Banda Aceh
Editorial

Ketika Naik Berani, Saat Turun Setengah Hati

"Ketika harga naik, masyarakat diminta memahami alasan pemerintah. Namun ketika harga turun, masyarakat juga berhak bertanya, apakah penurunan ini…

Oleh Waktu baca: 2 menit
Bagikan

“Ketika harga naik, masyarakat diminta memahami alasan pemerintah. Namun ketika harga turun, masyarakat juga berhak bertanya, apakah penurunan ini benar-benar untuk meringankan beban, atau sekadar menunjukkan adanya perubahan angka?”

PEMERINTAH kembali mengumumkan penurunan harga BBM nonsubsidi. Sekilas, kabar ini terdengar melegakan. Namun, jika angka-angkanya ditelaah, masyarakat berhak bertanya: apakah ini benar-benar penurunan yang berarti, atau sekadar mempercantik statistik?

Pertamax di Aceh kini turun dari Rp16.650 menjadi Rp16.300 per liter. Penurunannya hanya Rp350. Bandingkan dengan lonjakan harga sebelumnya yang membawa Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.650 per liter. Kenaikannya mencapai Rp4.350 per liter. Selisihnya sangat jauh.

Sulit mengabaikan kesan bahwa ketika harga dinaikkan, pemerintah bergerak cepat dengan alasan mengikuti mekanisme pasar. Namun ketika harga turun, penyesuaiannya terasa begitu kecil sehingga manfaatnya nyaris tidak terasa bagi masyarakat.

Bagi pengguna kendaraan yang mengisi 30 liter sekalipun, penghematan dari penurunan ini hanya sekitar Rp10.500 dalam sekali pengisian. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan tambahan beban yang telah ditanggung masyarakat sejak kenaikan harga sebelumnya.

Yang lebih penting bukan sekadar mengumumkan adanya penurunan, melainkan memastikan masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya. Sebab, publik tidak hidup dari persentase atau siaran pers. Publik hidup dari biaya yang harus mereka keluarkan setiap hari.

Mauli Isnandar-Redaktur Pelaksana

Jika pemerintah ingin menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat, maka kebijakan harga energi seharusnya mencerminkan rasa keadilan. Ketika faktor-faktor yang dulu dijadikan alasan untuk menaikkan harga mulai membaik, masyarakat tentu berharap penurunannya juga dilakukan secara lebih proporsional.

Penurunan Rp350 memang lebih baik daripada tidak ada sama sekali, namun di tengah lonjakan harga yang pernah mencapai ribuan rupiah per liter, angka itu terasa lebih sebagai simbol daripada solusi. Pemerintah perlu memahami bahwa kepercayaan publik tidak dibangun dari besarnya pengumuman, melainkan dari besarnya manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Harga BBM Nonsubsidi Turun per 1 Juli 2026
Petugas pom bensin sedang mengisi BBM ke sepeda motor konsumen di SPBU Lamsayeun, Aceh Besar, Rabu (10/6/2026).
Sumber foto: /Elza
Ketika Naik Berani, Saat Turun Setengah Hati

 

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.