Teheran – Iran resmi merombak jajaran petinggi militer dan lembaga keamanannya. Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menunjuk Mayor Jenderal Ali Abdollahi sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran yang baru, menggantikan mendiang Abdolrahim Mousavi yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.
Dekrit resmi yang mengukuhkan enam posisi strategis di tubuh militer Iran itu diteken Mojtaba pada Selasa, 11 Agustus 2026. Sebagaimana dilaporkan detikNews, Abdollahi sebelumnya menakhodai Khatam al-Anbiya, komando operasional gabungan yang mengoordinasikan seluruh angkatan bersenjata Iran di masa perang. Sosoknya dikenal lantang melontarkan peringatan keras kepada negara-negara tetangga yang dianggap menjadi tameng kepentingan AS di kawasan.
Perombakan militer Iran ini turut mengangkat Ahmad Vahidi, yang naik pangkat dari Brigadir Jenderal menjadi Mayor Jenderal sekaligus dipercaya memimpin Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menggantikan Mohammad Pakpour yang gugur dalam serangan yang sama.
Kioumars Heydari, mantan komandan Angkatan Darat, ditempatkan sebagai Wakil Kepala Staf. Sementara itu, Mostafa Izadi didapuk sebagai Wakil Panglima IRGC, dan Laksamana Muda Ali Azmaei mengambil alih komando Angkatan Laut IRGC menggantikan Alireza Tangsiri yang juga tewas beberapa bulan sebelumnya.

Tak hanya di jajaran militer, perubahan besar juga terjadi di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Presiden Masoud Pezeshkian menunjuk mantan komandan IRGC, Mohsen Rezaei, sebagai kepala badan yang bertanggung jawab merumuskan kebijakan keamanan dan luar negeri Teheran itu.
Penunjukan yang diumumkan kantor kepresidenan pada 9 Agustus 2026 ini menyusul mundurnya Mohammed Bagher Zolghadr, yang kini beralih peran menjadi penasihat politik bagi Mojtaba Khamenei.
Rezaei, 71 tahun, bukan nama asing di panggung keamanan Iran. Ia memimpin IRGC sepanjang 1981-1997, mencakup hampir seluruh masa Perang Iran-Irak, sebelum menduduki sejumlah jabatan politik tingkat tinggi dan menjadi penasihat militer Mojtaba.
“Kendali atas Selat Hormuz jauh lebih berharga ketimbang puluhan bom atom,” ujar Rezaei, menegaskan arti strategis jalur pelayaran minyak dan gas global yang kini menjadi titik panas konflik Iran-AS itu.
Rangkaian penunjukan ini menegaskan cengkeraman penuh Mojtaba Khamenei atas struktur militer dan keamanan Iran sejak dirinya menjabat pada Maret 2026, sekaligus menjadi sinyal arah kebijakan Teheran dalam menghadapi tekanan geopolitik yang masih membayangi kawasan Timur Tengah.
