan secara keseluruhan.
Karena itu, membangun masa depan Barsela membutuhkan dua perubahan yang wajib berjalan beriringan. Perubahan pertama adalah perubahan pada aras politik, yaitu membangun kesadaran dan kehendak bersama untuk menempatkan kepentingan kawasan di atas kepentingan sempit kelompok.
Perubahan kedua adalah perubahan arah pembangunan, yaitu mengorganisasikan ruang, sumber daya, manusia, infrastruktur, pasar, dan investasi ke dalam satu sistem yang saling melengkapi.
Secara politik, Barsela membutuhkan penyatuan kehendak. Secara pembangunan, Barsela membutuhkan penyatuan kekuatan. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Kehendak politik tanpa arsitektur pembangunan akan menghasilkan slogan.
Arsitektur pembangunan tanpa kehendak politik akan menghasilkan dokumen. Barsela membutuhkan keduanya agar melahirkan transformasi yang betul-betul nyata.
Kesatuan kawasan juga tidak berarti menyeragamkan seluruh wilayah. Kesatuan justru dibangun dengan mengakui perbedaan dan menempatkannya dalam sistem yang saling menguatkan. Ada pusat produksi, pengolahan, pariwisata, konektivitas, pelayanan, perdagangan, dan penyangga ekologis. Semuanya memiliki arti ketika berada dalam satu sistem. Bukan membuat semua tempat menjadi sama, tetapi membuat perbedaan setiap sudut kawasan menghasilkan kekuatan bagi keseluruhan.
Masa depan Barsela tidak dimulai dari pembentukan identitas dan penetapan status baru. Sejatinya ia dimulai dari cara kita melihat dan memaknai ruang.
Pilihan itu sekarang ada di tangan kita, semua masyarakat Barsela. Kita dapat terus mengulang-ulang gaung tentang Barsela, tentang potensi, sumber daya, posisi strategis, dan masa depan yang cerah, tapi jika tidak dibarengi dengan kesadaran kolektif bahwa kita adalah satu kesatuan kawasan, Barsela tak akan pernah betul-betul bergerak maju, dan pada akhirnya juga tidak akan membawa kita ke mana-mana.
Atau kita memilih memulai dengan membangun kesadaran kolektif bahwa Barsela bukan sekadar kumpulan wilayah administratif, melainkan satu kesatuan ruang dengan kepentingan, fungsi, dan masa depan yang saling terhubung.
Jika dari kesadaran itu kita bergerak, maka itu adalah awal kita membangun kehendak politik bersama, menetapkan nilai strategis ruang berdasarkan pertimbangan objektif dan rasional, mengintegrasikan modalitas kawasan, serta membangun instrumen kelembagaan yang Insya Allah akan mampu mengubah potensi yang kita miliki menjadi kekuatan.
Maka itu pertanyaannya kini bukan lagi seberapa sering dan nyaring kita berbicara tentang Barsela. Pertanyaannya adalah, apakah kita hanya ingin terus menggaungkan Barsela, atau mulai membangun satu Barsela?
Barsela tidak akan menjadi kekuatan hanya karena kita terus menyebut namanya. Barsela menjadi kekuatan ketika kita mulai berpikir, bekerja, dan bergerak sebagai satu kawasan. Dan pada akhirnya, masa depan Barsela tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat di antara bagian-bagiannya, tetapi oleh seberapa kuat bagian-bagiannya mampu menjadi satu kekuatan.**
Oleh : Bulman Satar
Antropolog dan penggagas Ensiklopedi Kebudayaan Aceh
